Cinta Playboy TamVan

Cinta Playboy TamVan
Season2. Eps:39


__ADS_3

Reza dan arini menunggu yuki yang tengah dirawat oleh dokter.


Arini duduk dibangku dengan wajah tertunduk. Sementara reza masih menyimpan rasa cemas diwajahnya.


Saat reza menoleh pada arini, ia baru sadar dengan perasaan arini. Reza pun meraih dan menggenggam tangannya.


"Sayang, kamu kenapa? Maafkan aku yang tidak menghiraukanmu." Ujarnya sembari menatap wajah arini.


Arini masih tertunduk. "Gak masalah. Aku mengerti dengen kecemasanmu terhadap yuki." Sahut arini pelan.


"Sayang, apakah kamu cemburu?."


"Tidak, mungkin aku yang terlalu baper. Maafkan aku, aku juga mencemaskan yuki.


Reza, apakah aku bisa mempercayaimu?" Arini mencengatkan kepalanya untuk menatap reza.


"Apakah kau meragukanku?." Tanya reza kembali.


"Sejujurnya iya. Karna kamu baru beberapa bulan move on dari yuki. Kurasa rasa cinta diantara kalian masih ada. Kalau gak, gak mungkin kamu secemas ini kan?."


Reza seketika tertunduk. Ia baru sadar, sebegitu telitinya arini dengan sikapnya.


"Sayang, maafin aku. Aku sendiri gak paham, aku hanya cemas pada yuki." Timpal reza sembari mencium tangan arini.


"Aku mengerti. Sudahlah jangan dibahas."


Arini tetunduk seakan pasrah.


Saat dokter keluar. Dengan sigap reza menyambanginya dan menanyakan keadaan yuki, arini pun turut mengiringi.


Mereka pun dipersilahkan masuk untuk membesuk yuki. saat itu yuki masih belum sadarkan diri.


Reza dan arini berdiri disamping ranjang yuki.


"Emm.. za, aku duduk dikursi itu aja ya." Arini menunjuk pada kursi yang ada dipojok ruangan itu.


"Baiklah. ayo aku temani." Reza merangkul arini membawanya duduk dikursi.


Arini hanya diam tertunduk.


Reza melihatnya selintas, kemudian ia merangkul arini, menarik kepala arini dan menaruhnya di bahu untuk bersandar.


"Sayang, kamu tidur saja. Aku akan menjagamu. Kita menunggu neo datang." Ujarnya sembari mengelus kepala arini.


Arini hanya mengangguk sembari bersandar dalam rangkulan reza.


Tidak lama kemudian, arini pun tertidur karna kepalanya di elus reza dengan lembut.


Diam-diam reza menelpon neo untuk menayakan kapan dia akan kerumah sakit.


Saat reza menutup telpon, ia melihat yuki membuka mata.


Reza pun menaruh kepala arini disandaran kursi yang sudah ia alasi dengan bantal. Reza juga menyelimutinya dengan baju jas miliknya.


Kemudian reza menghampiri yuki.


"Kau sudah sadar? bagaimana perasaanmu?" Ujarnya cemas.


"Kak reza? Aku dimana? dan kenapa kamu ada disini? dimana neo?." Tanya yuki heran.


"Kamu ada dirumah sakit. tadi kamu pingsan, dokter bilang kamu terkena penyakit magh karna jarang makan. Kenapa jarang makan?."


"Maaf aku sudah merepotkan kalian." Sahut yuki pelan.

__ADS_1


"Gak apa-apa. Lain kali jangan lupa makan. Bentar lagi neo kemari. Semoga kamu cepat sembuh. Aku gak mau kamu sakit lagi. ngerti?."


"Makasih kak. Tapi kamu gak perlu peduliin aku kayak gini. Aku sudah ada anak dan suami." Timpal yuki tanpa menatap reza.


"Aku akan tetap peduli padamu." Tegas reza.


Ditengah perbincangan mereka, neo pun datang.


Namun ia kaget saat masuk kamar, ia melihat arini yang tengah tidur sambil duduk dikursi pojok kamar itu.


"Kasihan sekali dia." Tatapan neo dengan wajah cemas pada arini.


Neo pun melangkah mendekati reza dan yuki.


"Za. Maaf aku telat datangnya." Neo menepuk pundak reza


"Eh, neo? sudah datang?." Timpal reza.


"Iya, makasih sudah menjaga yuki. Sekarang lebih baik kamu urusi arini dulu. Kasihan dia tidur disana."


"Baiklah. Aku dan arini pergi dulu."


Reza menggendong arini yang tengah tidur itu menuju mobilnya.


Sementara neo masih bersama yuki.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?." Tanya neo cemas.


"Aku udah gak apa-apa. Kenapa reza yang ada disini? kamu kemana?."


"Maaf, tadi lagi meeting. Aku mencari dokter dulu ya, siapa tau kamu sudah bisa pulang."


"Gak usah, tadi dokter sudah kesini, dia bilang sore nanti aku sudah bisa pulang." Sahut yuki .


_


Saat dalam perjalanan pulang. Reza tak henti menatap arini yang tengah tidur disampingnya. Reza merasa menyesal karna mengabaikannya.


Reza mengantar arini kerumahnya. Ia menggendong arini turun dari mobil dan membawanya masuk. Ia pun membaringkan arini disofa.


Reza menggenggam tangan arini sambil menjaganya tidur.


Drrttt.. Drtt.. Getaran hp arini.


Reza mencarinya dalam tas arini. Tertera nama neo yang sedang memanggil.


"Ada apa dia menelpon arini." Gumam reza. Kemudian ia menjawabnya tanpa bicara.


"Halo rin. kamu sudah bangun? Maafkan reza yang sudah mempedulikan yuki. Sebenarnya dia hanya cemas, tidak ada maksud lain. Aku yakin dia hanya mencintaimu, dia juga pernah bilang kalo yuki dianggap adik olehnya. Jadi jangan salah faham ya."


Mendengar ucapan neo. Reza langsung menutup telponnya.


"Tadi aku sempat su'uzon dengan neo. Ternyata aku salah.


Arini, aku gak tau apa aku sudah membuatmu bahagia atau belum. Tapi entah kenapa, aku ngerasa aku sudah membuatmu sedih. Maafkan aku." Reza menggenggam tangan arini kemudian menciumnya.


Arini membuka matanya perlahan "Hm.. Aku dimana? Reza?."


"Sayang, kita ada dirumah kamu. Tadi kamu ketiduran dirumah sakit, makanya aku bawa pulang." Ujar reza tersenyum.


"Yuki gimana?."


"Ada neo yang mendampinginya. Lagian bentar lagi dia sudah mau pulang. Apa kamu lapar? ini sudah sore, tadi siang kita belum sempat makan. Kita keluar yuk."

__ADS_1


"Aku ngantuk. Aku gak lapar. Lebih baik kamu pulang karna aku mau tidur." Sahut arini.


"Sayang, apa kau marah?."


"Kenapa aku harus marah?. Aku serius aku ngantuk." Ketus arini.


"Beneran gak marah? ya udah, sini aku antar kamu kekamar." Reza memaksa menggendong arini.


"Weii mau ngapain? lepasin gak!." Arini berontak memukul reza.


"Nggak, ayo kita tidur sama-sama." Pungkas reza terkekeh.


Tiba-tiba lesty pulang dan harus menyaksikan kejadian itu.


"Wewww.. pengantin baru kah? pakai acara gendong segala."


Reza dan arini kaget dengan kedatangan lesty. "Reza, turunin gue! malu sama lesty tuh.!" Teriak arini.


"Bodo amat! kamu bilang ngantuk kan? ya udah, ayo kita tidur."


"Reza! Oke..oke.. aku mau kita makan diluar. sekarang turunin aku!."


"Nah gitu dong. Dari kemaren kek." Reza pun menurunkan arini.


"Ya udah, aku mandi dulu."


Reza menunggu arini mandi sembari berbaring disofa. Sementara lesty pergi kekamarnya.


Saat arini selesai mandi. Ia mendapati reza yang tengah tidur lelap. Arini pun turut tidur disamping reza. Akhirnya mereka gak jadi makan diluar.


_


Ketika yuki sudah diperbolehkan pulang. Neo pun memapahnya masuk kemobil. Kemudian neo kembali lagi kerumah sakit untuk membayar biaya pengobatan yuki.


Namun pihak rumah sakit mengatakan, bahwa semua biaya sudah lunas. Neo langsung menebak bahwa reza lah yang membayarnya.


Ia kembali lagi kedalam mobil dengan wajah tersenyum untuk menutupinya dari yuki. Karna neo tau, jika yuki mengetahui reza yang membayar biaya rumah sakit, pasti yuki akan marah pada reza.


Setibanya dirumah yuki. Mereka berdua bersikap seperti biasanya, seakan tidak terjadi apa-apa, karna yuki gak mau orang tuanya mencemaskannya.


"Yuki. kenapa mukamu pucat nak?." Tanya bundanya.


"Gak apa-apa bun, yuki hanya capek, butuh istirahat aja." Timpal yuki tersenyum.


"Ya sudah, kalo gitu kamu pergilah kekamarmu beristirahatlah ya. mumpung yunie lagi tidur dikamar bunda." Sahut bunda cemas.


"Kalo gitu, aku antar yuki dulu ya bun."


Neo dan yuki pun berjalan menuju kamar mereka.


Yuki langsung berbaring dikasur karna masih lemas. Neo pun menyusulnya.


"Apa gak mau mandi dulu.?" Ujar neo yang berbaring disamping yuki itu.


"Aku merasa dingin, besok saja mandinya."


"Baiklah, sekarang tidurlah. Aku akan menemanimu. Letakkan kepalamu dilenganku." Neo membentangkan tangannya, lalu merangkul yuki untuk tidur dalam dekapannya.


"Makasih." Jawab yuki tersenyum.


Neo pun manarik selimut untuk menutupi tubuh yuki yang merasa dingin itu. Neo menepuk kepala yuki hingga ia terlelap.


•••

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2