Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:34


__ADS_3

Pagi hari. Seperti biasa, neo selalu mengantar yuki pergi kekantor.


Neo pun membukakan pintu dan membantu yuki keluar dari mobil.


"Sayang, hari ini kamu terlihat cantik." Ujar neo sembari membelai rambut yuki.


"Jangan lebai. udah tiap hari lihat, baru hari ini bilang cantik." Timpal yuki.


Ditengah perbincangan mereka. Muncul mobil reza yang baru saja datang bersama arini, lesty dan boby. Mereka pun turun bersamaan.


Tak lama kemudian datang juga mobil genta yang tiba bersama evi. Mereka pun berkerumun dihalaman depan gedung perusahaan reza.


Ditengah perbincangan mereka, danu juga tiba menggunakan motor gedenya. Danu masih kesal dengan reza. Ia pun hanya menunggu sambil duduk santai dimotornya yang ia parkir dibelakang mobil genta itu.


Tidak ada yang menyadari kedatangan danu kecuali yuki. Namun yuki hanya diam seakan tidak tau.


"Wah.. pagi-pagi gini udah mesra aja kalian berdua." Ujar genta pada reza dan arini.


"Ya iyalah. gimana gak mesra, mereka kan sedang fall in love." Sahut lesty sembari melirik arini.


"Hah? apakah mereka sudah pacaran?." Pungkas yuki kaget sekaligus bagagia.


"Iya kita sudah jadian." Timpal reza tersenyum sembari menatap arini.


Arini terlihat malu didepan taman-temannya.


"Wah.. selamat ya!." Seru evi dan yang lainnya.


"Selamat ya bro. Akhirnya kalian jadian." Ujar neo tersenyum.


"Sama-sama." Sahut reza. Arini pun turut tersenyum.


"Eh, kalian tau gak? Reza nembak arini kemaren tuh romantis banget loh! keren banget pokoknya! dia nembak arini didepan kampus dan disaksikan banyak orang. gue sampe merinding liatnya." Jelas lesty.


"Nembaknya pake apa? pistol? piso? atau bata beton?." Ujar boby seakan gak punya dosa.


"Nembak cinta pe'ak!! kalo nembak pake barang begituan pasti arini udah mati dari kemaren! dasar idiot! Emangnya elo, nembak cewek gak pake perasaan!." Ketus lesty sambil memukul bahu boby.


"Loh kok gue?. Waktu itu gue nembak lo pake perasaan kok! lo nya aja yang selingkuh, dan akhirnya elo diselingkuhi juga kan. haha." Boby terkekeh mengejek lesty yang sempat ia pacari semasa SMA dulu.


"Apaan sih!?"


"Udahlah, mending kalian masuk, terus kerja. dari pada ngoceh gak jelas disini." Ketus reza.


"Baik bos. Oh iya. nanti siang traktir makan ya bos?." Ujar boby penuh harap.


"Iya, kalian semua gue traktir.


Ayo sayang kita masuk." Reza menggandeng tangan arini dan membawanya masuk.


Sementara yuki dan neo masih berada didepan mobil.


Setelah semuanya masuk. Danu juga turun dari motornya dan hendak masuk.


"Danu!!." Panggil neo sembari meraih tangan danu.


"Ada apa?" Sahut danu dengan wajah datar.


"Gue tau lo masih marah dengan reza kan? Sekarang mereka sudah jadian, sebaiknya lo berbaikan dengan reza. Kalian sudah bersahabat sejak lama, jangan sampai pertemanan rusak hanya karna wanita." Ujar neo dengan serius.


"Lo tau dari mana kalo gue marah sama reza? bukankah kemarin malam lo dan yuki udah pulang duluan dari rumah arini?."


"Gue tau dari istri gue." Sahut neo sembari melirik yuki.


"Lo tau dari mana ki.?" Ujar danu menatap yuki.


"Em.. boby yang memberitahuku." Sahut yuki ragu-ragu.


"Dasar lambe turah!!. Awas aja tuh muka kebo. gue bejek-bejek ntar.!" Gumam danu sambil masuk kantor dengan emosi.


"Mereka semua udah masuk tuh. kamu juga masuk gih. aku juga mau jemput bos." Ujar neo mengusap kepala yuki.

__ADS_1


"Iya. hati-hati dijalan ya." Sahut yuki tersenyum.


"Satu lagi. Jangan ikut campur urusan reza dan arini, apapun itu bentuk nya, oke?."


"Iya.. ya udah, aku masuk ya."


Setelah yuki masuk kantor. Neo pun langsung pergi kekantornya.


_


Dalam ruangan reza. Ia dan boby tengah membahas tentang pembangunan rumah yang hendak ia bangun.


Danu pun hendak masuk, namun ia tidak berani mengetuk pintu. ia berdiri bingung didepan pintu.


Kemudian arini datang hendak memberikan design yang dipinta reza.


"Eh, danu? baru datang? ayo masuk, ngapain bengong disini?."


Arini pun membukakan pintu itu dengan sidik jarinya.


"Pintu ini bisa dibuka dengan pinger print jari kamu?." Tanya danu heran.


"Iya, waktu itu reza pernah membuatkannya untukku. Ayo masuk!."


"Baiklah."


Mereka masuk secara beriringan. Danu hanya merunduk karna merasa bersalah pada reza saat dia marah-marah pada reza waktu dirumah arini.


"Bos, ini design nya." Ujar arini sambil menyodorkan sebuah dokumen dimeja reza.


"Kok panggil bos sih sayang." Ujar reza tersenyum.


"Kan jam kantor."


"Gak apa-apa sih. kan dalam ruanganku juga. Tapi makasih ya udah anter dokumennya." Reza mengusap kepala arini.


Danu pun menampakkan diri, ia mendekat ke meja reza. "Bos. Ada yang mau gue omongin." Ujar danu ragu.


"Oke.


"Baik bos. Rin, ayo kita keluar."


Setelah arini dan boby keluar. Danu pun duduk dihadapan reza.


"Bos, selamat ya lo udah jadian sama arini. Maaf kemaren malam gue marah-marah. Tapi gue seneng karna lo udah buktiin bahwa lo beneran cinta sama arini." Jelas danu tertunduk.


Reza keluar dari kursinya dan duduk diatas meja didepan danu. "Gue tau, lo lebih dulu menyukai arini dari pada gue. Dan sekarang gue udah pacaran sama dia. Apa dihati lo ada rasa cemburu.?." Ketus reza tanpa ekspresi.


"Jujur, rasa cemburu itu pasti ada. Tapi saat melihat kalian bahagia, rasa cemburu itu udah gak penting bagi gue. Gue ikut seneng liat kalian sebahagia itu." Sahut danu tersenyum.


Reza pun tersenyum. "Gue salut sama lo dan. Makasih ya." Reza menepuk pundak danu.


"Sama-sama bos. Maafin gue ga bos." Danu berdiri dan memeluk reza.


"Apaan sih, lebai deh. Udah ah! gue mau kerja lagi. Oh iya, hari ini lo dan boby gue tugaskan melihat bahan-bahan beserta alat bangunan yang akan datang dilahan baru dekat rumah arini."


"Baik bos, kapan akan mulai pembangunannya."


"Besok. sekarang pergilah."


"Oke." Danu langsung keluar dari ruangan untuk menemui boby.


Sementara boby sedang ngobrol dengan arini dan yuki.


"Guys, kalian ada yang tau gak sih, kok kayaknya danu dan reza gak kayak biasanya." Ujar arini bingung.


Boby pun menceritakan masalah yang terjadi dirumah arini beberapa malam yang lalu.


"Jadi... Danu suka sama gue? Baru tau loh gue."


"Rin, maaf ya. Semua masalah itu terjadi karna gue." Ujar yuki tertunduk.

__ADS_1


"Gak apa-apa ki, gue malah khawatir sama hubungan lo dan neo. Moga saja reza dan danu bisa baikan secepatnya." Timpal arini sembari menepuk pundak yuki.


Danu pun datang menghentikan obrolan mereka. "Ehem.. sedang ngerumpi apaan? Boby ayo ikut gue kelapangan. Arini, yuki, silahkan lanjutkan kerjaan kalian." Tegas danu, mereka pun meninggalkan kantor.


"Dih, danu aneh. Gaya bicaranya udah kayak reza aja." Ketus arini.


_


Ditengah kesibukan reza, tiba-tiba ia mendapat telpon dari mamanya. Reza pun menyempatkan untuk mengangkatnya.


"Halo ma. Ada apa? aku lagi sibuk nih."


"Za, kamu bisa kekantor papa gak? mama dan adik kamu sudah disini. Ada paman Alvin kamu disini." Jelas ara.


"Oh gitu. baik ma, aku ajak juga arini dan asistennya ya." Sahut reza.


"Oke, kami tunggu ya. daah sayang."


"Hm.. mama ada-ada saja." Reza langsung beranjak dan keluar dari ruangannya. Kemudian menghampiri arini dan yuki.


"Sayang. ayo ikut aku. yuki juga."


"Mau kemana?." tanya arini.


"Kekantor papa. Ayo cepat berangkat. mereka sudah menunggu."


"Oh baiklah. Ayo ki." Arini menarik tangan yuki kemudian mengiringi reza keluar kantor.


Mobil reza melaju cukup kencang, hingga tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai dikantor milik rey itu.


"Ayo turun." Reza membukakan pintu mobil untuk arini.


Ring.. ring.. (Dering dari ponsel yuki).


"Eh, bunda?.


bentar ya, aku angkat telpon dari bunda dulu." Ujar yuki sembari menjauh dari mereka.


Arini dan reza menunggunya didepan mobil.


Tidak lama kemudian yuki kembali lagi dengan wajah panik.


"Kak reza. Arini. maaf aku harus pergi. Bunda bilang, yunie demam dan muntah-muntah, dia juga kejang-kejang. aku harus pulang." Jelas yuki cemas.


"Ya udah, ayo. kuantar kamu pulang." Timpal reza yang ikut panik.


"Dia masih sangat peduli dengan yuki." Gumam arini.


Yuki menyadari situasi itu, ia pun menolak reza. "Gak usah kak, aku naik taxi saja."


"Za, gimana kalo gue pinjem mobil lo, biar gue yang anter yuki pulang, dan membawa yunie kerumah sakit." Pungkas arini.


Reza kaget mengetahui arini bisa mengemudi. "Lo bisa nyetir sayang?."


Arini sadar seketika. "Em...Bisa sih, karna dulu,.. Udahlah, nanti aja bahasnya, sekarang keadaannya lagi darurat."


"Baiklah. ini konci mobilnya. hati-hati ya sayang, nanti langsung pulang kekantor aja, biar danu yang menjemputku disini." Ujar reza sembari mengacak rambut arini.


"Baiklah. kita pergi dulu ya." Arini dan yuki pun bergegas masuk mobil, kemudian beralih meninggalkan kantor perusahaan rey itu.


"Gue baru tau kalo arini bisa nyetir. Gue jadi penasaran, apakah dia anak orang kaya? tapi lesty gak cerita soal itu. Gue harus tanya sama lesty.


Ah, gak jadi lagi ngenalin arini sama papa dan mama."


Reza bergumam sepanjang jalan masuk kantor papanya itu.


•••


BERSAMBUNG...


Mohon Like dan VOTE nya ya readers. Makasih.

__ADS_1


__ADS_2