
Malam hari, dirumah Arini.
"Ti, ada sesuatu rahasia besar yang gak bisa aku tanggung sendiri. Aku takut kalo aku berdosa." Arini tertunduk ragu.
"Ada apa rin? katakan saja, bukankah selama ini kita saling berbagi rahasia?." Timpal Lesty meyakinkan Arini.
"Ini soal Selena."
Arini mulai menceritakan semuanya pada Lesty.
Lesty tercengang kaget mendengar semua ungkapan Arini.
"Apa benar Selena menggugurkan kandungannya? Jahat sekali dia?!." Ujar Lesty geram.
"Itulah makanya aku merasa bersalah Ti.
Dan parahnya lagi, dia tidak menyuruhku untuk memberitahu Harry."
"Ya sudahlah Rin, biarin aja. Toh itu masalah mereka.
Lebih bagus kalo Selena kembali ke london." Lesty seakan masa bodo dan gak mau ikut campur.
Tok.. tok..
(Ketukan pintu dari depan)
"Masuk saja." Teriak Lesty.
Reza, Danu dan Bobby masuk bersamaan.
"Sayang, kita kerumah Neo yok, tadi sore dia dan bayinya sudah pulang dari rumah sakit, sekalian kita belikan oleh-oleh untuk Yunie dan Yuno." Ujar Reza sembari mengusap rambut Arini.
"Boleh.
Kalian duluan aja ya, aku dan Reza ke mall dulu. Ti, kamu ikut Danu sama Bobby ya."
"Baiklah, jangan lama-lama ya Rin." Timpal Lesty.
Mereka semua pergi bersamaan meninggalkan rumah Arini.
Setibanya di dalam Mall.
Mereka mencari keperluan bayi dan juga baju beserta boneka buat Yunie.
Namun mereka juga bertemu dengan Harry dan Selena.
"Haii Rin, disini juga? nyari apa?" Sapa Selena dengan ramah.
"Kami mau cari baju untuk anak Neo dan Yuki. Kalian sendiri cari apa?." Balas Arini.
"Sama dong, kita juga mau kesana, ntar barengan aja ya." Sahut Selena tersenyum riang.
Reza mendekat pada Arini. "Sayang, aku keluar bentar ya, papa nelpon, disini berisik." Mencium kepala Arini kemudian keluar.
"Oke. jangan terlalu lama." Sahutnya.
"Ya udah Rin, kami kesana dulu ya." Selena menggandeng tangan Harry dan pergi dari hadapan Arini.
"Oke silahkan, aku juga mau cari-cari baju dulu.
Emm.. pakaian bayi bagus-bagus semua.. Jadi pengen punya bayi deh." Tak kuasa menahan matanya melihat semua pernak-pernik bayi yang menggemaskan itu.
"Cari apa Rin?." Tiba-tiba Harry berada di sampingnya.
"Loh har?? Selena dimana?" Tanya nya kaget.
"Dia lagi ke toilet. Aku nenunggu Reza aja ntar. Oh iya Rin, kapan kalian akan menikah?"
"Apakah menurutmu menikah itu mudah?
Bagaimana kehidupanmu setelah menikah?
Apa kau yakin bahwa kau dan Selena sudah saling jujur dan gak ada yang di rahasiakan satu sama lain?" Tanya Arini bertubi-tubi.
"Rin?? sejak kapan kau jadi wartawan? Kenapa pertanyaanmu banyak sekali?." Ujar Harry bengong .
__ADS_1
"Hah?? Maaf... maaf. Lupakan saja, hehe." Baru menyadari bahwa pertanyaan itu bersifat pribadi.
"Gak apa-apa kok Rin, aku kangen celotehan kamu seperti ini.
Jujur saja, setelah menikah, aku merasa sikap Selena padaku agak berubah, dia lebih banyak diam."
"Oh.. mungkin itu karna kalian sudah biasa melakukan malam pertama diluar nikah. Hahaha." Arini terbahak membuat Harry kaget dan heran.
"Tunggu, apa kau benar-benar tau itu?
Ahh.. imageku sebagai cowok jadi rusak." Mengusap wajah karna sedikit malu.
"Hah? ya enggaklah, aku mengada-ngada doang. haha."
*Padahal aku memang tau dari Reza.*
Selena kembali dari toilet dan melihat kedekatan suaminya dengan temannya.
"Mereka akrab sekali, entah kenapa aku merasa cemburu. Jangan-jangan Arini menceritakan semuanya pada Harry."
Selena buru-buru mendekati mereka.
"Haii sayang. Kalian lagi bahas apa nih?"
"Harry menceritakan malam pertama kalian sel." Ujar arini terkekeh.
"Masa? bikin malu aja.
Ayo ah kita cari perlengkapan bayi dulu, udah malam ini."
"Iya sayang. kami pergi dulu ya Rin." Ujar Harry tersenyum.
"Oke.
Reza muncul "Sayang..."
"Za? lama amat nelponnya?"
"Tadi papa bilang, aku harus bawa kamu kerumah mereka, sekalian nginap disana."
"Kapan-kapan, kalo kamu sempat."
"Ya udah besok.aja.
_
Saat dirumah Neo, mereka berbincang sambil bercanda, namun Selena terlihat minder dengan kedekatan persahabatan mereka, terlebih jika melihat Harry yang dekat dengan Arini.
Selena mulai berfikir bahwa Arini menyukai suaminya itu. Rasa ketakutan akan terbongkarnya rahasianya pun mulai bersarang di otaknya.
Namun Selena masih menduga-duga dan masih menahan rasa cemburunya.
_
3 bulan berselang...
Hari wisuda mereka mulai dilaksanakan.
Kegembiraan terpancar di wajah mereka karna sedah mendapat gelar S².
Tak lupa mereka mengabadikan momen terakhir di kampis itu, dan mereka juga saling rangkul dalam haru.
"Arini....!! Selamat jadi mahasiswa terbaik. Kamu memang pinter.!." Seru sahabat-sahabtnya sembari merangkulnya.
Selena juga merangkul untuk memberinya selamat. "Selamat ya Rin." Ucapnya tersenyum.
"Tolong jauhi suamiku." Sambung Selena berbisik.
Arini kaget bukan kepalang, ia heran ada pikiran semacam itu dalam benak Selena.
Namun Arini hanya diam karna banyak.orang di sekelilingnya.
"Wah.. habis wisuda, kita akan menyaksikan pernikahan nih.." Ujar Neo melirik Reza.
"Hah? siapa yang mau nikah?" Timpal Lucas.
__ADS_1
"Siapa lagi kalo bukan bos besar kita." Timpal Danu.
Mereka bersorak riang memeluk Reza.
"Apaan sih kalian, masih lumayan lama lah, kita harus mengumpulkan persiapannya dulu." Timpal Reza malu-malu.
Seorang mahasiswa berlari kencang dengan buru-buru.
Ia menabrak kerumunan persahabatan itu hingga Arini yang tepat ia tabrak pun terjatuh.
Namun ia di selamatkan Harry yang kebetulan berada didekatnya. Harry menarik tangannya hingga mereka jatuh seakan berpelukan.
Namun tubuh Harry terasa sakit akibat benturan dan juga tertindih oleh Arini.
Melihat itu, Selena makin memanas, ia berfikir bahwa Arini sengaja memeluk suaminya itu.
Reza dan yang lainnya membantu Harry berdiri. Sedangkan Lesty dan yang lainnya membantu Arini.
"Kamu gak apa-apa Har?? apa belakangmu sakit.?" Tanya Reza cemas.
"Gak apa-apa kok Za, cuma sakit sedikit doang." Jawab Harry sambil mengusap pakaiannya yang kotor.
"Sukurlah, makasih banyak sudah menolong Arini." Tambah Reza.
"Gak masalah, itu karna aku berada di dekatnya." Sahut Harry dengan senyuman.
"Kamu gak apa-apa Rin?" Tanya Yuki.
"Gak kok, untung Harry menolongku, kalo gak, mungkin aku sudah jatoh.
Makasih banyak Har." Ucapnya tersenyum, membuat Selena makin marah dalam diam.
Reza mendekap Arini. "Sukurlah kamu baik-baik saja." Sembari mengelus kepala Arini.
Gubraakkkk!!
Orang yang tadi menabrak Arini tersungkur tepat di depannya.
Ternyata Danu langsung mengejarnya dan mendapatkannya.
"Minta maaf pada Arini.! Apakah kamu lari gak lihat jalan? dimana mata kamu!?" Tegas Danu melotot.
"Maaf.. maaf kak..Aku gak sengaja, tadi aku buru-buru karna aku ingin menemui orang tuaku." Jawab pria itu ketakutan.
"Danu, sudahlah, biarkan dia pergi. Kasihan dia." Ujar Arini.
Namun Danu masih belum terima melihat orang yang ia sayang tersakiti.
"Minta maaf pada Arini.! setelah itu kau boleh pergi." Tegas ulang Danu.
"Baiklah..
Aku minta maaf kak. Aku benar-benar gak sengaja. Sekali lagi maafkan aku." Ujar pria itu menyatukan tangannya.
"Aku memaafkanmu. sekarang pergilah." Sahut Arini tak tega.
"Kurang ajar sekali dia. Matanya gak berguna!" Gumam Danu kesal.
"Danu! Sudah cukup.! kenapa kau harus emosi? Aku saja tidak sebegitunya." Ujar Reza menatap sinis Danu.
"Maaf Bos. tadi aku hilaf.
Baiklah. Aku minta maaf. Aku pulang duluan ya semuanya..."
*Ternyata kau masih memyimpan rasa dengan Arini ?* Batin Reza.
*Ada apa dengan Danu?? gak kayak biasanya.* Batin Arini bingung.
"Ya sudah, ayo kita pulang semuanya."
•••
BERSAMBUNG
LIKE. KOMEN. VOTE. 🙏
__ADS_1