
“Malas lama sekali, mau perawatan rambut, kulit dan seluruh tubuh katanya”.
“Emang mas Dika sudah pernah menemani mbak Eki ke salon?”
“Sudahlah, dulu awal-awal pertama kami pacaran aku selalu mengantarkan ke salon dan berbelanja, lama-lama aku bosan karena lama sekali, aku juga heran kenapa wanita suka sekali berlama-lama di salon untuk perawatan dan berbelanja?”
“Ya biar cantik lah mas”, ucapku dengan nada sedikit ketus padanya.
“Emang kamu juga sering ke salon?”
“Ya enggaklah mas, boro-boro mau ke salon bisa makan dan bayar kos saja sudah alhamdulilah”.
“Kamu cantik mesti tidak pernah ke salon”. Ucap mas Dika dengan tatapan yang lurus ke depan.
Bilangnya saja cantik tapi tak melihatku hurt.
Nasib hanya di anggap sebagai adik dan dijadikan cadangan saja ucapku dalam hati.
“Apa mbak Eki tau kita sedang keluar seperti ini mas?”
“Tidak aku tak memberitahu dia”
“Kenapa mas?”
“Karena dia pasti akan marah dan melarang, dia itu cemburu sama kamu”
Aku tersenyum masam pada mas Andika.
“Bukankah aneh harus cemburu sama kamu?”
“Karena aku adik kamu mas?, dan aku hanya seorang anak desa yang dekil, tak pantas di bandingkan dengan mbak Eki yang cantik paripurna”. Aku mencoba menebak jawaban mas Dika sebelum dia menjawab pertanyaanku.
__ADS_1
“Tidak, bukan seperti itu juga maksudku jangan salah persepsi”, mas Dika menyanggah pernyataan ku.
“Kamu itu cantik Yu hanya saja tubuhku kurang tinggi sedikit, tapi aku suka sama anak yang mungil-mungil sepertimu ini”. Ucap mas Dika dengan santainya.
Aku yang masih berusaha mencerna setiap omongan mas Dika.
“Tetaplah menjadi adikku yang baik selamanya ya”.
Aku diam saja tak menghiraukan perkataan mas Dika, emang ada namanya hubungan antar dua orang dewasa berbeda jenis hanya sebatas kakak dan adik tanpa ada ikatan darah. Adik kakak ketemu besar ceritanya.
Waktu semakin bergulir tak terasa sudah memasuki senja, aku dan mas Andika lekas berkemas bersiap-siap untuk pulang ke rumah.
“Kapan-kapan kita main lagi ya? Kamu masih mau kan jalan-jalan seperti ini?”, mas Andika memecah keheningan saat dalam perjalanan menuju rumah.
“Boleh mas tapi harus dengan ijin mbak Eki ya, aku tidak mau menjadi sumber keributan diantara kalian kalian berdua ”
“Tidak perlu lah lagian aku bukan suaminya yang harus lapor setiap kegiatanku padanya aku juga tidak pernah membatasi dia mau berteman atau jalan dengan siapa saja”
“Yu kamu sudah pernah naik pesawat?”
“Pegangan yang erat ya aku mau ngebut nih, rasanya hampir sama kayak naik pesawat”, tutur mas Andika menjelaskan.
Pernahkah kalian merasakan sesuatu yang sangat membahagiakan?, berada di lokasi yang menyenangkan, melakukan aktivitas yang digemari bersama dengan orang yang tersayang.
Layaknya pesawat yang terbang tinggi menuju awan yang indah hatiku pun ikut terbang membumbung tinggi, aku larut dalam perasaan yang entah sulit untuk dijelaskan, rasanya semua begitu sempurna sayang untuk mengakhirinya. Memasuki wilayah Malang mas Dika mulai mengurangi kecepatan motornya.
Menjelang magrib kami baru sampai seperti biasa mas Dika selalu mengantarku sampai depan kos dengan selamat. Suasana sekeliling tampak sepi karena memang sudah memasuki waktu sholat magrib. Mas Andika tak langsung pulang seperti biasanya.
“Yu tunggu sebentar”, mas Dika menghalangi jalanku untuk masuk kedalam.
“Ada apa mas?”, jawabku santai, mas Andika tak memberi jawaban dia hanya menarik satu tanganku untuk semakin mendekat padanya, pandangan kami bertemu tatapan mata kami terkunci satu sama lain, tidak ada yang bergerak diantara kami untuk beberapa detik mata kami saling terkunci.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mas Dika semakin mendekat sangat dekat sekali hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Aku terpaku semakin tak mampu untuk menggerakkan tubuhku.
“Masuklah hari sudah mulai gelap”, bisiknya di telingaku dengan lembut sangat lembut sekali.
Wajahku sudah memerah seperti kepiting rebus, apakah itu tadi sebuah cara menuju ciuman? Entahlah aku tidak tau, karena ini pertama kali aku mendapat perlakuan seperti ini dengan seorang pria yang sudah dapat dikatakan dewasa.
Aku mematung tak mampu menjawab satu katapun perilaku mas Dika tadi, aku masih terdiam di tempat yang sama melihatnya.
“Rahayu, teriak mas Dika sambil menjalan motornya.
Reflek aku tersenyum saat mas Dika kembali memanggil namaku. Aku segera berbalik badan melihatnya kembali. Terlihat mas Dika mulai membuka kaca helmnya.
“Nanti malam bolehkah aku menelpon mu?”.
Pertanyaan macam apa ini?, tentu saja boleh aku kembali menganggukkan kepalaku dan senyumku semakin merekah dibuatnya.
Mas Dika terlihat melambaikan tangannya , kemudian lekas menutup helmnya dan mulai mengendarai sepedanya meninggalkan kos ku.
Kalian tanya bagaimana perasaanku saat itu? Perasaanku tidak dapat didefinisikan antara ambyar dan bahagia.
Aku bahagia sekali bisa dekat dengan mas Andika, melakukan banyak hal dengannya tapi aku juga sedih jika teringat statusku hanya sebagi adik dan pemain cadangan.
***
Satu minggu berlalu saatnya ujian semester dimulai, semua mahasiswa sudah bersiap-siap menuju ruang ujian sesuai dengan jadwal masing-masing, tidak ada kesulitan yang berarti di ujian pertama ini, semua dapat aku selesaikan dengan mudah dan cepat. Mungkin memang benar asupan energi jalan-jalan kemarin membuat semua terasa begitu mudah dan indah.
Ujian hari pertama berada di lantai lima gedung F, ruang ujian yang berada di lantai lima membuatku harus mengeluarkan banyak energi untuk sampai ke lantai satu. Sebenarnya ada lift yang bisa di gunakan mahasiswa sebagai akses untuk naik dan turun, tapi kondisi lantai lima saat itu sangat ramai sekali. Banyak mahasiswa yang hendak turun setelah menyelesaikan ujian.
Aku memutuskan untuk berjalan menggunakan anak tangga saja sekaligus sebagai media untuk olah raga. Meskipun tangga yang aku lalui menurun tapi aku juga merasakan nafas mulai terengah-engah.
Sesampainya dilantai dua suasana tampak sepi tidak seperti di lantai atasnya, memang lantai dua ini di khususkan untuk area lab saja. Karena suasana tampak sepi aku memutuskan untuk tidak langsung turun ke bawah. Aku ingin melihat-lihat area lab dulu, ada beberapa lab yang sudah pernah aku masuki dan ada beberapa pula lab yang belum pernah aku masuki.
__ADS_1
Suasana masih sepi hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang menjalankan tugas akir saja yang berada di beberapa lab tersebut. Aku masih terus berjalan mengelilingi beberapa ruangan di sana.
Aku berhenti di salah satu lab yang dulu sering aku datang’i saat pekan kreativitas mahasiswa, sayup-sayup aku mendengar ada orang yang sedang entah beradu argumen atau sedang bertengkar. Aku mencoba untuk semakin mendekat ke sumber suara.