
Pada suatu sore di sebuah desa kecil di Jawa Timur.
“Sum Rahayu mau telfon”,Ucap bik narsih tetanggaku di desa.
“Rahayu?rahayu anakku?”
“Iya Rahayu mau telfon, ayo cepat ke rumahku sebentar”
Dengan langkah tergopoh-gopoh ibu menuju rumah bik Narsih yang berada tak jauh dari rumahku.
“Halo Assalamualaikum bu”
“Buk ini Rahayu” Ucapku menyapa ibu yang berada jauh di sana.
“Waalaikumsalam Rahayu? Rahayu anak ku? Ini ibu nak”. Ucap ibu membalas telepon dari kejauhan, sungguh rindu sekali mendengar suara ibu.
“Iya bu ini Rahayu, bu Rahayu menang pimnas”
“Alhamdulilah ibu seneng sekali nak, pimnas itu opo yu?”, Dengan suara histeris ibu senang sekali saat mengetahui aku menang lomba pimnas tapi ibu tidak mengerti maksudnya.
“Lomba bu, rahayu ikut lomba terus menang”. Jawabku pada ibu, tidak mungkin aku menjelaskan panjang lebar tentang pimnas pada ibu, keburu pulsaku habis dan ibu belum tentu mengerti maksudnya.
“Piye kabarmu nak?”
“Rahayu sehat bu, rahayu seger waras, ibu tidak usah mikirin uang makan Rahayu, alhamdulilah beasiswa ku sudah cair bu”
“Alhamdulilah nak, ibu ikut senang dengarnya”
“Kabar bapak dan adik-adik bagaimana bu?”
“Alhamdulilah sehat semua nak, sehat kabeh”
__ADS_1
Tut tut tut sambungan telfon terputus tampaknya pulsaku sudah habis. Biarlah Lain waktu kalau ada kesempatan biar aku telpon lagi lagian tidak enak telfon lama-lama pinjam HP tetangga.
Orang tuaku tidak mempunyai Hp, maklum keluargaku lebih mementingkan urusan perut dari pada membeli benda-benda yang tidak terlalu kami butuhkan, yang terpenting dalam hidup kami bisa makan dan bertahan hidup saja sudah sangat bersyukur.
Masih dalam aula yang sama tempat pengumuman pimnas tadi, masih terdengar yel-yel yang tak pernah lelah di kumandangkan oleh semua peserta lomba, masing-masing peserta meneriakkan yel-yel kembangan masing-masing. Suasana sangat ramai riuh semua bersuka cita bagi yang menang. Acara penutupan ditutup dengan persembahan pentas seni dari tuan rumah penyelenggara.
***
Tepat pukul 14.00 kami sampai di Malang kembali dengan selamat, bus mulai memasuki area kampus dan lekas memarkirkan. Aku dan teman-teman mulai turun suasana tampak berbeda tidak seperti biasanya.
Kontingen peserta lomba datang disambut dengan tarian kuda lumping yang menari-nari sepanjang tepat bus parkir menuju rektorat. Semua peserta lomba tampak bahagia sekali. Selain kuda lumping kedatangan peserta lomba juga di sambut dengan macam-macam badut yang beraneka kostum serta maskot Universitas kebanggan kami.
Aku berjalanan beriringan dengan mas Andika dengan mbak Sarah dan mas Dimas yang berada di belakang kami, tentunya di susul oleh peserta lomba yang lainnya. Tepat di depan lobi rektorat kami dikejutkan kembali dengan kejutan yang tak terduga menurutku. Bagi peserta yang lomba dan mendapat emas akan mendapat kalungan bunga dari rektor.
Kalian tau rasanya? Senang sekali sesuatu yang tidak pernah terbayang dalam hidupku. Rektor mulai mengalungkan rangkaian bunga padaku dan mas Andika juga beberapa teman yang mendapatkan emas dalam pertandingan ini.
“Yu kau senang tidak?” bisik mas Andika yang berjalan di sebelahku.
“Aku kalau lagi jalan berdampingan dan dipakaikan kalung bunga begini berasa kayak jadi bupati yu”
“Ha kenapa?” ucapku yang tidak mengerti ucapan mas Andika.
“Iya pejabat yang di sambut rakyatnya saat pulang dari dinas atau tugas negara”
“oh gitu mas”
“iya yu, berasa jadi pejabat yang sedang jalan dengan istrinya dan di sambut rakyatnya”
Deg mas Andika kenapa kamu selalu membuatku tak berdaya, selalu memporak-parikan perasaanku. Sekuat tenaga aku menepis segala rasa yang ada padamu, tapi kenapa kamu selalu memupuk terus hingga rasa itu semakin tumbuh dan berkembang dengan subur.
“Iya mas aku yang jadi rakyatnya siap menyambut mu” jawabku untuk menetralkan perasaan.
__ADS_1
“kok rakyatnya sih, gak pengen apa jadi istri pejabatnya?” ungkap mas Andika.
“tidak tertarik sama sekali jadi istri pejabat, capek bikin kopi untuk tamu”, jawabku sedikit kesal karena mas Andika terus saja membuatku baper dan laper.
“Dih gitu aja ngambek gak jelas” sambil mas Andika mengacak-ngacak kerudungku.
Aku lekas mencari tempat duduk yang agak jauh dari mas Andika, dekat dengan mas Andika terlalu lama membuat hati tidak sehat. Aku memilih tempat duduk yang berada paling ujung, sengaja memang biar lebih dekat dengan meja prasmanan.
Acara penyambutan dimulai dengan sambutan dari rektor kami yang mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena sudah berjuang di medan laga dengan sebaik-baiknya hingga bia kembali membawa pulang tahta juara Adhikarta Kerta Jaya di bumi Bra.
Pak rektor mengatakan sesuatu yang akan saya ingat sepanjang perjalanan ku, beliau mengatakan ikhtiar dan berusahalah semaksimal mungkin, tapi kalian harus tahu bawa yang menentukan hasil hanyalah Allah dan kewajiban kalian adalah belajar utuk menjadi lebih baik lagi dan lagi kedepannya. Dari situ aku memahami bahwa nilai terpenting dari suatu lomba tidak terletak pada seberapa bagus juara yang diraih, tapi seberapa banyak pembelajaran yang diambil.
Acara penyambutan peserta pimnas ditutup dengan ramah tamah, semua peserta dipersilahkan untuk mengambil makanan yang telah di sediakan panitia, semua peserta saling berkenalan dengan teman-teman yang beda fakultas. Acara makan-makan diiringi dengan alunan live musik persembahan dari floice band universitas.
Aku memilih tempat duduk yang di paling ujung dan dekat dengan meja prasmanan bertujuan untuk mempermudah mendapatkan makanan lebih dulu, ternyata prediksiku salah, saat peserta diperkenankan untuk mengambil makan semua lekas berhamburan menuju meja prasmanan. Karena tubuhku yang mungil jadi dapat dengan mudah digeser-geser peserta lainnya yang tampak sangat kelaparan.
Aku lekas menuju meja prasmanan untuk mengambil makan, tanpa ku sangka ternyata makanannya sudah habis. Aku beralih menuju tempat minum di sana yang tersisa hanya dawet ayu. Aku mengambil semangkok dawet ayu untuk mengganjal perutku yang sedang meronta-ronta.
“Tidak makan mbak”, sapa seseorang di belakangku.
Aku tak menghiraukannya, aku lekas minum dawet ayu yang sedang di pangkuanku paling mas Andika yang iseng menggoda.
“Halo mbak, kenapa tidak makan?”
“Tidak kebagian” ucapku dengan sedikit kesal tanpa melihat siapa yang mengajakku bicara.
“Ini buat kamu saja, aku baru aja makan tadi di bus sebelum turun” ucapnya sambil menyodorkan satu porsi makanan lengkap dengan nasi, ikan dan teman-temannya.
Aku masih enggan untuk melihatnya, aku lebih tertarik menikmati dawet ayu yang jelas-jelas sudah milikku.
“Makan saja mbak sayang kalo gak kemakan, beneran aku masih sangat kenyang” dia terus menyodorkan piring di hadapanku.
__ADS_1
Kalau masih kenyang ngapain ambil makanan, kalau gini kan aku yang kelaparan jadi gak kebagian makanan ucapku dalam hati.Karena terus memaksa aku pun mengangkat kepalaku dan ternyata dia?