
Alhamdulilah atas rezeki tak terduga yang engkau berikan Ya Allah, aku senang sekali. Total laba hari ini terkumpul 97 ribu, hasil dari dua kali bolak-balik mengambil donat dan molen. Secara keseluruhan terjual 50 biji molen dan 47 biji donat, tersisa donat 3 donat yang akhirnya aku makan sendiri, karena aku sudah sangat lelah berkeliling gedung dan ingin segera lekas kembali ke kos untuk mandi dan beristirahat.
Sesampainya di kos, aku langsung bergegas mencuci box yang di pakai untuk berjualan tadi, lantas ku kembalikan ke tempat semula.
“Siapa pun yang punya box ini terimakasih banyak atas bantuannya jika berkenan besok aku mau meminjam kembali”.
Biaya sewa kos sebesar 250 untuk bulan depan, terhitung sudah terkumpul uang laba 97 ribu, kurang 153 ribu. Masih kurang banyak ternyata. Baik besok aku akan mencoba berjualan kembali di sekitar perpustakaan.
Semangat untuk diri ku sendiri, terimakasih karena sudah berdiri tegak dan kokoh hingga detik ini, meskipun halangan rintangan datang menghadang. Aku kuat, aku pasti bisa melalui semua ini. Semoga beasiswa ku lekas cair aamiin.
Aku beranjak menuju kasur di kamar ku, jika di bandingkan dengan teman-teman, kamar kos ku tampak paling sederhana sendiri, tidak ada peralatan yang istimewa tidak ada dekor-dekor hanya ada tulisan motivasi-motivasi semangat. Sekalipun sederhana ini sudah lebih dari cukup jika di bandingkan dengan kamar yang ada di rumahku, yang hanya menggunakan dipan dari bambu dan di alas”i karpet tanpa kasur maupun sprei.
***
Keesokan harinya aku bangun lebih pagi, aku bangun pukul 4 pagi, kemudian menjalankan aktivitas sebagai muslim seperti biasah dan lekas segera menuju ke dapur untuk menggambil box kemarin.
Pagi ini aku ada jadwal kuliah jam 9 pagi, sebelum berangkat kuliah aku menuju ke tempat penjual donat dan molen kemarin. Aku tak membawa molen dan donat yang banyak. Karena ini hari pertama, aku membawa 30 biji donat dan molen di mana masing-masing terdiri dari 15 biji.
Berangkat lebih pagi 1 jam sebelum kuliah di mulai dengan membawa molen dan donat, dan meletakan di gazebo perpus berharap pada saat pagi banyak mahasiswa yang ke kampus namun belum sempat sarapan sehingga mau membeli.
Sesampainya di kampus aku meletakkan molen dan donat tersebut di gazebo perpus dan di atas box penyimpanan aku sediakan toples kecil untuk tempat uang. Setelah itu aku duduk di kursi yang letaknya sedikit jauh dari tempat aku berjualan tadi, aku ingin memantau apakah teman-teman pembeli bersikap jujur.
Alhamdulilah, beberapa saat kemudian aku memperhatikan beberapa mahasiswa ada yang membeli dan meletakkan uangnya di toples. Jam menunjukan pukul 08.50 aku bergegas meninggalkan gazebo perpus menuju ruang kuliah.
Hari ini jadwal kuliah penuh tidak ada praktik, kuliah pertama di buka dengan materi pengantar agroindustri, materi pengantar agroindustri menjelaskan tentang bagaimana metode-metode dalam memanfaatkan sumber daya alam agar lebih maksimal, mulai dari cara menanamnya, cara pemeliharaan, metode penyimpanan, pengolahan dan pemasarannya. Kami pun mendapat tugas untuk mencari sumber daya alam yang potensial di wilayah asal tempat tinggal masing-masing.
Tugas ini berkaitan dengan event yang biasanya di selenggarakan tahunan secara serempak seluruh mahasiswa se Indonesia. Yakni pekan kreatifitas mahasiswa, yang akan di bagi menjadi beberapa jenis, ada yang kewirausahaan, penelitian, pengembangan masyarakat dan gagasan umum. Semua mahasiswa baru di anjurkan untuk ikut, dan kuliah di tutup dengan pembagian besar tersebut.
Aku kembali menuju gazebo perpustakaan untuk melihat jualan ku, ternyata masih banyak, dari 30 biji baru terjual 5 biji. Sebaiknya aku mencoba untuk berjualan keliling saja seperti kemari.
“ Permisi mbak kue nya, 2000 saja”
“Sudah mbak trimakasih”
Aku berjalan lagi mencari lokasi yang lebih rame, kali ini aku ke fakultas sebelah, sepertinya di sana banyak anak yang sedang menunggu jadwal untuk praktikum.
“Permisi mas kue nya?
__ADS_1
Sebenarnya aku malu jika harus menawarkan kue ke mahasiswa lain, apa lagi kalau cowok.
Sudah mondar- mandir dari tadi kenapa masih banyak saja ini kue, padahal sudah hampir sore.
Sambil masih berjalan dan membawa kue, kali ini aku berjalan menuju gedung seminar di sebrang perpustakaan, semoga saja nanti rame dan habis, cuaca mendung pula sepertinya mau hujan.
“Permisi mbak kue nya?” aku kembali menawarkan dagangan
“Tidak, trimakasih “ baiklah aku menwarkan kembali ke bangku sebelah.
“Permisi mbak kue nya?
“Tidak” tanpa menoleh dan memperhatikan ku.
“Lo Rahayu, ngapain di sini? “ terdengar suara laki-laki yang sepertinya aku kenal.
“Kamu kenal sama dia? Terlihat heran, karena baru pertama kali bertemu dengan ku.
“Iya yang dia praktikan ku di biologi dasar” jawab mas Andika pada perempuan itu.
“Permisi mbk mas” aku hendak berpamitan.
“Eh kamu mau ke mana yu?”
“Saya mau pulang mas, sudah sore cuaca juga mendung sepertinya mau hujan”
“Tunggu dulu, kamu jualan kan? Coba aku lihat?”
Ini mas sambil menunjukkan box yang berisi molen dan donat,
“Yang ini kan jajan kesukaan kamu, ada donat lo”
“Enggak, aku sudah kenyang” jawab mbak eki datar
“Coba dulu aja, sepertinya ini enak, iya kan yu?”
“eh iya mbak enak kok” jawab ku ragu-ragu, enak menurut ku tapi belum tentu dengan mbak Eki, standar kita kan beda.
__ADS_1
“Eh yu ini ada berapa biji aku beli semua lah?”
“Semua?” jawab ku tak percaya untuk apa?
“Iya bungkus aja semua nanti mau aku bagikan ke teman-teman satu kos ku, kebetulan hari ini teman-teman ngajak nobar.”
Alhamdulilah ucap ku dalam hati.
“Yu coba besok kalau mau jualan kamu nitip di sekretariat UMKM jurusan, di sana ada beberapa teman-teman juga yang menitip jajan, atau kamu bawa juga ke kelas kamu saat kuliah pagi. Pasti anak-anak banyak yang beli.
“Oh boleh kah mas seperti itu?”
“Tentu saja boleh” Akhirnya mas Andika membeli semua molen yang tersisa hari ini, sekitar ada 17 biji.
“Ih apa an sih yang kamu?itu kan untuk jualan anak-anak yang mau galang dana untuk acara” mbak eki terllihat tidak suka dengan usulan mas Andika pada ku.
“ Ngak papa kok, semua boleh titip jualan di sana”
Dan mereka masih terus berdebat, aku tak enak mendengarnya.
“ ini mas kue nya, saya permisi dulu”.
Aku pun lekas kembali pulang ke kos dan beristirahat,
Total uang terkumpul ada 127 ribu, masih kurang separuh untuk membayar kos, besok aku mencoba menaruh box di beberapa tempat yang berbeda siapa tau hasilnya lebih banyak.
“ Hidup adalah perjalanan yang harus dilalui, tidak peduli seberapa buruk jalan yang harus dilewati”.
Mungkin saat ini jalan yang aku lewati masih di cor, penuh dengan batu-batu kecil maupun besar, harus tetap berdiri dengan kokoh untuk membuka jalan lain yang lebih baik.
Beberapa hari berikutnya, seperti arahan mas Andika untuk menitipkan jualan di UMKM jurusan, sudah aku lakukan, aku juga menaruh beberapa di gazebo perpus dan di gedung seminar.
Tanpa terasa hari pembayaran kos tiba, uang yang terkumpul hasil penjualan ada 230 ribu sebagian aku gunakan untuk makan sehari-hari. Karena uang saku di awal yang aku bawa sudah habis.
Aku bergegas menuju UMKM untuk mengambil kue, tak seperti hari-hari biasah yang selalu habis, hari ini masih banyak, bahkan hanya terjual 6 biji saja, mungkin karena sebagian besar mahasiswa sedang praktek di lahan.
Aku menuju gazebo perpus untuk mencari kue yang biasah aku letak kan di meja, dari ujung ke ujung gazebo perpus aku berjalan, tak ku temukan pula.
__ADS_1