
“Siapa pria itu Yu berani beraninya dia ingin mengambilmu dariku?. Aku akan menghajarnya. Bahkan bila perlu aku akan membunuhnya”. Mas Reno berteriak dengan sangat keras, dia benar-benar marah dengan alasanku.
Mas Reno memukul-mukul kursi busa yang berada di sebelah tempat duduknya. Wajahnya tampak frustasi dan sakit.
Detik itu juga aku menutup wajahku dengan kedua tangan.
Aku juga menangis.
Menangis karena ketakutan oleh perilaku mas Reno yang sebelumnya belum pernah seperti itu. Mas Reno yang aku kenal orang yang lembut dan penyayang. Mas Reno juga pemaaf.
“Jangan menangis sayang, jangan menangis”.
Menyadari dengan sikapnya yang membuatku ketakutan Mas Reno lalu berjongkok di depanku.
Aku hanya menggelengkan kepala saja. Aku sungguh takut sekali dibuatnya.
“Maaf, maafkan aku membuatmu ketakutan. Cintaku padamu terlalu dalam. Aku sungguh tak rela kamu memilih pria lainnya Yu mengertilah”. Ucap mas Reno dengan melembutkan suara dan merendahkan nada bicaranya. Mas Reno benar-benar takut kehilanganku.
“Aku takut mas, tolong jangan paksa aku. Maafkan aku sudah mengecewakanmu. Sungguh aku tak bisa, aku tak mau membuatmu semakin terluka, mungkin takdir kita hanya sampai di sini “.
Aku mengatakan dengan pelan takut melukai perasaannya walau sebenarnya aku sudah melukai perasaanya.
“Tega kamu Yu, kamu benar-benar ingin berpisah denganku?". Suara serak bercampur liangan air mata jatuh. Mas Reno benar-benar patah hati.
“Maaf mas, maafkan aku, aku sungguh tak bisa, mengertilah, temui bahagiamu dengan yang lain”.
“Maafkan aku, seharusnya aku tak menerima cintamu sejak awal, agar kamu tidak berharap lebih pada hubungan ini. Maafkan aku yang sudah memberimu harapan semu selama ini. Lupakan aku mas temukan wanita lain. Wanita yang lebih baik dariku yang bisa mencintaimu dan menyayangimu dengan sepenuh hatinya”.
Masih dengan isak tangis serta terbata-bata aku mengungkapkannya.
“Bagiamana aku bisa bahagia Yu sedang wanita yang mampu membuatku bahagia hanya kamu”.
“Dimana pria itu? Aku ingin bertemu dengannya”. Ucap mas Reno dengan wajah yang kusut sekali.
__ADS_1
“Untuk apa mas?”.
“Aku ingin memastikan dia mencintaimu dengan tulus. Aku ingin memastikan dia laki-laki yang baik-baik”.
Mas Reno berkali-kali membuang nafas kasar.,,
“Tidak perlu mas, kamu cukup menunggu undangan pernikahan kami saja, kamu juga harus bahagia ya mas, mari kita temukan kebahagian masing- masing dengan jalan yang berbeda"
“Bagaimana aku bisa bahagia? Sedang separuh kebahagiaanku dan jiwaku melekat erat padamu”.
Mas Reno tersenyum masam mendengar jawabanku.
Mas Reno kembali menatapku dengan sedih. Tatapan mas Reno begitu tajam dan menusuk. Matanya kembali berkaca-kaca.
"Padahal aku benar-benar mencintaimu ucapnya dengan lirih namun masih jelas terdengar".
“Aku benar-benar sayang dengan kamu. Aku benar-benar ingin menjadikanmu Ratu dalam istanaku. Menjadikanmu ibu untuk anak-anakku. Sungguh sangat sulit bagiku Yu untuk menerima kenyataan ini. Aku sudah terlanjur banyak berharap dengan kebahagian hidup kita kelak bersama dengan anak-anak kita. Tapi semuanya sudah sirna”.
"Jika suatu saat nanti aku menemukan kamu tak bahagia, maka aku akan merebutmu kembali”.
Mas Reno kembali menggenggam tanganku, mengatakan semua itu dengan mata yang berkaca-kaca. Air mata kembali membasahi pipinya.
"Mas tolong jangan seperti ini".
“Jika dalam waktu satu tahun, dia tak kunjung menikahimu maka aku akan mengambilmu kembali Yu, aku tidak main-main dengan ucapanku. Aku akan melakukan segala cara untuk itu. Ingat!!!”.
"Akan aku tunggu setahun ke depan, aku akan bersabar untuk itu. Aku akan langsung meminta pada orang tuamu untuk menikahkan kita kala itu juga".
"Mas aku mohon jangan seperti ini".
“Mari kita saling berbahagia dengan jalan yang berbeda mas, sungguh kamu pantas mendapat wanita yang jauh lebih baik dariku”. Aku melepaskan genggaman tangan mas Reno dengan pelan.
Setelah beberapa jam kemudian, akhirnya aku bisa menyakinkan mas Reno dan dia bisa menerima kenyataan yang ada.
__ADS_1
Kami berdua berpisah secara baik-baik walaupun dengan sebuah perjanjian jika satu tahun ke depan aku tak kunjung menikah maka dia akan kembali lagi, dan berjanji untuk tetep menjadi teman dan saudara yang baik.
Hanya saja mas Reno tidak main-main dengan perkataannya jika dalam waktu satu tahun mas Andika tak kunjung menjadikanku istrinya maka dia akan merebutku kembali.
Aku takut membayangkan hal itu jika harus terjadi.
***
Orang tuaku memperlakukan mas Reno dengan sangat baik sekali. Ibu dan bapak menaruh harapan besar pada hubunganku dengan mas Reno. Aku sudah menjelaskan jika kami memang tidak ditakdirkan untuk menjadi suami istri. Aku sudah berusaha menegaskan pada mereka jika hubungan kami sudah berakhir. Ibu bapak menghela nafas kekecewaan.
“Padahal ibu berharap sekali Yu nak Reno jadi mantu ibu”.Huft ibu berlalu meninggalkanku dan beranjak ke dapur.
Saat malam tiba aku kembali mengurung diri sendiri di kamar, meratapi kesalahanku pada mas Reno yang sudah dengan sangat sadar menyianyiakannya selama beberapa bulan kami menjalani hubungan.
Aku menatap ponselku berkali-kali berharap ada kabar dari mas Andika yang sudah dua hari ini hilang tak berjejak. Berharap ada panggilan atau pesan masuk yang menghubungiku. Namun harapanku sia-sia dan tak kunjung menjadi nyata. Mas Dika kembali hilang tanpa jejak.
Kesedihan semakin melanda. Mas Dika benar-benar tidak menghubungiku lagi sejak pertemuan terakhir kami kemarin, padahal tidak ada masalah yang terjadi.
“Bukankah kamu sudah berjanji mas akan menghubungiku, akan menjagaku dan tak membuatku menangis kembali”. Batin Rahayu dalam hati seraya memandang ponselnya yang tak kunjung bergetar.
***
Keesokan harinya wajahku tampak sangat kusut sekali, ibu dan bapak mengira aku sedih karena berpisah dengan mas Reno, sayangnya tidak, aku sedih karena mas Dika kembali tak memberi kabar untuk kesekian kalinya.
Beberapa kali ibu dan adik-adikku datang ke kamarku untuk membujuk dan menghiburku agar tidak sedih. Ibu berusaha mengalihkan pikiranku dengan mengajak membuat beberapa kue. Tapi sayangnya semua nihil, aku tetap sedih.
Akhirnya ku putuskan untuk lekas kembali ke kotaku merantau saja. Tak ingin membuat keluargaku semkin cemas dengan sikapku. Aku ingin kembali sibuk, dengan sibuk aku akan kembali lupa dengan mas Dika.
Ya aku akan kembali melupakannya.
Bodohnya aku masih saja berharap padanya, jelas-jelas kami berdua berbeda. Mungkin mas Dika sudah menikah atau bahkan sudah punya anak juga. Pertemuan kami kemarin mungkin hanya secuil kenangan bagi mas Dika. Mungkin juga dia sedang lelah dengan pasangannya hingga menjadikanku sebagai pelampiasan saja hari itu.
Dalam perjalanan kembali ke kota perantauan hatiku kembali patah. Aku kembali menangis di sepanjang perjalanan. Aku menangis'i kisah cintaku.
__ADS_1