
“Dalem”, jawabnya dengan lirih menahan rasa mual dan sakit kepala yang tiada terkira.
Rahayu yang berada di sebarang sana juga merasakan hal yang sama dengan Andika, ia tak dapat memejamkan matanya, entah mengapa begitu kesepian dan sangat merindukan sang suami. Rahayu memeluk baju yang di pakai Andika sehari sebelum berangkat tanpa mencucinya agar bisa merasakan kehadiran sang suami.
“Kok belum tidur sayang?”.
“Belum ngantuk mas”,
“Pasti tidak bisa tidur ya, gak ada aku yang pelukin kamu”, tanya Andika jail dengan memasang wajah mesumnya.
“Ih apa’an sih mas”, Rahayu tampak malu-malu dalam layar ponsel tersebut, tapi sebenarnya memang begitulah adanya, keduanya tidak dapat tidur dengan nyenyak kala tak merasakan sentuhan masing-masing.
“Mas sudah malam, tidur gih besok biar gak telat”, bujuk Rahayu karena waktu memang sudah cukup malam.
‘Tidur saja dulu, jangan di matikan ponselnya, aku ingin menemanimu tidur meskipun dalam jarak yang cukup jauh”.
Rahayu menganggukkan kepalanya karena dia memang benar-benar rindu dengan suaminya, saat melihat wajah Andika entah mengapa rasa mual dalam tubuhnya hilang seketika dan dapat memejamkan mata.
Sementara Andika yang melihat wajah istrinya sudah tertidur dengan pulas membelai wajah istri ya yang berada dalam layar ponsel tersebut.
“Aku kangen sayang, istirahat ya kita ketemu di alam mimpi”, ucapnya seraya mengecup lembut kening yang terlihat dari ponsel itu dan mematikan sambungan vidio nya.
Andika kembali merebahkan tubuhnya, meraih selimut yang ada di kasur tersebut dan mulai memejamkan matanya. Hatinya mulai tenang kala melihat sang istri sudah tertidur lebih dulu.
***
Pagi harinya Merisa terbangun dari tidur yang begitu melelahkan, matanya memindai ruangan tempat ia tertidur mencoba mencari keberadaan laki-laki tua yang memadu kasih dengannya. Bibirnya tersenyum kala melihat uang dalam jumlah cukup banyak ada di sebelah bantalnya.
“Rupanya tua bangka itu menepati janjinya dengan memberikan uang lebih”, ucapnya dengan tersenyum.
Kini Merisa melangkahkan kakinya ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket dan remuk redam. Tak jarang beberapa kali Merisa mengumpat kesal kala mendapati area sensitifnya begitu sakit.
__ADS_1
“Gila tuh om-om tua, besar sekali punyanya sampai lecet seperti ini’, bagi Merisa ini adalah pengalaman pertama kali kalah dalam edan tempur, sepanjang perjalanan memadu kasih dengan laki-laki Merisa slalu bisa pegang kendali.
Merisa mulai teringat akan tujuannya ke Jogja yakn i ingin menggoda Andika, matanya melirik jam yang menempel di dinding kamar hotelnya.
“Pukul sembilan! Pasti Andika sudah keluar sejak tadi, entah sarapan atau berangkat kerja, sial-sial!”, begitulah umpatnya dalam hati.
Merisa kembali ke kamarnya untuk berganti baju dan mencoba menanyakan keberadaan Andika pada resepsionis yang ada di lobi hotel.
“Mbak atas nama Andika apakah sudah keluar?”.
“Pak Andika ya buk” yang berada di kamar 303 sudah keluar dari sebelum subuh tadi’, jawab resepsionis tersebut.
“Kamar 303”, maksudnya Andika yang mana ini?”. tanya Merisa bingung karena semalam dia menghabiskan waktu bermalam di kamar 303 dan tidak menemukan Andika malah ketemu om-om tua.
“Pak Andika yang ini bu”, tunjuk resepsionis dengan memperlihatkan rekaman cctv.
“Astaga ternyata om-om itu namanya Andika, dan resepsionis ini salah memberikan informasi, keluhnya dalam hati kesal karena kehilangan jejak Andika yang ia maksud.
***
Pagi itu Rahayu merasa tubuhnya sedang tidak baik-baik saja, benar-benar pusing tak terkira tak jarang Rahayu juga merasakan mual yang begitu hebat layaknya sedang naik kendaraan umum. Tubuhnya menjadi begitu lemas tiada terkira apalagi dari kemarin malam Rahayu tak makan.
Rahayu mulai turun ke bawah menuju dapur berniat untuk mencari sesuatu yang dapat ia gunakan untuk mengganjal perut sementara. Rahayu membuka kulkasnya namun sayangnya tak ada apapun di sana. Rahayu lupa belum sempat belanja sebelum Andika pergi kemari.
Kini tangannya terulur untuk mengambil ponsel dan memesan makan on line untuk di antar ke rumah saja, karena kondisinya benar-benar gak sanggup untuk memasak atau bahkan untuk mencari makan di luar. Rahayu membuka pintu rumahnya pagi itu agar terdengar kala ojek on line mengantarkan makanan pesanannya.
Beberapa menit kemudian Rahayu mengambil sapu untuk membersihkan ruang tamu yang dari kemarin belum sempat ia bersihkan. Tangannya meraih sapu tersebut dan mulai membersihkan ruang tamunya, tiba-tiba langkah kakinya terasa sangat berat kala membawa sapu itu, ia merasakan sensasi mual yang luar biasa dan juga kepala berdenyut nyeri membuat seisi rumah tersebut tampak sedang berputar-putar.
Rahayu memegang kepalanya dan menjatuhkan begitu saja sapu dalam genggamannya.
Rahayu terdiam sejenak, satu tangannya berpegangan pada kursi di rang tamu sedang satu lagi tangannya memegang kepalanya yang begitu terasa sangat nyeri sekali. Rasa pusing, mual dan gemetaran semain menjadi-jadi dan sangat menyiksa. Rahayu terjatuh dalam ke samping, untunnya Rahayu terjatuh tepat di atas kursi panjang yang ada dalam ruang tamu.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Ibu dan Bapak datang ke rumah Rahayu yang ada di Malang, mereka sengaja ingin memberikan kejutan pada anaknya untuk datang tiba-tiba tanpa memberikan kabar terlebih dahulu, harapan Ibu akan bisa membuat anaknya bahagia dengan kedatangan mereka.
Namun rencana mereka gagal, bukanya memberikan kejutan pada Rahayu malah sebaliknya mereka yang terkejut kala melihat Rahayu tertidur di atas kursi ruang tamu.
“Loh kok gak di kunci sih rumahnya”, seru Ibu kala melihat rumah Rahayu dalam keadaan terbuka.
“Loh kok tidur di sini sih ni anak”, keluh Ibu kala melihat Rahayu seperti tertidur di atas kursi ruang tamu.
Ibu memanggil dan menggoyang-goyangkan tubuh Rahayu untuk membangunkannya.
“Nak bangun nak, kenapa tidur di sini?”.
Tak kunjung ada jawaban.
“Yu bangun Yu”, giliran Bapak yang mengguncangkan tubuh anaknya.
“Pak ini Rahayu kenapa? Kok wajahnya pucat sekali, apa ini dia pingsan?”, ucap Ibu dengan wajah yang mulai panik, karena tak biasanya Rahayu susah untuk di bangunkan apalagi wajahnya begitu pucat.
“Iya Bu benar sepertinya Rahayu pingsan”.
Bapak mulai mengeluarkan minyak putih yang ada di dalam tas Ibu membalurkan di sekeliling hidung Rahayu, sayangnya hasilnya nihil Rahayu tak kunjung membuka matanya.
“Pak kita bawa ke rumah sakit saja pak”.
Dengan sigap bapak meminta bantuan pada tetangga yang ada di sekitar rumah untuk membawa Rahayu ke rumah sakit, karena bapak ke sini tadi membawa mobil pic up jadi tidak mungkin membawa Rahayu ke rumah sakit dengan mobil pik up milinya.
Sepanjang jalan rumah sakit tak henti-hentinya Ibu menangis sambil berusaha membangunkan Rahayu yang ada di pangkuannya.
Sementara Bapak yang berada di kursi depan beberapa kali melirik sang anak yang tak kunjung sadarkan diri.
Wajah Rahayu begitu pucat sehingga membuat semua orang semakin panik.
__ADS_1
Bapak lekas meraih ponselnya yang berada di dalam saku celana untuk menghubungi Andika.