
Tampak dari kejauhan sang bidadari tersayang mbak Eki menghampiri kami, rupanya dia sudah sembuh sudah kembali menjalankan aktivitas kuliah seperti biasanya setelah beberapa bulan tidak dapat mengikuti perkuliahan.
“Kamu ngapain sih yank di sini berduaan sama dia?” matanya menjurus ke aku dengan tatapan berkobar siap untuk mengajak perang.
“Tidak, aku hanya membantu Rahayu belajar itu saja”
“Ngapain juga sih dibantu? Belajar apa lagi coba bukannya PKM sudah selesai ya?”
“Bentar doang yang kasian nih Rahayu”
“Ngak mau, pokoknya anterin aku pulang sekarang! Kakiku sudah mulai terasa kebas dan kesemutan dari tadi”
“Bentar dikit lagi”
“Mas Dika anterin mbak Eki pulang saja tidak papa aku sudah bisa kok”, ujarku membujuk mas Dika agar mengikuti kemauan mbak Eki, aku sungguh tak nyaman dengan tatapan mbak Eki.
“Tuh yang dengerin, dia aja nyuruh kamu pulang lo”
“Rahayu tidak papa kan Dika aku ambil lagi?” pertanyaan dengan sedikit penekanan menegaskan bahwa mas Dika hanya milik Eki seorang.
“Ayo lah yang” dengan nada yang manja aku tak tahan melihatnya.
“Beneran Yu gak papa aku tinggal?”
“Tidak papa mas silahkan”, mas Andika mulai berkemas dan siap untuk pergi,.
“Aku tuh gak suka lo yang kamu deket-deket sama Rahayu kayak gitu?”. Ucap mbak Eki pada mas Dika seraya meninggalkanku di tempat, aku masih dapat dengan jelas mendengar setiap percakapan mereka. Mbak Eki meninggikan suaranya sepertinya sengaja biar aku mendengar dan tersadar.
“Memang nya kenapa? Aku cuma bantuin dia saja, kamu cemburu ya?”, mas Dika mencubit pipi mbak Eki
“Iya lah cemburu siapa yang yang gak cemburu cowok gantengnya di pepet terus sama cewek lain” semakin keras ucapan mbak Eki saat itu.
__ADS_1
“Apa’an sih yang aku tuh cintanya cuma sama kamu tau”, mereka terus berjalan bergandengan tangan dan meninggalkanku.
Deg
Aku mulai tersadar kembali jika cinta nya mas Dika hanya untuk mbak Eki seorang, aku kembali untuk mencoba fokus belajar lagi tapi karena hati sudah ambyar otak pun tak mampu berfikir dengan baik.
Pulang sajalah.
***
Hari-hari berikutnya aku mulai menghindar dari mas Dika, aku takut mengusik kebahagian mas Dika dan mbak Eki. Aku tak lagi ke perpustakaan tempat ku biasanya menghabiskan waktu di sana karena mas Dika pasti akan dengan mudah menemukanku.
Aku mencari tempat yang tidak kalah nyamannya dengan perpustakaan bagian komputer yakni di wifi sampurna, masih dalam kawasan perpustakaan dekat dengan mushola perpus, lebih tepatnya samping kolam perpus bagian dalam.
Aku masih tetap belajar seperti yang di ajarkan mas Dika sebelum-sebelumnya, hanya saja sekarang aku belajarnya sendiri tanpa tutor.
Karena waktu sudah sore dan aku merasa sudah penat dengan belajar sebaiknya aku pulang saja ke kos, tidak seperti biasanya kali ini di depan lobi perpus tampak ramai sekali. Banyak mahasiswa yang bergerombol berlomba-lomba untuk melihat pengumuman yang terpajang di sana.
Sebagian besar anggota forum ini adalah anak-anak yang kemarin ikut pimnas di Yogya. Aku tertarik untuk ikut sekalian silaturahmi dengan teman-teman PKM dan menambah pengalaman baru. Aku mulai mencatat CP pemegang acara tersebut.
***
Hari sabtu tiba aku benar-benar mengikuti acara yang diadakan forum penalaran dan penelitian ini. Kali ini aku tak berangkat dengan mas Dika, mbak Sarah ataupun mas Dimas, aku juga tak tau mereka mengikuti acara ini atau tidak, sudah lama kami tidak saling berkabar. Begitu juga aku dan mas Dika sudah satu mnggu lebih kami tidak bertemu dan tidak saling berkomunikasi. Aku berangkat bersama dengan teman-teman seangkatan yang dulu juga ikut di pimnas.
“Yu cepetan sini acara sudah mau mulai”.Teriak nina dan sari temanku yang juga ikut mengikuti acara ini. Aku berlari menghampiri mereka.
“Kalian kenapa ninggalin aku sih? Kan aku sudah bilang suruh tunggu di depan gang tikus”. Aku mulai meletakkan tas ransel yang lumayan berat, aku membawa beberapa baju dan perlengkapan yang lainnya karena acara forum ini nanti akan bermalam di Batu.
“Kamu lama banget sih Yu”
“Ya harap maklum lah aku merapikan dulu jualanku dan setrikaan sebelum aku tingal beberapa hari ke depan”
__ADS_1
“Udah tau mau ada acara masih aja jualan dan menyetrika”
“Ya justru mau di tinggal ada acara itu aku harus menyetrika dulu biar pas pulang nanti tidak kayak orang yang buka jasa laundry”. Ya kalian mana tau sih rasanya jadi aku harus bekerja keras bagaikan kuda untuk bisa bertahan hidup di sini ucapku dalam hati.
Kami bertiga mulai bersiap menuju lapangan rektorat, rupanya sebelum berangkat akan ada acara sambutan oleh beberapa dosen dan panitia acara. Kami berbaris dengan sangat rapi sesuai arahan yang diberikan oleh panitia.
Acara di mulai siang hari setelah dhuhur benar-benar panas panas sekali cuacanya. Sambutan pertama dilakukan oleh dosen hanya sebentar sekedar untuk menjelaskan maksud dari tujuan acara ini dilakukan, sambutan kedua dari ketua panitia, sebenarnya isi sambutan mereka hampir sama semua.
Aku yang belum makan dari tadi pagi merasa mulai ada yang aneh pada tubuhku. Terik matahari yang begitu menyengat membuat pelipis ku berkeringat.
Yaallah panas sekali mana lapar pula. Aku berulang kali mengusap keringat yang muncul di keningku hingga menembus jilbab.
“Yu kamu ada rencana mau pingsan kah? Wajahmu terlihat pucat sekali”, bisik Sari yang tepat berada di barisan sampingku.
“Emang pingsan bisa di rencanakan ya Sar? Tapi badanku gak enak banget Sar rasanya”
“Kamu istirahat saja sana Yu ke kebelakang dari pada pingsan di sini, aku gak mau mengangkat”
“Ngak ah bentar lagi juga sudah bubar dikit lagi”.
Panitia acara masih saja memberikan arahan apa yang harus kami kerjakan di sana nanti. Perut ku semakin tidak nyaman rasanya, keringat yang bercucuran di pelipis pun terasa dingin seketika pandanganku terasa kabur.
Bruk duh “Rahayu”
“Kak tolong kak ada yang pingsan”, ucap Sari menahan tubuh Rahayu dan Nina melambai-lambai mencari pertolongan.
Seseorang laki-laki berlari menghampiri segera mengangkat tubuh Rahayu dan membawa keluar dari barisan.
Andika yang berada di barisan belakang khusus cowok terkejut melihat Rahayu yang telah pingsan dan dibawa oleh seorang laki-laki. Dia segera berlari menghampiri Rahayu.
“Sini biar aku aja yang bawa Rahayu ke ruang kesehatan” ucap Andika pada laki-laki itu.
__ADS_1
“Hem” laki-laki itu menatap Andika dengan tatapan kesal.