
Kini Ehan sudah lulus sekolahnya dan sudah pula masuk ke sekolah Menengah Pertama Negri sesuai keinginannya bersama sang Abang .
Mereka sangat pintar beberapa mendali mereka didapatnya ketika disekolah. bahkan semua biaya sekolahnya pun mendapat beasiswa.
Selama tiga tahun di Sekolah menengah pertama Sisil dan Leo tampak kewalahan dengan sikap Ehan yang nakal, dia kadang tak masuk sekolah, berantem dengan temannya, bahkan Dia berani merokok ketahuan oleh pihak sekolah selalu memangil Sisil dan Leo ke sekolah.
Pihak sekolah meskipun jengkel pada Ehan, iya tak bisa mengeluarkan Ehan dari sekolah karena dengan kepandaiannya. Iya selalu diikut sertakan dalam berbagai lomba dan selalu menang, terkadang merekapun merasa heran karena nilai Ehan tak pernah turun meski iya jarang masuk sekolah.
Ehan dan Farel pun sudah lulus dengan nilai terbesar disekolahnya bahkan Merekapun mendapatkan beasiswa untuk menuju Sekolah menengah Atas Negri sesuai keinginannya Sisil dan Leo.
Farel pun sangat senang dengan beasiswa tersebut namun beda halnya dengan Ehan, iya lebih tertarik masuk ke sekolah menengah kejuruan dengan jurusan otomotif sesuai dengan hobinya membongkar motor.
Namun dengan terpaksa Ehan pun mengikuti maunya sang Ayah. Iya bersama sang Abang sudah masuk ke Sekolah menengah Atas Negri.
Selama bersekolah disana Ehan bahkan lebih nakal dari Sekolah Menengah Pertamanya. Kini baik Sisil dan Leo sangat kewalahan dengan sikap Ehan yang suka balapan liar dan pernah sekali iya di grebek polisi karena balapan liarnya.
Sang Oma pun menyarankan pada Leo dan Sisil agar Ehan dikirim ke salah satu pesantren yang ada di Jawa agar iya menjadi lebih baik dari sekarang.
Dan akhirnya Sisil dan Leo pun sepakat mengirimkan Ehan ke pesantren namun iya akan tinggal diam bersama sang Abang agar iya bisa menjaga Ehan.
" Ehan.... bikin malu saja... untuk apa kamu balapan liar hah " bentak Leo
" Benar Nak.. apa yang dikatakan Ayahmu.. bahaya... nanti kalau Kamu jatuh bagaimana " ucap Sisil
" Ehan... cucu Oma.. kapan kamu tobatnya nak " ucap Sang Oma
" Kalian semua dengar ya.. Ehan cuma mau pindah sekolah ke SMK... itu saja " ucap Ehan
" Ayah ga akan ijinkan... sekarang saja kamu sudah berani balapan apalagi nanti... " ucap Sang Ayah dengan raut wajah marah
" Nak... sudah ya... jangan kaya begini lagi... cukup ya nak... bikin Bunda mengkhawatirkan mu ... " ucap Sisil
" Kamu selalu bikin Oma jantungan " ucap Sang Oma merasa gemas dengan kelakuan Ehan
" Tapi Oma... " ucap Ehan terhenti saat sang ayah membentaknya
" Cukup... " ucap Leo marah
" Mas... " ucap Sisil mencoba menenangkanya
__ADS_1
" Jangan Bela dia lagi... Kita sudah cukup sabar selama ini dengan kelakuannya... Aku sudah tidak tahan... akan ku kirimkan Dia ke pesantren yang jauh " Leo
" Benar kalau perlu didaerah Jawa .. tapi harus daerah kampung ya... pedalaman " ucap sang Oma
" Kalau Itu sudah menjadi keputusan bersama... Bunda sudah tidak bisa membelamu nak.. Bunda akan setuju jika kau harus pergi sekolah pesantren..." ucap Sisil dengan wajah sedih
" Farel juga setuju " ucap Farel yang merasa kesal karena sang ayah selalu menyuruhnya membuntuti Ehan
" Ehan akan pergi pesantren bersama Kamu Farel " ucap Leo
" Tapi Ayah.. yang nakal kan Ehan bukan aku... kenapa aku harus ikut " protes nya
" Kamu harus ikut... ayah takut iya akan kabur dari sana " ucap Leo
" Ini semua tidak adil " ucap Ehan melangkah pergi menuju kamarnya
Ehan cemberut dikamar sendiri lalu Sisil segera menghampiri nya dikamar nya.
Ceklek,,
" Nak... " ucap Sisil masuk ke kamar Ehan
" Bukan begitu Nak " ucap Sisil memeluk Ehan
" Bunda sayang sekali sama kamu... namun kamu harus tau... Bunda dan ayah lakuin ini agar kamu berubah menjadi lebih baik... " ucap Sisil meneteskan air matanya
" Bunda jangan nangis... maafkan Ehan kalau Ehan sudah bikin bunda nangis " ucapnya
" Kamu maunya... pergi sekolah ke pesantren " ucap Sisil memasang wajah sedihnya
" Iya bunda " ucap Ehan menghapus air mata sang bunda
" Akhirnya Ehan mau pergi kesana... " batin Sisil senang
Kini semua anggota tengah beristirahat, karena besok rencananya Leo dan Sisil akan mengantarkan sang putra kesayangannya untuk pergi ke pesantren.
Sisil dan Leo pun berharap agar Ehan bisa berubah dengan didikan pesantren yang kuat. Mereka menyadari jika terkadang mereka sibuk dengan pekerjaannya dan sering mengutamakan Ina dibanding putranya.
.
__ADS_1
...****************...
.
Keesokan harinya,,
Sisil tengah bersiap-siap meyiapkan sarapan seperti biasanya, lalu ia segera menuju kamar Ehan untuk membereskan barang-barang apa saja yang akan dibawa Ehan,
" Sayang... bangun nak... Sarapannya sudah siap... " ucap Sang bunda
" Iya bunda " ucapnya langsung bangun dan menuju kamar mandinya
Sementara itu Sisil pun pergi kekamar Farel. Disana terlihat Farel dengan wajah sedihnya sedang membereskan barang-barang yang akan dibawanya.
" Abang sudah Rapi... anak rajin bunda ini " ucapnya menghampiri sang anak
" Bunda.. kenapa Farel harus ikut sih... kan yang salah Ehan... bukan Farel " ucapnya
" Memang Farel ga salah Ko... Farel selalu jadi kebanggaan Ayah dan bunda.. tapi bunda dan ayah akan lebih bangga pada Abang kalo Abang mau jagain Ehan... abang kan pemikiran nya lebih dewasa dari Ehan... dan Abang itu harus jadi Kaka yang selalu melindungi adiknya... " ucap Sisil
" Tapi Bunda " ucapnya dengan wajah sedih
" Abang... harus jagain Ehan... Ehan itu tingkahnya masih anak-anak ... Abang sayang kan sama Ehan " tanya Sisil
" Iya bunda ... " jawabnya
" Kalau Abang sayang sama Ehan.. dan mau bantuin bunda dan ayah menjaga Ehan... " ucap Sisil membujuk Farel
" Iya bunda " ucapnya
" Sekarang Abang pergi makan... semua sudah menunggu Abang dibawah " ucap Sisil
" Baik Bunda " ucap Farel melangkah pergi dari kamarnya bersama Sisil
Kini semua sedang menikmati sarapannya dengan lahap, baik Ehan maupun Farel kini sedang sedih karena iya harus berpisah dengan Ayah dan bundanya. namun mau bagaimana lagi.
Setelah selesai dengan Sarapannya Sisil, Leo, Farel dan Ehan segera menuju mobilnya untuk melakukan perjalanan jauh menuju pesantren yang akan ditempati Farel dan Ehan.
Sementara Ina diantarkan sang Oma pergi sekolah. Sedangkan Marco kini sudah pergi menuju Restoranya.
__ADS_1