
Perlahan reza membuka matanya. Denyutan sakit dikepalanya masih sangat terasa.
Tanganya memegang kepala sambil melihat sekitarnya yang nampak sepi.
"Kamu udah sadar?". Ujar seorang wanita yang berjalan menghampiri reza.
"Siapa kamu? Dimana aku?". Tanya reza bingung menatap wanita disampingnya.
"Namaku Arini, ada apa denganmu? Apa kau terhanyut?"
"Jangan mendekat.!! Berhenti disana!". Reza mencoba duduk perlahan sambil menahan sakit kepalanya.
"Arini? kamu menemukanku dimana? Apakah aku masih berada dikota D?". Ujar reza.
"Ini kota B, aku menemukanmu dikota D saat aku pulang dari liburan, kemarin aku melihat mobil yang terparkir dibawah derasnya hujan dan tanpa atap, aku tanpa sengaja melihat kepalamu yang saat itu penuh darah, aku dibantu supir taxi membawamu kemari, dan aku juga sudah membawa mobilmu". Jelas arini.
"oh. Terimakasih.
Eh.. Dimana ponselku?? Apa kau mencurinya?!!". Reza menatap arini sinis.
"Heii.. Lo pikir gue penjahat!! Gue udah baik-baik nolongin elo! Gak terimakasih banget, malah nuduh.. Noh hp lo diatas meja". Dengan kesal, arini menunjuk kearah ponsel reza.
Tanpa meminta bantuan arini, reza turun dari ranjangnya untuk mengambil hp nya, namun ia terjatuh karna kondisinya masih lemah.
"Sukurin.!! Makanya jangan asal nuduh orang!". Ujar arini memicingkan alisnya saat melihat reza terjatuh.
Reza mencoba berdiri sendiri, namun ia tetap terjatuh.
"Haiss.. Dasar nyusahin aja nih orang, sini deh gue bantuin". Dengan wajah cemberut dan sedikit kesal, arini pun membantu reza kembali keranjangnya dan memberikan hp nya.
Reza menyambut ponselnya tanpa sepatah kata pun. Ia langsung menghubungi kedua orang tuanya.
"Hei, biaya rumah sakitnya belom dibayar, lo bisa bayar sendiri kan? Kayaknya lo orang kaya". Ujar arini ketika reza selesai menelpon orang tuanya.
"Siapa juga yang mau minta bayar sama lo? Gue bisa bayar sendiri". Ketus reza.
Tidak lama kemudian, ara, rey dan juga ratu datang menjenguknya.
"Kak reza... Kakak gak apa-apa?". Tanya ratu cemas sembari memeluk kakaknya itu.
"Aku gak apa-apa dek. Jangan khawatir".
"Reza, apa yang terjadi padamu? Bukankah kamu bilang kamu dirumah temanmu? Tapi diamana mereka? ". Ujar rey.
Arini pun maju menampakan dirinya dihadapan orang tua reza. "Maaf om, tante, sebenarnya aku menemukan reza dikota D, dia jatoh dan kepalanya menimpa batu, terus pingsan dipinggir danau, aku yang membawanya kemari". Jelas arini.
"Oh, kamu yang selamatin reza, terimakasih ya nak. Nama kamu siapa?". Ucap ara sembari merangkul arini.
"Namaku arini tante. Em.. Kalau gitu aku pergi dulu ya tante, om".
"Kamu pulang sama siapa? Tante bisa mengantarmu pulang"
"Gak usah tante, aku sudah menghubungi temanku, sebentar lagi dia dateng.
Ditengah perbincangan arini dan ara, teman arini pun datang menjemputnya.
"Arini, ayo kita pu... Lang...
Eh,, reza?!!! Om, tante??"
"Lesty?? Kamu teman nya gadis ini?". Tanya reza heran. Lesty pun langsung menyambangi reza.
"Reza, lo kapan pulang dari london?! Makin tampan aja lo, ternyata orang yang dibilang arini tuh elo?!". Ujar lesty dengan senyum semeringah.
"Heh, lo masih aja cerewet kayak dulu". Ketus reza.
__ADS_1
"Maaf ternyata kalian saling kenal?". Tanya arini heran.
"Oh iya, rin dia ini teman SMA kita. Reza, ini teman kuliah gue namanya arini". Lesty mengenalkan arini dengan reza.
"Nggak usah, gue udah tau namanya". Sahut reza cuek.
"Ya udah, lesty kita pergi aja yok.
Maaf om, tante, kita masih ada urusan, kita pergi dulu ya". Arini menarik tangan lesty setelah berpamitan dengan kedua orang tua reza.
Lesty merasa heran dengan sikap reza setelah empat tahun tidak bertemu, dia tidak seperti biasanya yang selalu terlihat ceria dan suka bergurau, namun kali ini, dia seperti orang yang berbeda.
Lesty mengajak arini kerumahnya dengan mengendarai sepeda motor.
Mereka berdua berguling santai dikamar lesty sambil ngobrol.
"Ti, reza itu temen lo dari SMA ya, tapi kok songong banget gitu ya? Gue udah susah payah nolongin dia dari maut, ehh dia malah nuduh gue maling. Gue jadi nyesel nyelamatin dia". Gerutu arini geram.
"Rin, dia bukan orang kayak gitu, waktu SMA, dia sangat baik, pengertian dan orang yang ceria, tapi entah kenapa saat aku melihatnya tadi seperti ada dendam dimatanya. Aku juga gak tau ada apa denganya.
Sudahlah, jangan dipikirkan. Malam ini lo tidur dirumah gue aja ya, kebetulan papa dan mama sedang keluar kota. Besok kita libur, bisa bangun agak siang".
"Baiklah.. Ayo kita tidur".
_
Dalam rumah rey, mereka sedang bersantai setelah reza dibawa pulang dari rumah sakit. Ia berbaring disofa ditemani oleh keluarganya.
"Reza, katakan ada apa denganmu, kenapa kamu bisa sampai kekota D? Kamu baru saja tiba tadi pagi, sudah keluyuran sampai sana, ada apa?". Tanya rey tegas.
"Maaf pa.. Aku sendiri gak tau kenapa bisa sampai disana". Jawab reza merunduk.
"Kok kamu gak tau? Gak mungkin kan mobil nya jalan sendiri". Timpal ara.
"Baiklah, aku akan menceritakanya dari awal.
"Kamu ini ada-ada saja, untung ada arini yang tepat waktu menyelamatkanmu.
Jika benar yuki sudah menikah, kenapa kamu harus patah hati, biarkan dia bahagia, itu artinya kalian bukan jodoh. Cari wanita lain untuk penggantinya". Ujar ara menatap anak nya itu.
"Wanita?? Ma.. Aku sudah bertekad untuk tidak mencintai atau mempercayai wanita lagi selain mama. Aku benci wanita yang bisanya cuma mengucap janji namun mengingkarinya. Aku tidak akan mencintai siapapun.
Sudah ah,, aku kekamar dulu, mau istirahat".
Reza pergi begitu saja meninggalkan orang tua dan adiknya.
"Reboy.. Gimana nih, hati anak kita sudah tertutup rapat. Gimana kalau beneran dia gak mau pacaran lagi, terus kita gak akan dapat menantu dong". Ucap ara mengeluh dengan kelakuan anaknya itu.
"Dia itu tampan sepertiku, jangan takut kalau dia gak dapat jodoh, jika waktunya tiba, dia pasti menikah. Kita tunggu saja". Sahut rey santai dengan senyuman.
"Serah lu marjuki!!". Ara menggandeng tangan ratu dan pergi meninggalkan rey sendirian.
_
Malam esok nya.
Lesty dan arini tengah santai nonton tv sambil ngemil, mereka berdua dikagetkan dengan suara ketukan pintu.
"Yeeyy.. Mama papa pulang". Teriak lesty girang sambil membuka pintu.
Namun ia kaget ternyata yang datang bukan orang tuanya melainkan reza dan kedua sahabatnya.
"Reza, boby, danu?? Ada apa kalian kemari?".
"Em.. Itu,, bos yang ngajak kita kesini, tadinya gue mah ogah mau ketemu sama mantan, tapi karna bos yang maksa makanya gue mau". Jawab boby yang enggan menatap lesty.
__ADS_1
"Lesty.. Ada sia.. pa..?". Arini turut menyusul lesty.
"Ada tamu tak diundang?? Silahkan kalian ngobrol, gue gak mau ikutan". Arini kembali masuk kedalam.
"Bos, itu cewek yang nolongin elo? Cantik kok, gue mau deh jadi pacarnya". Ujar danu sembari melihat arini yang berjalan masuk meninggalkan mereka.
"Ambil aja kalo dia mau". Sahut reza cuek.
"Ayo masuk, udah lama banget nih gak ketemu sama teman berandalan kayak kalian, terutama cecunguk ini". Lesty menunjuk boby, mantan pacarnya itu.
"Lesty, kita ngobrol diluar aja, gak enak sama teman lo yang judes itu.
Gue butuh penjelasan dari lo tentang yuki. Lo kan sahabatnya, pasti tau kan cerita yang ia alami? "
"Reza, gue gak tau banyak soal yuki, yang gue tau waktu itu dia dekat dengan neo, gue dan genta sudah memberi peringatan pada yuki bahwa jangan terlalu dekat dengan neo, tapi kami lihat neo begitu tulus berbaik hati dan mencintai yuki, kami pun membiarkanya. Tapi setelah satu tahun lo dilondon, yuki memberitahu kami bahwa dia akan menikah dengan neo. Jujur, saat itu gue kaget, karna kami sudah jarang bertemu.
Gue tanya pada yuki, apakah dia benar-benar mencintai neo, ia menjawab dengan tegas bahwa ia memang mencintai neo, dan akan ngelupain lo. Setelah menikah, dia sama sekali gak pernah nemuin gue dan teman lainya, bahkan nelpon pun gak pernah lagi. Itu aja yang gue tau". Jelas lesty.
"Oh.. Sudah jelas sekarang, berarti memang dia selingkuh, dan berniat melupakanku?! Dasar penghianat.! Gue gak akan percaya lagi dengan kata-kata dan janji manis seorang wanita". Reza memukul dinding dengan tatapan tajam yang penuh dendam.
"Buseeet.. Bos reza kok jadi serem gitu ya? . Batin boby dan danu.
"Baru kali ini gue liat reza kayak gini, pasti dia sakit hati banget, pantes aja sikap nya berubah". Ucap lesty dalam hati.
"Boby, danu! Ayo kita pulang". Reza berlalu begitu saja dari rumah lesty tanpa pamit.
"Eh.. Iya bos.. Lesty kita pulang ya, salam buat temen lo". Danu dan reza turut mengiringi langkah reza.
"Pstt.. Gue ngerasa aura bos sekarang beda banget ya, kayak aura seorang mafia gitu". Bisik boby pada danu.
"Benar, gue jadi takut". Sahut danu.
Dalam perjalanan pulang, boby dan danu hanya diam dan saling lirik, biasanya ngoceh tanpa henti, namun sekarang mereka takut mengganggu lamunan reza yang tengah mengemudi.
"Apa mulut kalian diborgol? Kenapa membisu?". Ujar reza.
"Eh! Nggak bos, kita cuma gak mau mengganggu lamunanmu, soalnya serem, hehe". Jawab boby tersenyum palsu.
"Sikap gue berubah hanya untuk wanita, jika dengan kalian, gue masih sama seperti dulu. Apa yang perlu kalian takutkan, gue bukan hantu! Kalian bebas menunjukan sikap gila kalian itu.
Oh iya,,mulai minggu depan kalian berdua bekerja diperusaah perhiasan gue".
Boby dan danu terbelalak kaget. "Perusahaan?? Sejak kapan lo punya perusahaan sendiri bos?". Tanya boby heran.
"Sejak tiga tahun lalu, gue bangun perusahaan itu sambil kuliah dan kerja dilondon, dibantu juga oleh papa dan mama, gue sama sekali belum pernah berkunjung kesana, tapi kami selalu meeting melalui media online, dan rencanaya..... Ini adalah perusahaan yang gue bangun untuk masa depan gue bersama yuki. Tapi... Ahhh sudahlah.. Itu sudah gak penting, sekarang lebih baik gue menyibukan diri, dan melupakan semua masalah. Ingat, minggu depan kalian harus bekerja, biar gue jemput kalian".
Boby dan danu saling tatap girang. "Huwaa... Makasih banyak bos.. Setelah kita wisuda, kita berdua masih nganggur aja, kita memang jodoh". Ujar boby terharu.
"Udah deh, gak usah lebai.
Malam ini gue gak mau pulang, kita ke Bar papa gue aja ya. Gue mau ngilangin penat".
"Ini namanya rezeki bertubi-tubi.. "
Boby dan danu begitu girang diajak reza menuju Bar milik papanya itu.
Setibanya di sana, mereka bertiga disambut oleh gadis-gadis cantik, tentu saja mereka tidak mengenali reza bahwa reza anak pemilik bar tersebut.
Gadis-gadis cantik itu mengerumuni reza dan kedua temanya.
Reza sempat berpikir akan menolak mendekati gadis pelayan bar itu, namun ia berpikir kembali. "Untuk apa gue menjaga jarak dengan gadis cantik ini, toh gue gak akan mencintainya, lebih baik bersenang-senang sekarang".
Dengan senang hati, reza menarik beberapa gadis untuk duduk disebelahnya dan menemaninya minum alkohol, begitu juga dengan boby dan danu.
Reza nampak sangat menikmati malam itu, ia bersenang-senang dengan gadis dan beberapa botol anggur yang membuatnya mabuk tak sadarkan diri.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG...