
Alhamdulilah golongan darahku sama dengan mbak Eki, kondisiku juga dalam keadaan sehat jadi sangat diperbolehkan untuk menjadi pendonor, transfusi darah pun dilakukan.
Perawat memberikan beberapa makanan, buah dan susu padaku agar tidak lemas usai mendonorkan darah, aku juga mendapat vitamin.
Kondisi mbak Eki masih belum sadarkan diri, tapi transfusi darah sudah mulai dilakukan. Mas Andika terlihat semakin resah mondar-mandir didepan pintu dengan wajah yang sangat kusut sekali.
“Mas duduklah dulu jangan kayak setrika gitu” ledekku pada mas Andika.
“Eki belum sadar yu” jawabnya sedikit tak seperti biasanya.
Beberapa jam kemudian mas Andika tampak masuk ke dalam kamar mbak Eki duduk disebelah kasurnya, sambil memegang tangannya dan terus memandang wajah mbak Eki. Terlihat mbak Eki mulai merespon dan menggerakkan tangan serta matanya mulai terbuka.
“Aku dimana?” dengan nada yang sangat lemah.
“Kamu di rumah sakit yang” jawab mas Andika yang tak kalah melo nya.
Aku lekas keluar dari kamar inap untuk memberikan ruang pada mereka berdua.
“Aku kenapa? Kenapa kakiku sakit sekali?”
“Sudah jangan banyak bergerak dulu, kamu istirahat saja” jawab mas Andika.
Dokter yang menangani mbak Eki mengatakan kondisinya sudah mulai stabil.
Petugas rumah sakit datang untuk memberikan makanan pada pasien,suster juga memberikan obat pada pasien agar segera di minum.
“Mas pasien harus segera makan dulu, setelah itu diminum ya obatnya” Perintah perawat itu pada mas Andika.
“Sini yang aku suapin dulu’ mas Andika langsung mengambil piring makan mbak Eki dan bergegas menyuapinya.
Mas Andika dengan sangat telaten menyuapi mbak Eki terlihat sangat romantis, yang satu ganteng yang satu cantik sekali memang benar-benar serasi. Sengaja dari tadi aku memperhatikan aktivitas mereka di balik pintu kamar.
“Obatnya yang di minum dulu ya”
Mbak Eki mengangguk seraya mengambil obat dari mas Andika.
Beberapa saat kemudian orang tua mbak Eki datang, mereka habis membeli makan di kantin rumah sakit.
__ADS_1
“Om tante saya permisi dulu ya mau pulang, kebetulan mbak Eki juga sudah sadar”. Pamit pada mereka.
“Hati-hati ya nak, kamu pulang sama siapa?”
“Sediri tante”
“Biar diantar Andika sebentar ya sekalian bier juga dia istirahat pulang”
“Tidak usah tante, kos saya deket kok”
“Eh jangan kasian, biar di antar Andika saja sekalian biar dia juga istirahat kasian”
Akhirnya aku pulag diantar mas Andika, di sepanjang perjalanan tidak ada obrolan sama sekali.
“Trimakasih ya mas sudah mengantar pulang”
Mas Andika hanya menggunakan kepalanya dan lekas menjalankan motornya untuk pulang.
***
Keesokan harinya aku melakukan aktivitas seperti biasanya, kuliah hari ini lumayan padat dari pagi hingga siang hari. Tak terasa PIMNAS tinggal beberapa minggu lagi. Teman-teman yang lolos pendaan dan monev mulai mempersiapkan diri untuk lomba.
“Gaes kita kumpul sebentar ya di gazebo atas, pembagian tugas persiapan pimnas, setelah istirahat makan siang”. pesan masuk dari mas sholeh alias mas Andika.
“Siap”
Aku bergegas menuju gazebo atas dengan membawa berkas-berkas yang dibutuhkan menjelang final laporan.Rupanyasemua sudah berkumpul di sana.
“Assalamualaikum, maaf ya mas mbak telat”
“Wassalam, duduk yu kita baru aja datang kok”
“Kita mulai sekarang ya” mas Andika mengambil kendali.
“Teman-teman seperti yang kita tau, Eki sedang sakit kemungkinan dia tidak bisa ikut saat lomba nanti jadi anggota kita berkurang satu orang”
“Karena waktu lomba sudah semakin dekat, sebaiknya kita bagi tugas sekarang saja ya”
__ADS_1
“Dim tolong kamu buat power point ya, bikin yang semenarik mungkin jangan terlalu banyak bacaannya”
“Yu tolong kamu periksa kembali semua laporan yang sudah ada, takutnya ada yang salah ketik atau belum dimasukan”
“Sar tolong persiapkan untuk bikin posternya, bikin yang semenarik mungkin”
“Pembuatan cincau evervesennya kita bikin sama-sama ya”
“Gimana kalau kita mengerjakannya sama-sama saja di sini? Biar bisa saling koreksi”. usul mas Dimas.
“Iya gitu aja, aku kalau mengerjakan sendiri takut nanti gak cocok, kalo ada kalian kan sekalian di revisi kalau ada yang kurang-kurang” mbak Sarah menambahi.
“Kamu gimana yu?” tanya mbak Sarah.
“Aku sih yes” ucapku.
Ya sudah ayo kita kerjakan saja disni sama-sama. Kalau tidak selesai hari ini besok bisa dilanjutkan lagi begitu seterusnya sampai semuanya selesai dan siap untuk lomba.
“Yuk biar semangat mana tangannya?”
Mereka saling mengepalkan tangannya dan semangat yuk.
Kerja kelompok dalam rangka misi memenangkan lomba pimnas dimulai, Rahayu mulai membaca satu persatu proposal yang sudah di print untuk mencari kesalahan-kesalahan atau hal-hal yang perlu direvisi, Ayu membaca satu per satu dengan sangat teliti. Sengaja memang membaca dalam bentuk hard copy agar lebih mudah menemukan tulisan-tulisan yang salah.
Mas Dimas mulai membuat desain power point yang akan digunakan dalam prestasi lomba nanti, mas Dimas mencari gambar-gambar yang kiranya cocok dimasukkan dalam power point ini, untuk background Kelompok kami memilih warda dasar hijau dan putih, warna hijau seperti daun cincau dan warna putih mempermudah dalam membacanya.
Mas Andika mulai membuat kerangka bahan yang akan dimasukan dalam power point ini, mulai dari meringkas pengertian dasar, metodologi penelitiannya, proses pembuatannya, pembukuan proses produksi,penjualan dan labanya serta kelayakan usaha dari pembuatan cincau evervesen ini.
Mbak Sarah mulai mendesain poster yang akan digunakan dalam pameran lomba nanti. Poster yang dipilih menggunakan warna dasar putih dan degradasi warna hijau, seperti tema yang kita ambil tentang cincau evervesen.
Poster dibuat semenarik mungkin, isi dari poster hampir sama dengan power point tapi lebih ringkas, karena poster nya nanti hanya dijadikan satu halaman saja namun harus mampu menjelaskan semua unsur yang ada pada penelitian ini.
Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 18.00 WIB, namun kerja kelompok belum juga selesai masih banyak yang harus direvisi dan ditambah’i. Kami memutuskan untuk mengakhiri kerja kelompok hari ini sampai di sini lagi besok akan dilanjutkan kembali.
Sebelum pulang kami menyempatkan diri untuk makan malam bersama, kali ini aku ikut makan dengan mas Andika, mas Dimas dan mbak Sarah untuk makan diluar, karena sudah sangat lapar sekali dari tadi siang belum makan.
Pilihan makanan jatuh di lalapan sambel geprek di daerah kerto-kerto. Ini merupakan pengalaman pertamaku makan ayam geprek. Lalapan Ayam geprek dengan sambel bawang, porsi nasi yang disajikan sangat banyak sekali dengan sambal yang tersaji di cobek untuk setiap porsinya. Sungguh nikmat sekali rasanya. Ditambah dengan segelas es teh atau es jeruk.
__ADS_1
Warung nasi geprek di kerto-kerto ini sangat sederhana tempatnya, yang istimewa adalah ini warung hasil ide lomba PKM yang lolos pendanaan sehingga dapat modal untuk mengaplikasikan usahanya. Penjual di warung lalapan ayam geprek ini adalah kakak tingkat kami angkatan 2008.
Meskipun kegiatan PKM sudah berakhir dan lomba pimnas di era mereka sudah selesai tapi warung hasil ide mereka masih terus beroperasi sampai sekarang, bahkan sangat ramai sekali.