
Hari berganti hari tak terasa aku sekarang sudah memasuki semester enam, di semester enam kini aku disibukkan dengan praktik kerja lapang, kebetulan praktik kerja lapang ku bertepatan di salah satu perusahaan kertas terbesar di Indonesia. Aku mendapat kesempatan untuk bisa magang praktek kerja lapang di PT Indah Kiat Serang Banten.
Dari jurusanku terdapat empat anak yang magang di sana, satu diantaranya cowok dan tiga lainnya cewek. Hingga memasuki semester enam aku jarang sekali untuk pulang ke daerah asalku. Aku hanya pulang setiap enam bulan sekali setelah beasiswaku cair, terkadang kesibukan kuliah dan praktikum membuatku tak pulang lebih dari satu semester.
Aku tidak bisa dengan mudah untuk pulang kapan saja mengunjungi orang tuaku, selain karena aku harus menyetrika dan mencuci baju ibu kos ku, aku juga memiliki kebiasaan kalau pulang harus menyisikan sedikit dari beasiswaku untuk ku bagi dengan orang tua dan adik-adikku.
Aku ingin mereka merasakan hal yang sama denganku untuk bisa menikmati sedikit rezeki. Liburan semester enam ini aku tidak pulang karena aku membutuhkan uang yang lebih banyak dari biasanya untuk biaya praktik kerja lapang di Serang.
Aku harus menyiapkan uang untuk biaya transportasi kereta pulang pergi dari Malang ke Serang, aku juga harus mengalokasikan dana lebih untuk biaya hidup di sana karena di sana kita tidak mendapatkan tempat tinggal jadi harus menyewa kos untuk tempat tinggal di sana.
Uang yang harus kusiapkan untuk persiapan magang kali ini membutuhkan sekitar tujuh ratus ribu hingga satu juta untuk biaya satu bulan selama di sana sekaligus transport pulang pergi Malang Serang. Selama kuliah di sini aku sama sekali tidak pernah meminta uang ke orang tuaku untuk biaya hidup, bayar kos atau apapun segala kebutuhanku. Aku berusaha memutar uang dari jualan molen donat membantu setrika dan uang beasiswaku.
“Bu maaf untuk semeter ini aku tidak bisa pulang, aku akan magang bu”, ucapku pada ibu lewat sambungan telfon.
“Magang di mana nak?”, jawab ibuku di sebrang sana.
“Di Serang Banten bu”.
“Walah jauh sekali nak, apa kamu punya uang saku nak?”.
“Sudah bu, sudah ku persiapkan semuanya, doakan Rahayu ya bu semoga semuanya berjalan lancar”.
“Aamiin nak hati-hati ya semoga segala kebaikan selalu menyertaimu”.
Ku tutup sambungan telfon ke ibu, aku yang tak pernah bisa untuk meminta pada orang tuaku, karena aku tahu kondisi di rumah jauh lebih sulit dari pada di sini.
__ADS_1
Benar saja seperti perkiraan ku kala itu tiket kereta dari Malang ke Jakarta sebesar enam puluh ribu rupiah (tahun 2013), belum untuk transport dari Jakarta menuju Serangnya, biaya sewa kos dua ratus lima puluh ribu rupiah selama satu bulan. Untuk biaya makan lumayan banyak karena harus beli makanan jadi selama satu bulan penuh.
***
Sehari sebelum keberangkatan mahasiswa yang akan mengikuti praktek kerja lapang di lakukan pembekalan terlebih dahulu oleh pihak akademik. Pembekalan dilakukan di aula gedung F lantai enam. Acara pembekalan dimulai pukul sembilan pagi dan diikuti oleh semua mahasiswa yang akan melakukan praktek kerja lapang. Pembekalan di jadwalkan berakhir pukul sebelas siang.
Masih di lantai yang sama dan gedung yang sama namun bersebrangan juga sedang dilangsungkan acara pembekalan tugas akir oleh angkatan 2010. Sekilas aku mataku mencari-cari seseorang yang sudah lama sekali tak pernah kulihat selama ini.
Aku sengaja berjalan dengan sangat lamban saat melewati lorong lantai enam menunju aula tempat pembekalan tersebut. Aku ingin melihat seseorang yang tak pernah mau pergi dari hati dan pikiranku. Tidak ada maksud apa-apa aku hanya ingin melihat dan memastikan bahwa dia dalam keadaan baik-baik saja.
“Yu cepetan kenapa jalannya sudah kayak putri keraton solo saja, kamu mau tidak dapat kursi nanti”, Nina yang sudah tidak sabar mengikuti langkahku lekas menarik tanganku menuju aula dengan cepat.
“Tunggu ah, belum mulai juga acaranya masih kurang sepuluh menit, lagian kursinya juga sudah di hitung kali sesuai jumlah peserta yang akan mengikuti pembekalan bahkan pasti dilebihkan”, jawab Rahayu mencari-cari alasan untuk mengulur sedikit waktu berharap bisa melihat pujaan hatinya.
“Tidak mungkin, udah pelan-pelan saja biasanya anak-anak juga pasti memilih kursi yang di tengah atau yang dibelakang dulu baru yang di depan”. Rahayu masih mencari alasan untuk memperlambat jalannya sambil melihat sekeliling lorong lantai enam tersebut.
Sepertinya kali ini semesta mendukung keinginan Rahayu, suatu keberuntungan Rahayu bisa melihat sosok yang di carinya dari kejauhan.
“Masih sama kamu mas tetap genteng dan berwibawa”, tanpa sadar bibir Rahayu tersenyum melihat lelaki itu.
“Kamu kenapa senyum-senyum Yu?”, Nina lekas menyenggol lengan Rahayu.
“Eh tidak ada apa-apa”. Jawabnya dengan gugup.
“Em jadi ini alasan jalannya di perlambat seperti putri keraton Solo mau lihat pangeran berbaju putih, hati-hati Yu itu permaisurinya ada di sampingnya”. Ujar Nina mengingatkan Rahayu.
__ADS_1
Rahayu Tidak bergeming masih saja menatap pemandangan indah yang ada di sebrang ruangan sana, tanpa sengaja mata mereka bertemu. Andika pun melihat Rahayu. Tatapan mereka berlangsung dalam beberapa detik tanpa saling senyum atau interaksi. Meraka hanya saling menatap dengan perasaan yang entahlah.
Nina lekas menari tangan Rahayu, hal ini menyadarkan Rahayu dengan apa yang sudah dilakukan barusan.
“Kamu mau dilabrak mak lampir lagi”, bisik Nina di telinga Rahayu.
Rahayu lekas tersadar dan segera meninggalkan tempat tersebut.
“Ganteng banget nin, ganteng banget sumpah”. ucap Rahayu memuji ciptaan Allah tersebut.
“Ganteng sih iya, tapi bajunya tidak pernah ganti, kalau tidak merah, biru ya putih udah kayak lampu setopan”. Jawab Nina meledek.
“Padahal dia kan orang kaya ya Yu tapi kok bajunya itu-itu saja yang dipakai”.
“Mas Andika itu orangnya sederhana Nin dia tidak pernah berlebihan dalam berpenampilan, kamu tau sepeda motor nya banyak bahkan mobilnya juga lebih dari satu tapi yang biasa dipakai saat ke kampus vario saja”, Rahayu menceritakan sedikit tentang Andika.
Saat mereka sedang asik bercerita dan bersandar di pintu masuk aula, Eki datang menuju arah mereka. Dia berjalan dengan penuh percaya diri dan elegan. Iya orang yang tidak tahu sifat aslinya lelembut satu ini pasti di kira bidadari.
“Nah kan mati kita Yu”, ucap Nina yang mulai cemas begitu juga dengan Rahayu. Tangan Rahayu dan Nina saling bergandengan dan meremas kala itu.
“Katanya kamu tidak takut Nin sama dia, tolongin aku Nin”. Bisik Rahayu.
Eki semakin mendekat menuju mereka.
“Minggir”, ucapnya dengan ketus dan tatapan yang tajam.
__ADS_1