
Esok pagi nya, arini dan lesty datang lebih pagi atas perintah direktur robet.
Lesty begitu sibuk diruangan kerjanya karna banyak sekali tugas dari managernya.
Begitu juga dengan arini, dia diminta menyelesaikan tiga design nya siang ini juga.
Ditengah kesibukan nya, notif ponselnya berbunyi. Ia melihat sekejap pada layar hp nya. "Lesty? "
(Rin, ada genta dan evi nih, mereka mau interview, katanya mereka sudah mendaftar secara online dan diminta kesini hari ini)
"What?? Siapa mereka?..
Oh iya gue lupa, itu temennya marfu'ah kemaren".
Baiklah, aku segera kesana.
Arini menghampiri manager laura yang tengah bekerja. "Buk, permisi bentar, aku mau keruangan staf, ada yang minta bantuan, sebentar doang, palingan lima jam". Ujar arini tersenyum.
"Baiklah.. What?? Lima jam?!! Mending kamu pulang deh. Eh jangan! Kamu harus selesaikan design kamu siang ini juga!!". Tegas manager laura.
"Baik buk, aku kesebelah dulu ya". Dasar loreng. Gerutu arini sambil berjalan menuju ruang staf.
"Nah, ini dia orang nya datang.
Rin, cepat bawa dia ke manager staf, semoga mereka bisa diterima kerja disini. Jadi tukang buatin kopi juga gak apa-apa". Ujar lesty.
"Mata lo burem!! Mending gue tidur terkangkang dirumah dari pada kerja cuma bikin kopi doang". Timpal genta tegas.
"Udah, jangan banyak bacot, ntar gue bacot beneran, ayo kita keruang pak beng-beng". Arini berjalan lebih dulu, kemudian disusul oleh genta dan evi.
"What? Nama managernga beng-beng? Kayak nama makanan ringan?". Bisik evi pada genta.
"Kurasa namanya bukan beng-beng, tapi arini aja yang ngasih nama orang seenak jidatnya". Sahut genta.
"Nah, sudah tiba! Ayo masuk". Arini mengetuk pintu, kemudian membawa genta dan evi masuk.
"Met pagi pak beng-beng!! Aku bawa dua orang nih". Ujar arini tersenyum semeringah.
"Eh,, arini.. Duh,, karyawan cerdas kesayangan bapak, kamu bawa dua pembantu??"
"Haiss.. Mereka mau interview pak, jangan canda ah, gue robohin ni meja!!". Sahut arini.
Genta dan evi heran melihat tingkah dua orang aneh itu.
Apa ini? Bos dengan anak buah sedekat ini? Dan segila ini? Kayaknya gue salah masuk perusahaan. Batin genta.
"Oh, mau interview ya. Ah iya, bapak lupa. Mari duduk. Perkenalkan, nama saya bambang, selaku manager staf. Nama kalian siapa? "
"Saya genta buana pak"
"Saya evi masamba pak". Jelas mereka bersamaan.
"Nama kalian kayak artis semuanya, tapi kok mukanya kayak orang desa gitu?!". Timpal manager bambang.
Elahh nih orang, gak nyadar diri banget, mukanya aja burik kayak pantat wajan gitu!
Gerutu genta.
"Pak, mending jangan banyak ngemeng deh, terima aja langsung, biar mereka langsung kerja. Mereka temen gue, baru kenal kemaren". Ujar arini menyeringai.
"Ah.. Kamu benar. Oke deh, berhubung diruang staf kurang karyawan, kalian langsung diterima aja atas permintaan arini. Selamat ya! Silahkan langsung bekerja."
__ADS_1
"Hah? Segampang ini?
Baiklah pak, terimakasih banyak, kalau gitu kami permisi". Genta dan evi buru-buru keluar dari ruangan panas tersebut.
"Makasih beng-beng.!!". Tutur arini, kemudian ia menyusul evi dan genta keluar.
_
Disisi lain, manager laura sedang menanti arini yang tak kunjung kembali. "Kemana bocah tengik itu? Apa dia benar-benar pergi lima jam? Liat aja ntar, gue bakal selesein design nya. Eh! Kok malah gue yang ngerjain nya? Auk ah,. Gue ikutan bego karna dia". Gerutu laura.
"Laura!! Cepat kita kedepan, bos kita sudah tiba. Kita sambut dia". Ujar direktur robet yang muncul didepan meja laura.
"Oh, baik pak!". Laura beranjak sambil bercermin dan merapikan rambutnya dengan gaya sok cantik.
Gue udah gak sabar nih ketemu sama bos, terakhir ketemu dua tahun yang lalu, ahh hati gue kok jadi ambyaar gini ya.
Didepan pintu masuk utama, direktur robet beserta petinggi kantor lainya menyambut bos mereka yang baru saja tiba itu.
"Selamat pagi bos, selamat datang kembali. Kami senang melihatmu kembali kesini". Tutur robet dengan membungkuk kan tubuhnya memberi hormat.
"Terimakasih, aku juga senang bisa kembali kesini". Mereka berbincang sembari berjalan masuk.
"Kantor ini cukup bersih dan rapi, saya suka melihatnya. Oh iya, apakah ruangan saya sudah disiapkan?". Ujar bos tersebut.
"Sudah bos, mari saya antar".
"Baiklah,, yang lainya silahkan kembali bekerja." Direktur robet mengantar CEO itu menuju ruanganya.
"Pak robet, tolong panggilkan sekretaris saya kemari". Ujar bos yang duduk santai menikmati ruanganya itu.
"Em.. Maaf bos, sebenarnya sekretaris bos sudah berhenti kerja karna dia mau menikah, kalau bos mau, biarkan sekretaris saya yang menjadi sekretaris anda".
"Oh gitu? Tidak perlu, saya akan mencari sekretaris sendiri. Tolong berikan data karyawan, aku akan melihat karyawan yang berprestasi untuk menjadi sekretarisku".
Bos nya itu langsung melihat data karyawan perusahaanya.
"Hmm,, siapa Anggi Rianty? Prestasinya bagus juga, sudah berapa lama dia kerja?"
"Dia memang pintar bos, sudah satu tahun lebih dia bekerja disini, dia juga pandai bicara, dia kerap sekali mewakili saya saat meeting. Dia sangat cocok menjadi sekretaris bos, dia bisa diandalkan". Jelas pak robet.
"Benarkah? Baiklah, aku mau dia menjadi sekretarisku, tolong panggilkan dia!".
"Baik bos, aku akan menelpon managernya"
_
Diwaktu yang sama, lesty, genta, evi dan arini masih berkumpul ngerumpi gak ingat waktu.
"Arini.!!!! "Teriak manager laura melihat arini yang tengah santai sambil tertawa gak karuan.
"Kayak ada yang manggil nama gue?". Ucap nya gak peduli.
"Gawat!! Rin, noh ada loreng yang nyusul elu. Mampus lo kena omel". Lesty melirik laura yang sudah berada dibelakang arini.
"Loreng? Ah tenang, gue bisa taklukin dia". Sahut arini santai. Kemudian ia menghampiri manager laura.
"Arini!! Apa yang kamu lakukan disini hah?! Apa kerjaan kamu sudah selesai? Malah asik ngerumpi disini. Noh bos besar kita sudah datang!!". Ucapnya sambil menarik arini keluar dari ruangan staf.
"Bos?? Eh buk, gimana bos nya,? Serem gak? Badan nya kekar gak? Nakutin kan?!". Sahut arini
"Hah? Dia memang serem, tapi dia bikin jantungku meleleh". Manager laura mulai memasuki dunia halu.
__ADS_1
"Oh bagus dong! Kali aja jantung anda pindah keginjal, terus, death"
"Apa lo bilang!!! Lo nyumpahin gue mati!! Lo aja yang duluan!! Dasar karyawan durhaka!! ". Laura begitu geram dengan ucapan arini, ia menggepalkan kedua tanganya.
Arini cuek saja melihat managernya marah gak jelas itu. "Jangan terlalu sering marah, ntar keriput tuh muka!"
"Eh! Enak aja, aku gak marah kok.
Oh ya ampun, aku lupa! Arini, ayo ikut aku kemari.! Ada tugas penting untukmu!"
Laura kembali menarik arini masuk kedalam lift. "Apaan sih nih orang, stres! Biasa aja kali gak usah pake tarik sana sini". Gumam arini.
"Udah deh, mending diem, gue tabok ntar"
"Tabok aja, gue bakal bales dua kali lipat, bdw kita mau kemana buk? Awas ya kalo anda menjebak saya lagi!!".
"Kamu pikir saya gak ada kerjaan apa!, kita udah sampe nih, ayo masuk!". Manager laura mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum mereka masuk.
Arini kaget melihat orang yang berada didalam ruangan itu. "What!! Elo?!!". Ucapnya kaget.
"Kalian keluarlah, tinggalkan kami berdua saja". Direktur robet dan manager laura keluar dari ruangan itu dengan heran melihat ekspresi arini.
"Eh! Lo. Ngapain elo kesini!!". Ucap riani tegas.
"Gue!! Gue Reza albert, CEO atau pemilik perusahaan DIAMOND ini, kenapa? Masalah? Kaget? ". Jawab reza menatap arini.
"What!! Gak salah? Jadi yang dibilang bos itu ternyata elo! Elah.. Kirain bos dari mana, ternyata hanya cecunguk liar". Gumam riani cuek.
"Apa lo bilang?!! Hei inget ya, gue pemilik perusahaan ini, gue bisa aja pecat lo sesuka hati!". Bentak reza.
"Apa lo bilang?!! Hei inget ya, gue yang selamatin idup lo yang hampir punah itu. Bisa aja waktu itu elo mati!!". Sahut arini yang tak mau kalah.
What!! Gue kalah telak sama gadis pe'ak ini.
"Baiklah, jangan dibahas. Ngomong-ngomong siapa nama lo?".
"Lo insomnia, amenia, ame... Ame apaan sih lupa gue!
Oh iya! Lo amnesia?!! Nama gue arini!"
"Bego, gue juga tau kalau lo tuh arini."
"Lah, terus kenapa nanya pe'ak!"
"Maksud gue nama panjang lo siapa?!!". Tegas reza.
"Ngomong kek dari kemaren! Nama gue Anggi Rianty, ada apa?!"
"Kenapa dipanggil arini?"
"Elah.. Nih orang banyak tanya. Arini tuh singkatanya!, langsung aja sih, ada apa gue dipanggil kemari, gue banyak kerjaan!". Arini menaikan sebelah alisnya, bicara tanpa ragu walau ia sudah tau bahwa reza adalah bos nya.
"Lo pasti mau kan kalo gaji lo naik?!". Ujar reza menyeringai.
Matanya langsung terbelalak mendegar hal yang bersangkutan dengan duit. "Ya mau lah! Siapa yang gak mau!"
"Nah, mulai sekarang, lo jadi sekretaris gue!, berhubung sekretaris lama berhenti, jadi lo yang gantiin. inget, gue bukan sengaja mau lo jadi sekretaris gue, tapi karna tadi gue liat prestasi lo. Sekarang pergi lah, beresin semua barang-barang lo, terus pindah kemeja sekretaris didepan ruangan gue! Cepat!".
"Biasa aja sih! Nyuruh kok bentak". Gerutu riani sambil berjalan keluar. *Semoga idup gue gak makin susah berdampingan dengan bos kayak dia.
Moga aja gue gak jantungan dan darah tinggi punya sekretaris kayak dia*. "Batin reza mengelus dada.
__ADS_1
•••
BERSAMBUNG..