
“📩 Mohon maaf pak kami semuanya sudah meninggalkan kelas tadi”.
Rahayu membalas pesan sang dosen dengan tangan gemetar.
Beberapa menit kemudian ponselnya kembali bergetar.
“📩 Siapa yang suruh kalian pulang?”.
“📩 Saya kan sudah katakan tunggu!”.
“Duh mati aku, bagaimana nih”. Ucap Rahayu pada Dania yang tampak bingung.
“Saya sudah jauh-jauh datang ke kampus, tapi tidak ada mahasiswa sama sekali”.
‘Mohon maaf pak, kami tadi sudah menunggu lebih dari tiga puluh menit tapi bapak tak kunjung datang, jadi kami memutuskan untuk pulang saja”.
“📩 Siapa yang berani-berani menyuruh pulang?, sedang saya sudah berpesan untuk menunggu”.
“📩 Mohon maaf pak saya tidak memeriksa pesan masuk sama sekali dari tadi, kebetulan sedang di luar”.
“Oh jadi begini kelakuan mahasiswa sekarang, dosen terlambat bukannya belajar sambil menunggu dulu malah main keluar”.
Rahayu membaca pesan dosen tersebut dengan menelan ludah dengan begitu susahnya.
“Ya Allah ribet banget ini orang, biasanya juga dosen tidak peduli jika di tinggal mahasiswanya pulang tinggal cari ganti jadwal yang lain saja". Batin Rahayu dalam hati.
Mana foto profilnya hati yang retak pula, hem lagi sensitif habis putus kali atau habis berantem sama istrinya mungkin.
“Ada apa mbak Ayu?”. Tanya Dania yang kebetulan masih sedang asyik menikmati makanan yang ada di depan mejanya.
“Ini lo dosen kita tadi marah-marah, kita meninggalkan kelas tanpa menunggu beliau”.
“Oh biarin saja mbak nanti aja di balas, kita makan saja dulu, nanggung nih masih separo”. Dania melanjutkan makannya tanpa mempedulikan Rahayu yang masih bingung untuk menjawab pertanyaan sang dosen.
Karena tak tau mau menjawab apa, Rahayu membiarkan begitu saja pesan tersebut tak berniat untuk membalasnya.
Rahayu malah menuruti perintah Dania untuk kembali makan. Dan mereka berdua kembali menghabiskan makanannya tanpa tersisa sama sekali.
***
Sementara itu di kampus Andika tampak kesal oleh tingkah mahasiswanya.
“Kurang ajar baru juga hari pertama masuk kelas sudah berani meninggalkan kelas, baru juga terlambat empat puluh menit”.
__ADS_1
Ucap Andika dengan melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
*Duh pak Andika empat puluh menit tanpa kepastian itu lama.
“Kelakuan mahasiswa sekarang Hem”.
“Berani-beraninya pesan dari dosen yang ganteng seperti ini di read doang, lihat saja aku akan buat kamu menyesal mempermainkan dosen ganteng seperti ini”. Ucap Andika yang bermonolog sendiri dalam ruangannya.
Karena merasa terabaikan dan tak biasanya ada mahasiswa yang mengabaikannya, Andika kembali meraih ponsel yang ada di mejanya. Andika melihat kembali foto profil mahasiswa yang mengirim pesan tersebut.
“Gambar kucing?”. Andika mengerutkan keningnya melihat foto profil di Wa tersebut.
Andika lantas membuka info di bio nya.
“Setelah kesulitan pasti ada kemudahan”.
Andika kembali tersenyum melihat status tersebut, entah mengapa otak jahilnya bekerja dengan begitu cepatnya.
“Jangan harap kamu akan menemukan kemudahan hidup setelah membuat aku kesal”. Ucap Andika dengan senyum miring di bibirnya seakan sedang merencanakan sesuatu.
Andika kemabli bersandar di kursi kebesarannya sambil menatap langit-langit ruangan tersebut. Sekilas bayang-bayang Rahayu kembali melintas di ingatannya tanpa permisi.
“Ya Allah pengen lupa ingatan saja kalau begini terus”. Ucap Andika dalam hati sambil membayangkan hari-hari kala bersama Rahayu dulu di kampus tercinta ini.
Pintu ruangan berbunyi pertanda ada tamu yang datang.
“Silahkan masuk”. Jawab Andika dari dalam ruangan.
“Oh bu Ratna, silahkan duduk bu”.
Ratna adalah salah satu rekan seprofesi Andika di kampus, Setelah mengalami kecelakan setahun yang lalu orang tua Andika tidak mengijinkan Andika untuk kembali ke Jakarta. Orang tua Andika menginginkan anaknya untuk mengajar saja di Malang. Selain itu merupakan harapan dan cita-cita orang tuanya sejak dulu, dengan mengajar di Malang maka Andika akan tetap tinggal bersama mereka.
“Pak nanti malam apakah bapak ada kegiatan?”. Tawar Ratna pada rekan seprofesinya tersebut.
“Hem sepertinya tidak ada bu”.
“Kalau begitu bagaimana kala nanti malam kita jalan-jalan pak?”.
“’Kita?”. Tanya Andika dengan mengerutkan keningnya.
“Iya kita pak jalan-jalan berdua begitu, keliling Malang saja gak usah jauh-jauh ata sekedar makan malam begitu juga boleh”.
“Wah nanti malam ya?”’.
__ADS_1
“Kebetulan saya masih sendiri lo pak”.
“Oh maaf bu Ratna saya baru ingat nanti malam saya harus mengantar mama ke rumah temannya, mohon maaf ya saya lupa. Saya tidak ingin membuat mama saya kecewa karena memang saya sudah berjanji mau mengantarkan tadi”. Andika menepuk keningnya seolah-olah sedang mengingat suatu hal.
“Oh begitu ya pak, hem kalau besok atau lusa bagaimana?”.
“Lihat jadwal yang kosong dulu ya bu, tapi saya tidak janji”.
Ratna tampak menghela nafas kecewa mendengar jawaban Andika.
“Tapi di usahakan bisa dong pak?”.
“Mohon maaf bu, saya ada jam kelas sebentar lagi”. Ucap Andika merasa tidak enak, namun Andika tak mempunyai pilihan lain.
“Oh bapak ada kelas ya setelah ini, ya sudah silahkan bersiap-siap dulu saya permisi, besok atau lusa usahakan ya pak”. Ucap Ratna sambil berdiri bersiap untuk keluar ruangan tersebut.
Andika menatap lega punggung Ratna yang menghilang di balik pintu.
“Bahaya juga nih kalau dekat-dekat buaya betina”. Batin Andika dalam hati.
Karena mendapat anugrah wajah yang rupawan dan otak yang cemerlang membuat Andika banyak sekali di kagumi dan di kejar-kejar wanita. Namun semain di kejar dan di kagumi wanita maka Andika akan semakin menjauh. Andika lebih menyukai wanita yang malu-malu seperti kucing.
Berbicara tentang kucing membuat Andika teringat dengan mahasiswanya yang tadi sempat di hubungi tapi tak di balas.
Andika kembali meraih ponsel yang ada di meja kerjanya. Andika kembali mengirimkan pesannya untuk Puspita.
“📩 Besok saat kuliah manajemen agro, semua mahasiswa di harapkan membawa jurnal internasional berkaitan dengan kass yang sedang hits pekan ini”.
Send Kucing kelas C.
Ya Andika memberi nama pada kontak mahasiswanya tersebut “kucing, karena foto profilnya yang menggunakan gambar kucing.
Satu jam berlalu setelah selesai mengajar, Andika kembali membuka ponselnya.
Andika mengumpat dengan kesal, mendadak jengkel dengan dirinya sendiri dan mahasiswa barunya. Padahal mereka tidak saling mengenal bahkan belum pernah berjumpa sebelumnya, tapi entah mengapa Andika merasa jengkel saja ketika di abaikan begitu saja.
“Baru kali ini di acuhkan oleh mahasiswa nya, tidak tau apa kalau aku dosen muda, paling ganteng di sini dan kebetulan juga masih jomblo’. Batin Andika dalam hati.
Ting.
Satu pesan wa masuk dalam ponsel Andika.
“📩 Iya pak”~ Kucing.
__ADS_1
“Apa-apaan cuma di balas iya pak, balasnya satu jam kemudian pula mana Wa nya dari tadi aktif. Dasar mahasiswa nakal mentang-mentang sudah S2 jadi seenaknya sama dosennya. Lihat saja besok aku akan pastikan hidup kamu tidak tenang sudah mengacuhkan dosen seganteng ini”.