
Setelah menghibur arini. Reza mengajaknya kembali kekantor.
Arini belum sempat mengutarakan keinginannya untuk berhenti bekerja.
Setibanya dikantor, reza menurunkan yuki dan danu, kemudian ia menyetir mobilnya mengajak arini berkeliling.
"Za, kita mau kemana? gue banyak urusan hari ini. kita balik kekantor aja ya."
"Gue mau keliling sebentar, otak gue sedang mumet. Nanti sore ada meeting, lo harus ikut gue." Jelas reza sambil mengemudi.
Reza melajukan mobilnya cukup kencang, karna perjalanan cukup jauh.
"Kita mau kemana sih? ini sudah diluar kota za?. "Tanya arini bingung.
"Gue mau ajak lo ketempat yang gak akan pernah gue lupakan. Karna tempat itu sangat berarti bagi gue. Dan tempat itu yang selalu mengingatkan gue dengan seseorang." Sahut reza.
"Hm..pasti tempat itu kenangan lo sama yuki kan?." Arini tertunduk.
Reza menoleh pada arini. "Ada apa merunduk? kita hampir sampai, sebelum itu kita mampir beli makanan dulu ya."
Reza menepikan mobilnya saat tiba dimini market. Arini seakan enggan untuk turun, namun reza menarik tangannya dan memaksanya pergi bersama.
"Za, gue lagi males ah!. lo aja sendirian ya"
"Gak! ayo ikut." Reza menggandeng tangan arini dan membawanya masuk kemini market.
Saat masuk, reza bertanya pada kasir yang tengah berjaga. "Mba, ada yang gak ada gak?".
Kasir itu bingung mau jawab apa. "Em..kayaknya gak ada mas." Sahut kasir itu.
Arini tak kuasa menahan tawa nya.
"Lo nyari yang gak ada? dasar pe'ak! gue jadi inget sama lesty, tiap kemini market pasti nyari yang gak ada..haha.. ada-ada aja ulah manusia laknat."
Reza tersenyum melihat arini tertawa.
"Kok tiba-tiba gelap ya?." Ujar reza sambil meraba-raba.
"Mata lo katarak? terang benderang gini. Gelap apanya?". Timpal arini.
"Lo tau gak kenapa gelap? karna mataharinya sudah berpindah kewajah lo, liat tuh muka lo terang banget." Reza terkekeh.
"Hah?.. aduhh...sakit...!!.." Arini merunduk dan langsung duduk menutup wajahnya.
Reza panik dan bingung. "Rin, ada apa? apanya yang sakit? apa idung lo sakit lagi?." Reza terlihat sangat cemas.
Arini tertawa terbahak melihat muka reza yang kalang kabut itu.
"Lo ngerjain gue ya?!." Ujarnya geram.
"Haha.. kan lo sendiri yang bilang kalo mataharinya pindah kemuka gue, kan muka gue jadi panas.hehe". Arini terkekeh.
"Elah..! dasar marfu'ah!!..gue robohin nih mini market.!"
"Maap..maap.. tau gak, muka lo lucu amat kalo panik, kayak pantat panci yang penyok.haha." Arini kembali terbahak.
Kasir yang berjaga itu heran melihat tingkah arini dan reza "Dua orang itu waras gak sih?."
Reza ikut tertawa melihat arini yang tengah ngakak itu.
"Udah..udah.!... ntar lepas tuh idung! kan gue juga yang susah mungut nya."
"Mending idung, kalau bibir yang jatoh gimana? gak lucu kan kalo dia ngoceh sambil ngesot dilantai..haha..gak kebayang gue." Sahut arini terkekeh.
__ADS_1
"Lo kira lambe turah! haha..ada-ada aja gadis bodoh!. Ayo kita beli makanan." Reza kembali menggandeng tangan arini.
Reza dan arini berkeliling dalam mini market sambil bercanda gurau.
"Rin, mau es krim gak?". Teriak reza dari depan. sedangkan arini entah menyelinap dimana.
"Mau.! ada rasa burger gak?". Sahut arini.
"Gak ada! ada nya rasa tanah liat. mau gak?." Timpal reza.
"Boleh, cari juga yang rasa tanah kuburan ya?".
"Oke.. sekalian sama pocong nya ya?."
Kasir yang melihat mereka makin geleng kepala. "Kayaknya dua orang ini baru keluar dari rumah sakit jiwa. tapi kok ganteng dan cantik bisa gila ya?."
Sementara arini masih sibuk, entah apa yang ia cari. "Hmm.. ada permen rasa cabe gak sih? atau rasa garam gitu? biar reza ngerasin, pasti mukanya gak beraturan tuh." Gumam arini.
"Woii sudah belom?! gue udah selesai nih!" Reza sudah meletakkan belanjaannya dimeja kasir.
"Iya bentar.
apa ya? kok gue bingung! ahh bodo' ah!." Arini kembali kekasiran tanpa mengambil apapun.
"Mana belanjaan lo?".
"Gak ada. hehe.. gue bingung mau beli apa?". Sahut arini cengengesan.
"Ohmaigad!." Reza menepuk keningnya sendiri. "Ya udah, gue udah beli banyak makanan. Ayo mba dihitung."
Setelah membayar semuanya, mereka keluar dan langsung masuk kemobil. kemudian melanjutkan perjalanan.
Arini memandangi reza yang tengah menyetir dengan senyuman.
"Idung gue belom sembuh bener loh. jangan asal nyentil."
"Eh, gue jadi inget sama papa dan mama kalo liat tingkah o'on lo itu. Gimana kalo kita plagiat panggilan mereka."
"Hah? panggilan apa?." Tanya arini.
"Panggilan mereka tuh reboy dan aron.
gue juga mau panggil lo aron, yaitu singkatan arini o'on.hehe." Jelas reza terkekeh.
"Hah? aron? arini o'on?! terus lo apaan?"
"Kalo kata mama reboy itu reynand playboy." Jelas reza.
"Oh,, jadi maksud lo, kalo reboy itu elo, berarti reza playboy gitu?. Emangnya lo playboy?. move on sama satu cewek aja susah!." Timpal arini.
"Gak ah! siapa bilang? gue reza! dan gak akan terpacu dengan satu wanita. karna banyak wanita cantik yang lebih baik. termasuk elo, aron."
"Sejak kapan gue setuju dipanggil aron?."
Reza meraih tangan arini, dan mengikatkan jarinya pada kelingking arini. "Mulai dari sekarang gue panggil aron, dan lo harus panggil gue reboy. supaya kita lebih akrab. oke!"
"Iya..iya.. serah elu marjoko!."
"Eh, kita sudah sampai nih, gak kerasa ya." Reza menepikan mobilnya. "Ayo turun aron."
Arini melongo melihat tempat yang indah itu. ia tercengang terdiam. hembusan angin menyapu rambut lurusnya yang indah.
Reza menghampiri arini dan merangkul bahunya. "Kenapa? kaget ya? ayo kesana." Reza menarik tangan arini yang masih bengong.
__ADS_1
Mereka berjalan menuju bawah pohon ditepi danau yang indah itu. Reza dan arini berdiri dibawahnya sambil menikmati angin yang menerjang.
"Za, ada apa lo bawa gue kemari?." Tanya arini.
"Hei,, panggil gue reboy!."
"Iya reboy bawel!."
Reza kembali merangkul arini. "Aron, lo tau gak, saat gue berada disini waktu itu, perasaan gue sangat hancur, saat mengetahui yuki sudah menikah. Bahkan gue gak sadar kalo gue berada disini, karna gue nyetir dengan pikiran kosong.
Tapi gue bersukur banget gue bisa nyasar kesini, karna gue bisa ketemu sama elo. mungkin ini sudah takdir." -
"Memang benar kata orang, mati satu tumbuh seribu. Saat gue terluka, saat itu juga lo datang sebagai pengobat luka itu. Makanya gue bilang tadi, bahwa tempat ini gak akan pernah gue lupain, karna sangat berarti buat gue. Kita bertemu disini, dan lo yang sudah nemuin gue disini sebagai penyelamat gue" -
"Makasih banyak ya. Asal lo tau, lo itu sangat berarti buat gue, karna gue ngerasa gue sudah hidup untuk kedua kalinya, waktu itu gue berpikir kalo gue akan mati disini. Tapi bidadari ini datang nyelamatin gue". Reza mengusap rambut arini dan menatap matanya dengan senyuman.
"Cara bicara lo itu berlebihan, jangan terlalu memuji, ntar gue nyemplung nih." Arini menepis wajah reza.
"Gue juga ikut nyemplung, tenang aja."
"Lo mau nyelamatin gue?"
"Bukan!, tapi mau praktekin pas gue jatoh waktu itu. haha". Reza terkekeh menepuk pundak arini.
"Elaahh.. pe'ak! ..gue tabok ntar!."
"Maap..maap..haha.. aron...aron..gemes banget deh gue. Ayo sini, kita duduk dibangku taman itu." Reza menggandeng tangan arini dan berjalan perlahan.
"Ayo duduk. Kita nikmati hari ini sebelum kita balik kekota B."
"Em..Za, eh reboy. Makasih banyak atas hari ini."
Reza langsung merangkul bahu arini. "Makasih apaan sih, kita bisa gila-gilaan kayak gini tiap hari, ya kan?." Reza mengelus kepala arini.
"Aron, setelah kedatangan lo, luka gue jadi sembuh lebih cepat. dan sekarang hati gue benar-benar kosong tanpa ada nama siapapun. dan kayaknya akan ada nama yang baru muncul." Sambung reza.
"Hm.." Sahut arini singkat. "Oh iya, mana belanjaan kita tadi? jadi kan lo beli es krim rasa tanah liat?." Tambah arini.
"Jadi kok, ada juga rasa tanah kuburan yang lo minta." Reza mengeluarkan es krim dari kantong belanjaannya dan membukakannya untuk arini.
"Nih makan. abisin ya." Reza menyuapkannya pada arini.
"Em.. kok rasanya gini ya?." Ujar arini heran sambil menatap reza.
"Hah? emangnya rasa apa?." Timpal reza.
"Rasa es krim. hahaha." Sahut arini terkekeh.
"Elah... marfu'ah!!." Reza mengacak rambut arini dan ikut terkekeh.
Arini melupakan semua masalahnya saat sedang bersama reza.
reza berhasil membuatnya tertawa. reza pun turut bahagia.
Sore harinya, mereka kembali pulang kekota B, kemudian reza mengajak arini meeting dikantor client hingga malam hari.
Setelah itu, reza mengantar arini pulang kerumah kontrakannya. Tak lupa reza mengusap dan mengacak rambut arini sebelum ia pergi.
Hari itu, hari yang begitu bahagia bagi arini. ia berharap kedepannya akan terus seperti itu.
•••
BERSAMBUNG...
__ADS_1
AYO berikan tanggapan kalian.!!