Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
61


__ADS_3

Tiba-tiba mata kami saling bertemu begitu saja.


Kami saling terdiam untuk beberapa saat, begitu terpesona dengan pemandangan yang sedang berada di depan mata.


Aku tak sanggup untuk berpaling lagi. Tubuhku merasakan hal sama seperti saat pertama kali kami bertemu dulu. Jantung ini kembali berdebar cepat.


Hanya mas Andika yang mampu membuatku seperti ini.


Ya mas Andika pemilik hatiku seutuhnya, bahkan suara riuh dalam ruangan sama sekali tak terdengar seakan lenyap begitu saja.


Bahkan aku melupakan jika ada wanita lain di sampingnya.


Benar saja aku merasa dalam ruangan ini hanya ada Rahayu dan Andika.


"Oh pangeranku, masih pantaskah aku merindukanmu?".


Tubuhku semakin bergetar hebat rasanya tulang-tulang ku tak mampu menahan beban tubuhku sendiri.


Aku masih Rahayu yang sama.


Rahayu yang tak berdaya saat berada di dekat Andika.


“Hay apa kabar lama sekali tak ada kabarnya”. Terdengar suara salah satu teman mas Andika yang menyapa dan memegang bahunya.


“Kabarku baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana?”. Sepertinya begitu jawaban ma Andika karena aku berada jauh dari tempat dia berada dan tidak mendengar perkataannya.


Kedatangan salah -satu teman mas Andika tersebut memutuskan kontak mata kami. Sejenak mas Andika kembali bergabung dengan teman-temannya dan saling bertukar cerita.


Kalian tanya aku ngapain di sana?


Ya aku Puspita Rahayu hanya mampu duduk manis di kursi bagian belakang tanpa ada satupun teman yang datang menemaniku. Aku sibuk dengan pemikiran ku sendiri memikirkan dan menerka-nerka siapa wanita itu?


Aku hanya mampu menatap mas Andika dari kejauhan saja. Sesekali mata kami bertemu saat itu juga inginku menghampirinya tapi sayangnya aku kalah cepat dengan beberapa wanita yang juga ingin dekat dengan mas Dika.


Dalam hatiku bertanya apa mas Andika sudah mempunyai kekasih?.


Apa mas Andika sudah berkeluarga?

__ADS_1


Aku tak ingin menyianyiakan kesempatan hari ini, inginku mengajaknya berbicara banyak hal mengucapkan terimakasih yang tak terhingga atas semua kebaikan-kebaikan dan bantuannya selama di Malang.


Apa mas Andika masih mau mendengarnya?.


Acara demi acara berlanjut, ada sambutan-sambutan dari panitia, sambutan dari beberapa dosen yang turut diundang dalam acara temu alumni ini. Entahlah apa yang disampaikan mereka aku tak mengerti. Semua yang dikatakan panitia menguap begitu saja pikiranku hanya penuh akan Andika saja.


Menjelang pukul sepuluh malam acara sudah selesai, aku mulai panik karena sampai dengan acara selesai aku belum sempat untuk mengungkapkan perasaanku pada mas Andika, jangankan ingin berbicara banyak hal menyapa saja belum ada kesempatan karena banyaknya teman-teman yang ingin berbicara dengannya.


Merasa belum puas dengan acara temu alumni tersebut beberapa orang mengusulkan untuk karoke bersama. Tidak semua peserta temu alumni yang ikut hanya ada beberapa saja. Kebanyakan mereka yang ikut adalah angkatan 2010.


Aku memberanikan diri untuk ikut saja siapa tau nanti mas Andika juga ikut, besar harapan untuk bisa berbicara padanya hari ini setelah menunggu beberapa tahun lamanya.


Dari semua peserta hanya tersisa lima belas wanita dan sepuluh pria saja yang berlanjut untuk mengikuti karoke bersama.


Kalian bertanya apakah aku bisa karoke hingga berani ikut acar tersebut?


Tentu saja tidak, aku bahakan belum pernah masuk ruang karaoke sebelumnya ini hanya bagian dari metode untuk bisa bertemu dengan mas Andika.


Benar saja sesuai dengan yang ku harapkan mas Andika turut serta memeriahkan karaoke ini. Acara karaoke bersama dilajukan di tempat yang sama masih satu hotel hanya saja berbeda ruangan.


Lagi-lagi wanita itu juga mengikuti acara karaoke ini, jadi siapa sebenarnya dia?.


Lagu pertama di buka oleh salah satu teman mas Andika yang menyanyikan lagu oplosan. Kemudian disusul beberapa teman yang lain bergantian bernyanyi sesuai dengan tempat duduk yang kami tempati. Beberapa saat kemudian tibalah giliranku untuk bernyanyi.


“Silahkan mbak mau nyanyi apa?”. Tanya salah satu teman yang datang aku sendiri tidak mengenalnya begitu juga dia hingga memanggilku dengan sebutan “mbak”.


“Maaf mas saya tidak bisa nyanyi”, ucapku dengan memberikan mick pada orang yang berada di sebelahku.


“Harus nyanyi mbak sebisanya, bahkan lagu anak-anak pun tak apa?”. Pria itu kembali memaksa.


“Suaraku jelek mas yang lain saja”. Aku kembali berusaha menghindar memberi alasan.


“Oh tidak bisa siapa yang datang kesini mengikuti acar sesi karoke berarti siap karaoke yok gas silahkan”. Pria tersebut kembali memberikan miknya padaku.


Akhirnya mau tidak mau aku menyanyi, aku tak peduli suara sumbar yang akan muncul nanti toh ruangan ini kedap dan mereka tidak ada yang mengenalku saja. Ku beranikan diri untuk mengambil mick tersebut dan bernyanyi.


“Aku kangen sama kamu”.

__ADS_1


“Apa kamu udah ngak sayang aku?”.


“Maafkanlah aku lari dari kenyataan”.


“Bukan karenaku tak punya rasa sayang”


“Maafkan aku mencoba berlari”


“Karena suatu saat nanti engkau pasti kan mengerti”


“Mengapa hanya sekejap saja “


“Ku merasakan indahnya dengan dirimu”.


Suara tepuk tangan terdengar dalam ruangan tersebut entah karena suaraku bagus atau tidak aku tak peduli, sepanjang bernyanyi aku terus memandang ke arah mas Andika begitu juga mas Andika yang beberapa kali memandangku meski ada wanita lain di sebelahnya.


Acara karaoke berlangsung dengan sangat meriah semua yang ada di situ sangat menikmati acara kedua yang lebih privat tersebut. Malam semain larut suasana semakin memanas.


Beberapa laki-laki yang datang tampak mulai minum sedangkan para wanita sibuk dengan bernyanyi  bersama sesuka hatinya.


Beberapa saat kemudian salah satu dari anggota alumni yang datang memutar satu lagu untuk berdansa berpasang-pasangan.


Sebagian laki-laki yang mabuk tampak menarik wanita sesukanya untuk berdansa. Ini merupakan yang baru aku lihat sebelumnya, aku mulai tak nyaman dan ada rasa takut jika harus menolak jika ada yang mengajakku untuk berdansa.


Sesuai dengan apa yang ku pikirkan seseorang laki-laki menarikku untuk berdansa, dia dalam keadaan mabuk.


Aku terdiam tak membalas uluran tangan tersebut aku takut.


“Kalau mau jadi ustadzah jangan ikut acara seperti ini, di sini tempat bersenang-senang”.Ucapnya padaku.


Aku tak berani menjawab satu katapun, sejurus kemudian seseorang datang mendekati kami.


“Baiknya kamu dansa sama dia saja”. Pria itu menyerahkan satu wanita yang sudah mabuk biar sama-sama mabuk.


Ya wanita itu adalah wanita yang datang bersama mas Andika tadi.


Dan pria yang menolongku barusan adalah mas Andika.

__ADS_1


“Mas Dika”. Tanpa sepatah katapun mas Dika lekas menarik keluar dari ruangan karaoke tersebut yang mayoritas isinya sudah mabuk semua.


Mas Andika menarik tanganku membawa pergi ke taman hotel tersebut.


__ADS_2