
Metode pembelajar saat mengambil magister ini sedikit berbeda dengan metode pembelajaran saat masih menempuh pendidikan sarjana. Mahasiswa di tuntut untuk lebih mandiri dalam segala hal dalam menyelesaikan segala tugas.
Kelas perdana hari ini di mulai pukul sepuluh pagi, namun pukul delapan pagi aku sudah menginjakkan kaki di kampus. Aku kembali mengenang masa-masa indah saat di sini.
Berkeliling di beberapa fakultas yang ada dan sesekali mengabadikan foto di sana. Aku menikmati moment nostalgia ini sendiri karena memang belum mendapatkan teman. Tak ada lagi ospek atau inaugurasi seperti saat mengambil sarjana dulu, jadi semakin susah untuk mencari teman.
Aku mulai melangkahkan kaki untuk ke taman perpustakaan, tempat paling favoritku dulu ketika belajar dan menunggu kelas, sekelebat ingatan tentang molen dan donat terlintas di benakku.
“Ah betapa susahnya hidupku dulu”.
“Betapa harus bersyukurnya aku saat ini bisa sampai pada titik ini”.
“Mungkin dari sisi ekonomi aku sudah lebih baik bahkan jauh lebih baik dari kehidupanku yang dulu, tapi urusan asmara ah sudahlah mungkin takdir belum berpihak padaku”.
“Mas Reno sesuai dengan apa yang menjadi harapanmu, kini aku kembali melanjutkan seolah”. Ucap Rahayu dengan sendu sambil mengelus-elus foto pernikahannya dengan Reno yang ada di layar ponsel.
“Mas Reno pasti seneng kan?, lihat nih aku sudah kembali menata hidup mas, aku sudah memenuhi segala keinginan kamu, doakan aku ya mas”.
Air matanya kembali menetes mengingat segala kebaikan dan pengorbanan Reno untukku selama ini.
☘️☘️☘️
Rahayu kembali melangkahkan kaki menuju perpustakaan tempat dulu dia mengerjakan tugas.
“Komputer itu”.
Pandangannya lurus menatap satu meja komputer yang berada di ujung ruangan tempat dia menghabiskan waktu ketika mengerjakan tugas dulu.
Sekelebat ingatan tak di undang kembali hadir.
Bayang-bayang Andika saat membantunya belajar.
Rahayu tersenyum mengingat itu, sedikit membuat hatinya menghangat kemudian tersadar akan statusnya sekarang seorang janda dan bisa di bilang masih istri Reno.
Rahayu tak mau mengkhianati Reno dengan memikirkan lelaki selain Reno.
“Astagfirullah aku mikir apa sih?, bagaimana kalau mas Reno di sana cemburu?. aku tak kan mungkin sanggup untuk menjelaskan kecuali aku pindah alam”. Batinnya dalam hati kemudian Rahayu tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri yang punya pikiran aneh-aneh.
***
Tak terasa waktu menunjukan pukul sembilan lima pluh menit, Rahayu bergegas menuju ruang kelas tempat ia akan menjalankan kuliah pertama hari ini.
Tak banyak yang berubah saat memasuki fakultas pertanian ini, hampir semua bangunan dan modelnya masih sama hanya saja penghuninya sudah berbeda. Tak ada yang menyapa dan menyebut namanya sepanjang perjalanan menuju kelas.
Ya maklum mana kenal sama Rahayu, berbeda dengan saat masih kuliah S1 dulu teman-temannya begitu banyak sekali. Meski tak ada yang menyapa dan memanggilnya tapi pesona Puspita Rahayu cukup menarik perhatian mahasiswa-mahasiswa dalam gedung tersebut.
Mereka memandang Rahayu tanpa henti, sedang Rahayu berjalan begitu saja tak menghiraukan mereka.
Sesampainya di kelas Rahayu lekas memili tempat duduk, seperti biasa dia akan memilih tempat duduk di bagian paling depan. Benar saja untuk mahasiswa S2 ini tak banyak satu ruangan hanya sekitar lima belas orang saja.
__ADS_1
Kami saling berkenalan satu sama lain, rata-rata temanku saat ini sudah berkeluarga dan memiliki anak.
“Assalamualaikum mbak”. Sapanya padaku dengan penuh keramah tamahan, wanita berbaju biru dengan kerudung putih dan memakai rok plisket warna navi.
“Wassalamualaikum”. Jawabku yang tak kalah ramah.
“Mbak asalnya dari mana?”.
“Aku dari Gersik, mbak sendiri dari mana?”. Tanyak balik padanya.
“Aku dari Probolinggo mbak, mbak sudah pernah kerja apa langsung lanjut ambil master ini?”.
“Saya sudah pernah kerja mbak, lama sekitar tujuh tahunan”.
“Wah saya kira baru saja lulus terus lanjut lagi, wajahnya masih imut-imut hehehe”.
“Amit-amit mungkin mbak”. Jawabku padanya dan kami tertawa bersama.
“Aku Rahayu panggil saja Ayu”.
‘Aku Dania mbak, panggil saja Nia”.
Kami saling berjabat tangan dan duduk bersebalahan.
“Yes punya teman lagi”. Begitulah kira-kira.
“Mbak sudah berkeluarga?”.
“Sudah mbak Nia”. Jawabku dengan senyum.
“Panggul saja Nia mbak, sebenarnya aku masih kecil hanya saja tubuh dan wajahku yang bongsor jadi kelihatan kayak emak-emak ya. Aku masih baru saja lulus S1 mbak, jadi aku lebih muda dari mbak Ayu tapi wajahku lebih tua dari mbak”.
Jawabnya panjang lebar menjelaskan keadaanya, aku hanay tertawa geli mendengarkannya.
Mata kuliah hari pertama adalah manajemen agroindustri.
Sedikit banyak aku juga sudah pernah memperhatikan mata kuliah ini secara nyata saat bekerja di Gersik jadi bagik tak ada masalah.
Masalahku sejak dulu sampai sekarang masihlah tetap sama saat kuliah yaitu.
Bahasa Inggris.
Bahasa Inggris dan...
Bahasa Inggris.
Entah sampai kapanpun aku mencoba mencintainya, aku tetap susah menerima kehadirannya, itulah mengapa aku lebih memilih sekolah di Malang dari pada di luar negri ketika ayah menyuruhku sekolah lagi. Karena aku tau kapasitas otakku.
Dua puluh menit berlalu kami menunggu, dosen tak kunjung datang. Jika dul saat sekolah S1 teman-teman akan senang sekali jika dosen tidak datang, namun berbeda dengan sekarang kelas tampak mulai panik ketika dosen tidak segera hadir, maklum sebagian dari mahasiswa yang ada di kelas ini adalah pekerja. Jadi meraka sangat mengoptimalkan waktu yang ada benar-benar untuk belajar.
__ADS_1
Dua puluh menit kemudian.
Dosen tak kunjung datang kegelisahan semakin melanda sema penghuni di kelas tersebut.
Dania mengambil daftar absensi yang ada di atas meja dosen tersebut dan membaca nama dosen pengampu mata kuliah manajemen agroindustri.
Inisial AP.
“Mbak AP itu apa?”.
“Inisial nama dosen pengampunya”. Jawabku pada Dania.
Ya begitulah di daftar peserta nama dosen hanya akan tertera inisialnya saja, seperti saat aku kuliah S1 dulu IMS berarti (Imam Santoso).
“Oh kira-kira siapa ya mbak? Mbak Ayu kenal?”.
Rahayu coba-coba mengingat nama itu, sayangnya dari sekian banyak dosen yang pernah mengajar dia tak ada yang nama inisialnya AP.
"Apa mungkin ada dosen baru ya di pertanian?."
Mungkin juga, aku kan sdah lama sekali meninggalkan kampus ini.
“Mbak ada nomornya, apa sebaiknya di hubungi saja ya?”.
“Duh gimana ya, coba saja kalau berani”.
“Mbak Ayu saja deh yang menghubungi”.
“Gak ah kamu saja”.
“Mbak Ayu saja”.
Setelah cukup lama berdebat akhirnya Rahayu yang menghubungi dosen tersebut vis wa.
📩 "Assalamualaikum pak/bu ini dari kelas C-2 program magister pertanian, hari ini ada kelas pukul sepuluh pagi di rung F. 33 Trimakasih”.
*Puspita
Ya Allah gambar profilnya hati.
Retak pula ini orang cowok apa cewek ya batin Rahayu ketika mengirim pesan tersebut.
Dua puluh menit kemudian masih juga tak ada balasan, karena lelah menunggu kelas pun bubar semua mahasiswa dalam ruangan tersebut memilih untuk meninggalkan kelas.
.
.
.
__ADS_1
.