Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Ziarah


__ADS_3

Pagi harinya semua keluarga berkumpul, untuk melaksanakan sarapan pertama dengan anggota keluarga baru mereka.


Ibu membuat nasi pecel, yang menutut informasi yang di terima pecel, adalah makanan favorit sang menantu. Ibu sengaja memasaknya secara khusus untuk memberikan jamuan terbaik untuk Andika. Tak lupa Ibu juga membuat peyek udang dan kacang seperti saran Mama Dika waktu itu.


“Makanlah nak Dika, maaf masakannya sederhana hanya ada ini saja. Ibu mulai menata semua masakan yang telah matang dan menghidangkan di atas meja.


“Masya Allah ini sudah lebih dari cukup Bu, ini adalah makanan kesukaanku”. Andika menjawab dengan mata yang berbinar-binar, seolah ingin menunjukan pada sang Mertua ungkapan rasa terimakasihnya.


“Makanlah nak, ini semua sayuran hasil dari memetik di kebun belakang rumah kami, semoga nak Dika terbiasa dengan menu masakan ala orang desa seperti ini”. Ibu berkata dengan tersenyum, seperti biasa keluarga Rahayu akan slalu rendah hati pada siapapun yang datang.


Rahayu meraih piring yang ada di depan Andika, dan mulai untuk mengambilkan beberapa centong nasi untuk suaminya. Ini merupakan pekerjaan baru bagi Rahayu dan ia sangat menikmati hal itu.


“Trimakasih sayang”. Jawab Andika dengan meraih piring yang sudah terisi dengan nasi beserta jajaran pendampingnya.


Tak lupa Rahayu juga menyiapkan minuman hangat khas orang desa di pagi hari “Teh”. Sebenarnya Andika tak biasa minum-minuman manis di pagi hari, Andika lebih suka minum air putih biasa hanya saja tak ingin membuat istrinya kecewa Andika tetap meminumnya hingga habis teh tersebut. Selain tidak terbiasa minuman manis Andika menghindari teh dan sebagainya karena takut wajahnya akan semakin manis.


Narsis ya?.


Pagi itu sarapan bersama di hiasi dengan canda tawa ringan serta obrolan-obrolan sederhana untuk menjalin keakraban di antara anggota keluarga. Nampaknya kehadiran Andika dalam keluarga tersebut dapat dengan mudah di terima, selain karena wajahnya yang ganteng dan rupawan Andika memiliki kelebihan tutur katana yang sopan dan pembawaannya yang baik dalam setiap situasi kondisi membuatnya dapat dengan mudah di terima keluarga Tari.


“Bu, Pak, hari ini Tari berencana ingin mengunjungi makam mas Reno”. Rahayu dan Andika ingin berziarah ke makam Reno, karena sebelum menikah mereka berdua belum sempa untuk berkunjung ke makam mendiang Reno.


“Iya nak, pergilah ke sana jangan lupa mampir juga ke rumah orang tua Reno, mereka juga orang tua kamu”.


“Baik Pak”.


Andika dan Rahayu secara bersamaan menganggukkan kepalanya.


“Cie sampai menganggukkan kepala saja harus barengan? Kompak sekali mbak Ayu dan mas Dika ini”. celoteh salah satu adik terkecil Rahayu.


Sontak membuat semua orang dalam meja makan tersebut tertawa bersama.


***

__ADS_1


Makam


Sesuai dengan rencana Andika dan Rahayu bertolak ke Gersik untuk berziarah ke makam Reno, Rahayu memili untuk langsung ke makam dulu baru ke rumah orang tua Reno.


“Assalamualaikum dara qaumin muminin wa atakum ma tu’adun ghadan mu’ajjalun, wa inna insya-Allahu bikum lahiqun”.


Artinya.


Assalamualaikum, hai tempat bersemayam kaum mukmin. Telah datang kepada kalian janji Alla yang sempat di tangguhkan besok, dan kami insya Allah akan menyusul kalian.


Rahayu dan Andika mulai berjalan menuju tempat peristirahatan Reno. Rahayu membawa beberapa bunga dan air untuk di letakkan di atas pusaran Reno, Andika memimpin do’a untuk mendiang Ren sedang Rahayu mengamini setiap lantunan doa yang di panjatkan sang suami.


“Mas Reno di sana apa kabar?”.


“Mas, aku datang membawa mas Andika, mas Reno tidak marah kan kalau aku melanjutkan hidup dengan mas Andika?”.


Rahayu mengelus-elus nisan Reno.


“Mas Reno jangan khawatir, mas Reno akan memiliki ruang tersendiri di hatiku”.


Rahayu kembali menaburkan bunga yang ada di keranjang bawaannya hingga habis tak tersisa.


Andika lekas meraih tangan sang istri dan mengajaknya untuk lekas ke rumah orang tua Reno, karena cuaca siang itu sedang kurang bersahabat mendung dengan rintikan hujan ringan turut membasahi bumi saat Rahayu berpamitan dan meminta restu pada Reno.


“Sayang sebaiknya kita lekas ke rumah Bunda sekarang, hujan sudah mulai turun”. Tangan Andika menengadah ke atas sekan memeriksa kehadiran hujan.


“Iya Mas”.


Keduanya berlalu meninggalkan makam Reno siang itu dan bertolak ke rumah Reno.


Sesampainya di ruma Reno pasangan pengantin ini di sambut hangat oleh keluarga di sana. Rupanya ibu sudah memberi tahu Bunda jia mereka akan ke sana.


Andika dan Rahayu berencana untu menginap satu malam di rumah orang tua Reno hari itu.

__ADS_1


Waktu masih siang, Rahayu melakukan aktivitas seperti dulu yang ia lakukan ketika masih menjadi istri mendiang Reno, Rahayu turut serta berkebun dengan Bunda sedang Andika ngobrol dengan Ayah Reno.


Tak sulit bagi Ayah dan Andia untuk berinteraksi, keduanya terlihat begitu asyik saat berbicara bersama. Ayah beranggapan bahwa Andia adalah pengganti Reno yang sudah tiada, rasanya hari itu rasa rindu pada mendiang sang anak sedikit terobati tak kala saling bercerita banyak hal baik tentang pekerjaan, hobi dan wanita mereka. Tentu saja Rahayu dan Bunda.


Menjelang sore Bunda menyodorkan tiket liburan pada Rahayu. Tiket perjalanan ke Bali.


“Ambillah nak, ini hadiah dari Bunda dan Ayah untuk kalian berdua”. Tiket pesawat.


“Kenap harus repot-repot Bun?”.


“Bunda sama sekali tidak merasa di repot kan, bersiap-siaplah sekarang karena pesawat akan berangkat dua jam lagi”.


Rahayu kembali melihat tiket tersebut. Matanya terbelalak dengan sempurna kala melihat jam yang tertulis pada tiket tersebut.


“Tapi Bun, kita sama sekali tida ada persiapan untu ini”.


“Jangan khawatir, Bunda sudah menyiapkan semuanya”. Bunda memasuki kamar ren dan mengambil satu koper.


“Pergilah di sini, sudah ada baju kamu dan Andika, bukan maksud buda mengusir, lain waktu kalian bisa main kembali ke sini”.


Merasa tak enak jika harus menolak, akhirnya Rahayu dan Andika bersiap untuk pergi ke Bandara sore itu juga.


Mereka berangkat hanya berdua saja menuju Bandara Surabaya yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Reno.


Sepanjang perjalanan Andia tak bisa fokus menatap jalan, perhatian sepenuhnya terfokus pada pemandangan di sebelahnya. Salah satu tangganya menggenggam erat tangan istrinya, dan satu lagi memegang kemudi.


“Mas, jangan seperti ini bahaya”.


“Mas tak bisa jauh darimu”.


“Mas tolong, kita hanya berjarak satu meter bahkan tidak sampai”. Ucap Rahayu dengan sedikit merajuk, takut suaminya tak fokus di jalan.


TIN...TIN...TIN....

__ADS_1


Suara klakson dari belakang kendaraan mereka.


Bruk....


__ADS_2