
Abah pun mulai menyembelih hewan tersebut sampai si ayam pun mati. dengan berlumuran darah.
" Astaga .. Abah sadis jadi ayamnya meninggal " ucap Ali
" Kan tadi Abah sudah minta maaf " ucapnya
" Sekarang Abah mau ngapain " ucap Ehan
" Abah mau mencabuti kulitnya " ucap Sang Eyang
" Astaghfirullah... Abah kejam sekali " ucap Satria
" Emang kamu mau makan daging ayam sama bulunya " ucap sang Eyang
" Ya ga mau atuh Bah " ucap Ali
" Makanya diam saja " ucap Sang eyang
Sang eyang pun memasukan ayam tersebut kedalam air panas
" Astaga bah.. itu kenapa harus air mendidih kasian sekali iya terus di siksa ... " ucap Satria
" Mending kalian main sana... jangan membuat pekerjaan Abah jadi lama " ucap sang Abah yang merasa kesal dengan pertanyaan mereka yang kadang membuat sang eyang lucu dan bingung untuk menjelaskannya
" Ga mau kami mau disini " ucapnya serempak
" Tapi kalian jangan banyak bicara... " ucap sang eyang
" Iya eyang "
Akhirnya sang eyang pun sudah mencabut semua kulit ayam tersebut. lalu iya memotongnya jadi beberapa bagian.
" Aduh bah.. pelan-pelan atuh motongnya ... itu tulangnya bisa remuk " ucap Satria
" Iya itu tulangnya bisa patah juga " ucap Ehan
" Itu ko kaya yang suka ad di berita... Abah lagi mutilasi ayam ya " ucap Ali
" Abah lagi motong ayam biar kalian kebagian.. masa mau makan kaya gini... nanti kalau kalian rebutan gimana " tanya sang eyang.
" Oh begitu ya Abah " ucap Usuf
" Kalian masih disini... ayo atuh cepat mandi sana kan bentar lagi magrib kalian kan harus mengaji dulu sama Abah... baru makan " ucap sang Ambu
" Baik Ambu "
Merekapun mandi bergantian namun Farel selalu dapat giliran terakhir karena iya kalau mandi suka meresahkan orang dan membuat orang menunggu lama.
Setelah mereka Rapi dan wangi merekapun bersama Sang Eyang mengaji terlebih dahulu sebelum makan .
Setelah selesai mandinya , merekapun segera menuju ruang makan dan segera bersiap-siap makan malamnya.
" Ambu.. ini ayam yang tadi eyang siksa " ucap Ehan
" Ko disiksa " tanya Sang eyang
" Kan tadi Abah menyakitinya " ucap Ehan
" Sekarang kalian makan... tapi sebelum makan kalian berdoa dahulu... " ucap sang eyang
Merekapun dengan khusu mengucapkan doa sebelum makan. Setelah itu mereka mengambil makanan yang sudah disediakan
" Ayam .. maafkan aku ya... akan memakan mu " ucap Ali
" Iya ayam walaupun berat memakan mu namun kau terlihat menggoda dari harum nya " ucap Satria
" Ehan juga minta maaf karena pasti lahap memakan mu " ucapnya
" Semoga Kau tenang di alam sama " ucap Farel membuat semua orang melihat kearahnya
" kenapa " tanya Farel saat semua mata memandangnya
__ADS_1
" Kamu Ko doanya begitu seram " ucap Satria
" Kan kalau dia sudah mati berarti sudah beda alam " ucapnya
" Aku jadi merinding " ucap Satria
" Kenapa merinding " tanya Ehan
" Kalau Hantu ayam gentayangan gimana " tanyanya
" Sudah kalian cepat makan atau mau Abah habisin semua makananya " ucap Sang eyang tak mau meladeni pertanyaan mereka
Akhirnya merekapun makan dengan lahap, karena ayam yang dimasak Ambu benar-benar enak dan gurih.
Setelah selesai makan merekapun segera menghampiri Sang eyang yang sedang duduk diteras.
" Eyang " ucap Mereka
" Sini cucu-cucu ku " ucapnya membuat mereka menghampiri sang eyang dan duduk disampingnya.
" Eyang besok kami pulang ke kota " ucap Ali sedih
" Eyang tau... kalian jangan sedih... kalian bisa tiap liburan kesini ko " ucapnya
" Beneran eyang " ucap Ehan
" Tentu saja nak "
" Eyang maafkan Kita.. selama ini suka bikin eyang susah... " ucap Farel
" Tidak apa-apa Nak... justru eyang senang kalian itu membuat lucu eyang ... "
" Eyang bakal kangen kita ga " ucap Satria
" Pastinya... Eyang akan selalu kangen kalian " ucap Sang eyang
" Eyang makasih ya... untuk semua pengalaman yang ga pernah Ehan dapat selama ini " ucap Ehan
" Kamu juga sayang eyang " ucap Mereka
" Kalian tidur... Besok pagi kalian sudah dijemput " ucap sang eyang
Merekapun segera masuk kedalam kamarnya, Sang eyang masih diterasnya dengan wajah sedihnya Ambu pun menghampirinya.
" Abah kenapa wajahnya sedih " ucap Ambu
" Mereka mulai besok pulang ke kota.. kita akan kesepian lagi... " ucap Sang Abah
" Iya Abah... seminggu itu ga kerasa ya.. " ucap sang Ambu
" Abah mau minta Ujang untuk mengirim satu anaknya kesini agar Abah ga kesepian... kalau perlu sekolah aja disini... " ucapnya dengan wajah sedih
" Abah jangan khawatir nanti Ambu coba bantu bicara sama Ujang " ucapnya
" Iya Ambu... " ucap Sang Abah.
Merekapun segera masuk dan tertidur dikamarnya dengan terlelap.
Keesokan harinya,,
Ambu sudah meyiapkan sarapan untuk mereka, dan mengumpulkan mereka dimeja makan, terdengar suara mobil didepan rumah Eyang.
" Itu siapa bah " tanya Ambu
" Biar Abah yang lihat... tunggu sebentar " ucap Sang Abah membuka pintu rumahnya
" Palingan itu orang akan jemput kita Ambu " ucap Ali sedih
" Loh kenapa kalian pada sedih... jangan sedih dong kan kalian bisa tiap liburan kesini... pintu rumah Ambu akan selalu terbuka untuk kalian " ucap sang Ambu meskipun dalam hatinya pun merasa sedih akan kehilangan mereka.
" Anak-anak coba tebak siapa yang datang " ucap Sang eyang membawa Sisil, Leo dan Ina kedalam rumahnya
__ADS_1
" Bunda " ucap Farel dan Ehan menghampiri Sisil dan memeluknya
" Ko cuma bunda yang dipeluk.. ayah ga nih " ucap Leo
" Ayah " ucap Farel dan Ehan memeluk Leo
" Kalian baik-baik disini " tanya Sisil
" Baik dong bunda " jawab mereka
" Ina bagaimana cek up mu bagus " ucap Ehan antusias
" Bagus ... Ka.. Ina sudah ga sabar mau sekolah kaya Kaka dan Abang " ucap Ina
" Apa.. Ina cantik sudah sembuh dan bisa sekolah bareng aa satria " ucapnya menghampiri Ina dan hendak memeluknya namun Leo menghalanginya
" Mau Ngapain Ina kamu " ucap Leo
" Mau peluk Ina ... " ucapnya
" Ga boleh " ucap Leo
" Eh sudah... jangan ribut sebaiknya kalian sarapan dulu sebelum pulang... Ambu sudah siapkan sarapan untuk kalian " ucap Sang Ambu
" Iya Ambu " ucap mereka duduk ditempat duduk masing-masing
" Ambu Abah... apa Kabar " tanya Sisil
" Baik Non Sisil " ucap Abah
" Jangan pangil Non dong Abah pangil Sisil aja " ucapnya
" Tapi Nona... " ucapnya terpotong
" Abah sudah aku anggap sebagai bapakku seperti salsa sama Abah... ga papah kan kalau Abah pangil Sisil jangan pakai non " ucap Sisil terseyum
" Yasudah Yu kita makan... tapi maaf seadanya " Ambu
" Tidak apa-apa Ambu... segini juga cukup " ucap Leo
" Apa ini Ambu " tanya Ina
" Iya ko bentuknya kaya mangkuk " ucap Ehan heran
" Aku juga baru liat " ucap Ali
" Sama aku juga ga tau " ucap Ridwan
" Ini itu Serabi " ucap Ambu
" Serabi itu apa ..." ucap Satria
" Cobain ... pasti enak " ucap Sang Ambu
" Aku mau yang ini yang ada telornya " ucap Ehan
" Kalau aku mau yang berisi apa ini kaya sambel " ucap Farel
" Itu isi oncom " ucap Ambu
" Yang ini rasa coklat, ini keju, ini original, ini telor, ini sambal oncom, dan ini rasa kacang... kalian bisa ambil sesuai selera " ucap Ambul
" Wah... sepertinya enak-enak" ucap Satria
" Jangan dihabisin semua " ucap Usuf
" Ina cantik mau rasa apa biar ada Satria ambilkan " ucap Satria
" Aku bisa ambil sendiri " ucapnya
Merekapun memakan serabinya dengan lahap, apalagi yang sambal oncom terasa lumayan pedas namun enak.
__ADS_1