
Arini berjalan perlahan memasuki kamar selena. Ia pun mendekat dan duduk disamping selena dengan senyuman yang ia pancarkan.
"Hai sel, gimana keadaan kamu? Udah mendingan belum?"
"Aku udah baikan kok, kita bisa pulang sekarang kan?
Oh iya, dokter nya mana? Aku mau nanyain penyakit aku nih." Ujar selena sembari duduk.
"Em. Tadi aku udah tanya sama dokter nya. Dia bilang, kamu hanya kecapekan, dan perlu banyak istirahat. Ini obat dan vitamin yang ia berikan untukmu. Ayo kita pulang."
Arini membantu selena turun dari ranjangnya dan menopangnya berjalan.
Mereka pun naik taxi untuk pulang ke apartemen.
Dilain sisi. Reza dan harry masih cemas dengan arini dan selena. Karna mereka sudah pergi cukup lama.
"Dua orang itu kemana sih? Udah lama banget nih perginya." Ujar reza sembari mencoba menelpon arini.
Suara bel berbunyi. Reza dan harry sigap berdiri untuk membuka pintu.
Arini dan selena bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Aron sayang, kalian berdua dari mana aja sih? Pergi gak bilang-bilang lagi." Ujar reza yang langsung merangkul arini.
"Em.. Itu, tadi pas kita habis dari toilet, tiba-tiba selena ngajakin shooping. Makanya gak sempat bilang. Maaf ya." Timpal arini sambil menggenggam tangan reza.
"Ya udah gak apa-apa asal kalian berdua baik-baik saja." Sahut reza tersenyum sambil mengelus kepala arini.
Sedangkan harry langsung mendekap selena.
"Lain kali jangan ulangi lagi, jangan bikin orang cemas."
"Iya, maafin aku sayang. Maafin aku juga reza karna sudah mengajak arini pergi". Ujar selena dengan menyatukan tangannya.
"Ya udah, kamu istirahat saja dulu."
"Kalo gitu, aku dan arini balik ke sebelah ya. Kita juga mau istirahat." Reza langsung menggandeng tangan arini dan kembali ke kamar apartemen mereka.
Setelah masuk apartemen, arini langsung mengunci pintu dan membawa reza duduk di sofa.
"Sayang, ada apa ini? Tergesa-gesa banget. Apa kamu kangen padaku?." Ujar reza tersenyum lebar.
"Ssttt diem." Arini menutup hidung reza dengan satu jari nya.
"Salah wei, mulut yang di tutup itu. Bukan hidung peak!." Pungkas reza sambil menyingkirkan jari arini.
"Eh salah ya. Maaf, hehe.
Tapi ini serius. Ada yang aku khawatirkan."
__ADS_1
"Hah? Apaan? Ada apa?." Tanya reza penasaran.
Arini membuka tas nya dan mengeluarkan amlop hasil tes selena. "Nih, kamu baca."
Reza mengambil kertas itu sembari menatap heran arini. Kemudian ia membuka dan membacanya.
"What!! Apa ini.! Ini..... Seriusan?!" Reza menatap dalam mata arini.
"Benar. Selena.... Dia hamil. Tapi dia tidak tau."
"Hah? Bagaimana bisa dia tidak tahu ini.? Apakah dia tidak menyadarinya.? Tapi dari mana kamu hasil tes ini? Apakah tadi kalian bukan shooping?" Tanya reza heran dan panik.
"Em.. Itu, maafkan aku. Tadi aku mendapati selena muntah di toilet, dan dia sangat pucat. Makanya aku langsung membawanya ke dokter, tapi dia gak mau memberitahu harry, karna dia takut harry mencemaskannya. Dan dokter memberiku hasil tes ini tanpa memberitahu selena. Sayang, apa yang harus kita lakukan sekarang?." Jelas arini bingung
"Tenang ya sayang, aku akan bicarakan ini pada harry. Sekarang kamu istirahat dulu." Reza mengantarkan arini kedalam kamar dan menjaganya tidur.
Malam harinya, reza pergi ke apartemen harry dan selena yang berada disebelah mereka.
"Heii za, mau kemana kita malam ini.?" Sapa harry dengan ramah.
"Kita dirumah aja dulu. Oh iya sel, kamu dipanggil arini. pergilah ke sebelah."
"Benarkah? ya sudah, aku kesebalah dulu ya." Selena langsung beranjak menemui arini.
Setelah selena keluar. reza pun duduk didekat harry. mereka berbincang sambil nonton tv.
"Iya ya. gak kerasa, kalian disini sudah lumayan lama ya. Kayaknya aku akan mengajak selena kuliah disana deh." Timpal harry.
"Sebenarnya orang tua selena dimana sih? kok dia gak pulang-pulang dari sini? apakah orang tuanya tidak cemas?"
"Biasa lah, orang tua nya lagi di jepang. Dia itu anak manja, dia selalu dikurung dirumahnya. Jadi ketika orang tua nya gak ada, itulah kesempatan dia untuk kesini." Jelas harry.
"Oh gitu?.
Oh iya har, umur kita kan sudah mapan jika menikah. apakah kamu dan selena tidak ingin segera menikah? Dan, menurutku kalian sudah cocok jika mempunyai seorang bayi."
"Kalo menikah sih aku udah mau saat umur 20 tahun waktu itu, karna aku suka sekali dengan bayi. Tapi.. selena belum mau menikah muda, dia punya target saat umur minimal 25 tahun. Sedangkan keluarganya mendukung itu. Ya aku hanya pasrah menunggu sekitar 2 atau 3 tahun lagi."
"Fiuh.. sukurlah, itu berarti bayi itu selamat." Batin reza bernafas lega.
Di lain sisi. Arini juga mencoba membahas hal yang sama dengan selena.
"Rin, ada apa memanggilku kemari." Ujarnya sembari duduk berhadapan dengan arini.
"Minggu depan kita sudah pulang ke negri kita. Apakah harry berencana mengajakmu juga? karna kita harus melanjutkan kuliah."
"Dia belum membahas soal itu, aku mau ikut sih, tapi minggu depan mama dan papa pulang dari jepang. sepertinya aku gak bisa." Tutur selena merasa sedih.
"Sel, untuk sekarang, lebih baik kamu disini saja dulu. Harry bisa pulang kapan saja.
__ADS_1
Oh iya, kamu kenal yuki kan?"
"Tau sih, tapi gak terlalu kenal. Dia istrinya neo kan? yang hamil itu.?"
"Iya, sebentar lagi dia mau lahiran, aku sangat menantikan bayi nya. Itu pasti menggemaskan, aku sangat suka dengan bayi. Apakah kau juga suka?." Ujar arini yang mulai menjebak selena dengan pertanyaan.
"Bayi? aku suka sih."
Arini tersenyum lega mendengar jawaban selena. "Wah, kita sama. Gimana misalnya kamu menikah dan punya bayi, apakah kamu sudah siap menjadi ibu?" Tanya arini kembali.
"Hm. untuk itu sih, sepertinya aku harus mikir dulu. Karna kalau untuk sekarang, aku gak mau dulu punya bayi. Walaupun nanti aku sudah menikah dengan harry, aku akan menunda punya anak, karna aku mau berdua saja dulu dengan harry tanpa diganggu oleh bayi." Tutur selena sembari membayangkan kehidupan indahnya bersama harry.
Arini yamg tadinya sudah lega namun berbalik kecewa.
"Gitu ya sel. Kukira kamu akan suka jika punya bayi sendiri."
Tok.. tok...
Reza masuk kembali setelah berbincang dengan harry.
"Reza sudah datang, aku harus kembali ke sebelah. Good night." Selena meninggalkan kamar mereka.
Setelah selena menutup pintu, reza mendekati arini yang tertunduk diam.
"Sayang gimana? apa selena menyukai bayi.?" Tanya reza sambil merangkul arini.
"Gak, dia gak suka bayi. Reboy, gimana caranya kita menyampaikan ini. Aku takut dia tidak menyadarinya dan aku takut jika dia menghilangkan bayinya."
"Sayang, sebaiknya kita beritahu saja mereka, terutama harry." Reza mengusap kepala arini dengan lembut.
Ditengah percakapan mereka. Telpon reza berdering keras.
"Siapa sih malam-malam.
Bentar ya sayang, neo telpon nih."
"Oke." Arini menunggu reza berbincang di telpon hingga ia tertidur di sofa.
Setelah selesai menelpon, reza menghampiri arini yang sudah tertidur pulas.
"Gimana ini? apa aku harus meninggalkan arini disini." Gumam reza sembari membelai rambut tunangannya itu.
•••
BERSAMBUNG
Maaf banget ya UP nya lama🙏
Aku disibukkan dengan pekerjaan. sekali lagi mohon maaf🙏😔
__ADS_1