
Empat puluh hari berlalu sejak kepergian Reno. Rahayu tetap tinggal di rumah keluarga Reno seperti permintaan mertuanya. Selama empat puluh hari Rahayu sama sekali tidak pernah lagi memasuki kamar Reno. Rahayu lebih memilih untuk tidur di kamar Rania adik mendiang Reno.
Acara selamatan kirim doa empat puluh hari di gelar di kediaman Reno malam hari semua keluarga kembali berkumpul bersama termasuk keluarga pihak Rahayu. Aura kesedihan masih jelas tergambar dalam keluarga tersebut.
Sepeninggalan Reno yang dilakukan Rahayu ialah membantu ibu mertuanya untuk merawat tanaman-tanaman hias yang ada di rumah tersebut. Sesekali Rahayu turut serta ketika mertuanya menjalankan aktivitas di luar rumah seperti arisan dan bertemu dengan teman-temannya. Tak ada aktivitas lain yang lebih menguras pikiran dan fisiknya sehingga membuat Rahayu semakin larut dalam kesedihan kehilangan orang yang berarti dalam hidupnya.
Dua kali sudah Rahayu merasakan patah hati dan kehilangan orang yang berharga dalam hidupnya, Andika dan Reno. Jika harapan untuk hidup bersama dengan Reno sudah benar-benar pupus akankah ada setitik harapan Rahayu untuk hidup bersama cinta pertamanya?.
Sungguh hanya Allah yang tau.
Malam itu setelah acara tahlil dan kirim doa di gelar, keluarga besar berkumpul bersama di ruang tamu. Berbincang-bincang ringan tentang kehidupan dan makna hidup serta mengenang segala kebaikan mendiang Reno.
Satu pelajaran penting yang aku dapat dari perbincangan bersama keluarga ini.
“Rahasia kebahagian itu ada dalam tiga hal bersabar, bersyukur dan ikhlas”.
“Nak apa kamu tidak ingin untuk melihat kamar kamu yang di atas?”.
Tawar bunda dengan lemah lembut padaku yang hingga kini belum memiliki keberanian untuk menginjakan kaki di sana.
Bukan karena aku takut akan hantu.
Hanya saja hatiku begitu rapuh belum mampu untuk melihat kondisi kamar tersebut, meskipun tak banyak yang aku lakukan di sana dengan mas Reno tapi ruangan tersebut cukup meninggalkan kesan tersendiri bagiku.
“Ayo Yu bunda antar ke atas untuk melihat kamar kamu”.
Bunda meraih tanganku dan membawaku ke atas.
Rahayu tak menolak, hatinya kembali bergemuruh, jantungnya berdetak lebih kencang dari bisanya entah ada perasaan yang tidak dapat di jelaskan olehnya. Perlahan kakinya melangkah memasuki kamar tersebut.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka.
Tidak ada yang berubah sama sekali, semua tersusun dengan sangat rapi dan bersih, karena memang setiap harinya ada mbak yang bantu-bantu di rumah dan tetap membersihkan kamar tersebut meski tidak di tempati.
Rahayu meraih kaos yang ada di gantungan kamar tersebut, kaos yang digunakan Reno malam hari sebelum kejadian kecelakaan itu terjadi. Rahayu meraih kaos tersebut mencium dengan penuh syahdu aroma kaos tersebut. Sengaja memang sesuai dengan permintaan Rahayu untuk tidak mencuci semua baju terakir yang di gunakan Reno.
Matanya kembali berembun, sekelebat kenangan saat bersama dengan Reno kembali hadir.
__ADS_1
Bunda menepuk-nepuk punggung menantunya tersebut dan membawa dalam dekapannya.
“Bun aku mau tidur di sini nanti malam”.
Izin Rahayu pada sang mertua.
“Kamu yakin nak?”.
Rahayu hanya menganggukkan kepala saja.
“Apa perlu bunda temani”.
“Tidak usah bunda aku berani sendiri”.
Dua wanita pilihan tersebut kembali saling menguatkan berpelukan dan menangis bersama mengingat moment-moment berharga dengan mereka yang terkasih.
“Bunda keluar dulu ya nak, kalau butuh apa-apa bilang saja, kalau tidak berani atau butuh teman panggil bunda saja ya”.
Bunda keluar dari kamar Rahayu dan Reno.
“Iya bun trimakasih’.
Air matanya kembali menetes.
Langkahnya kembali berlanjut membuka almari mendiang, berjajar begitu rapi baju-baju lengkap dengan asan dan bawahan. Tangannya kembali meraih salah satu baju yang paling sering Reno gunakan ketika bertemu Rahayu.
Lagi lagi sudut matanya berair mengenang hal itu.
Rahayu kembali menuju meja rias di kamar tersebut meraih parfum yang biasa d gunakan Reno dan menyemprotkan pada salah satu baju Reno, hatinya teriris merintih dan sakit mengenang seseorang yang sudah tiada.
Lelah dengan tangisan yang tak kunjung berhenti membuat Rahayu tertidur dengan memeluk baju Reno.
Satu jam berlalu, Rahayu terlelap dengan begitu damainya dalam pembaringan yang sudah lama tak ia tempati sejak kepergian sang suami.
Rahayu merasa ada bayang-bayang Reno yang datang dan semakin mendekat padanya. Wajahnya terlihat dengan begitu jelasnya Reno datang menggunakan baju koko putih lengkap dengan sarung dan pecinya seperti yang ia gunakan saat berkunjung ke rumah gurunya beberapa waktu lalu.
Reno datang dengan wajah teduhnya dan tersenyum begitu hangat pada Rahayu. Tanpa di sadari Rahayu tersenyum penuh kebahagian. Rahayu mengulurkan tangan untuk meraih tangan Reno.
“Sayang kamu jangan sedih ya, maafkan mas sudah membuatmu sedih’.
__ADS_1
“Aku tidak sedih mas, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan kamu”.
“Istriku Rahayu jika kamu sayang denganku, bisakah mulai sekarang istriku yang cantik ini bersemangat lagi menjalani kehidupan yang masih panjang seperti sedia kala. Mas tidak mau melihat wajah cantikmu larut dalam kesedihan yang tidak ada habisnya”.
Reno semakin mendekat pada Rahayu mencium keningnya dengan begitu dalam dan lama kemudian menjauh dan semakin menjauh dan tak terlihat lagi.
Saat itu waktu menunjukan pukul sembilan malam, semua keluarga masih di ruang tengah berbicara ringan dan menikmati hidangan yang ada. Tiba-tiba terdengar suara teriakan suara yang keras.
“Mas jangan pergi mas, mas aku mau ikut sama kamu”.
Menyadari suara Rahayu yang merancu dengan begitu kerasnya membuat bunda dan keluarga yang lan lekas naik ke atas untuk melihat kondisi Rahayu.
“Nak bangun nak’.
Bunda menggoyang-goyangkan tubuh Rahayu dengan pelan.
Nak bangun nak, kamu mimpi apa?”.
Rahayu masih terisak dengan tangisnya tanpa membuka matanya.
“Nak bangun kamu mimpi apa?”.
Rahayu terbangun dan membuka matanya, begitu terkejutnya melihat semua keluarga berkumpul di kamarnya. Bunda lekas memberikan segelas air putih pada menantunya tersebut.
“Bun aku mimpi bertemu dengan mas Reno’.
Rahayu lantas menceritakan semua mimpinya pada bunda dan keluarga yang ada di kamar tersebut.
“Itu berarti Reno ingin melihatmu kembali bangkit seperti dulu lagi nak, Reno tidak ingin kamu terlalu lama larut dalam kesedihan ini”.
Rahayu kembali menganggukkan kepalanya.
“Istirahatlah nak kamu pasti lelah sekali, bunda akan menemani kamu tidur di sini untuk sementara waktu”.
“Terima kasih bun’’
Bunda lekas memberikan kode pada keluarga yang ada untuk kembali meninggalkan kamar tersebut untuk memberikan ruang pada Rahayu agar dapat menenangkan hati dan pikirannya.
Saat itu juga Rahayu memutuskan sepenuh hati untuk kembali bangkit dan menata hidupnya mencoba mejalani hidup seperti biasanya.
__ADS_1