
Malam itu, arini disarankan dirawat inap oleh dokter, karna luka dihidungnya cukup parah, dan juga punggung belakangnya yang memar dan bengkak.
Reza memberitahu kedua orang tuanya bahwa malam ini ia menginap dirumah danu.
Lalu ia menyuruh lesty dan yang lainnya pulang dari rumah yuki tanpa menunggu arini.
"Bos, gimana ini? Besok kita ada meeting kan? Kalau arini gak bisa hadir gimana? Sedangkan dia yang membuat bahan materi untuk presentasi". Ujar boby.
"Besok kita tetap meeting, biarkan danu yang menjaga arini, dia lebih pantas berada disisi arini. Biarkan yuki yang menggantikan arini pada meeting besok". Jawab reza tertunduk.
"Benar, kalian kerja saja. Biar aku yang menjaga arini, kalau yuki bertanya tentang arini, bilang saja dia tidak enak badan". Sahut danu.
_
Disisi lain, lesty dan yang lainya pulang dari rumah yuki setelah reza menyuruh mereka untuk tidak menunggu arini ,karna reza mengatakan kalau arini sudah ia antarkan merumahnya.
Tidak lama mereka pergi, neo pun pulang dengan rasa badan yang begitu sakit akibat pukulan dari reza. Tapi dia menyembunyikan semua itu dibalik senyumanya, terlebih saat ia melihat yunie.
"Neo, kamu baru pulang? Kenapa malam sekali?". Bunda yuki menghampirinya.
"Biasa bun lembur, aku mandi dulu ya bun, sudah malam". Sahutnya sambil berlalu.
"Ayah....!!." Yunie berlari dan menghampiri ayah nya itu. Kemudian neo menggendong dan menciumnya sebagai pengobat lelahnya.
"Sayang, kamu belum tidur? Apa memang menunggu ayah?"
"iya."Jawab yunie dengan imut.
"Ya sudah, ayah mandi dulu ya, nanti ayah temani yunie bobok". Neo menurunkan yunie, ia bergegas masuk kekamar mandi tanpa menyapa yuki yang berada didekat yunie.
"Ada apa dengannya? Tumben sekali gak ngajak ngomong!". Gerutu yuki heran.
Didalam kamar mandi, neo masih memikirkan kejadian yang ia alami malam ini sembari melihat memar disekujur tubuhnya.
"Mungkin ini memang pantas aku dapatkan, jika aku diposisi reza, mungkin aku sudah membunuh orang yang merebut kekasihku. Ini memang salahku".
Neo tertunduk dibawah guyuran air yang mengucur deras dari shower diatas kepalanya.
Setelah mandi, ia buru-buru masuk kamarnya dan memakai baju, supaya yuki tidak melihat lebam pada tubuhnya.
Kemudian neo masuk kekamar yuki untuk menemani yunie tidur, ia banyak diam tak seperti biasanya.
"Neo kenapa ya? Gak kayak biasanya! "
Setelah yunie tertidur, neo keluar dari kamar itu tanpa melihat pada yuki.
"Neo! Ada apa denganmu? Apa lagi ada masalah?". Tanya yuki saat neo hendak keluar
"Aku gak apa-apa, aku hanya lelah, aku mau tidur duluan, kamu istirahatlah, besok harus kerja, selamat malam". Neo pergi begitu saja menuju kamarnya.
"Ada yang aneh padanya". Gumam yuki.
_
Pukul 02 dini hari, reza, danu dan boby menginap dirumah sakit untuk menemani arini, namun boby sudah terlelap. Sementara reza dan danu tetap berjaga.
"Danu, tidurlah, biar aku yang menjaga arini, jika dia bangun nanti aku akan membangunkanmu".
"Baiklah, nanti panggil saja kalau arini terbangun". Danu berbaring dikursi karna matanya sangat ngantuk.
__ADS_1
Reza membawa kursinya, kemudian ia duduk disamping ranjang arini. Perlahan ia meraih tangan arini dan mengenggamnya.
"Niat kamu memang baik ingin memisahkan aku dan neo, tapi kenapa kamu harus mengorbankan diri kamu sendiri? Dasar bodoh!, lihat sekarang, kamu kesakitan seperti ini, aku jadi merasa bersalah padamu. Maafkan aku arini ".
Reza tertunduk sambil menggengam tangan arini, ia pun tertidur diatas tumpukan tanganya dan arini.
Saat subuh menjelang, arini terbangun, ia menarik tangannya yang terasa keram karna tertindih oleh kepala reza.
"Uhh.. Tanganku! Sakit sekali.!" Arini menarik tangannya perlahan, namun ia menghentikannya saat ia melihat reza yang tertidur menggenggam tangannya.
"Reza?, dia tertidur sambil menungguin gue? Eh! Tapi dimana ini? Dimana gue tidur.!"
Reza terbangun mendengar suara arini yang bergumam. "Eh, arini, gimana luka nya? Masih sakit?"
"Za, dimana kita?". Ujarnya sembari melihat sekeliling.
"Dirumah sakit, lo gak inget kejadian semalam? Ada cewek bodoh yang ceroboh, yang sok jadi pahlawan, yang mengorbankan hidung mancungnya kena tonjok!?". Jelas reza dengan wajah datar.
"Apaan sih! Kalo gak gitu kan lo gak bakal berhenti mukulin neo, apa lo gak kasian sama dia?".
"Iya.. Iya.. Maafin aku ya, ini salahku, kamu sampai sakit kayak gini". Reza menatap wajah arini dengan permintaan maafnya dengan tulus.
"Weew..wajahnya dekat sekali denganku. Dia ganteng banget dari dekat. Cara bicaranya juga lembut banget, ohmaigad!. Eh! Apaan sih gue, Halu aja!".
"Kok diem? Boleh kupegang hidungmu?". Wajah reza makin dekat dengan arini saat reza melihat dan memegang hidung arini.
Sementara arini hanya diam dan bengong, jiwanya sudah berterbangan entah kemana.
"Dia cantik juga kalau dari dekat, kulit wajahnya bagus juga. Eh! Apaan sih gue!"
Deg... Deg...
Suara jantung keduanya berdegup kencang. Saat reza menyadari jantungnya berdegup ia pun kembali duduk dikursi samping ranjang arini.
"Dokter bilang gak ada apa-apa kok, kamu istirahatlah, danu akan menjagamu, meeting hari ini biar yuki yang menggantikan kamu, aku dan boby pergi dulu ya, ini sudah pagi, nanti sore aku akan menjengukmu". Reza mengelus kepala arini sambil tersenyum manis.
Kemudian reza menghampiri danu dan boby yang masih ngiler.
"Woii bangun! Udah pagi!". Reza menggoyangkan badan danu dan boby sampai mereka terbangun.
"Eh, bos! Dimana kita? Apa kita berada pada dimensi lain?". Boby tengok kanan kiri sambil mengucek matanya.
"Jangan kebanyakan halu! Sadar! Kita dirumah sakit. Ayo pergi, lo yang bawa mobil".
"Bos, kalo mobil dibawa, gimana gue pulang, gimana mau beli makanan buat arini?". Timpal danu.
"Ya. Lo bener. Ya udah, gue dan boby naik taxi aja, kita langsung kekantor. Ayo bob kita pergi."
Sebelum keluar dari kamar pasien, reza kembali lagi menjenguk arini yang masih berbaring."Cepat sembuh ya". Ucap nya dengan nada kecil sambil menyematkan senyuman. Kemudian reza dan boby beralih dari rumah sakit dengan naik taxi.
"Hari ini aku mengetahui banyak sisi lain dari reza, ternyata dia begitu pengertian dan perhatian. Saat dia mengelus kepalaku, aku merasakan nyaman, aku merasa bahwa ia sangat tulus. Ah! Kenapa jadi mikirin dia sih!"
Danu menghampiri arini yang tengah melamun dengan pandangan kosong.
"Rin? Kenapa diem gitu? Apa punggungmu masih sakit?".
"Eh! Danu?. Nggak kok, gue hanya berpikir. Emm..danu, gue boleh tanya soal reza gak?". Ucapnya menatap danu.
"Boleh kok, tanya saja".
__ADS_1
"Kalian kan sudah lama berteman, gimana sih kepribadian reza dari dulu sampai sekarang. Terus dia orang yang gimana? Saat gue pertama kali bertemu dengannya, dia orang yang cuek dan dingin. Tapi barusan aku merasakan bahwa dia orang yang hangat dan perhatian".
"Rin, dia bukan orang yang dingin. Sewaktu sekolah dulu, dia orang yang paling ceria diantara kami, dia sangat royal dan hamble. Bahkan sampai saat ini". Jelas danu.
"Terus? Kenapa dia seakan mempunyai dua sisi yang berbeda?".
"Bukan seperti itu, Kamu tau sendirikan hubungannya dengan yuki gimana?. Waktu dia pulang dari london, dia langsung kerumah yuki. Dia kecewa karna mengetahui yuki sudah menikah dengan neo. Sejak saat itu lah dia bersikap dingin pada semua wanita".
"Oh. Pantesan. Aku juga kasian dengan mereka bertiga. Tapi... tadi dia begitu berbeda dari biasanya".
"Rin. Apakah lo punya rasa dengan reza?". Danu menatapnya dengan pertanyaan mematikan.
Arini tertunduk bingung. "Untuk saat ini gue belum tau. Tapi jika nanti gue suka padanya, apakah ada masalah? Kita gak tau kedepan nya akan seperti apa?".
Danu hanya tertunduk mendengar penjelasan arini.
"Apakah arini menerima perasaanku jika aku mengatakan kalau aku mencintainya?".
"Rin, kalau menurut gue sih gak ada masalah kalo lo suka sama reza, lagian kalian cocok kok, lo cantik, dia tampan, dan kalian sama-sama pinter". Sahut danu yang tengah membohongi hatinya sendiri.
"Danu, lo juga baik kok, lo juga tampan. Siapapun pasti suka sama lo, tak terkecuali gue. Tapi kita gak bisa menerawang apa yang akan terjadi dimasa depan". Jelas nya tersenyum. "Bdw, gue laper nih".
"Lo laper, gue beli makanan dulu ya, tunggu disini, jangan kemana-mana sampe gue balik". Danu turut mengacak rambut arini kemudian keluar untuk membeli makanan.
"Hm... Kalian semua cowok yang baik, pasti pertemanan kalian bersama yuki dan yang lainnya semasa sekolah dulu sangat asik. Gue ngerasa beruntung bisa masuk kedalam persahabatan kalian bertujuh. Kalian begitu pengertian.
Tapi didalam persahabatan pasti ada namanya cinta lokasi. Seperti reza dan yuki, lalu lesty dan boby, karna perasaan cinta itulah yang membuat hubungan persahabatan kalian retak.
Ini yang gue takutin, gimana ntar kalo gue mencintai salah satu diantara kalian, kemudian ada juga yang lain mencintai gue tapi tak terungkap. Cinta kayak gini akan merusak pertemanan kita.
Fiuh..entahlah. perjalanan hidup gak ada yang tau, semoga kejadian yuki dan reza gak akan terulang pada siapapun.
_
Dikantor perusahaan DIAMOND.
Reza, yuki dan boby beserta direktur robet, manager laura dan sekretaris direktur bernama tania sudah berada didalam ruangan meeting.
"Bob, tolong ambilkan laptop arini, bawa kemari". Ujarnya pada boby yang berdiri tegap disebalah kursi seorang CEO itu.
"Baik bos!". Boby pergi dengan langkah cepat.
"Maaf bos, arini gak masuk ya?". Tanya yuki heran.
"Dia izin hari ini, dia ada keperluan mendadak. Yuki, kamu yang menggantikannya untuk presentasi nanti, sebelum client datang, kamu pelajari dulu materinya yang sudah disiapkan arini, ada empat client dari beberapa perusahaan yang akan datang kemari, kau harus bisa menjelaskan tentang design yang dibuat arini". Jelas reza pada semua bawahannya.
"Aku akan berusaha sebisa mungkin bos". Sahut yuki.
Boby kembali lagi dengan membawa lapotop arini, kemudian reza meminta manager laura untuk menjelaskan isi materinya pada yuki.
Saat semuanya siap, yuki pun sudah mengerti dengan materinya. kemudian beberapa client pun mulai berdatangan.
Yuki kaget saat melihat diantara client itu ada neo juga.
Begitu juga dengan reza. "Ternyata dia yang mewakili perusahaan XX?".
Yuki masih memperhatikan neo sambil bengong karna kaget sekaligus heran. Namun neo biasa-biasa saja karna dia sudah tau kalau dia pasti akan bertemu yuki diperusahaan reza. bahkan ia tidak melirik yuki sama sekali.
Sesekali reza melihat pada yuki dan neo, reza merasakan bahwa ada hal yang tidak baik diantara mereka.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG...