Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:48


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Pagi hari dirumah yuki. Saat itu neo hendak pergi lagi keluar kota untuk menjalankan tugasnya.


"Neo, kamu bilang, kamu bertugas dikota F, itu artinya kamu bekerja dikota yang sama dengan jessie dan juga reza." Tanya yuki merunduk.


"Iya, tapi kan kita beda kantor sayang. Reza jarang kekota F, dia kebanyakan disini. Kamu jangan khawatirin aku ya. Aku gak akan macam-macam kok, percaya deh sama aku." Neo mengusap kepala yuki.


"Kau percaya kok sama kamu."


"Makasih sayang. Yasudah, aku berangkat dulu ya. Harus jemput bos dulu dikantor. Kamu jaga diri baik-baik. Jaga anak kita." Neo mendekap yuki dan mencium lembut keningnya.


Yuki seakan bersedih setelah ditinggal neo. Namun dia harus tetap bekerja demi keluarga.


_


Waktu yang sama dikota F.


Reza, boby dan danu sudah berada dikantor baru reza setelah berangkat kemaren sore. Namun kali ini lesty tidak ikut serta.


Seorang sekretaris mengetuk pintu ruangan reza saat mereka tengah ngobrol.


"Bos, ada yang ingin menemuimu."


"Silahkan bawa masuk." Sahut reza dari dalam.


Sekretaris itu membuka pintu dan langsung masuk mengajak seorang gadis.


"Jessie? Ada apa kemari?." Ujar reza heran.


"Kamu lupa? Kita belum tanda tangan kontrak setelah menjadi partner kerja. Aku kemari inging meminta tanda tanganmu." Tegas jessie sembari menaruh sebuah dokumen diatas meja.


"Oh iya.. Maaf aku benar-benar lupa. Untung saja kau ingatkan. Baiklah, aku akan tanda tangan." Reza mengambil pulpen kemudian membubuhkan tanda tangannya diatas kertas tersebut.


"Nih, udah selesai."


"Oke, makasih za. Emm, kita bisa ngobrol berdua?." Ujar jessie.


Reza melirik danu dan boby untuk menyuruhnya keluar.


Jessie duduk didepan reza setelah danu dan boby keluar.


"Katakan ada apa?." Ujar reza santai.


"Za, apakah aku ini memang mirip dengan arini.? Waktu dikota B, aku melihat fotonya memang sangat mirip padaku. Dan teman kamu bilang kalo arini hilang ingatan? Aku makin penasaran padanya." Jelas jessie menatap wajah reza.


Reza tertunduk mengingat arini. "Iya, kamu sangat mirip dengannya." Sahut reza singkat.


"Kau sangat mencintainya ya?."


"Aku sangat sayang padanya. Dan aku baru merasakan cinta ini setelah dia pergi. Sebelumnya, aku kurang peduli padanya." Jelas reza penuh penyesalan.


"Hm.. memang penyesalan itu selalu datang terlambat. Kamu baru tahu kan artinya kehilangan? Sakit gak?." Tanya jessie tegas.


"Kenapa nanya kayak gitu? seolah kau dendam padaku." Timpal reza.


"Tidak. Bukan kayak gitu. Tapi dimataku, pria itu sama saja. Apa kau lupa bahwa aku baru saja putus dengan pacarku yang dikorea?. Lelaki itu sama! b*jingan semua.!." Ketus jessie.


Reza kaget dan langsung berdiri.


"Heii jes, jaga ucapan kamu! Semua cowok itu berbeda! jangan samakan aku dengan mantan pacar kamu itu! Aku berbeda dengannya. Aku gak pernah selingkuh dari arini.!" Bentak reza.


Jessie turut berdiri. "Kamu memang berbeda. Tapi yang menyamakan kalian adalah selalu mengabaikan orang sekitar. Setelah kehilangan, baru sadar dan menyesal. Itu lah yang dilakukan semua cowok didunia ini.! Apa kalian pikir wanita tidak bisa hidup tanpa adanya pria! Kalian salah.!" Jessie berteriak menahan tangis nya.


"Heii kenapa kau yang nyolot! Jangan sangkut pautkan aku dalam masalah kamu!! " Bentak reza lagi.


Jessie merunduk seketika. "Kau benar. maafkan aku." Jessie keluar dari ruangan reza sembari menahan tangis.

__ADS_1


Reza kembali duduk dengan dada yang penuh emosi.


"Astaga! drama apa ini? kenapa aku seperti sedang bertengkar dengan pacar saja!


Eh, apakah tadi dia menangis? apa aku terlalu kasar padanya.? Ah.. gak tau lah."


Reza keluar dari ruangannya menuju kamar asrama kantor.


Reza enggan tidur dihotel atau apartemen yang letaknya berjauhan dengan kantornya.


Ia pun menyulap kamar asrama yang biasanya digunakan untuk karyawan itu, ia ubah menjadi bak kamar hotel yang mewah.


_


Malam harinya. Reza berfikir kembali tentang apa yang ia ucapkan dengan jessie saat dikantor tadi.


"Hm.. sepertinya aku harus minta maaf. Walau bagaimanapun juga, dia adalah wanita yang mempunyai hati."


Reza meraih ponselnya. Namun saat hp itu dalam genggamannya. Tiba-tiba ada yang menelpon.


"Nomor baru?" Bisiknya sambil menjawab panggilan tersebut.


"Haii.. selamat malam."


Reza kaget mendengar suara itu. "Arini.? "


"Heii.. aku jessie. bukan arini.! Aku meminta nomor kamu dari reseptionis kantor kamu. Maaf ya mengganggu malam-malam."


(Astaga! kenapa suaranya sama persis dengan arini. dan gaya bicaranya juga sama, begitu periang.) Batin reza.


"Oh gitu?.nggak apa-apa kok. oh iya, aku minta maaf ya karna tadi siang sudah membentak kamu. Kamu nggak nangis kan?."


"Heii.. Kamu kira aku ini bocah apa!


Oh iya, harusnya aku yang minta maaf karna sudah membuatmu marah. Sebagai permintaan maaf, besok kamu bisa gak makan siang bareng. "


Reza mengakhiri telponnya karna ia sudah tak sanggup mendengar suara itu.


"Jessie, kenapa suara kamu saat dalam telfon begitu mirip dengan suara arini. Apakah kamu jelmaan arini? Ataukah kamu memang arini yang sengaja ingin membalas dendam atas sikapku dulu? Sebenarnya kalian berdua siapa?. Apa aku perlu menyelidiki ini.? Kalau benar dia adalah arini, maka aku siap mengikuti permainannya. Aku rela jika ia ingin balas dendam padaku. Tapi jika dia bukan arini. Itu betarti jessie yang akan tersakiti jika aku selalu menganggapnya arini. Auk ah, pusing."


Reza merebahkan dirinya diatas kasur sambil memikirkan arini dan jessie yang membuat pikirannya bingung.


_


Esok siangnya. Reza menepati janjinya untuk makan siang bersama jessie disebuah restoran.


"Haii za. ayo duduk." Sapa jessie dengan ramah.


"Eh, iya. maaf menunggu lama."


"Nggak kok. Aku juga baru tiba. Mau pesan apa?." Ujar jessie sembari membuka buku menu.


"Terserah kamu saja." Sahut reza.


Hari ini dia begitu ceria, dia sama persis dengan arini kalo dia sedang riang kayak gini.


Reza menatap jessie yang sedang membaca buku menu itu.


"Apa kamu mau beep steack.?" Tanya jessie.


"Eh, itu makanan kesukaan aku dan arini. Kok kamu tau?." Pungkas reza heran.


"Oh ya! Aku baru tahu loh. Ya udah kita pesan ini aja ya." Sahut jessie tersenyum.


_


Setelah makan siang usai.

__ADS_1


Reza mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak kecil yang mungil ia letakkan diatas meja.


"Jessie, ini hadiah dariku, sebagai permintaan maaf dariku." Reza mendorong kotak tersebut menuju jessie.


"Hah? apa ini za?."


"Buka saja. Itu adalah perhiasan yang dirancang oleh arini." Jelas reza.


Jessie langsung membuka kotak kecil itu.


"Wah kalung... ini bagus banget. Arini pinter banget ya bisa design sebagus ini." Ujar jessie kagum.


"Sini biar aku pasangin. Kalung ini sebagai tanda persahabatan kita ya. Nanti kalau arini kembali, aku akan mengenalkan kamu padanya."


Reza mengambil kalung tersebut, ia pun melingkarkannya pada leher jessie dari belakangnya.


"Aww... Sakit!." Teriak jessie.


"Eh, ada apa jes?."


"Itu. rambutku sepertinya menyangkut dikalung, sakit banget." Timpal jessie sembari mengusap kepalanya.


Reza pun membantu mengusap kepala jessie. "Maap ya. Tadi gak sengaja. Kalungnya udah dipasang nih. Kamu cantik banget."


Saat melihat kalung itu, Jessie langsung memeluk reza dengan erat. "Makasih ya. Kalung nya bagus banget."


Reza bingung harus berbuat apa. Ia pun hanya diam.


"Astaga! kenapa aku inget arini lagi. Aku bisa merasakan adanya cinta yang tulus dari dalam tubuh jessie. Aku makin penasaran dengannya."


Jessie melepaskan pelukannya. "eh, maaf.. maaf.. aku gak sengaja, aku baper."


"Gak apa-apa. Aku tau kamu lagi patah hati. Oh iya jes. Besok aku mau pulang kekota B lagi. Apa kau mau ikut?"


"Nggak ah. aku gak kenal sama teman-teman kamu.


Ya udah, aku pergi duluan ya. terimakasih kalungnya." Jessie pergi dari kafe itu dengan mengendarai mobil mewahnya.


Setelah jessie jauh. Reza mengeluarkan rambut jessie yang ia tarik dan ia simpan dalam saku celananya.


Reza meraih ponselnya untuk menelpon lesty.


"Halo za, ada apa? "


"Kamu dimana ti?."


"Lagi dikantor lah. kenapa?"


"Ti, kamu pulang dulu kerumah arini. Kamu cari rambut arini yang terselip dibantal atau disisirnya ya."


"Hah? buat apa za?."


"Kamu cari aja ti, jangan banyak tanya. Kalo sudah ketemu tolong dibungkus ya."


"Iya..iya.. repot amat dah! Ya udah, aku tutup telponnya, aku mau kesana sekarang."


"Oke ti. makasih ya."


Reza bernafas lega setelah menelpon lesty.


"Maafkan aku jessie. Bukannya aku meragukan kamu, tapi aku butuh kepastian. Dengan begini, maka pertanyaanku akan terjawab."


Reza berencana akan melakukan tes DNA pada rambut jessie dan arini.


•••


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2