
Keesokan harinya,,
Ambu sudah meyiapkan sarapan untuk mereka, dan mengumpulkan mereka dimeja makan, Renal dan Yesi yang sudah bangun pun ikut berkumpul disana.
" Loh ko ga ada jengkol " tanya Ehan
" Masa tiap waktu makan jengkol " ucap Ali
" Memangnya kenapa " tanya Ehan
" Kamu nanti akan jengkolan kalau kamu makan jengkol kebanyakan " ucap Ridwan
" Jengkolan itu apa " tanya satria
" Jengkolan itu apa ya ..." ucap Ridwan pun bingung menjelaskannya
" Oh kata Umi kamu tau jengkol... " ucap Ali
" Tau lah " ucap Mereka serempak termasuk Siska
" Terus " ucap Farel
" Kalau kalian makannya banyak jengkol nanti akan berubah jadi jengkol " ucap Ali
" Berubah gimana Li " ucap Usuf
" Jadi kaya jengkol gitu bulat gitu " ucap Satria
" Iya benar... ka satria benar " ucap Ali
" Masa sih... coba Kamu makan banyak Sat jengkolnya... kamu bakal berubah ga " ucap Ehan
" Terus maksud kamu aku dijadikan percobaan buat kamu... " ucap Satria kesal
" sedikit " ucap Ehan
" Sudah atuh jangan banyak ngobrol sok atuh dimakan... " ucap Sang Ambu
" Maaf ya Yesi Renal... hanya seadanya " ucap sang Ambu
" Tidak apa-apa Ambu... kami senang... dan makanan Ambu pun enak-enak " pujinya
Merekapun segera menyantap makanannya dengan lahap. Setelah selesai makan Pa Juju mengajak anak-anak berkeliling sedangkan Yesi, Renal dan Siska segera pamit untuk pulang ke kota.
Hari ini pengalaman yang tak akan pernah mereka lupakan saat ini, pengalaman pertama mereka berjalan didekat sawah dan mencari Keong.
" Eyang.. ini gimana Caranya " ucap Ehan
" Begini caranya kalian paham " ucap Sang Eyang mengajarkan mereka mencari Keong dan menangkapnya.
Semua anak diberi ember oleh Sang Eyang. Satria merasa jijik harus berjalan ditepi sawah meskipun Ehan dan Farel juga baru pertama kali namun mereka merasa nyaman.
" Ehan.. tungguin aku.." ucap Satria
" Cepetan sini.. jangan pakai sendal... lepas aja sendalnya masukin ember kaya kita "
" Tapi Aku Jijik " ucap Satria
__ADS_1
Lalu Ehan pun menarik Tangan satria, dan menuntunnya.
" Pelan-pelan Ehan.. aku takut jatuh " ucapnya
" Aduh... kamu itu anak cowok masa takut jatuh " cibir Farel
" Aku takut lumpur ... takut cacing " ucapnya
" cacing kaya gini " ucap Usuf menyodorkan cacing kepada satria
" Aduh... jangan dong aku takut beneran deh " ucapnya dengan wajah memelas
" Ini cacing besar... dia moster cacing " ucap Ridwan membawa belut kedahapan Satria
" Ko bentuknya gitu kaya ular " ucapnya merinding
" Pegang dong ... " ucap Ridwan
" Aku ga mau... " ucap Satria
" Ayo pegang " ucapnya kekeh
" ga Mau... " Satria pun lari terburu-buru akhirnya dia terjatuh kedalam lumpur apalagi mukanya penuh dengan lumpur
" Eyang... Hiks.. hiks .. hiks... " ucapnya menangis
" Ada apa ini... Astaga sampai kotor begini " ucap sang eyang
" Ridwan jahat... dia ngasih aku moster cacing " ucapnya
" Moster cacing... " ucap Eyang heran
" itu mah bukan moster cacing tapi belut... enak loh kalau dimakan..." ucap sang Eyang
" Satria ga mau makannya " ucap Satria dengan wajah kesal
" Yasudah kalau begitu mah... kalian sudah dapat keongnya... " tanya sang eyang
" Dapat eyang... tapi kecil-kecil " ucap Ehan
" Tidak apa-apa nak... kita syukuri semuanya " ucap Sang eyang
" Ridwan dapet belut lumayan banyak eyang " ucapnya
" Kalau begitu... Eyang satukan dan kalian cuci tangan dan kakinya dikali itu... " ucap sang eyang
Merekapun segera menuju kali yang ditunjukan sang eyang. Satria segera mencuci mukanya lalu tanpa disengaja farel pun menyenggolnya hingga jatuh kedalam air untungnya satria bisa berenang iya hanya kaget saja.
" Farel.. aku jadi jatuh " ucapnya
" Maaf ga sengaja " ucapnya cuek
" Gimana airnya.. dingin ga " ucap Ehan
" Seger loh " ucap Satria
Ehan dan Farel pun segera menceburkan diri kedalam air.
__ADS_1
" Benar-benar segera ya " ucap Ehan
Ridwan, Usuf dan Ali pun menyusul mereka dengan menceburkan diri kedalam air
" Wah.. sangat seger ya... " ucap Ali
" Beda sama Air kolam renang mu Han " ucap Satria
" Ya jelas beda ini asli dari pegunungan " ucap Ridwan
" Eh.. eh kaki ku geli ada apa nya " ucap Satria
" Jangan-jangan ada buaya... lari... " ucap Ehan langsung pergi dari sana disusul oleh Farel, Ridwan Ali dan Usuf
" Ko aku ditinggalin " ucapnya sambil menangis
" Jangan nangis.. sini naik " ucap Ehan merasa kasian
Sang eyang pun datang melihat satria menangis lagi dia pun merasa heran.
" Kenapa kamu menangis... " tanya sang eyang
" dikakiku ada buaya Eyang " ucapnya
" Mana ada buaya dikali... yang penuh batu .. " ucap eyang membuat semua tertawa melihat tingkah lucu Satria
" Tapi di kakiku geli " ucapnya
" Kebanyakan disini adanya ikan bukan buaya " ucap Sang eyang lalu mereka semua berenang lagi dikali mereka menyelam balapan mencari ikan disana.
Setelah dirasa banyak Sang eyang pun mengajak semua anak laki-laki itu untuk pergi dari sana dan segera pulang karena dirasa waktu sudah siang
" Yu anak-anak kita pulang " ucap Sang Eyang
Merekapun langsung menghampiri sang eyang dan berjalan dibelakang sang eyang.
Mereka melewati persawahan, kebun dan ladang disana ada pohon jengkol dan sang eyang pun menunjukannya pada mereka
" Nak.. cucu... cucuku ini pohon jengkol yang kalian makan kematin... " ucap sang eyang
" Wah lumayan ya eyang kalo manjat " ucap Ali
" Tapi ko warnanya hitam bukan kuning seperti yang kemarin kita makan " ucap Ehan
" Kan kulitnya dikupas jadi warnanya kuning kalau yang dipohon kulitnya masih menempel " jelaskan sang Eyang
" Sekarang kita makanya sama ikan saja dulu ya... Siapa yang mau ikannya dibakar " tanya sang Eyang
" Aku eyang " ucap Serempak mereka kecuali satria
" Lo ko satria diam saja " tanya Sang eyang
" Biasanya Aku kalau makan ikan dipilihin dagingnya sama mamah, aku kan ga suka durinya " ucap Satria
" Siapa juga yang suka durinya " cibir Farel
" Sudah-sudah nanti eyang pilihin daginya buat kalian... biar kalian ga kena durinya... " ucap sang eyang
__ADS_1
" Hore " serempak mereka
Merekapun sudah sampai dirumah sang eyang mereka membatu Ambu membakar ikannya. setelah ikannya matang semua Sang Eyang memilihkan dagingnya untuk mereka semua.