Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Berjumpa kembali


__ADS_3

“Astaga...!!!”.


Rahayu melompat dari kasurnya yang empuk kala melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul sembilan pagi. Rahayu lupa jika ada janji untuk mengumpulkan tugasnya dengan sang dosen pukul setengah sepuluh.


Sebenarnya Rahayu tadi sudah terbang dan menyelesaikan kewajibannya seperti biasa, hanya saja sudah lama tidak begadang membuatnya lekas mengantuk, karena masih pagi Rahayu memutuskan untuk tidur sebentar tapi nyatanya di tertidur lumayan lama hingga melewatkan waktu.


Rahayu lekas berlari menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya, tidak ada ritual seperti biasanya yang ketika mandi akan memakan waktu yang lama sekali. Kali ini Rahayu mandi ala kadarnya saja yang penting sudah basah. Tak lupa dengan menyemprotkan minyak wangi di berbagai sisi tubuhnya untuk menambah kepercayaan diri karena mandi sebentar.


Rahayu lekas meraih kunci mobilnya dan bersiap menuju kampus.


Sebenarnya jarak antar rumah dan kampus tidak terlalu jauh jika menggunakan mobil hanya saja pagi itu keadaan jalan sedang padat merayap seperti sedang ada iring-iringan calon kepala daerah.


“Ya Allah kenapa harus macet di waktu yang tidak tepat seperti ini”. Bati Rahayu dalam hati.


Sepanjang perjalanan Rahayu mengutuk dirinya sendiri, bagaimana bisa dia terlambat untuk bangun.


Bagaimana bisa seperti ini?, jika begini maka image dia di depan dosennya akan jelek, jika beberapa hari lalu dia dan teman-teman sekelasnya meninggalkan kelas, kapan hari tak masuk gara-gara mengantar tetangga lahiran, mungkin kemarin-kemarin bukan murni kesalahan Rahayu tapi untuk pagi ini semua murni karena kecerobohannya sendiri.


***


Sementara itu di dalam ruangannya yang tak terlalu besar namun cukup nyaman. Andika meraih ponsel yang ada di depannya. Matanya menatap layar ponsel tersebut.


Rahayu.


Ya benar saja Andika masih menggunakan foto Rahayu sebagai wallpaper ponselnya.


Ting.


Kucing


“Mohon maa pak saya sedikit terlambat untuk mengumpulkan tugas hari ini”.


Andika tersenyum membaca pesan tersebut, entah mengapa rasanya ingin sekali mengerjai anak itu padahal mereka belum saling ketemu dan mengenal.


“Saya tidak mau tahu, tugas harus di kumpulkan tepat pada waktunya, jika tidak maka”. Andika menjeda isi pesan tersebut sengaja memang.


“Maka apa pak?”. Rahayu tak konsen kala harus menyetir mobil dengan membalas pesan dari sang dosen.


“Kamu harus memilih opsi ke dua untuk membantu memikirkan hidup saya”.


Rahayu hanya mengkerutkan dahinya saja ketika membaca pesan tersebut.

__ADS_1


Tangannya kemabli fokus mengendarai mobil tersebut.


Sesampainya di kampus Rahayu lekas memarkirkan mobilnya dengan asal tak peduli dengan petugas keamanan yang memberinya peringatan pagi itu.


“Maaf pak sebentar saja, saya langsung kembali setelah ini”. Ucap Rahayu dengan menangkupkan tangannya di dada dan lekas berlari menuju gedung pertanian.


Rahayu berlari di sepanjang koridor kampus dengan kecepatan maksimal, tak menghiraukan meski sedang memakai rok dan sepatu hak tahu. Jangan ditanya bagaiman kerudungnya sdah mobat-mabit tak beruntung. Untungnya Rahayu memiliki kelebihan wajah yang ayu sehingga meskipun kerudung berantakan tetap wajah cantiknya yang lebih mendominasi.


Huh..huh..huh...


Karena lari dengan kecepatan tinggi dalam lorong-lorong kelas membuat Rahayu sebagai bahan perhatian orang-orang yang berada di situ. Tapi Rahayu tak peduli. Rahayu kembali berlari mencari ruangan dosen AP.


Matanya memindai satu persatu papan nama yang ada di depan ruang dosen mencari nama AP tapi sayangnya tak ada jga.


“Mungkin dosen bar”. Ucap Rahayu dalam hati.


“Pak permisi saya ma tanya ruangan pak AP yang mengajar mata kuliah manajemen agroindustri di sebelah mana ya pak”.


“Oh pak Andika”.


Deg hatinya bergetar kala orang tersebut menyebut nama Andika.


“Ah yang namanya Andika kan banyak”. Ucap Rahayu dalam hati.


Sementara Rahayu kembali berlari menuju ruangan tersebut.


Huh...huh...huh....


Nafas Rahayu tidak beraturan dan sekarang sudah berada di depan ruangan sang dosen.


Rahayu sudah membayangkan pasti akan kena semprot karena terlambat mengumpulkan tugas sesuai dengan kesepakatan.


Klek


Pintu di buka Rahayu.


“Maaf pak saya baru sampai”. Ucap Rahayu dengan tertunduk tak berani melihat sang dosen.


“Kamu terlambat sepuluh menit, tugas di tolak”. Ucap Andika tanpa melihat wajah sang mahasiswa sengaja menatap monitor yang ada di depannya.


“Tapi pak, saya hanya terlambat sepuluh menit saja tidak lebih, kalau begini sama saja bapak tidak menghargai pengorbanan saya’. Ucap Rahayu mencoba negosiasi dosennya tanpa berani melihat ke depan.

__ADS_1


Bagi Rahayu ini dosen paling horor yang di jumpai selama menjadi mahasiswa, selain tugasnya yang di luar nalar nada bicaranya begitu dingin dan mencekam.


“Di sini tempat untuk menuntut ilm bukan untuk tempat berkeluh kesah, jadi silahkan kelar dari ruangan saya”.


“Pak tolonglah kebijaksanaan bapak, bapak tidak kasian saya lari-lari dari parkiran ke sini sampai nafas saya mau putus. Saya juga masih mahasiswa baru belum tau rungan bapak, jadi saya kesulitan untuk menemukan ruangan ini”.


Andika dengan wajah cool nya sebenarnya ingin tertawa mendengar penuturan mahasiswanya, hanya saja dia harus tatap bersikap tegas.


“Saya tidak mau tahu keluar sekarang dari ruangan saya”.


“Tapi pak”. Rahayu kembali merengek dengan manja.


Seketika Andika menghentikan aktivitas tangannya yang sibuk dengan keyboard di depannya. Tiba-tiba hatinya teringat sosok Rahayu yang memiliki suara dan intonasi bicara dengan mahasiswanya ini.


Deg.


Andika masih enggan untuk menatap mahasiswanya.


Sedang Rahayu masih saja merengek meminta untuk di beri kesempatan mengumpulkan tugas tersebut.


“Duh ini pasti gara-gara semalam aku lihat foto dia sebelum tidur jadi terbawa sampai ke sini saranya”. batin Andika dalam hati.


“Pak ayolah pak, tolong di terima tugas saya”. Rahayu kembali mengiba dengan menundukkan kepalanya.


Merasa ketenangannya terusik Andika lekas mengangkat kepalanya dan melihat mahasiswi di depannya.


Matanya mencoba untuk berkedip-kedip berkali-kali, tangannya meraup wajahnya dengan kasar.


“Ah tidak mungkin, khayalanku terlalu tinggi, terlalu sering membayangkan dia jadi semua wanita aku anggap dia”. andika mencoba menepis pikirannya.


Andika masih tak bergeming tak membuka suara sama sekali sibuk dengan pemikirannya.


Sedang Rahayu merasa lelah dengan serangkaian bujuk rayunya yang tak mempan, akhirnya mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap wajah sang dosen.


Beberapa detik kemudian tatapan mereka terkunci satu sama lainnya. Keduanya sama-sama menampik jika memang itu nyata.


“Oh tidak mungkin ini karena aku kesepian jadi beranggapan dia mas Dika”. Ucap Rahayu dalam hati.


Dua orang dalam ruangan tersebut, laki-laki dan perempuan yang tak lagi remaja ini saling diam dan menatap satu sama lainnya.


“Duh gusti ini nyata atau tidak, tapi ini seperti nyata”. Ucap Andika dalam hati.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian Rahayu mencoba memberanikan diri membuka suara.


“Mas Andika?”.


__ADS_2