Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Terknci


__ADS_3

Beberapa minggu berlalu, usaha Ratna untuk menarik perhatian Andika tak kunjung memubuahkan hasil. Andika sama sekali tak merespon sedikitpun sikap dan perhatian Ratna.


Ratna masih saja memperhatikan Andika setiap harinya, beberapa kali matanya menangkap Andika yang slalu tersenyum tak kala melihat salah satu mahasiswanya “Rahayu”.


“Jadi dia wanita yang menarik perhatianmu, lihat saja aku tidak akan tinggal diam, jika aku tak mampu dekat denganmu maka wanita yang hanya mahasiswa itu tentu saja tidak boleh memilikimu”. Ratna meremas ujung kemejanya sorot matanya penuh dengan kobaran rasa kebencian.


***


Malam itu Rahayu, Dania dan beberapa teman yang lain sedang berada di lab komputasi dan analisis sistem untuk mengerjakan tugas mereka. Mereka sedang melakukan analisis tentang pemodelan sistem yang di terapkan dalam suatu perusahaan untuk mengetahui tingkat kinerja karyawannya.


Satu jam berlalu projek kelompok mereka sudah hampir selesai dilakukan, tinggal memasukan kerangka pemodelan mereka pada sistem yang ada.


Sejenak mereka beristirahat untuk meluruskan otot-otot punggung mereka.


“Kalian tinggal bersama”. Tanya Santi salah satu teman baru kami dalam projek tersebut.


“Tidak mbak, aku tinggal di sigura-gura , kami berbeda tempat tinggal dan baru kenal saat jadi mahasiswa magister di sini”. Jawab Dania.


“Aku tinggal di daerah Dau, kebetulan tanteku orang sini jadi ikut numpang deh”. Jawab Santi pada Dania.


Rahayu hanya diam saja tak memberikan tanggapan, jemarinya sibuk memasukan coding pada sistem yang ada di depannya.


“Kalau kamu Yu?”. Tanya Santi.


“Aku di permata Jingga”. Jawabnya singkat dengan mash fokus pada monitor di depannya.


“What? Perumahan elit Permata Jingga itu Yu?”. Santi dan Dania tampak melotot secara bersamaan.


“Tidak teman-teman, tidak seperti itu. Aku juga tidak tahu jika akan tinggal di permata Jingga, semuanya ayah dan bunda mertuaku yang mengurus”.


“Jadi beneran mbak Rahayu sudah menikah?”. Dania memanglah mahasiswa paling muda dalam kelas tersebut, sehingga hampir semua teman yang ada dia panggil dengan sebutan mbak.


“He iya aku sudah menikah”. Rahayu menjawab dengan nyengir.


“Jadi benar dong yang tempo hari kamu ngidam makan sate itu?”, Santi manambahkan rasa penasarannya.


“Tidak”. jawabnya dengan singkat.


“Wah suami mbak Rahayu tinggal di sini juga?”. Dania masih saja kepo dengan kehidupan sahabat barunya tersebut.


Rahayu hanya menggelengkan kepalanya saja.


“Lantas kamu LDR an dong Yu?”. Kali ini Santi yang angkat bicara.


“Tidak, kita sudah berpisah”. Ucap Rahayu dengan menahan air matanya yang sudah hampir jatuh di pipinya.

__ADS_1


Dania dan Santi kembali membelalakkan matanya menatap Rahayu tak percaya dengan semua kejutan dalam hidup sahabatnya.


“Maaf mbak”. Dania meremas tangan Rahayu mencoba menguatkan.


“Kegagalan bukan akhir dari segalanya Yu, kamu masih muda dan sangat cantik, percayalah masih banyak laki-laki baik di luar sana yang bisa menerima segala kondisimu”. Santi menepuk-nepuk punggung Rahayu mencoba untuk menguatkan teman barnya tersebut.


“Suamiku sudah di surga”. Ucap Rahayu lirih, kali ini air matanya sudah tak mampu di tahan lagi.


Rahayu kembali menangis mengingat Reno.


Dania dan Santi saling menatap dan merasa bersalah pada Rahayu telah mengingatkan akan kesedihannya kembali.


“Maaf ya mbak kami tak bermaksud membuat mbak Ayu sedih”.


“Jangan sedih ya Yu, maafkan kami berdua yang terlalu banyak ingin tahu kehidupan kamu, jika kamu mersa kesepian dan butuh teman kamu bisa memanggil kami untuk menemanimu”.


Mereka bertiga saling berpelukan menguatkan sahabat barunya.


Sementara itu, masih dalam ruangan yang sama Andika sedang menyadarkan kepalanya di belakang rak buka. Matanya berkaca-kaca, Andika begitu tertegun mendengar apa yang di bicarakan tiga wanita tersebut.


Kebiasaan Andika beberapa bulan terakhir ini adalah mengamati setiap gerak-gerik Rahayu. Andika tak akan kembali ke rumah jika Rahayu belum pulang. Andika akan memastikan Rahayu sudah sampai di depan rumahnya dengan selamat, baru dia akan tenang meninggalkannya. Entah mengapa hatinya masih enggan untuk berpaling dan ingin tatap menjaga meski hanya dari kejauhan.


“Ya Allah Rahayu”. Matanya berkaca-kaca.


“Aku memang sangat mencintaimu Yu, tapi aku lebih memilih untuk melihatmu bahagia dari pada harus terluka seperti ini?”.


“Pasti kamu merasakan sakit kehilangan yang teramat sangat berat”.


Andika kembali menyadarkan panggungnya, kini dia sudah tak berdiri lagi. Kakinya lemas hingga tak mampu menopang beban tubuhnya.


Andika meneteskan air mata, dadanya begitu sesak menangisi kekasih hati yang bersedih kehilangan separuh hidupnya.


Waktu menunjukan pukul sembilan malam, lab akan segera di tutup ketiga wanita tersebut beranjak untuk meninggalkan komputasi tersebut. Dania dan Santi berpamitan untuk lekas mengambil sepeda mereka yang kebetulan parkir di bagian ujung kampus, takut jika terlalu malam pagar jalan tembusan ke belakang akan segera di tutup.


Sementara Rahayu berjalan sediri menuju parkiran mobil, yang kebetulan berada di depan gedung Rektorat. Rahayu melangkah dengan begitu tenangnya meski hatinya sedang berkecamuk, sekilas ingatannya pada Reno kembali melintas di pikirannya.


Tes.


Rahayu kembali meneteskan air matanya mengingat kepergian sang suami.


Melihat gedung perpus bagian bawah masih menyala lampunya, Rahayu melangkahkan kakinya ke sana dulu, ingin mencuci muka sebelum kembali menyetir mobil sendiri.


Rahayu lekas menuju toilet yang ada di perpus tersebut, mengusap lembut wajahnya dengan air mengalir dengan harapan sedikit memberikan ketenangan di hatinya.


Rahayu kembali bercermin merapikan kerudung dan menatap mata sembabnya.

__ADS_1


Setelah semua di rasa sudah siap, Rahayu kembali membuka pintu kamar mandi tersebut dan betapa terkejutnya dia kala mendapati pintu kamar mandi dalam keadaan terkunci.


Rahayu berteriak dengan begit kerasnya meminta bantuan.


“Apakah ada orang di luar sana”.


“Tolong adakah yang bisa membantu membuka pintu ini, syaa terkunci.


Rahayu kembali menggedor-gedor pintunya dengan lebih keras lagi.


Sementara itu di balik pintu terdengar suara wanita yang sedang tertawa lirih dengan begit liciknya seakan telah mencapai kemenangan hari itu.


"Tolong bisakah bantu saya membuka pintu". Ucap Rahayu berkali-kali.


Rahayu lelah dengan berteriak tak ada sama sekali yang membantunya, kini Rahayu tertunduk lesu di dalam toilet tersebut.


Rahayu meraih ponsel yang ada di dalam tasnya untuk menghubungi Dania. Berkali-kali Rahayu mencoba menghubungi Dania tapi sayangnya tak kunjung ada jawaban.


Kini Rahayu beralih untuk menghubungi Santi tapi sayangnya baik Dania dan Santi keduanya tak memberikan jawaban atas panggilan Rahayu.


Rahayu kembali tertunduk lesu melihat pergelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul sembilan malam lebih.


“Ya Allah haruskah aku bermalam di sini”.


Sementara itu wanita di balik pintu masih saja tersenyum licik dengan serangkaian ulahnya malam itu, tak puas dengan hanya mengunci Rahayu dalam pintu kamar mandi, wanita itu meraih saklar yang ada di dinding dan mematikannya.


Reflek Rahayu berteriak dengan sangat kerasnya.


“Tolong”,


“Tolong”, kini tangisnya tak mampu dibendung lagi, Rahayu ketakutan.


Sedang wanita tersebut melenggang keluar perpus dengan senyum kemenangan di wajahnya.


.


.


.


.


.


Hayo ulah siapa ini pemirsa?

__ADS_1


__ADS_2