
Siang hari, dalam kamar rumah sakit tempat arini dirawat, semua orang tengah cemas dengannya dan juga dengan mamanya.
Saat itu, alvin, jessie dan adiknya bernama andini itu sedang menunggu pricil sadar dari koma nya setelah di operasi.
Tangan pricil mulai bergerak perlahan kemudian ia membuka matanya.
"Em.. dimana ini.? ada apa denganku?" Tanya pricil bingung sambil melihat sekitar kamar.
Jessie dan alvin bergegas menghampiri pricil. "Mama udah sadar?, kami sangat mencemaskan mama." Ujar jessie dengan riang
"Bagaimana keadaanmu? jangan terlalu banyak bergerak dulu." Ujar alvin saat menghampiri pricil.
"Aku baik-baik saja, tapi apa yang sudah terjadi padaku.? dimana arini.?"
"Dia ada diluar bersama temannya. mereka juga mencemaskan kamu." Timpal alvin.
"Tolong panggilkan dia, aku merindukannya."
"Ma, biar aku yang membawa kak arini kesini." Ujar andini. namun jessie menarik pelan tangannya.
"Biar kakak aja. mending kamu disini aja jagain mama ya." Ucap jessie tersenyum.
"Oke, baik kak."
Jessie pergi menuju kamar arini untuk memberitahukan keadaan mamanya.
Sedangkan arini masih belum sadarkan diri. Reza yang selalu berada disampingnya itu selalu menggenggam erat tangannya.
"Sayang, kumohon bangunlah, jagan terlalu lama seperti ini. Aku sangat mencemaskan kamu." Ujar reza sambil mencium tangannya.
Jessie masuk dengan buru-buru membuat semuanya kaget, terutama danu, karna ia masih kepikiran kejadian tadi pagi.
"Arini belum sadar ya?."
"Belum, ada apa jes?." Tanya reza.
"Mama sudah pulih, dia ingin bertemu dengan arini. Tapi... Biar aku yang membangunkannya.
Jessie mendekati arini dan menggenggam tangannya sembari berbisik. "Dek, ayo bangun, mama kamu merindukan kamu, dia akan pergi jika kamu tidak menemuinya. cepatlah sadar." Bisik jessie didekat telinga andini.
Jessie mengusap telapak tangan arini untuk membantunya sadar. Tidak lama kemudian, tangan arini bergerak perlahan.
"Hmm... aku kenapa?." Ujarnya dengan suara serak.
"Hei sayang, kamu sudah sadar? sukurlah." Reza mencium tangan arini dengan riang ketika melihatnya sadar.
Teman yang lainnya pun turut mendekatinya.
"Dek, mama sudah sadar, dia ingin bertemu denganmu." Ujar jessie perlahan.
"Benarkah? ayo antar aku kesana kak, aku juga ingin menemui mama." Timpal arini dengan semangat.
"Sayang, kamu makan dulu ya. Baru ntar kesana."
"Nggak, aku mau menemui mama dulu, ntar makan dikamar mama saja." Ujar arini bersitegang.
__ADS_1
"Hais.. baiklah. ayo kuantar kesana."
Reza membawa arini dengan kursi roda,
menuju kamar tempat mamanya dirawat.
Sementara harry, lucas dan danu pergi keluar dari rumah sakit secara bersamaan dan tanpa disengaja.
"Heii trio kencur. mau kemana kalian pergi barengan gitu.?" Tanya bobby heran.
"Em.. gue sih mau istirahat di mobil." Jawab harry dengan senyuman paksa.
"Kalo gue mau ke....makan siang. Dah, gue pergi dulu." Lucas langsung pergi begitu saja.
"Nah, lo mau kemana kamandanu?" Tanya bobby kembali.
"Gue mau ke kafe. lo gak usah ikut, diem aja dipojokan sana, jadi vas bunga.!" Ketus danu sambil berlalu.
"Iya deh,, gue ngobrol sama tembok aja. silahkan kalian pergi." Dengan wajah tertunduk, bobby pergi dari hadapan temannya yang pada aneh itu.
_
Dalam kamar pricil, ia tengah makan di suapi oleh jessie. Sementara alvin tengah duduk santai sembari kerja didepan laptop.
"Mama... mama sudah sadar? gimana keadaan mama?" Tanya arini cemas.
"Sayang, kenapa wajah kamu pucat sekali? apa kamu sakit?"
"Nggak kok ma, aku abis ketiduran tadi." Jawab arini dengan senyuman menutupi rasa sakitnya.
"Za, ini makanan buat arini, tadi aku makan di resto, jadi aku kepikiran arini belum makan, makanya aku beliin." Ujar harry sembari menyodorkan kantong kecil itu.
"Em.. tadi aku lagi makan di kafe, terus liat makanan kesukaan arini, makanya aku beliin. Nih rin, dimakan ya." Lucas juga memberikan kantong berisi makanan pada arini.
Sedangkan danu sendiri bingung, karna ia juga membelikan makanan buat arini. "Hm.. Nah bob, buat lu aja." Danu menyodorkannnya pada bobby.
"Hah? apaan nih kalian bertiga? jadi kalian keluar bertiga tadi mau beliin arini makanan.? Kenapa gak bilang? kalo gitu gue bisa ikut kan. mayan makan gratis, hehe." Timpal bobby cengengesan sambil mengambil kantong yang diberikan danu padanya .
"Emm.. nggak, itu hanya kebetulan saja." Sahut harry.
Arini tersenyum dengan kelakuan semua sahabatnya itu. "Gak apa-apa. sini aku makan semua, aku bagi sama mama."
"Sayang, aku suapin ya." Reza mulai membuka bungkus makanannya dan langsung menyuapi arini didepan orang tua dan temannya.
Drrrttt... Drrtt..
Getaran dari hp reza.
"Bentar ya sayang, sekretaris manager menelpon." Reza langsung mengangkat telponnya saat itu juga.
"Halo, ada apa? saya lagi sibuk."
"Maaf mengganggu waktu bos, saya cuma mau menyampaikan bahwa kantor cabang sedang dalam masalah bos."
"Hah? kenapa? kebetulan saya lagi dikota F."
__ADS_1
"Oh, baguslah, segeralah kekantor bos, karyawan sedang ricuh diluar."
"Baiklah. aku kesana sekarang!"
"Hm.. ada apa lagi sih ini." Gumam reza setelah menutup telponnya.
"Za, ada apa?." Tanya alvin.
"Om, kantor sedang dalam masalah, aku harus megurusnya segera.
Aron sayang, kamu diem disini saja dulu ya. ntar malam aku balik lagi kesini." Reza mengecup kepala arini sebelum dia pergi.
"Baiklah, hati-hati. semoga masalahnya cepat selesai." Timpal arini dengan cemas.
"Lucas, bobby, dan lesty, ayo ikut aku. Yang Lainnya tetap disini, jaga arini." Pungkas reza sambil berjalan keluar.
Mereka pun turut mengiringi reza. Kemudian langsung berangkat menuju kantor cabang di kota F itu.
Setibanya dikantor, sudah banyak sekali karyawan yang berkerumun didepan kantor dengan kerusuhan masal yang membuat reza geram.
"Bos, mereka mau minta sembako kah?" Ujar lucas dengan wajah bingung.
"Dasar kulkas lambe turah, lo kira kantor ini apaan! ini kantor design dan arsitek, bukan toko sembako.!" Timpal bobby sambil geleng kepala.
"Kali aja kan babu. Terus ngapain mereka ribut kayak gitu coba."
"Semuanya, ayo kita masuk melalui pintu belakang." Reza berjalan tergesa-gesa, diiringi oleh yang lainnya.
Direktur kepercayaan reza bernama hendri itu datang menghampirinya dengan rasa cemas dan bersalah.
"Selamat datang bos, maafkan keadaan kantor yang kacau balau ini. Aku akan mengatasinya sendiri." Hendri membungkukkan badan dan menyatukan tangannya untuk minta maaf.
"Bisa kamu jelaskan ada apa ini.?" Tanya reza sedikit emosi.
"Jadi gini bos, bulan lalu kan gaji mereka saya pending karna keuangan kantor ini menurun. Kupikir bulan ini akan ada kenaikan pemasukan, tapi ternyata makin menurun, jadi gaji mereka di pending dua bulan. Makanya mereka ricuh. Maafkan saya bos." Jelas hendri.
"Loh, kok aku gak tau. Lagian kenapa kamu gak bilang dari bulan kemaren! Biarkan aku yang bicara pada mereka."
Reza pergi keluar untuk menemui karyawannya yang sedang ribut-ribut itu. Tak lupa bobby dan lucas sibuk mencari toa biar suara reza terdengar jelas.
Reza berteriak untuk menghentikan mereka hingga mereka kaget dan diam seketika karna kehadirannya.
Reza pun menjelaskan dengan rinci bahwa dia akan membayar gaji karyawannya dengan uangnya sendiri. Semua karyawan pun bernafas lega dan kembali lagi bekerja dengan normal.
_
Sementara itu, Harry mengajak airni berkeliling taman rumah sakit setelah ia menghabiskan makanannya. Ia mendorong kursi roda arini perlahan menyusuri jalan. Namun danu tak tinggal diam, ia juga mengiringi mereka dari belakang.
Tak hanya itu. Genta dan evi juga turut mengiring dari belakang danu secara diam-diam.
•••
BERSAMBUNG
Like&komen
__ADS_1