
Tiga bulan kemudian...
Setelah pindah kerja ke indonesia, Harry sudah mengikuti kursus bahasa indonesia selama tiga bulan terakhir. Dan sekarang ia benar-benar lancar berbahasa indonesia.
Tak mau kalah dengan reza, neo dan yang lainnya. Ia juga turut kuliah dikampus yang sama dan dikelas yang sama.
Kesembilan sahabat itu bertambah dua anggota, dan kini menjadi sebelas orang.
Pagi ini, mereka pergi kekampus bersama. Keenam mobil mewah mereka melaju santai beriringan sepanjang jalan menuju kampus.
Ini hari pertama harry ngampus setelah ia mendaftar online beberapa hari yang lalu.
Setibanya dikampus. Seperti biasa, mereka selalu jadi sorotan mahasiswa tiap mereka turun dari mobil dengan gaya mereka yang keren itu.
"Wah, kampusnya gak kalah elit sama kampus kita yang dilondon ya za?." Ujar harry pada reza.
"Iya dong. Oh iya, kamu kan udah lulus S² kenapa sekarang mau ambil S² lagi. Kenapa gak lanjut ke S³ aja.?" Timpal reza.
"Kalo aku ambil S³, aku gak bisa satu kelas dengan kalian kan. Hehe. Aku kangen masa kuliah kita di london. Dan, aku juga kangen dia. Andai saja dia bisa kuliah disini bareng kita." Wajah harry nampak sedikit murung karna mengingat tunangannya yang ia rindukan.
Reza pun merangkul bahu harry. "Heii,, aku tau kau merindukan dia. Kenapa gak suruh kesini aja dia nya. Pasti dia mau kan?."
"Dia sih mau. Tapi keluarganya melarang. Karna jaraknya terlalu jauh."
"Ya udah, sabar aja bro. Nanti kalian ketemu juga kok. Ayo kita masuk kelas."
Enam pria tampan, dan lima gadis cantik itu berjalan beriringan menyusuri lorong kampus.
"Hei lihat. Ada mahasiswa baru lagi kah? Dia ganteng banget."
"Iya, kayaknya dia bukan orang indo deh. Kayak orang inggris gitu."
Desas desus para mahasiswi cantik yang berdiri didepan kelas mereka. Namun harry mengabaikannya walau ia mendengarnya.
"Eh bob, lo gak kasih salam sama cewek-cewek itu? Temben. Biasanya lo ganjen amat." Ujar danu sambil menyenggol bahu bobby.
"Gak dan, gue lagi dalam mode tobat." Timpal bobby cuek.
"Lo bisa tobat bu?" Tanya lucas tersenyum mengejek.
"Gak bisa, gue tobat bentar doang. Ntar siang juga kumat lagi. Haha."
"Dasar babu."
"Lu ngajak gulat? Kulkas peak."
"Bukannya gulat itu yang sering nangkring di daun itu ya?" Sahut harry.
"Itu ulat peak!! Dasar heli kopter!." Teriak mereka bersamaan sambil terbahak.
"Oh gitu ya? Aku baru tau." Gerutu harry dengan wajah bingung.
"Guys, gue antar yuki ke kelasnya dulu ya." Cela neo ditengah keributan mereka.
"Biar kita aja yang anter. Kalian langsung aja ke kelas kalian." Sahut genta
"Eh, apa gak terlalu ramai?." Timpal yuki heran.
"Gak kok. Kita kan selama ini belum pernah antar kamu, selalu neo yang ngaterin." Sahut lesty dan arini.
"Oke lah. Kalo kalian yang mau antar yuki. Kita langsung ke kelas aja ya. Dah semuanya." Ujar neo, tak lupa ia mencium kening yuki terlebih dahulu.
Reza juga menarik tangan arini. Dan mencium kepalanya sebelum mereka pisah kelas.
"Daah sayang. Sampai ketemu jam istirahat ya." Ujar reza sembari mengacak rambut arini.
"Iya reboy. Ya udah, aku pergi sama mereka ya."
__ADS_1
Arini pun menyusul yuki dan yang lainnya menuju kelas yuki sembari berbincang
Setibanya dikelas yuki. Ketiga cowok yang sempat mengganggu yuki dulu, kini ia juga mengganggu arini.
Ia menggoda arini dengan mencolek dagunya.
Dengan sigap, genta dan lesty menepis dan memukul pria itu hingga babak belur.
"Buset, tenaga cewek ini kuat juga." Gumam pria tersebut.
"Dasar ababil! jangan sekali-kali lo godain teman kita!." Bentak genta.
"Dasar cowok belagu!" Tambah lesty.
"Sudah, sudah. mending kalian balik ke kelas kalian aja." Ujar yuki sambil mendorong mereka keluar pintu.
"Iya.. iya. Ya udah, sampai ketemu dikantin ntar siang. ayo guys kita pergi."
Saat jam makan siang tiba. Seperti biasa, mereka paling berisik diantara yang lain. Obrolan gak guna pun menjadi perbincangan.
Mereka tertawa begitu keras hingga yang lainnya terganggu namun tidak ada yang berani menegur sebelas manusia aneh itu.
"Oh iya. heli kopter kapan pulang ke london?" Tanya danu.
"Hah? aku?" Harry menunjuk dirinya sendiri
"Iya lah siapa lagi? peak nih orang." Timpal lucas.
"Belum minum air kobokan tuh dia. Makanya otaknya belum bisa mikir." Sahut bobby.
"Hmm gitu ya?
Aku bulan depan pulang ke london. bersama reza dan arini." Jawab harry
"Hah, aku?" Tanya arini heran.
"Wah. kita juga mau bos." Timpal bobby, danu dan lucas bersamaan.
"Untuk sekarang kalian belum bisa ikut dulu. karna kita hanya meeting untuk kesepakatan
lain kali pasti kalian semua ikut. termasuk keluarga kecil neo." Sahut reza tersenyum.
"Serius za? tapi kan yuki sedang hamil." Timpal neo.
"Iya ya. tapi kalo dia kuat, gak apa-apa kok ikut. Ya udah, kita pulang yok. udah selesaikan makannya. Biar gue yang bayarin semua."
"Wah.. bos kita emang paling baik, ganteng, rajin nabung di celengan ayam, pinter, kaya lagi. Makasih banyak ya bos." Ujar bobby tersenyum lebar
"Lebai amat lu babu." Ketus lucas.
"Kenapa? sirik aja lu kulkas." Timpal bobby geram.
Mereka pun pulang dari kampus menuju rumah masing-masing.
Sore harinya. Reza mengajak arini jalan-jalan santai di taman kota sambil menikmati udara sore.
"Sayang, setelah kita wisuda nanti, kita langsung menikah ya." Reza menggenggam tangan arini.
"Sekarang juga boleh. hehe."
"Gadis peak. kita masih kuliah. Tapi tinggal beberapa bulan lagi kita udah selesai wisuda. moga hubungan kita baik-baik aja ya." Reza mencium mesra tangan arini
Ditengah obrolan mereka, datang seorang gadis yang berjalan perlahan menghampiri mereka sambil menatap wajah reza.
"Heii.. You? Albert? How are you?" Gadis tersebut langsung memeluk reza.
Arini bingung dan heran dengan gadis tersebut, ia pun memisahkannya.
__ADS_1
"I am sorry. but, who you are?"
Reza menatap gadis tersebut sambil mengingat namanya. "Kamu? kamu selena kan?" Tanya reza dalam bahasa inggris.
"Ya. aku selena. kamu apa kabar? dan ini siapa?" Sahut selena.
"Oh, dia tunanganku. Namanya arini. Kamu kapan kesini? dan sama siapa?."
"Hai, salam kenal. Aku selena, tunangan harry." Selena menyalami tangan arini dengan senyuman ramah.
"Oh, tunangan harry? jadi kamu mau cari dia ya?" Timpal arini.
"Iya. kalian tau kan dimana tempatnya? tolong antarkan aku kesana. please!" Selena menyatukan tangannya didepan reza dan arini.
"Oke, mari kami antar."
Reza dan arini pun mengantar selena ke apartemen harry.
Saat harry membuka pintu. betapa kagetnya dia melihat pacarnya ada didepan mata.
Selena langsung memeluk harry. "Sayang. Aku kangen sekali padamu"
"Selena? kamu kenapa ada disini sayang? bukankah kamu gak di izinkan untuk pergi?.
Oh iya, ayo duduk dulu. Reza, arini, ayo masuk."
Selena pun menceritakan kejadian yang ia alami.
"Hampir empat bulan kamu disini. Kamu jarang sekali menghubungiku. Aku minta restu sama orang tuaku untuk kesini. Tapi mereka menentangku habis-habisan. Makanya aku nekat kabur dari inggris. Aku tiba disini sudah dari kemaren malam. Namun aku baru menemukan albert tadi." Jelas selena.
"Em. panggil saja aku reza." Timpal reza tersenyum tipis.
Harry nampak cemas dengan keadaan selena. "Astaga sayang. kenapa kamu gak telpon saja? aku bisa jemput kamu dibandara. tapi sukurlah kamu selamat. Mulai sekarang kamu tinggal disini sama aku ya." Ujar harry sembari menggenggam tangan selena.
"Iya. aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu." Mereka pun kembali berpelukan.
"Em.. harry, kami kayaknya jadi patung idup deh. Mending kita pulang aja ya. Silahkan kalian kangen-kangenan."
"Oke za. makasih ya sudah antar selena kesini."
"Gak masalah." Reza dan arini pun pergi dari apartemen harry.
Dalam perjalanan pulang. Arini nampak masih bingung. "Reboy, itu si harry sama selena tinggal satu kamar ya? gak takut terjadi sesuatu kah?"
"Sesuatu? haha.. mereka orang inggris sayang. Hal yang kayak gitu udah biasa mereka lakukan. Bahkan pada saat kuliah dulu, mereka juga tinggal satu rumah." Jelas reza.
"What! serius? Astaga. aku gak percaya."
"Mereka udah biasa kayak gitu. Beda kalo disini masih banyak cewek baik. Dan lagian mereka akan menikah kok. Mereka pacaran udah 4 tahun lebih." Timpal reza sambil menyetir
"Walau pun mau menikah, setidaknya jangan lakuin itu dulu lah, kalo dia hamil gimana? apa mereka gak malu.?"
"Haiss.. Kenapa jadi ngurusin mereka sih. apa kamu juga mau kita kayak gitu." Ujar reza tersenyum nakal.
Plaakk!!
Arini menepis pipi reza.
"Awww... Sakit maimunah!!"
"Bodo! lagian ngapain ngomong kayak gitu marjuki.!"
"Iya iyaa. maaf. Dasar anak kunti."
"Bodo!" Arini memasang headset di telinganya tanpa mempedulikan ucapan reza.
•••
__ADS_1
BERSAMBUNG