
Mas Reno kembali menatapku dengan tajam dengan kedua mata elangnya, membuatku tak kuasa untuk membalas tatapannya. Rasa bersalah yang sangat besar menghantui diriku karena telah mempermainkan perasaannya.
Mas Reno baik sekali denganku, memperlakukanku dengan sangat baik. Dulu aku berfikir dengan segala kebaikan hati dan perilakunya akan mampu meluluhkan hatiku untuk menerima keberadaanya. Tapi sayangnya semua itu sia-sia hati dan jiwaku hanya untuk mas Andika seorang.
Sekarang mas Andika sudah kembali, memang terlihat sangat egois bagiku dan tidak adil untuk mas Reno. Tapi apa aku tak pantas mendapatkan kebahagian yang telah lama hilang. Sedang untuk mas Reno rasanya akan lebih bahagia bersanding dengan orang yang benar-benar tulus menyayanginya.
Beberapa bulan menjalani hubungan dengan mas Reno atas dasar kasian tak sedikitpun mampu membuka celah hati yang memang utuh hanya untuk satu nama.
Aku benar-benar sudah menyia-nyiakan mas Reno, bahkan aku tak pernah memperlakukannya dengan baik. Aku lebih sering menghindar darinya, aku juga jarang sekali membalas perhatian yang dia berikan untukku. Sangat tidak adilkan untuk mas Reno? .
Ya perlakuanku sangat tidak adil untuk orang sebaik mas Reno.
Seharusnya memang aku tidak perlu menerima mas Reno, kalau pada akhirnya aku akan menyakitinya juga. Terdorong perasaan kasian dan ingin mencoba mengalihkan hatiku pada orang lain mendorongku untuk menerima perasaan mas Reno kala itu.
Perasaan bersalahku semain menumpuk pada mas Reno ketika aku menemui mas Dika dan kami berdua saling mengungkapkan kata rindu dan cinta padahal statusku masih sah dan resmi sebagi kekasih mas Reno.
“Yu jawab pertanyaanku, kenapa kamu mengakhiri hubungan kita? Apa aku ada salah padamu?”.
Mas Reno menarik nafas dalam-dalam mencoba meredam emosi yang sedang menguasai dirinya.
“Bisa kamu katakan padaku alasan yang membuatmu memutuskan hubungan ini?”. Mas Reno kembali menanyakan hal yang sama padaku berharap lekas ada jawaban.
Aku menghela nafas panjang mencoba berfikir untuk merangkai kata-kata yang tepat.
“Apa karena kamu belum bisa membuka hatimu untukku?. Aku bersedia untuk menunggumu Yu. Jika kamu menolak lamaranku untuk saat ini aku tidak masalah. Aku akan sabar menantimu sampai kapanpun.
Mas Reno mengatakan dengan mata berkaca-kaca, aku sungguh tak tega melihatnya. Tapi aku harus tegas aku tidak ingin menyakitinya untuk kedua kalinya.
“Tidak mas, tidak seperti itu”.
__ADS_1
“Lalu kenapa kamu memutuskan hubungan ini Yu, kamu taukan betapa aku sangat menyayangimu selama ini?”.
“Itu semua karena aku mencintai orang lain mas, aku mencintai orang lain. Aku sangat mencintainya dan dia sekarang sudah kembali”.
Aku mengatakan dengan suara yang bergetar dan tak terasa air mata tak diundang jatuh begitu saja di pelupuk mataku. Rasa bersalah dan kasian semua melebur menjadi satu menatap lelaki yang sedang tak berdaya hatinya di depanku ini.
“Aku ingin hubungan kita sampai disini saja mas, aku ingin hanya menjadi temanmu saja tidak lebih”. Ucapku dengan lembut dan hati-hati pada mas Reno.
“Yu kalau kamu marah karena aku terlalu terburu-buru melamarmu aku tidak akan memaksamu, aku akan menunggu hingga kamu siap. Anggap saja aku tidak pernah melamarmu tapi hubungan kita tatap berjalan seperti biasa. Aku yakin lambat laun hati dan cintamu akan terbuka untukku”. Mas Reno masih mencoba meyakinkanku.
“Tapi aku mencintai laki-laki lain mas. Bukankah sudah aku katakan aku mencintai laki-laki lain dan dia sudah kembali”.
Helaan nafas berat kembali terdengar pada mas Reno.
“Yu pilis jangan buat alasan seperti anak SMA remaja yang baru kenal pacaran saja. Mengambil alasan karena mencintai pria lain itu sudah biasa alasan sebagai alasan ketika seorang wanita meminta putus pada pasangannya”. Mas Reno masih saja tak memahami ucapanku.
“Plis Yu jangan akhiri hubungan ini, aku sudah berharap lebih tentang hubungan ini”. Mas Reno meraih tanganku dan menggenggamnya.
“Maafkan aku mas”.
“Maafkan aku karena memang aku sudah mencintai seorang pria yang sama dalam waktu yang sangat lama. Perasaanku tidak pernah berubah padanya. Perasaanku tidak pernah bisa menerima orang lain untuk masuk”.
“Tapi Yu”. Mas Reno masih belum menerima kenyataan yang ada.
"Mas aku mencintainya, aku ingin hidup bersamanya".
Seandainya mas Reno berjumpa denganku saat menjadi mahasiswa baru dulu apa mas Reno akan banyak berkorban seperti mas Dika?.
Mas Dika banyak membantuku ketika dalam kesulitan. Mas Dika mencintaiku meski aku hanya anak miskin yang kebetulan bisa bersanding untuk menimba ilmu dengan orang-orang kalangan menengah ke atas.
__ADS_1
Apa mas Reno bersedia mengajari banyak hal untukku dari yang benar-benar tak bisa menjadi bisa dan mandiri. Apa mas Reno akan melirik gadis kecil dan kurus yang hanya mempunyai tiga kerudung dengan warna yang sudah terdegradasi karena terlalu sering dipakai dan digunakan?.
Mas Dika menerima itu semua, mas Dika mengenalku lebih dulu. Mas Dika mencintaiku lebih dulu. Bukan sebagai Rahayu yang sekarang. Rahayu yang modis dan jauh lebih cantik.
Mas Reno juga baik, selama ini mas Reno sama sekali tak pernah menyakitiku, bahakan aku sudah berkali-kali dengan sengaja menyakitinya, menghindarinya.
Aku dilema antara orang yang aku cintai dan orang yang mencintaiku.
Rasa bersalahku pada mas Reno yang besar begitu juga rasa cintaku yang tak kalah besar pada mas Dika membuatku bimbang dan menangis.
“Jangan menangis Yu, aku hanya ingin hubungan kita tetap berlanjut”.
“Aku tidak bisa mas tolong jangan dipaksa”. Ucapku dengan serak karena terlalu banyak menangis. Menangis menatap kasian dengan mas Reno dan berasa bersalah.
“Tapi kenapa aku bersedia untuk menunggumu sampai kamu benar-benar membuka hati untukku?”.
“Harus ku katakan berapa kali mas?, karena aku mencintai laki-laki lain. Aku mencintainya sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Dia cinta pertamaku”.
“Aku tidak percaya Yu, jangan harap aku akan melupakanmu”.
“Mas tolonglah, kamu pantas bahagia dengan wanita yang mencintai kamu. Bukan denganku. Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku yang lebih segalanya”.
“Tapi aku tidak mau Yu, aku manya kamu hanya kamu”. Mas Reno tidak merubah sedikitpun pendiriannya.
“Dia sudah kembali mas, cinta pertamaku sudah kembali pulang”.
“Aku tidak percaya”. Ucap mas Reno dengan tawa .
“Tapi itu kenyataanya mas, jika kamu memang mencintaiku maka lepaskan aku, aku ingin bahagia dengannya mas”. Ucapku dengan sangat memohon.
__ADS_1
“Siapa laki-laki itu Rahayu”. Mas Reno tampak murka dengan jawabanku.
"Siapa yang berani mengambil wanitaku?".