Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Hari Tenang


__ADS_3

“Berapa kali Yu kamu bertanya seperti itu sama aku? Berapa kali pula aku harus menjawab pertanyaan itu?”


“Bukankah sudah aku katakan karena kamu temanku jadi aku baik sama kamu, aku juga sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri”, jawab mas Dika sambil tersenyum padaku.


“Oh iya mas trimakasih ya atas segala bantuannya selama ini”. Oh iya mas Dika kan memang orang baik, selama ini dia juga selalu baik sama semua orang bukan hanya denganku.


Harusnya aku tidak bertanya lagi pada mas Dika bukankah jawabannya masih sama mas Dika hanya menganggap sebagai teman dan adik. Harusnya aku lebih bisa mengontrol perasaanku sendiri.


Belajar hanya berdua dengan mas Dika sesungguhnya sesuatu yang sulit, tak terhitung rasanya jantungku berhenti berdetak. Berada dalam posisi yang paling dekat dengannya hingga mampu ku hirup aroma rambut nya. Terkadang dia membuatku seperti sangat berarti tapi kemudian membuatku ambyar kembali jika mengingat kata ” hanya sebatas adik dan teman”


Aku harus menepis segala rasa padanya, jangan sampai mas Dika tau jika aku menaruh hati padanya yang ada dia akan ilfil denganku bahkan akan merasa jijik.


“Kau seperti mimpi bagiku tak untuk jadi nyata dan segala rasa buatmu harus padam dan berakhir”.


Seperti itulah kira-kira gambaran hatiku untuk mas Dika.


“Yu minggu depan saat hari tenang kan libur satu minggu, kamu rencananya mau kemana?”


“Aku belum tau mas”


“Apa kamu mau pulang kampung?”


Aku hanya menggelengkan kepala saja, sebenarnya aku kangen sekali sama ibu, bapak dan saudara-saudaraku di rumah tapi mana bisa aku pulang sesuka hatiku, aku punya tangung jawab setrika dan cuci baju ibu kos ku.


“Jalan-jalan yuk”


“Jalan-jalan? kemana?”


“Kemana saja sesuka kamu”. Ingin sekali ku jawab mau dong mas jalan-jalan ke hatimu tapi pasti mas Dika akan ilfil lebai sekali.


Belajar sore ini berakhir sudah, mas Dika membantu mengerjakan tugas membuat majalah hingga benar-benar selesai sampai desain covernya juga dia yang bikin.


Kagum kagum dan kagum hanya itu saja yang ada dalam otakku saat dekat dengannya. Karena semua tugas sudah selesai akhirnya mas Dika pamit untuk keluar perpus terlebih dahulu.


“Aku keluar dulu ya Yu, ada sesuatu yang harus aku kerjakan”, pamit mas Dika dan mulai bergegas merapikan beberapa barang bawaan nya.

__ADS_1


“Iya mas hati-hati ya, terima kasih ya untuk semua bantuannya”


“Terima kasih terus, ini semua tidak gratis nanti waktu hari tenang kamu harus bayar”, Mas Dika berlalu meninggalkanku dan aku masih setia memandang punggung lebar nan tegak itu hingga benar-benar tak terlihat.


***


Hari senin telah tiba, tidak seperti biasnya hari senin yang identik dengan segala kerepotannya, hari senin ini tampak lebih longgar. Tiba sudah memasuki hari tenang sebelum ujian akhir semester.


Kampus dan kosan tampak lebih sepi dari biasanya, sebagian dari mahasiswa banyak yang pulang, sebagian juga ada yang benar-benar mempersiapkan diri untuk belajar dan sebagian memanfaatkannya untuk jalan-jalan sebelum ujian semester dimulai.


Sebagian besar anak-anak yang ada di wilayah Jawa Timur sudah dapat dipastikan akan pulang untuk melepas rindu dengan orang tuanya atau sekedar meminta uang saku. Berbeda dengan teman-teman yang berasal dari luar Jawa mereka lebih memilih tetap tinggal dan memanfaatkannya untuk belajar.


“Yu jalan yuk, nanti aku jemput jam sepuluh kamu siap-siap dulu ya”, sma dari mas Sholeh alias mas Dika.


“Kemana mas?”


“Udah Ah kamu siap-siap saja dulu”


“Tapi kemana dulu mas?, sesungguhnya aku takut salah kostum, jangan-jangan dia mengajak ke acara kajian kan setidaknya aku harus pakai rok.


“Ok”


Aku lekas mempersiapkan diri menggunakan baju terbaik yang aku punya masih sama baju yang pernah aku pakai saat nonton dengan mas Dika beberapa bulan yang lalu, baju kotak-kotak warna pink dengan setelan celana levis warna biru.


Aku membuka lemari pakaian mencari kerudung yang biasanya aku gunakan sebagai pasangan baju pink ini, tapi entah mengapa kerudung yang aku cari tak ada, aku kembali mencari di beberapa tempat lainnya masih juga belum ada.


Aku mencoba mengingat-ingat kembali, terakhir aku bawa kerudung itu ke Batu saat ada acara penalaran dan penulisan minggu lalu, aku mulai menyadari mengapa tasku terasa lebih longgar, sepertinya kerudungku ada yang tertinggal. Menyadari hal itu aku menggunakan kerudung seadanya saja dengan warna yang nabrak dengan kostumku.


Tak berselang lama mas Dika sudah sampai didepan kos ku, aku melihat dari jendela kamar atas rupanya dia datang menggunakan motor sport yang besar tak seperti biasanya yang membawa vario. Aku lekas turun kebawah untuk menghampirinya.


“Tumben mas bawa motor begini?”, tanyaku padanya


“Biar keren aja kayak anak muda”, jawab mas Dika.


Jangankan pakai motor sport mas, pakai legenda saja kamu sudah keren, memang dasarnya sudah cakep dari sononya.

__ADS_1


“Ini gimana naiknya mas?”, aku melihat motor mas Dika yang terlihat sangat besar dan tinggi sepertinya aku akan kesusahan untuk naiknya.


“Dasar anak kecil banyak-banyak minum susu sana biar cepat tinggi agar bisa dengan mudah naiknya”, mas Dika meledek.


“Ayo naik sini sambil pegang pundak”


“Naik?”


Pegang pundak? Ini pertama kalinya aku pegang pundak mas Dika, wahai hati tenanglah jangan terlalu kencang saat berdetak aku malu. Aku mulai naik sepeda mas Dika dan sungguh tinggi sekali aku merasa terlihat aneh, motornya besar yang di bonceng kecil sekali.


Motor mas Dika mulai berjalan meninggalkan kosan, aduh berada dalam kondisi seperti ini sangat tidak enak, baru saja jalan tapi pinggangku sudah merasa sakit karena harus menahan tubuhku agar tidak jatuh di punggung mas Dika.


“Yu aku mau ngebut kamu pegangan ya” ujar mas Dika


“Pegangan? Aku sedikit berteriak karena suara motor mas Dika sangat berisik.


“Iya pegangan, kenapa aku selalu harus mengulang kata saat berbicara padamu?”


Andai saja kau mengerti mas aku selalu merasa tak percaya dengan segala perlakuanmu padaku.


Mas Dika lekas menarik satu tanganku untuk melingkar di perutnya.


“Tangan satunya dong Yu” ucap mas Dika lebih keras, mungkin dia mengira aku ada gangguan pendengaran sehingga harus mengulang beberapa kata saat ngobrol denganku.


Aku dengan malu-malu mulai memberanikan diri untuk memeluk mas Dika dan benar saja tubuhku menempel pada punggungnya.


“Gitu dong biar aku gak dikira ojek lagian kamu kecil sekali kalau tidak pegangan nanti kebawa angin”


Mas Dika semakin menambah kecepatan sepeda nya, membelah jalanan yang tak begitu macet pagi itu. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan yang berarti aku lebih banyak diam dan menyelami hatiku sendiri.


Saat memasuki kawasan Songgoriti banyak sekali orang menawarkan vila pada kami.


“Vila mas villanya”


Mas Andika pun menghentikan motornya disalah satu pos yang kami lewati dan menghampiri orang yang menawarkan vila tersebut.

__ADS_1


__ADS_2