
Aku masih terus saja menangis tak menghiraukan orang yang menyapaku.
“Hay kenapa nangis?”
Aku lekas menoleh ke sumber suara dan terkejut melihatnya ternyata mas Andika yang datang.
“Aku gak menangis”. Jawabku padanya sambil mengusap air mata yang tak kunjung mau berhenti menetes.
“Gak nangis gimana aku dari tadi disini melihatmu menangis, masih ngeles aja”
“Jadi kenapa kamu menangis?”. Mas Andika mengambil kursi di sebelah dan duduk di sampingku.
“Aku aku”. Aku semakin terisak dengan air mata yang terus saja turun.
“Hey kenapa ada apa?”
“Aku mendapat nilai terendah dikelas, nilai quiz yang memegang 25% dari total nilai ujian nanti”.
“Haduh gitu aja nangis, dasar anak kecil mata kuliah apa?”
“Bahasa Inggris”. Jawabku tertunduk lesu.
“Haduh bahasa Inggris doang mudah itu”
“Mudah bagimu mas tapi tidak untukku”
“Tenang kamu masih bisa memperbaiki di kuis yang akan datang, kamu juga masih bisa mengejar nilai saat mendapat tugas, kamu juga masih bisa berjuang di UTS atau uas nanti”
“Tapi aku tidak bisa bahasa inggris mas, pengetahuanku tentang vocab sangat rendah. Pondasi awalnya saja sudah tidak kuat dan aku juga tidak suka bahasa inggris”
“Kalau tidak suka gimana mau dapat nilai bagus?, cobalah cintai dengan segenap hati, mulailah untuk mengenalnya lebih awal buatlah pondasi yang kokoh”
“Tapi aku tidak suka mas, aku cinta bahasa Indonesia saja” jawabku sambil nyengir. Mas Andika reflek memukul kepalaku dengan buku tentu saja tidak keras hanya sebatas menyentuh dengan buku.
“Dasar kamu ini, mulai besok aku akan menjadi guru privat kamu bahasa inggris persiapkan segalanya, persiapkan niat dan otaknya ya”
“Tidak mas tidak usah”
“Kamu mau gak lulus dan mengulang di semester pendek?”
“Tentu saja tidak”
__ADS_1
“Mulai besok saat aku ada waktu luang kamu harus datang ke tempat yang sudah aku tentukan tidak ada penolakan demi kebaikanmu”.
"Sudah jangan menangis lagi cepat ambil wudhu sana sholat dulu aku mau pergi dulu ada kelas".
Mas Andika berlalu meninggalkanku begitu saja.
***
Keesokan harinya mas Andika benar-benar menepati janjinya, pagi-pagi sekali sebelum aku berangkat ke kampus sudah ada sms masuk.
“Nanti aku tunggu di perpus tempat kemarin jam 11 ya, jangan lupa bawa power point kamu”
“Siap pak dosen” balas ku padanya aku lekas bergegas menuju kampus untuk kuliah seperti biasanya.
Hari ini hanya ada dua mata kuliah sosial ekonomi dan pengantar agro, satu-satunya mata kuliah yang aku cintai di semester ini. Berkat kuliah pengantar agro aku bisa mengikuti pimnas.
Waktu menunjukan pukul 10.40 semua mata kuliah hari itu sudah selesai, aku lekas bergegas menuju perpustakaan di tempat seperti biasanya. Aku mulai mempersiapkan beberapa catatan dan juga tugas-tugas yang diberikan dosen privat ku "mas Dika" hehe.
Tidak berselang lama mas Andika mulai datang sesuai janjinya hatiku bahagia sekali masih ada orang berkenan membantuku di setiap kesulitan yang aku alami.
“Jadi gimana sudah siap?”
“Siap pak”
“Ini kamu ngerti tidak maksudnya apa? suruh ngapain?”
“Aku hanya menggelengkan kepala, jangankan tau maksudnya gimana artinya saja aku tidak tau”
“Serius? Jangan bercanda deh?”, mas Andika tampak tak percaya.
“Dulu gimana bisa lulus SMA bisa keterima di sini?”.
“Takdir” jawabku singkat.
“Ya sudah gini saja mari kita buat pondasinya dulu yang kokoh sebelum buat tembok genteng dan teman-temannya, kamu wajib setoran hafalan kosa kata bahasa inggris minimal sepuluh sampai lima belas setiap harinya ke aku dan itu hukumnya wajib harus ya"
“Tapi aku tidak suka”
"Tidak suka atau malas?"
"Tidak suka dan malas mas"
__ADS_1
“Coba dulu Rahayu di coba, tuh kamu bisa nulis di depan lemari kamu, di depan cermin di pintu masuk kamar, kamu tulis tuh beberapa kata dalam bahasa inggris trus kamu hafalkan”
“Aku kalau baca bahasa inggris seperti orang asing”
“Coba ini artinya apa?” mas Andika menunjuk satu kalimat di buku yang aku bawa.
Oh Tuhan aku siapa? Apakah aku Dewi Sandra aku benar-benar tidak mengerti, pantasnya aku kembali ke SD kalau ingin belajar bahasa Inggris. Aku hanya menggelengkan kepala aku tak tau mas.
“Kalau gini apa? i love you artinya apa?” mas Andika menulis satu kata di bukuku.
Sontak aku terkejut wajahku bersemu merah aku enggan menjawab.
“Dasar anak kecil kalau gini aja tau”
"Ya kali mas anak SD aja juga tau"
Mas Andika mulai mengajariku benar-benar dari level paling bawah mengajarkan cara membaca yang benar mengajarkan metode menghafal yang cepat.
“Kuncinya hanya satu Yu kamu harus banyak-banyak menghafal kosa kata biar semakin bertambah banyak, kalau kosa kata sudah banyak yang lain akan mengikuti kamu akan mengerti maksud nya”.
“Belajar hari ini cukup sampai di sini besok kita lanjutkan lagi ya sudah sore kamu juga pasti sudah lelah”
“Tidak hanya lelah mas rasanya otak ku sudah mendidik hehehe”
“Ya sudah ayo pulang sekalian aku anterin”
Aku dan mas Andika lekas menuju parkiran dan pulang.
Malam harinya aku mencoba mengaplikasikan beberapa metode yang di yang di ajarkan mas Andika, bukannya mengerti dan mampu menghafal kosa kata otak ku malah semkin penuh bayangan wajah mas Andika.
Sungguh aku semakin tidak bisa melupakan wajahnya yang damai. Hay otak bekerjalah sebagaimana mestinya jagan ingat-ingat tutornya terus menerus, ayo coba ingat apa yang dipelajari tadi.
Aku mencoba untuk fokus kembali, mencoba menghafal namun tetap saja bayangan mas Andika yang malah menari-nari di otak ku. Bau parfumnya masih sangat jelas rasanya aku enggan mencuci bajuku yang sempat terkena parfumnya tadi. Ayo Rahayu fokus, kenapa susah sekali memang susah ya kalau orang jatuh cinta.
***
Beberapa hari kemudian mas Andika kembali mengajariku untuk belajar, mas Andika benar-benar menjadi dewa penolong kala itu. Seperti biasa kami belajar di perpustakaan.
Sebelum ke perpus mas Andika mengajakku untuk makan terlebih dahulu, kami memilih makan di kopma (koperasi mahasiswa) yang berada di dekat asrama putra sedikit jauh memang tempatnya hanya ingin mencoba suasana yang berbeda sekalian mau ambil berkas temannya mas Dika.
Pengalaman pertamaku Masuk kopma tempatnya luas sekali, ngambil makannya pun sendiri-sendiri tidak ada yang mengantar ke meja. Siang itu tampak ramai sekali memang bertepatan dengan jam istirahat juga.
__ADS_1
Sedikit banyak sudah ada perubahan padaku, aku mulai mengerti sedikit demi sedikit kosa kata. Aku selalu setor lebih dari 15 kosa kata pada mas Andika setiap harinya.
“Jadi kamu di sini yang? Aku nyari’in kamu dari tadi”, terdengar suara wanita yang tidak asing ku dengar, dia datang menghampiri kami dengan wajah yang masam terlihat sekali kalau tidak suka denganku.