Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Ancaman Eki


__ADS_3

Dia lekas bergegas menghampiri Rahayu malam itu.


“Rahayu tunggu?”, teriaknya saat sudah Rahayu keluar dari gerbang kampus.


“Iya siapa?”, menyadari namanya dipanggil Rahayu lekas berbalik arah memutar badan ke sumber suara.


Tampak dari semak-semak di samping pintu gerbang kampus Eki datang menghampiri Rahayu. Dia datang sendiri masih dengan baju lengkap khas ratu yang dipakai saat penobatan raja dan ratu tadi.


“Mbak Eki? Ada apa mbak?” ucapnya dengan gugup.


“Ada apa? Bukannya aku sudah bilang ya sama kamu jangan lagi dekati Andika, dia itu milikku kami sudah dijodohkan oleh orang tua kami dari kecil, keluarga kami sudah saling mengenal satu sama lain, kenapa kamu datang mengusik kedamaian hubungan kami?, seharusnya kamu juga sadar diri kamu itu siapa? Apa pantas seorang Rahayu seorang upik abu ingin memiliki Andika seseorang yang sangat istimewa? Apa pantas?”. Mbak Eki menatapku dengan tajam dengan nada bicara yang penuh penegasan.


“Harusnya kamu itu sadar diri, kamu bisa sekolah di sini juga karena beasiswa tidak mampu, jangan mimpi seperti di film-film seorang gembel memiliki seorang pangeran”. Ucapan mbak Eki benar-benar menjadi tamparan keras bagiku.


“Maaf mbak tapi aku sudah melakukan seperti yang mbak minta, aku sudah membuat mas Dika membenciku, aku juga sudah menjauhinya, sejak kejadian beberapa minggu lalu aku dan mas Dika sudah tidak pernah lagi berkomunikasi bahkan bertemu dengannya juga sudah tidak pernah,bukankah mbak Eki sendiri yang bilang jika mas Dika hanya mencintai mbak Eki seorang, mana mungkin mas Dika tertarik pada seorang gembel sepertiku”. Rahayu mencoba membela diri.


“Terus aku harus percaya gitu dengan omongan kamu?”.


“Aduh mbak sakit jangan seperti ini jangan ditarik-tarik”, Eki mulai menarik rambut Rahayu yang berada di balik jilbabnya.


“Diam kamu jangan banyak bicara aku paling tidak suka di lawan”.

__ADS_1


“Denger ya Yu aku tidak main-main, aku bisa melakukan hal yang lebih parah dari pada ini jika kamu masih saja mendekati Andika, ini hanya pengenalan saja”. Eki menarik rambut Rahayu dan menghempaskan dia hingga terjatuh di tanah. Kebetulan di depan gerbang fakultas sedang sepi tak ada orang sama sekali kecuali satpam yang berada di sebrang sana.


“Bukan hanya kamu yang akan aku sakiti tapi juga Andika, aku akan membuat dia menderita jika kamu masih saja berada di sekitar dia”.


Eki lekas meninggalkan Rahayu yang masih tersungkur di tanah dengan air mata yang tidak dapat di bendung lagi.


Menyadari Eki sudah pergi menjauh darinya, Rahayu lekas berdiri dan mulai menata langkah kakinya untuk pulang. Sepanjang perjalanan dia masih teringat dengan beberapa peristiwa yang sudah terjadi padanya beberapa waktu yang lalu.


Hatinya baru saja menghangat melihat Andika yang mempersembahkan satu lagu untuknya, namun kebahagian itu hanya berlangsung dalam hitungan jam, selanjutnya dia tersadar akan posisinya sebagai apa dan siapa?.


Sesampainya di kos Rahayu lekas menutup pintunya dan membuka kerudung yang berantakan akibat ulah tangan Eki tadi, menyadari ada beberapa rambut yang rontok membuat hati Rahayu bertambah nyeri.


“Gila tuh mak lampir ganas sekali, rambut bagus-bagus gini di bikin rontok”.


Rahayu mulai merebahkan diri di atas kasur tak lupa mematikan lampu kamar dan mematikan segenap angan-angan yang sudah pupus sebelum berkembang, aku akan melupakan semua kejadian yang terjadi padaku beberapa waktu terakhir selama di sini, aku harus menjadi Rahayu yang baru memulai kembali menata hati yang patah, fokus pada tujuan utama sekolah dan melanjutkan mimpi menggapai asa untuk memperbaiki kehidupan keluarga.


Harusnya aku lebih fokus ke cita-cita dan kehidupanku setelah lulus kuliah ini, bukankah banyak sekali harapan dari orang tua dan orang-orang tersayang di sekitarku yang sedang menunggu kabar baik dariku nanti.


Rahayu mulai memejamkan matanya terlelap dalam kesedihan dan anggan-anggan yang panjang.


***

__ADS_1


Beberapa semester berlalu aku menjadi semakin giat dalam belajar, nilai IP ku juga terus mengalami peningkatan di setiap semesternya. Aku belajar dengan sangat keras terutama bahasa inggris, aku benar-benar mencoba untuk mencintainya dari hatiku yang terdalam agar kami bisa semakin mesra saat belajar.


Benar saja mata kuliah bahasa inggris hanya ada di semester satu saja, tapi bahasa pengantar saat kuliah hampir semua menggunakan bahasa inggris jadi mau tidak mau aku harus tetap mempelajarinya.


Nina dan Sari sangat senang melihat kemajuanku dalam belajar bahasa inggris, dua temanku ini berasal dari kota sebelah yang kebetulan beruntung dari sekolah dasar hingga SMA masuk di sekolah favorit jadi bagi mereka bahasa inggris sudah tidak asing lagi, sudah bagian dari kehidupan mereka.


Tiap hari aku belajar dengan sungguh-sungguh hingga titik darah penghabisan. Dengan belajar seperti ini membuatku memiliki tujuan hidup yang lebih bermakna. Aku mengalihkan seluruh pikiran dan hatiku untuk belajar dan belajar serta mengikuti beberapa perlombaan penulisan yang sedang dilaksanakan di berbagai kampus lainnya.


Dengan banyak aktivitas membuatku dapat melupakan mas Andika, meskipun belum sepenuhnya aku melupakan sosok yang baik itu. Sari dan Nina benar-benar dua sahabat terbaikku mereka banyak membantu dalam segala hal di saat aku kesusahan.


Mereka memberikan aku beberapa buku bacaan bahasa inggris dari yang paling ringan hingga naik ke beberapa step, mereka juga meminjamkan aku buku panduan mengerjakan tofl agar kami kelak bisa lulus secara bersamaan.


Dalam beberapa kesempatan aku juga bergantian mengajari mereka saat mata kuliah ekonomi teknik, riset operasi dan hal-hal yang berbau hitungan. Tak jarang dari Nina dan Sari yang datang ke kos ku yang hanya untuk mengantarkan nasi dan ikan yang sedang mereka makan. Betapa beruntungnya memiliki teman sebaik mereka.


Sejak kejadian pensi itu pula aku sudah benar-benar tidak berkomunikasi lagi dengan mas Andika kami selalu saling menghindar satu sama lain jika tidak sengaja dalam suatu waktu kita harus bertemu.


Ketika kartu hasil study keluar setelah melaksanakan ujian semester, aku melihat tidak ada satu mata kuliahpun yang mengulang, kali ini nilaiku sempurna dengan IP empat. Hasil studiku semester ini sangat memuaskan aku bangga pada diriku sendiri.


Aku tersenyum dengan penuh kepuasan, sesampainya di kamar kos aku mengelus-elus kepalaku sendiri untuk menunjukan rasa bangga dan terima kasihku pada diri sendiri, Saat melakukan hal seperti itu aku teringat akan sosok mas Andika.


Mas Andika selalu mengelus-elus jilbabku jika aku dapat mencapai satu titik keberhasilan dalam usahaku, hal-hal kecil seperti itu masih sering membuat hatiku berdenyut nyeri dan menangis jika mengingatnya.

__ADS_1


Hiks hiks


__ADS_2