Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Kelahiran Yang Membahagiakan


__ADS_3

“Mari pak silahkan bawa istrinya ke sini”.


Dengan sigap Andika lekas memapah Rahayu untuk turut serta dalam mobil ambulan yang membawa korban kecelakaan, Andika berpasrah mobil ambulance akan membawanya ke mana yang penting ada tim dokter yang menanganinya.


Andika juga menitipkan mobilnya pada salah satu polisi yang berjaga mengurai kemacetan lalu lintas dan turut serta menemani Rahayu naik ambulance. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit wajah Rahayu sudah mulai di penuhi keringat dan sedikit pucat.


Tak butuh waktu lama mobil ambulance sudah sampai di salah satu rumah sakit di Pasuruan, baik Rahayu maupun korban kecelakaan lekas di sambut oleh tim medis rumah sakit dan lekas di tangani. Tak ada persiapan sama sekali yang di bawa Andika dan Rahayu untuk persalinan ini.


Andika lekas menghubungi Mamanya untuk menyusul dan membawakan segala macam pernak-pernik kebutuhan Rahayu dan babay yang sudah di siapkan khusus jauh-jauh hari sebelum persalinan. Andika dengan setia berada di samping istrinya.


“Mas ini sakit sekali coba deh kamu rasakan”, ucap Rahayu dengan memegang tangan suaminya kemudian mengarahkan ke perutnya yang terlihat menegang.


“Iya sayang, sabar ya sebentar lagi baby sudah keluar tahan ya tahan”. Andika mencoba untuk terlihat tenang di depan Rahayu meski sebenarnya ia tak kalah paniknya.


“Ibu sebaiknya di pakai untuk jalan-jalan dulu ya, ini masih pembukaan empat”, ucap salah satu dokter wanita dalam rumah sakit tersebut setelah memeriksa Rahayu.


Dengan cukup telaten Andika memapah istrinya untuk jalan-jalan ringan dalam ruangan itu, dengan harapan dapat mempercepat proses kelahiran baby mereka.


“Mas aduh.... ini kenceng sekali”, rengeknya dengan mendesis, ia sudah tak mampu mengucapkan kata dengan suara yang keras.


“Mas usap-usap punggungku, aduh....”. Rahayu menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.


“Sayang bertahanlah”.


Andika tidak tega melihat istrinya, tapi juga tak bisa berbuat banyak selain menenangkan dan membuatnya merasa lebih nyaman.


Ia kembali mengelus-elus punggung istrinya sesekali, ia mengelap keringat yang muncul di kening Rahayu. Sepanjang menemani Rahayu tak henti-hentinya Andika melafalkan doa untuk mempermudah sekaligus mempercepat proses kelahiran anaknya.


“Mas”, ucap Rahayu memandang suaminya dengan mata yang berkaca-kaca seakan sudah tak sanggup lagi menahan segala rasa sakit yang mendera dalam tubuhnya.


Andika menangkup kedua pipi Rahayu dan mencium keningnya dengan lembut mengusap kembali perut istrinya yang sudah sangat membesar.


“Banyak-banyak istighfar ya sayang”.

__ADS_1


“Nak, ayo keluar sayang kasian Mama sudah tidak tahan sakitnya, ayo sayang keluar ya nanti Paap gendong di belikan Papa pentol”, nego Andika pada baby.


“Aduh Mas, semakin kencang saja”.


“Ya Allah”, desisnya menahan segala rasa yang mendera dalam tubuhnya, tulang dan punggung rasanya sudah mau patah, mulas bukan main, kaki terasa gemetaran sakitnya luar biasa.


Seketika Rahayu teringat akan ibunya, akan perjuangan ibunya yang telah melahirkan dia dan adik-adiknya. Matanya berembun antara menahan rasa sakit dan merasa bersalah pada sang ibu ketika mengingat segala kebaikan ibu dan kenakalannya dulu waktu kecil.


Sementara itu di luar rungan Mama, Bunda dan juga Ibu sudah datang, mereka bertiga begitu heboh menyambut kehadiran cucu pertama dalam keluarga mereka. Ketiga wanita yang tak lagi muda ini lekas menerobos lorong-lorong rumah sakit ingin lekas berjumpa dengan Rahayu dan cucunya.


Sedangkan Papa, Ayah dan Bapak mengikuti dari belakang ketiga wanita itu dengan membawa perlengkapan yang luar biasa banyaknya.


Sepuluh menit kemudian, Dokter kembali datang mengunjungi Rahayu untuk melihat perkembangannya.


“Alhamdulilah, pembukaannya sudah lengkap, ibu siap-siap ya, ikuti semua arahan yang saya berikan”, ucap Dokter tersebut dengan mulai memakai baju dinasnya dan beberapa perawat yang lain membantu menyiapkan perlengkapan dan peralatan yang di butuhkan.


“Bersiap ya bu, untuk ikuti semua arahan yang sayan katakan”.


“Bismillah ya Bu, ambil nafas......”


“Ambil nafas dorong bu perlahan....”


“Ulangi lagi bu, kepalnya sudah terlihat, mari ambil nafas....”.


Andika dengan setia menemani di sisi Rahayu, menggenggam erat tangannya dan beberapa kali mengusap lembut kepala sang istri, memberikan kecupan manis sebagai semangat untuknya kala berjuang antara hidup dan mati demi untuk anak mereka.


“Sayang, ayo kamu pasti bisa dikit lagi ya”.


“Mas aku sudah tidak kuat”, ucap Rahayu dengan memelas dan lirih kala mulai putus asa dan tenaga yang mulai berkurang.


“Bisa sayang ayo semangat ya, sebentar lagi rasa sakitnya akan hilang ketika melihat baby”. Andika mencoba memberikan senyuman mengelus kembali kepala istrinya.


“Mari bu kita ulangi lagi ya, ambil nafas bu, dalam terus...terus...dorong bu...dorong lebih kencang lagi kepalanya sudah terlihat.....”.

__ADS_1


“Alhamdulilah”, ucap tim medis secara serempak dalam ruangan itu kala bayi sudah terlahir ke dunia dalam keadaan selamat.


Andika mencium istrinya dengan perasaan lega luar biasa saat baby yang mereka tunggu-tunggu sudah keluar dengan selamat tanpa kekurangan apapun.


Rahayu pun demikian merasa lega, bahagia tak terkira, semua rasa lelah dan sakit seketika hilang sudah, kala melihat baby mungil dalam dekapan dokter tersebut.


“Alhamdulilah Ibu Bapak bayinya cowok ganteng dan sempurna’, ucap dokter dengan tersenyum dan menyerahkan bayi tersebut pada Rahayu untuk melakukan IMD


“oek...oek..oek...”.


Suara tangis bayi kecil yang sedang dalam pangkuan ibunya.


Rahayu dan Andika menangis bersama melihat sebuah keajaiban nyata yang ada di depan mata mereka.


“Mas anak kita”. Ucap Rahayu dengan tangis yang sudah tak dapat terbendung lagi.


Andika menganggukkan kepalanya seraya membelai lembut bayi kecil itu yang konon adalah penerusnya.


“Bayinya di azani dulu ya Pak’, ujar Dokter tersebut dan meraih baby kemudian menyerahkan pada Bapaknya.


Andika kembali menitipkan air mata kala mendekap sang anak, sungguh begitu besar karunia-Mu ya Rab telah menitipkan seorang anak pada keluarga kecil kami. Andika lekas mengazani dengan penuh khidmat.


Sementara itu di luar rungan, semua nenek-nenek sudah tidak sabar untuk lekas melihat cucu pertama mereka. Ketiga wanita itu lekas berebut untuk masuk terlebih dahulu.


“Sepertinya sudah lahir, itu tadi suara bayi menangis”.


“Iya sepertinya sudah lahir”.


“Alhamdulilah”, ucap mereka serempak.


Salah satu tim medis lekas mengambil kembali bayi tersebut dalam dekapan Andika untuk membersihkan dan memakaikan baju, sementara dokter sedang memeriksa keadaan Rahayu dan memastikan semua baik-baik saja.


Tak butuh waktu yang lama ibu dan bayi sudah siap untuk di jenguk dan di pindahkan dari ruang bersalin menuju ruang rawat VVIP sesuai pesanan Mama. Ketiga nenek-nenek sudah menunggu tak sabar di sana. Mereka bertiga sedang berunding untuk memberikan nama cucu pertama mereka.

__ADS_1


__ADS_2