
Pagi harinya Rahayu terbangun seperti biasa menjalankan ibadah dan bergegas ke dapur membantu mbak di sana untuk menyiapkan makanan. Meskipun Reno sudah tidak ada Rahayu tetap menjalankan rutinitas untuk memasak seperti saat ada Reno.
Pagi itu ibu dan bapak Rahayu belum kembali ke rumah mereka sengaja ingin menemani anaknya untuk beberapa hari ke depan. Saat semua makanan sudah siap dan tersaji dengan rapi di meja makan Rahayu lekas memanggil kedua mertua dan orang tuanya untuk sarapan pagi bersama.
Sarapan sederhana dan mudah, makanan setiap umat nasi goreng ala Rahayu lengkap dnegan telur dadar yang bersanding dengan kerupuk, tak lupa aneka minuman hangat juga tersaji di sana.
Semua sudah berkumpul bersama di meja makan untuk menikmati sarapan pagi, ada sedikit rasa sedih menghampiri Rahayu tak kala melihat ayah yang makan bersanding dengan bundanya. Serta ibu yang bersanding dengan bapaknya, sedangkan dia hanya mampu melirik kursi di sebelahnya yang nyatanya kosong.
“Harusnya mas Reno ada di sampingku”.
Terkadang rasa tak rela itu masih tersisa di benaknya.
Dalam keheningan sarapan pagi tersebut, ayah Reno membuka percakapan.
“Rahayu ada yang mau ayah sampaikan nak”.
Ayah menjeda perkataannya dengan melihatku, seakan menunggu jawaban apakah aku siap atau tidak mendengarkan perkataan ayah selanjutnya.
“Iya ayah”.
Ayah menyerahkan sebuah amplop warna coklat padaku.
“Ini apa yah?”.
“Buka saja nak”.
Aku membuka amplop tersebut dengan perasaan was-was.
“Sertifikat rumah yah?”.
“Iya itu rumah yang di beli Reno, rencananya rumah itu akan menjadi tempat tinggal kalian berdua”.
Rahayu hanya menggelengkan kepala saja.
“Tidak yah ini terlalu berlebihan untukku”.
“Tidak nak, kamu berhak mendapatkan ini, bukankah kamu istri Reno. Jadi tolong terima ini”.
Rahayu melihat ke arah keda orang tuanya, seakan sebuah isyarat meminta saran apa yang harus di lakukan.
__ADS_1
Menyadari hal itu kedua orang tua Rahayu hanya menganggukkan kepala saja.
“Rahayu nak, terima saja kami sudah menganggap kamu seperti anak kami sendiri, rumah itu di bangun Reno khusus untuk kamu, jadi tolong jangan menolak”.
Bunda ikut angkat bicara dengan menatapku penh harap.
“Oh ya Yu satu lagi, ayah harap setelah ini kamu bisa melanjutkan lagi sekolah master kamu, terserah kamu mau mengambil di mana. Di dalam negri ok di luar negri juga tidak apa”.
“Ayah menaruh harapan besar padam, kelak setelah selesai menyelesaikan pendidikan, kamu bisa melanjutkan bisnis yang sudah dirintis Reno sejak lama ini”.
“Kasian nak banyak orang yang bergantung hidup pada usaha yang sudah di rintis Reno”.
“Tapi yah masih ada Rania?”.
“Rania jga akan mengurus usaha ayah nak, Reno dan Rania sudah memiliki porsi masing-masing sesuai apa yang ayah tentukan sebelumnya, berhubung takdir berkata lain dengan Reno yang tiada maka kamu harus menggantikannya”.
Rahayu kemabli melihat ibu dan bapaknya.
“Lanjutkan pendidikanmu nak, kamu sudah banyak membantu keluarga. Berkat usaha kerasmu keluarga kita sekarang sudah lebih dari cukup. Kondisi finansial bapak dan ibu sudah lebih baik, jadi jangan khawatirkan tentang kami”.
Ucap bapak Rahayu seraya memandang putri sulungnya, tak lupa sang ibu yang tersenyum dan memegang tangan anaknya seakan mengiyakan apa yang di katakan bapaknya.
“Untuk saat ini mungkin ayah masih kuat nak untuk bekerja, tapi untuk beberapa tahun ke depan yang muda yang harus berkarya”.
Rahayu kembali menganggukkan kepalanya menerima tawaran ayah mertuanya.
“Jangan khawatir nak nanti ada anak teman ayah yang akan membantu kamu menjalankan usaha Reno, ayah sudah mendiskusikan tentang hal ini dengan orang tuanya”.
“Ayah bunda jika Rahayu boleh memilih, bolehkah jika Rahayu melanjutkan master di Malang saja”.
“Silahkan nak jika memang itu yang kamu mau maka melanjutkan, dengan bersekolah lagi kamu akan mendapat pengalaman dan teman baru. Kamu juga akan memiliki banyak kegiatan, yang sedikit banyak dapat menghibur hati kamu nak”.
“Satu lagi Reno pasti juga akan senang ketika kamu bisa melanjutkan sekolah lagi dan kembali bangkit”.
Rahayu menata hatinya kembali, demi Reno dia akan melanjutkan sekolahnya dan menjalankan usaha yang sudah di rintis Reno sejak lama.
***
Dua Minggu sudah aku kembali menginjakan kaki di tanah Malang, tanah yang dingin dengan sejuta kenangan. Aku ingin membuka lembaran baru memulai kehidupan baru di sini.
__ADS_1
Kini aku tak lagi tinggal di kosan Sumber Sari seperti kala menyelesaikan pendidikan sarjanaku. Ayah membelikan rumah khusus untukku di Permata Jingga. Sebenarnya aku sudah menolak karena bagiku ini terlalu berlebihan.
Ayah dan bunda memilih untuk membeli rumah di daerah elit Permata Jingga bukan karena alasan, mereka mengatakan demi kenyamanan dan keamanan selama tinggal di sana karena aku di Malang sendiri tanpa saudara. Selain itu jika membeli rumah maka ayah dan bunda akan mudah ketika ingin menjengukku dan bermalam di sana.
Saat menempuh pendidikan master ini aku juga tidak di perkenankan untuk mengambil beasiswa, biarlah beasiswa itu untuk mereka yang benar-benar membutuhkan. Ayah dan bunda memfasilitasi semua kebutuhanku selama mengeyam pendidikan master di sini.
Ayah dan bunda juga menyerahkan semua harta kepemilikan mas Reno padak termasuk ATM dan mobilnya. Aku berkali-kali menolak tentang hal ini tapi sayangnya ayah dan bunda tak menerima penolakan. Mereka slalu berkata bahwa aku berhak atas semua ini dan mereka sudah menganggap aku sebagai anak mereka sediri.
Dengan segala kenyamanan yang aku dapat saat ini tentu aku tidak memanfaatkannya dengan seenaknya. Aku tetaplah Rahayu yang dulu Rahayu yang sederhana dan apa adanya. Aku akan menjaga semau harta mas Reno seperti ketentuan ajaran agama yang aku anut. Bukankah memang tugas istri menjaga harta suaminya.
Seperti kebiasaan mas Reno dulu, aku akan tetap mengirimkan dana untuk operasional pondok pesantren yatim seperti yang biasa dia lakukan. Tentu saja dengan menggunakan uang mas Reno. Aku berharap dengan begini akan menjadikan jariyah bagi mas Reno di alam sana.
Jarak rumah di Permata jingga dan kampus lumayan jauh jika di tempuh dengan jalan kaki, sedangkan kendaraan yang tersedia di sini hanya mobil dan aku tak bisa mengendarainya.
Seminggu pertama di Malang aku habiskan dengan kursus mengendarai mobil tentu semua ini atas ijin ayah, bunda dan kedua orang tuaku.
***
Pagi ini aku melangkah menjadi Rahayu yang baru, meski statusku saat ini menjadi seorang janda tapi aku tak kalah jika harus bersanding dengan mahasiswi lainnya yang masih lanjang hehehe.
Oh ya untuk pendidikan master ini aku tetap mengambil pertanian hanya saja akan lebih fokus pada bisnisnya. Kerena aku akan melanjutkan bisnis mas Reno.
.
.
.
.
.
.
.
.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Kira-kira ada cerita apa lagi di Malang?
🤭🤭🤭