Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
63


__ADS_3

Mereka duduk bersama saling bersandar di kursi taman hotel menatap langit yang masih menurunkan air hujan rintik-rintiknya.


Aku duduk terdiam dengan kepala bersandar di bahu mas Andika. Sedangkan mas Andika mendekap tubuhku penuh dengan kehangatan. Rindu bahkan aku sangat merindukannya, wangi shampo khas Andika masih sama seperti saat aku diboncengnya naik motor dulu.


Aku bahkan melupakan siapa wanita yang bersama mas Dika tadi.


Ah sudahlah.


“Plislah Dik jangan nakal”. Ucap Andika dalam hati yang mulai resah ketika berdekatan seperti ini dengan Rahayu. Jiwa laki-lakinya meronta-ronta.


“Yu kamu kedinginan gak? Ini sudah malam udara malam semakin dingin ditambah hujan rintik-rintik yang datang menyapa”.


“Aku boleh peluk kamu lagi tidak?”. Tanya mas Andika padaku malam itu. Mas Andika juga menatapku dengan lekat seolah memohon dengan sangat untukku mengabulkan keinginannya.


“Janji tidak lebih, aku hanya sangat merindukan Rahayu ku yang sudah lama hilang”. Ujar Andika dengan sepenuh hati.


“Aku tak pernah hilang mas, kamu saja yang baru datang, aku mencari mu sejak perpisahan kita dulu”.


“Yu”. Mas Andika kembali menarik tanganku hingga aku terjatuh di pangkuannya.


Aku dan mas Andika kembali saling menatap dalam diam.


Aku mencoba untuk kembali bangkit dari tempat duduk tersebut, aku mulai bisa berfikir sedikit jernih.


Sayangnya mas Andika menahan ku.


Mata yang kembali saling menatap lekat serta mulut yang tak sanggup berbicara satu sama lain.


Mas Dika kembali mengikis jarak.


“Yu aku kangen sekali sama kamu, boleh ya sekali lagi?”. Bisik mas Andika tepat di daun telingaku dengan lembut dan dekat sekali hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya.


Aku hanya diam saja tak mampu menjawab, aku begitu malu dibuatnya. Ingin rasanya menghindar tapi sayangnya tubuhku merespon dengan baik dan menginginkan hal yang sama.


Mas Andika kembali menjatuhkan dagunya pada pundakku, mengusik lembut di sana. Akupun mampu menghirup aroma parfum wangi yang tak berubah sejak dulu. Rasanya tetap sama seperi mas Andika dulu. Mas Andika yang kukenal lebih dari sepuluh tahun yang lalu.


Mas Andika memelukku dengan posesifnya dan aku menikmati itu, aku marasa diantara perasaan yang melayang bahagia dan resah. Aku takut kami tidak bisa mengontrol karena tubuh kami berdua merespon dengan baik semua ini.


Setelah cukup lama mas Dika mulai mengendorkan pelukannya. Mas Dika mulai menarik diri dan melepaskan ku terlihat senyuman di wajahnya.


“Ah masih sama sungguh manis sekali tetap manis dan sangat memabukkan”. Ucap Rahayu dalam hati yang slalu terhipnotis dengan senyuman Andika.


Pertemuan mereka setelah tujuh tahun tahun lebih tidak berjumpa tidak banyak kata yang terucap cukup tindakan sudah menggambarkan semuanya yang mereka berdua rasakan.

__ADS_1


Keduanya sama-sama terlena dalam rasa yang menggelora. Mengabaikan perasaan resah gundah gulana. Alam yang tampak merestui keduanya seakan menjadi saksi dua hati yang lama berpisah kembali bersatu. Keduanya saling merindu dan merasakan hal yang sama.


“Berdering ting...ting...ting”.


Terdengar panggilan telfon di ponsel Rahayu membuat keduanya kembali menuju alam sadar mereka.


Aku lekas meraih tasku yang sudah jatuh ke tanah , mengambil ponsel yang berdering beberapa kali.


“Assalamualaikum bu ada apa?”. Tanyaku pada ibu yang berada diluar sana.


“Waalaikumsalam nak, kamu dimana?”. Tanya ibu yang tampak khawatir padaku.


“Aku masih di Malang bu”. Jawabku lembut.


“Kok belum tidur? Apa masih banyak sekali pekerjaan kamu nak?”.


“Ah tidak bu Rahayu tidak sedang bekerja sudah selesai dari tadi”. Jawabku pada ibu yang masih tampak khawatir dengan keadaanku.


“Apa kamu sekarang masih di luar nak?”. Ibu seakan mengintrogasi keberadaan ku.


“Oh iya bu, Rahayu sedang bertemu dengan teman lama”.


“Sudah malam nak cepat pulang, tidak baik anak perempuan malam-malam keluyuran di luar rumah”.


“Kamu tidur di mana?”. Ibu masih saja mengkhawatirkan keadaanku.


“Aku menginap di salah satu hotel bu, ibu tenang saja Rahayu baik-baik saja”. Aku lekas menghampiri panggilanku dengan ibu.


Lagi-lagi aku berbohong pada ibu bahwa ke Malang urusan pekerjaan.


Sebagai seorang ibu mungkin ibu merasakan sesuatu pada anaknya. Mungkin ibu merasa anaknya sedang dijamah seorang pria sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Tapi tenang saja bu Rahayu tahu batasan diri tidak akan berbuat macam-macam atau lebih dari ini.


Kami berdua hanya sedang melepaskan segala rasa rindu yang ada.


“Siapa Yu”. Tanya mas Andika.


“Ibu mas”. Jawabku pelan.


“Sepertinya ibumu merasa tidak tenang anak gadisnya aku bawa seperti ini”. Jawab mas Dika dengan senyum yang pasti masih memabukkan.


“Mungkin”. Jawabku dengan mengangkat bahuku.


"Aku hanya ingin membawa Shinta ku kembali".

__ADS_1


Deg.


“Maklum mas anak gadis ibu ini masih benar-benar orisinil belum pernah tersentuh sama sekali”. Jawabku pada mas Andika.


“Benarkah?, wah jadi ingin menyentuh kamu deh biar jadi yang pertama”. Ujar mas Andika menggodaku.


Blus pipiku bersemu merah.


“Tidak-tidak aku tidak akan macam-macam, karena aku sayang sama kamu”. Tuturnya dengan membelai lembut kepalaku yang pastinya membuat klepek-klepek.


Entah sudah berapa kali dalam malam ini kami saling mendeklarasikan kata-kata rindu dan cinta.


Aku juga tak mengerti dengan begini status kita akan menjadi apa setelah pertemuan ini?.


Karena sesungguhnya aku masih sah menyandang kekasih mas Reno, sedangkan mas Andika aku juga tak tau apakah dia sekarang sudah memiliki kekasih atau bahkan sudah menikah.


Kami terlalu terbuai dengan perasaan, terbakar gelora rindu hingga melupakan status kami masing-masing.


Berbicara tentang mas Reno benar sekali hati dan pikiranku sama sekali tak ada tempat untuknya. Bahkan sebelum bertemu kembali dengan mas Andika hatiku sama sekali tak ada ruang untuknya.


“Mas pulang yuk sudah malam”. Ajak ku pada mas Andika.


“Aku antar ya”. Tawar mas Andika.


Aku kembali menganggukkan kepalaku.


“Sebelum mengantar kamu pulang, aku ganti baju dulu ya”. Ijin mas Dika padaku saat itu.


“Aku menginap juga di hotel ini”. Mas Dika lekas menarik tanganku dan membawa menuju kamarnya.


Aku mengekor mengikuti setiap langkahnya, tentu dengan tangan kami yang masih bergandengan.


Rasanya begitu damai berada di sebelah orang yang kita sayang. Sepanjang langkah menuju kamar bibirku tak henti melukis lengkung senyum. Senyum yang sudah lama hilang.


Sesampainya di kamar mas Andika menyodorkan satu kemeja padaku.


“Pakailah udara sangat dingin, baju kamu basah nanti masuk angin”.


Aku menggelengkan kepala saja.


“Tidak usah mas hotelku dekat dengan sini”.


Mas Andika lekas berganti baju membuka kemejanya tanpa permisi terlebih dahulu seakan lupa jika di dalam kamar tersebut ada aku yang sedang duduk menunggunya.

__ADS_1


Dua orang dewasa dalam satu kamar hotel mereka mau ngapain?


__ADS_2