
Delapan bulan kemudian, dengan segala keriwehan dan halangan yang telah di hadapi tibalah saatnya Rahayu ujian tesisnya. Ujian kali ini dengan dua dosen pembimbing dan dua penguji. Ratna dan Andika dua di antara mereka yang menguji Rahayu untuk program magister.
Ujian di adakan pukul sepuluh pagi di ruang ABC tempat dia melakukan ujian skripsi dulu, perasaan campur aduk antara bahagia dan nervous menjadi satu.
Dua jam sudah Rahayu berada dalam ruangan tersebut, dengan serangkaian pertanyaan yang luar biasa banyaknya dari yang paling mudah hingga tersulit. Berkali-kali Ratna memberikan pertanyaan di luar apa yang menjadi objek penelitian Rahayu, demi profesionalitas Adika tak membantu dalam memberikan jawaban, hanya saja Andika berkali-kali memberikan arahan tentang alur jawabannya.
Dari empat dosen yang ada dalam ruangan tersebut, tiga di antaranya memberikan selamat atas kelulusan ujian sidang ini, hanya Ratna yang terasa sangat berat untuk menyetujui kelulusan ini.
“Bagaimana pak, bu apakah yang bersangkutan bisa di nyatakan lulus?’, tanya salah satu dosen pembimbing dalam ruangan tersebut.
Dengan kompak ketiga dosen yang ada menyatakan “anda lulus’, sedang Ratna masih membisu, mulutnya enggan untuk berbicara.
“Bu Ratna bagiamana?”.
Masih diam, antara tidak ikhlas jika Rahayu dapat dengan mudah melewati ujian ini.
“Bu Ratna bagaiman? Apakah sadari Rahayu lulus?”.
Beberapa detik kemudian, Ratna menarik nafas dengan begitu dalamnya.
“Selamat anda lulus”. Ratna mengatakan hal itu tanpa menatap Rahayu dan lekas pergi meninggalkan ruangan tersebut tanpa berpamitan pada yang lainnya.
Dua dosen selanjutnya mengikuti Ratna untuk meninggalkan tempat itu, sedang Andika masih tinggal di tempat tersebut.
“Hay gimana rasanya?”.
“Alhamdulilah lega sudah mas, akhirnya aku sudah bisa menyelesaikan semua tanggung jawabku”.
“Bolehkah aku sedikit memberi masukan untuk kedepannya?”.
“Tentu saja boleh, aku masih perlu merevisinya”. Rahayu berucap dengan sibuk mematikan proyektor LCD.
Diam, sejenak Andika terdiam melihat Rahayu.
“Jadi, apa mas masukannya untukku?”.
“Hem”. Andika menjeda ucapannya, menunggu Rahayu benar-benar memperhatikannya.
Kini Rahayu mulai menatapnya, menunggu masukan dari Andika untuk langkah kedepannya.
“Menikahlah denganku”, sebuah kata keramat yang keluar dari bibir Andika siang itu.
Rahayu masih melongo menatap tak percaya kata-kata itu.
“Tapi mas, aku hanya seorang?”.
__ADS_1
“Aku tahu, dan aku menerima semuanya, bukankah kamu juga tahu sendiri cintaku padamu melebihi apapun, bahkan aku mencintaimu sebelum Reno. Aku pernah mengikhlaskanmu dengan memilih orang lain, namun takdir mempertemukan kita kembali saat ini. Jadi salahkah jika aku meminta untuk kita bersatu dalam ikatan yang halal?, mungkin ini sudah bagian dari rahasia yang maha Kuasa untuk kisah kita”.
Andika mengatakan dengan sangat lancar, dan wajah penuh pengharapan.
“Setelah acara wisuda nanti, aku akan datang membawa keluargaku untuk melamarmu, tolong jangan tolak dan buatku hancur”.
Rahayu hanya mampu berkaca-kaca.
Rahayu sudah berusaha menepis semua rasa yang ada, mengubur cinta itu dalam-dalam tanpa pengharapan, namun nyatanya cinta itu masih bersambut enggan untuk terpisahkan.
“Jika mas Andika, sungguh-sungguh dengan perkataan tersebut buktikan langsung, aku tak ingin meraih kecewa untuk kesekian kalinya”.
Rahayu menunduk mengatakan hal itu.
Dengan sigap Andika meraih tasnya di atas meja, mengambil sekotak cincin dalam tes tersebut, sebuah cincin berlian dengan mata satu.
“Apa kamu mau menikah denganku?”. Andika bersujud di depan Rahayu yang sedang duduk di salah satu kursi tersebut.
Rahayu hanya mampu menutup mukanya karena malu dan menangis.
“Iya aku mau”.
Andika bersorak bahagia dalam ruangan tersebut.
Yes begitulah kira-kira.
Untuk meresmikan hari jadi kita sekarang, hayo kita foto dulu sini sebagai bukti.
Rahayu dan Andika foto bersama tanpa bersentuhan namun senyum mereka terpancar begitu merekah di wajahnya.
“Tunjukkan dong cincin nya”.
Dengan malu-malu Rahayu berpose menunjukan cincinnya.
***
Tiga bulan kemudian, waktu berjalan dengan begitu cepatnya, tak terasa hari ini adalah hari kelulusan Rahayu.
Semua keluarga turut hadir dalam acara tersebut, oang tua Rahayu beserta adik-adiknya dan mertua Rahayu beserta Rania adik mendiang Reno.
Rahayu begitu bahagia sekali, akhirnya semua tanggung jawab sdah terselesaikan dengan baik dan sesuai yang keluarga harapkan. Mereka semua yang turut hadir dalam acara tersebut bergantian memberikan selamat pada Rahayu tak lupa beberapa diantara mereka juga memberikan hadiah untuknya.
Andika tak dapat hadir dalam acara wisuda ini, karena sedang ada tugas loka karya di luar kota, tapi Andika tahu akan hal ini, jika Rahayu sedang merayakan wisudanya.
Layaknya wisuda sarjana kali ini Rahayu menggenakan kebaya warna pink dengan paduan bawahan kain songket motif senada. Tak lupa riasan tipis menjadikan wajahnya semakin cantik hari itu.
__ADS_1
“Selamat ya nak, akhirnya kamu lulus, bunda sangat bangga denganmu”. Bunda memelukku dengan erat selayaknya anak kandungnya sendiri.
“Selamat ya Yu, kamu memang slalu bisa di andalkan”. Ayah mas Reno turut serta menyalami Rahayu.
“Ibu bapak senang banget nak, kamu dari dulu memang slalu dapat mempersembahkan yang terbaik untuk keluarga kita”, Bapak dan ibu Rahayu memeluk sang anak.
Hari ini kebahagian terasa sangat lengkap dan mengharu biru.
Aku kembali memandangi kampus ini.
Dear Malam
Terimakasih untuk semua kenangan dan pelajarannya.
Terimakasih telah mempertemukan ku kembali dengannya.
Terimakasih atas segala ilmu dan pengalamannya.
Aku belajar ikhlas dan kuat di sini.
Aku belajar mencintai dan merelakan juga di sini.
Aku pasti merindukan kampus ini.
Teringat suatu pesan salah satu guruku waktu SMA dulu, sebesar apapun mimpimu, jika percaya dan yakin pasti akan terwujud. Untuk meraih sema itu perlu adanya usaha dan doa. Yakinlah Allah membersamai setiap langkah kita.
“Mbak Ayu ayo foto”.
Teriak Dania dari sebrang jalan dengan berlari menghampiriku, disusul dengan Santi yang turut serta. Kami bertiga lekas mengambil foto mengabadikan moment bersejarah dalam hidup kami.
“Tetaplah menjadi sahabatku ya”. Rahayu memeluk dua sahabatnya tersebut.
Beberapa saat kemudian diikuti tema-teman seangkatan lainya yang berfoto bersama dengan berbagai macam gaya.
Rahayu juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke ruangan Ratna untuk berterimakasih dan meminta maaf jika selama bimbingan banyak melakukan kesalahan.
Ratna menerima uluran tangan Rahayu, dengan hati yang entahlah hanya Ratna yang mengerti.
Kini semua keluarga tersebut singgah sejenak di rumah Rahayu, semua berkumpul bersama di ruang tengah untuk menikmati makanan.
Ditengah-tengah acara makan siang bersama ayah mas Reno mengatakan sesuatu.
“Rahayu, karena kamu sdah lulus nak, ayah ingin berbicara penting denganmu”.
Rahayu menghentikan aktifitas makannya sejenak.
__ADS_1
“Begini nak, ayah ingin menjodohkan kamu dengan anak teman ayah, dia memiliki kepribadian yang baik, anak soleh dan juga berbakti pada orang tuanya”.
Darrrt.