
Andika dengan sekuat tenaga menggendong Rahayu yang sedang lemas tak berdaya, berlari membelah beberapa barisan yang menghalangi menuju ruang kesehatan. Langkahnya terlihat sangat gelisah dan cemas.
Sesampainya di ruang kesehatan Andika lekas membaringkan Rahayu di kasur yang sudah disediakan panitia di sana. Andika menggoyang-goyangkan tubuh Rahayu ke kanan dan keri, mengoleskan beberapa minyak angin di hidung dan membuka sepatu Rahayu.
“Yu sadar yu, kamu kenapa?”
“Yu bangun yu”. Andika terus saja menggoyang-goyangkan badan Rahayu dengan pelan.
Petugas kesehatan datang menghampiri mereka mencoba memeriksa keadaan awal Rahayu, beberapa saat kemudian Rahayu terbangun dari pingsannya.
“Sepertinya dia lapar” Ucap petugas kesehatan itu, coba ambilkan minuman dan beberapa makanan untuknya.
Andika lekas berlalu meninggalkan mereka mencoba mencari makanan terdekat yang berada di dekat lokasi mereka.
“Makanlah Yu kamu, kamu belum makan kah?”
Aku hanya menggelengkan kepala saja menanggapi pertanyaan mas Andika, rasanya tubuhku sangat lemas sehingga enggan untuk berbicara.
“Sini biar aku siapin”, mas Andika merebut bungkus nasi yang dia serahkan padaku. Aku malu sekali dalam kondisi seperti ini, pasti wajahku terlihat sangat jelek dan tak beraturan.
“Sudah mas cukup, aku sudah kenyang sepertinya tenagaku juga sudah kembali”
“Kamu kenapa ikut acara ini tidak mengabari aku?, bukankah kita satu tim?”
“Maaf mas aku kira mas Dika tidak ikut”
“Kamu kenapa juga tidak pernah membalas SMS ku?”
“Aku aku tak punya pulsa mas” ucapku memberi jawaban pada mas Dika, mas Andika hanya menggelengkan kepala menandakan tak mempercayai perkataanku.
“Mas maaf bisakah aku kembali ke sama teman-teman sepertinya acara sudah selesai sebentar lagi mau berangkat”
“Kamu yakin mau ikut lanjut acara? Batu sangat dingin saat malam tiba, alergi kamu bisa kambuh lagi”
__ADS_1
“Aku tidak papa mas, aku tadi hanya lapar karna dari pagi belum sempat sarapan”
“Ya sudah aku juga ikut acara di Batu”
Aku dan mas Andika berjalan bersama menghampiri teman-teman yang sudah siap-siap untuk berangkat.
“Yu kamu tidak papa?” Sapa Sari dan Nina yang datang menghampiriku dan membawakan tas ku yang tertinggal tadi.
“Aku tidak papa”
“Kalau gak enak badan gak usah di paksa ikut Yu, istirahat saja dulu di rumah”
“Aku gak papa beneran, tadi cuma kelaparan saja belum sempat sarapan”. Aku menggandeng teman-temanku untuk segera naik ke kendaran.
“Titip Rahayu ya” ucap mas Andika
“Mas tidak ikut kah?”
“Ikut sar cuma kan beda kendaraan cowok sama cewek”. Mas Andika berlalu meninggalkan kami.
Kami berangkat menggunakan truk TNI yang terbuka bagian belakangnya, kendaraan untuk peserta cewek dan cowok terpisah.
Perjalan ke Batu kira-kira membutuhkan waktu 30 menit karena saat itu jalanan sangat lenggang maklum siang bolong. Semua peserta saling berteriak jika salah satu truk saling mendahului senang sekali. Mendekati lokasi vila perjalanan truk mulai melambat semua peserta bersorak-sorak bahagia.
Ini pengalaman pertamaku ke vila, ternyata vila seperti rumah ya hanya saja letaknya di kawasan wisata yang dingin, vila ini juga dilengkapi dengan fasilitas yang cukup memadai dan luas untuk menampung beberapa peserta. Vila yang kami tempati tampak sederhana jika di bandingkan dengan beberapa vila yang ada di sebelahnya, namun bagiku ini sangat mewah aku belum pernah memasuki rumah semewah ini di desaku.
Mobil truk peserta cowok datang terlebih dahulu, semua peserta mulai turun satu persatu dan menurunkan beberapa barang bawaan mereka disusul dengan truk peserta cewek. Peserta cowok membantu peserta cewek untuk turun dan mengangkat beberapa barang mereka masuk ke dalam vila.
Semua peserta sudah turun mereka berhamburan menikmati suasana vila yang menenangkan. Suasana di Batu dingin, hijau udaranya sejuk sekali. Aku benar-benar mendapatkan suasana baru yang menenangkan dan terlihat nyata.Jarak antara Batu dan Malang tidak jauh namun suasana sudah benda jauh, saat di Batu terlihat tenang dan damai dingin, sedangkan di Malang terlalu ramai dengan hiruk pikuk aktivitas orang.
Semua peserta saling bekerja sama untuk membuat makanan bagi yang cewek sedangkan yang cowok menyiapkan untuk acara diskusi nanti dan beberapa outbond yang sudah di rencanakan sebelumnya.
“Gaes kita masak apa ya ini enaknya?”. Tanya mbak Ana salah satu senior peserta cewek yang ikut. Semua terdiam tidak ada yang menjawab.
__ADS_1
“Kok diam sih, jadi masak apa ini?” mbak Ana kembali memperjelas pertanyaan nya. Hening sejenak kemudian semua kompak menjawab kami tidak bisa masak. Hiya
“Masak yang mudah-mudah saja, seadanya bahan yang dibawa”. Ucapku memberi jawaban kemudian.
“Ini adanya kangkung sama telur”
“Ya sudah mbak untuk makan malam kita bikin tumis kangkung saja sama sambal, untuk ikannya pakai telur dadar saja telurnya kan bawa banyak”
“Boleh, siapa yang bisa bikin tumis kangkungnya?”. Lagi-lagi semua menggelengkan kepala.
“Sini mbak bolehkah aku bantu”, tawarku pada mbak Ana, aku juga tidak terlalu jago masak tapi kalau sekedar masak tumis kangkung dan bikin sambal saja aku bisa.
“Boleh Yu silahkan, kami bantu apa?” ucap beberapa teman yang lain.
“Yuk mari potong-potong kangkungnya, kupas beberapa bawang merah dan putihnya siapkan juga bumbu untuk membuat telur dadar”
“Aku sebenarnya juga bisa Yu bikin tumis kangkung hanya saja dengan porsi kecil, kalau masak untuk porsi besar aku belum pernah taku nanti rasanya tidak enak”. Tutur Nina dan Sari.
“Kamu belajar dari mana bisa masak dalam jumlah besar seperti ini?”
“Aku dulu sering bantu ibu jika ibu disuruh tetangga masak”.
“Kamu keren Yu”
“Ayo yang lain tolong masak nasi”
Sebagian peserta ada membersikan area vila, sebagian membantu memasak suasana di dapur terlihat hangat mereka saling membantu satu sama lain. Rahayu memegang kendali dalam urusan per bumbuan mendadak mendapat julukan ibu peri dari beberapa teman yang lain. Suasana tampak akrab meskipun mereka tidak begitu mengenal dekat sebelumnya.
Beberapa saat kemudian semua masakan sudah jadi, ada tumis kangkung lengkap dengan tambahan tauge, telur dadar yang sudah dipotong-potong menjadi beberapa bagian dan sambal bajak yang tentu dengan tingkat kepedasan tinggi sesuai request dari peserta lainnya.
Waktu masih menunjukan pukul 17.00 sebagian peserta ada yang bersantai menunggu waktu makan malam yang akan direncanakan setelah habis magrib, ada yang beberapa sedang bergantian untuk mandi.
Aku mulai menyiapkan makanan membagi dalam beberapa ember untuk persiapan makan malam nanti. Tiba-tiba seseorang datang menghampiriku.
__ADS_1
“Hay gimana sudah sehat?”
Aku lekas menoleh ke sumber suara.