
Tidak ada jawaban, semua masih berkelana dengan ide masing - masing.
“Yang belikan aku makan dulu dong” pinta mbak Eki pada mas Andika.
“Aku lapar”
“Teman-teman yang lain bagaimana apa sudah makan semua?”
“sudah tadi pas istirahat” mbak Sarah dan mas Dimas kompak menjawab.
“Aku pamit sebentar ya, mau ke lab komputasi, ada asistensi kalian makan dulu saja, sebentar lagi aku kembali” mas Dimas dan mbak Sarah berpamitan pada kami, seraya melangkah menuruni anak tangga.
“Kamu tidak makan Yu?”
“Tidak mas, saya masih kenyang”
perutku berbunyi.
Sayangnya perutku sama sekali tidak bisa di ajak kompromi, malah berbunyi saja.
“Kamu lapar Yu, udah kalian tunggu di sini saja sebentar, aku mau beli makanan dulu”
Berdua dengan mbak Eki di satu meja merupakan sesuatu hal yang sangat sulit, canggung bingung memulai ngobrol apa? Berasa layaknya pembantu dan majikan. Yang satu cantik jelita full dengan segenap aksesoris baju, tas, kerudung yang bagus, sedangkan aku, baju saja tidak di setrika. Tapi untuk urusan wajah aku tidak kalah dengan mbak Eki jika saja sedikit dipoles, hanya saja tubuh ku terlalu kurus dan pendek here.
Hening.
Benar-benar hening tidak ada obrolan pembuka sama sekali diantara kami, hingga mas Andika datang membawa beberapa makanan.
“Makanlah kalian pasti lapar, setelah ini kita lanjutkan kembali”
Aku beranjak berpamitan untuk pindah meja dari mereka, merasa sangat tidak pantas di antara mereka. Berasa jadi obat nyamuk, apalagi mbak Eki yang manja sekali dengan mas Andika. Entah di sengaja atau tidak.
Kalian tanya hatiku bagaimana?
Tenang, sebelum berangkat tadi sudah aku siapkan isolasi yang banyak, hati ku sudah aku setting mas Andika bukan milik ku tapi milik mbak Eki. Aku hanya boleh melihatnya dari jauh, hanya boleh mengaguminya saja tidak boleh bercita-cita memilikinya.
Sakit? Tentu lah, inikan pertama kalinya aku jatuh cinta, anggap saja pelayan yang sedang jatuh cinta pada pangerannya.
“Biarlah yang, mungkin dia tidak enak menggangu kita” jawaban mbak Eki sangat menohok hati.
Aku berlalu, pindah ke meja sebelah.
__ADS_1
“Kalian sudah selesai makannya?” Mbak Sarah dan mas Dimas mulai berjalan menuju meja mas Andika.
“Sudah ayo, mulai lagi”
“Ayu lets go” teriak mas Dimas pada ku yang berada di meja sebelah.
Kami berlima kembali berdiskusi kembali, menimbang-nimbang kelebihan dan kekurangan masing-masing dari ide kami.
Jika ide dari mbak Eki dirasa sudah terlalu umum, karena bunga telang sudah sering di jadikan sebagai pewarna makanan. Pewarna pada kue basah maupun pada minuman. Selain itu nasi warna biru sepertinya kurang menarik jika disandingkan dengan masakan nusantara. Masih kalah dengan nasi kuning yang sudah legen.
Gagasan dari mas dimas sebenarnya bagus ban bekas sebagai media untuk pengganti bahan bakar untuk memasak yang susah di perbarui, sedangkan saat ini limbah ban bekas banyak sekali dan tidak di manfaatkan. Tetapi proses penyulingan membutuhkan waktu yang sangat lama, dan membutuhkan bahan bakar seperti kayu atau sekam yang sangat banyak.
Ide dari mbak Sarah, membuat dodol yang unik dari segi varian rasa, warna dan ukuran juga menarik, namun sayang nya akan kesulitan dalam proses pembuatannya. Proses pembuatan dodol memerlukan waktu dan tenaga yang sangat besar. Sedangkan kami semua memiliki tingkat kesibukan yang berbeda-beda, selain itu pembuatan dodol juga memerlukan peralatan yang lebih besar.
Gagasan ide ku, yang membuat kafe “KIMIA (Kiki DAN Mia)”, terlalu sulit untuk di realisasikan, kami membutuhkan tempat atau outlet untuk media pemasarannya. Selain itu peralatan yang di gunakan juga sulit di dapat dan harganya mahal sekali.
Gagasan dari mas andika untuk membuat cincau evervesen, di rasa lebih mudah dilakukan oleh kelompok kami, proses pembuatan dapat dilakukan di laboratorium agrokimia. Semua peralatan yang di perlukan untuk proses produksi ada semua di sana sedangkan untuk bahan baku daun cincau dapat di peroleh di desa tempat tinggal mas Dimas, masih di kawasan Malang juga.
Proses pembuatan tidak memerlukan tenaga yang terlalu banyak, kami dapat saling bergantian sesuai dengan jadwal yang kosong untuk rolling. Untuk biaya produksi juga tidak mahal, daun cincau dapat di ambil gratis, asal mau ambil sendiri. Hanya memerlukan LPG untuk proses memasak
Wah memang mas Andika cerdas ya, sungguh tidak salah jatuh cinta padanya, analisisnya sungguh mantap. Cocok sekali di jadikan suami eh.
“Bagaimana teman-teman kita jadi pakai gagasan yang mana?”
“Cincau evervesen”
Ok siap lanjutkan, sekarang mari kita bagi tugas dan lekas di praktekan.
Seperti biasah mas Andika sebagai ketua kelompok lekas segera mengatur anggotanya.
“Dimas, kamu bagian mencari cincau ya”
“Siap laksanakan”
“Eki dan Sarah, kalian urus perijinan peminjaman lab Agrokimia ya”
“Baik bos” dengan kompak mereka menjawab
“Rahayu kamu cari-cari referensi yang banyak ya tentang daun cincau dan evervesen”
“Iya mas” jawab ku kalem sambil menunduk, setiap pertanyaan dan ucapan mas Andika seperti hipnotis bagiku yang pasti langsung bingung dan tidak bisa menjawab apa-apa selain mengangguk atau menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Aku akan coba bikin bab satu sampai tiga dulu ya”
Untuk kapan kita mulai praktek membuat cincau evervesen nanti akan segera di kabari ya, kalian semua siap-siap saja. Kerjakan tugas masing-masing dulu sambil menunggu informasi selanjutnya.
Mas Andika sekilas melirik ku, mata kami bertemu.
Oh Tuhan Indah sekali matanya.
Pasti dia melihatku karena kasian, karena di sini hanya aku yang tidak ada HP.
“Nanti aku email Yu tenang saja”
Aku hanya bisa mengangguk saja.
“Teman-teman untuk nama kelompoknya apa ya?”
Sejenak kami berlima berfikir kembali.
“Kasih nama Yupiter aja yang, biar kelompok kita gede bisa berjaya dan makmur” jawab mbak Eki.
“bagaimana teman-teman yang lain?”
“iya gas itu saja Yupiter”
Terlihat sedikit aneh dan tidak nyambung dengan jurusan kami, Yupiter planet yang gede sih, tapi untuk berjaya dan makmur apa iya? Memang di sana ada kehidupan?
Ah sudahlah, menurut saja lagian aku juga paling kecil di sini pamali kalau tidak menurut sama kakak tingkat. Baiknya menurut saja agar selamat dunia akhirat.
***
Pukul 09.00 WIB lab Agrokimia sudah mulai beraktivitas.
“Selamat pagi saudara-saudara ku, aku sudah membawa satu karung daun cincau seperti perintah kalian” sapa Dimas
“Selamat pagi juga” jawab Eki dan Sandara
“Sudah lengkap semuanya? Ayo mari kita mulai”
“Eh tunggu Rahayu belum datang, aku lupa tidak memberi tau dia” jawab ku pada teman-teman yang lain.
“Ih kamu itu gimana sih jadi ketua, anggota cuma lima saja gak apal, yang kamu ingat Eki saja sih” jawab sarah sedikit ketus sambil becanda.
__ADS_1
Aku hanya diam dan tersenyum, tak mungkin ku jawab Rahayu tidak punya HP, kasian pasti dia malu, pasti dia dari kemarin menunggu email ku.