
Satu minggu kemudian. Reza mengajak arini dan teman lainnya untuk melihat dan memantau para pekerja yang tengah membangun rumah reza.
Mereka semua turun dari mobil sembari berjalan perlahan menuju rumah yang baru dibangun setengah itu.
"Wahh.. Kayaknya rumah lo bagus banget bos. Deketan lagi sama rumahnya arini." Ujar boby.
"Emang aku sengaja beliin rumah arini dekat dengan tanah ini, supaya aku bisa bertemu terus dengannya.
Ayo kita lihat kesana."
Reza menggandeng tangan arini, yang lainnya turut mengiringi mereka.
"Reboy, kayaknya mau hujan deh. Anginnya deras banget. Kita pulang kerumah saja dulu." Ujar arini saat melihat langit yang sudah menghitam mendung.
"Iya nih. Anginnya kencang banget. Kalo. kita kehujanan disini gimana?." Timpal yuki.
"Kan sudah ada atap walau belum jadi, kita bisa berlindung disini." Sahut danu.
Reza menghampiri salah satu pekerja disana untuk menanyakan tentang pembangunan yang sedang mereka kerjakan itu.
Angin semakin kencang, hujan turun lebat tanpa gerimis. Petir seakan bersahutan. Mereka semua berlindung didalam rumah reza yang belum sepenuhnya berdinding itu.
"Kan, basah. Walau sudah ada atap, tapi gak bisa melindungi kita. Anginnya kencang banget." Ujar arini sembari menggosok bahunya.
Reza mendekati arini dan merangkul bahunya. "Ya udah, tunggu aja hujannya reda." Timpalnya tersenyum.
Mereka semua mencari tempat masing-masing untuk berteduh.
Makin lama, hujan makin lebat. Dinding yang baru saja dibangun itu kembali basah. Perlahan mulai retak dan akan terjatuh.
Sementara yuki bersandar pada dinding itu bersama lesty.
Menyadari dinding itu akan jatuh, reza pun melepaskan rangkulannya pada arini dan berlari menuju yuki dan lesty.
Reza mendorong yuki terlebih dahulu, kemudian lesty, hingga mereka berdua selamat dari bahaya.
Namun na'as. Pohon besar yang disamping bangunan itu tumbang dan menimpa arini yang tengah sendirian.
Arini menjerit sembari merunduk menutupi kepala dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Reza dan yang lainnya kaget mendengar jeritan arini.
"Arini.!!!." Teriak danu sambil berlari menuju arini, disusul oleh reza dan yang lainnya.
Pekerja bangunan itu turut melihat kejadian tersebut. Mereka berbondong-bondong memotong dahan pohon besar itu untuk mencari arini yang sudah tertimbun didalamnya.
"Arini...! Kamu dimana? Tolong jawab aku!." Teriak reza dibawah guyuran air hujan disertai petir itu.
Tidak ada suara arini yang menyahut kecuali suara petir yang bergema.
Reza berlari kerumah orang terdekat, ia meminjam beberapa pisau dan kapak, lalu memotong dahan-dahan pohon itu.
Beberapa saat kemudian, mereka menemukan arini yang sudah terlungkup bersimbah darah dan tak sadarkan diri.
Reza langsung menggendongnya dan membawa arini kerumahnya yang hanya berseberang jalan, sambil berlari kencang.
Reza menangis melihat arini yang terkulai dalam gendongannya itu. Teman yang lainnya juga turut mengikuti reza kerumah arini.
"Sayang, kumohon sadarlah. Maafkan aku meninggalkan kamu sendirian, ini salahku. Ini salahku.!!" Teriak reza sembari membaringkan arini disofa.
"Astaga arini.! Tolong bangunlah." Lesty dan yuki turut menangis.
"Danu benar. Ayo kita bawa dia kerumah sakit. Danu, bawa mobil kemari. Boby, tolong bawakan pakaianku didalam mobil." Timpal reza yang masih cemas.
"Baik bos." Sahut mereka bersamaan.
Reza menggendong arini kekamarnya, kemudian lesty dan yuki mengganti baju arini, sementara reza dan yang lainnya menunggu diluar.
Setelah selesai mereka semua bergegas menuju rumah sakit. Kegelisahan makin membuat reza panik.
Setibanya dirumah sakit. Mereka semua hanya bisa menunggu diluar.
Reza hanya diam sambil berdoa dalam hati.
"Maafkan aku. ini semua salahku." Ujar yuki tertunduk.
Reza mencengatkan kepalanya untuk menatap yuki. "Tidak. ini bukan salahmu. Ini salahku. Andai saja aku gak ninggalin dia sendirian mungkin ini gak akan terjadi." Sahut reza dengan rasa penyesalan.
"Kenapa juga kamu ninggalin dia kak reza?! andai kau mengajaknya ikut denganmu, mungkin dia gak akan celaka! kamu itu gak peka!." Teriak yuki sambil menangis.
__ADS_1
"Karna aku mau menyelamatkan kamu yuki.! apa kamu gak sadar kalo kamu dan lesty akan tertimpa runtuhan bangunan tadi.!" Bentak reza kencang.
Danu juga turut emosi. "Jadi, elo menolong yuki dan membiarkan arini celaka bos?! Lo egois! lo bilang sayang sama arini. Tapi elo lebih peduli dengan orang lain!. Gue tau kalo yuki teman kita sejak sekolah. Tapi lo harus inget, dia sudah berkeluarga. Dan arini sangat mencintai elo.! Udah berapa kali lo abaikan dia bos!!." Sahut danu membentak reza.
Seketika reza duduk, tertunduk sambil berpikir dan mencerna ucapan danu.
"Semuanya tolong diam!! kita harusnya berdoa untuk kesembuhan arini, bukan malah bertengkar gak jelas. Dan untuk lo yuki, kita bersahabat sejak lama, tapi sekarang gue mohon sama elo, jangan ikut kemanapun reza dan arini pergi. Walau reza mengajakmu, berusahalah untuk menolak kecuali untuk urusan kerjaan." Pungkas lesty.
"Iya, aku tau. Ini semua salahku." Sahut yuki tertunduk.
Beberapa dokter keluar dari kamar pasien. Reza dan yang lainnya pun menyambangi dokter tersebut untuk menayakan keadaan arini.
"Maafkan kami. kami sudah berusaha, doakan saja semoga nona arini cepat pulih. Dia sedang kritis. Kepalanya banyak sekali mengeluarkan darah. Ada kemungkinan dia akan dioperasi dibagian kepala, karna ada sedikit masalah pada otaknya." Jelas dokter tersebut.
"Dok, lakukan yang terbaik asal dia pulih kembali." Ujar reza cemas.
"Itu sudah tugas kami tuan.
baiklah, saya permisi dulu."
Setelah dokter pergi, reza dan yang lainnya masuk untuk menjenguk arini.
Reza kembali meneteskan air mata melihat kepala arini yang dipenuhi dengan lilitan perban itu. Jemari tangannya dipenuhi dengan luka.
Perlahan reza meraih tangan arini. "Sayang, maafkan aku. Aku bukan bermaksud mengabaikanmu. Tolong sadarlah. aku akan memperbaiki hubungan kita. Aku sayang sama kamu." Reza menangis sembari menciumi tangan arini yang lemah gemulai itu.
Sementara yang lainnya hening tanpa suara. Mereka juga turut menangis saat melihat reza menangis.
Reza berdiri perlahan. Ia menghampiri yuki.
"Yuki. Maafkan aku. Jika nanti arini sudah sadar kembali, aku akan memutuskan kontrak kerja denganmu. Tapi kamu jangan khawatir, aku akan membayar ganti rugi dan juga pesangon untukmu. Aku akan memperkerjakan kamu dikantor papaku. Mohon dimaklumi, ini demi arini." Ujar reza menatap yuki.
"Aku mengerti. Memang harusnya aku tidak berada ditengah kalian. Mungkin ini lebih baik untuk kita semua. Terimakasih banyak." Sahut yuki tersenyum.
Reza tersenyum mendengar jawaban yuki. ia merasa lega.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1