
“Duh kenapa lagunya pas banget begini, sengaja apa bagaimana ini orang”, ucap Rahayu yang hanya mampu di ungkapkan dalam hatinya.
“Em gang depan itu mas belok ke kanan rumah warna cream yang depan rumahnya ada pohon mangganya”, Rahayu memecah keheningan diantara keduanya seraya menunjukan jalan.
“Oh iya sayang”.
Sesampainya di depan rumah ibu dan bapak tak kunjung menyambut kedatangan kami berdua. Ibu tidak tau jika yang datang adalah kami karena biasanya aku kalau pulang menggunakan sepeda motor. Ibu dan bapak hanya bengong menunggu di depan pintu tanpa menghampiri kami.
Beberapa saat kemudian setelah mesin motor dimatikan dan mas Reno membukakan pintu untukku ibu dan bapak langsung tersenyum sumringah melihat kedatangan kami.
“Assalamualaikum ibu bapak Rahayu pulang”. Sapaku dari halaman rumah dan berjalan mendekat ke arah ibu bapak.
“Wassalamu'alaikum walah cah ayu sudah datang ibu kira siapa yang datang biasanya kan pakai sepeda motor”. Ibu langsung menyambut dan memelukku sedangkan mas Reno berjalan mengikuti ku dibelakang dengan membawa segenap printilan oleh-oleh yang sudah ku siapkan.
“Assalamualaikum, ibu bapak saya Reno”. Ucap mas Reno memperkenalkan diri dan mencium tangan bapak ibu seperti yang aku lakukan.
“Oh ini yang namanya nak Reno, masyaallah ganteng sekali”. Ucap ibu seraya menyusul kami berdua bergegas masuk kedalam rumah.
Seperti prediksi yang sudah aku perkirakan ibu dan bapak pasti senang sekali dengan kedatangan mas Reno ke sini seperti mendapat durian runtuh maklum ibu dan bapak benar-benar takut jika aku akan menjadi bahan gunjingan tetangga dengan sebutan perawan tua, selain itu aku juga tidak pernah mengenalkan satu orang pria pada orang tuaku membuat ibu dan bapak berpikir jika aku tidak pernah suka sama orang.
“Monggo silahkan duduk nak, maaf rumahnya Rahayu kecil sederhana maklum orang desa”, ucap ibu basa-basi merendahkan diri.
“Ah tidak bu sama saja, saya malah suka sekali susana seperti di sini masih asri banyak pohon-pohon hijau”. Ucap mas Reno menjawab yang tak kalah membuat hati ibuku semakin bahagia sekali melihat kesederhanaan mas Reno.
“Ayo Yu siapkan makan dulu untuk tamu penting kita, biar nak Reno ngobrol-ngobrol dulu sama bapakmu”. Ibu menggandengku untuk mengikutinya kebelakang menyiapkan makanan. Aku bergegas mengikuti perintah ibu.
__ADS_1
Aku menaruh beberapa barang bawaanku terlebih dahulu serta menganti pakaian sebelum membantu ibu untuk memasak ke dapur.
“Yu nak Reno sukanya makan apa?”.
“Makan apa saja sepertinya suka semuanya bu”. Jawabku dengan asal bagaimana tidak aku sendiri tidak tau makanan, minuman atau hal-hal lainnya kesukaan mas Reno apa, mungkin bisa dikatakan aku kekasih durhaka yang tidak tahu hal-hal sederhana pasangannya.
“Kamu itu Yu, masak lalapan sambal ikan goreng saja ya kebetulan bapak habis mancing tadi malam jadi ikannya masih segar-segar”. Tutur ibu panjang lebar yang heboh sendiri masak untuk calon mantu katanya.
Beberapa saat kemudian semua makanan sudah terhidang di atas meja aku lekas memanggil mas Reno dan bapak untuk makan bersama. Sepanjang makan bapak dan mas Reno berbicara banyak hal seperti sudah akrab sekali.
“Kenapa mereka bisa akrab sekali? Bagaimana ini apa aku bisa memenuhi harapan mereka semua”, Rahayu memandang satu persatu orang yang berada di meja makannya. Sebenarnya masakan ibu enak sekali tapi melihat pemandangan begini membuat perutku seketika menjadi penuh.
“Ibu bapak jadi sebenarnya maksud kedatangan saya ke sini selain mengantarkan Rahayu pulang saya juga ingin meminta restu ibu dan bapak, saya ingin menjalin hubungan yang lebih serius dengan anak ibu-bapak. Jika ibu dan bapak berkenan saya ingin melamar Rahayu”. Ucap mas Reno dengan sangat lancar nya tanpa grogi sama sekali.
Uhuk uhuk aku tersedak mendengar ucapan mas Reno barusan, mengapa secepat ini kenapa tidak tanya aku terlebih dahulu apa aku sudah siap atau belum.
Tanpa kusadari aku meminum satu gelas penuh hingga habis.
“Duh nak dilamar orang ganteng langsung grogi,”. Ucap ibu menggodaku.
"Haus sekali ya nak sampai minum satu gelas penuh habis semuanya".
“Jadi bagaimana bu pak? Apakah ibu dan bapak merestui kami?”. Mas Reno meremas satu tanganku dengan lembut dan memandangku dengan senyuman di hadapan ibu dan bapak.
“YaAllah pengen ngilang saja rasanya”. Ucap Rahayu dalam hati.
__ADS_1
“Ibu dan bapak merestui nak, semua ibu dan bapak serahkan sama Rahayu jika Rahayu bersedia silahkan lekas percepat waktunya”. Bapak menjawab dengan pelan dan yakin.
“Biar aku pikirkan dulu mas, tanggung jawabku masih banyak harus menyekolahkan adik-adikku terlebih dahulu”.
“Tidak masalah sayang aku mampu mencukupi semuanya”. Jawaban mas Reno membuat ibu bapak tersenyum hangat. Sebenarnya bukan masalah mas Reno mampu menyekolahkan adik-adikku tapi ibu dan bapak terharu ada pemuda yang mau bertanggung jawab penuh pada keluargaku.
“Baiklah nak Reno silahkan berunding terlebih dahulu dengan Rahayu, ibu dan bapak hanya bisa mendoakan segala kebaikan untuk kalian berdua”.
“Baik bu jika Rahayu bersedia bulan depan saat libur saya akan membawa orang tua dan keluarga untuk datang ke sini melamar Rahayu”.
Astaga ini apa-apaan pake lamar-lamar segala, hubungan saja masih jalan ditempat kenapa harus membahas hal yang terlalu jauh.
“Ibu bapak sepertinya sudah sore saya ijin pulang dulu ya pak bu, sebenarnya saya betah sekali di sini tapi tidak mungkin saya bermalam disi”. Mas Reno berpamitan pada kedua orang tuaku.
“Di tunggu nak Reno kedatanganya”. Ucap ibu seraya mengantarkan mas Reno sampai depan pintu, tak lupa ibu memberikan bingkisan oleh-oleh kecil untuk orang tua mas Reno.
“Minggu depan saya ke sini lagi bu jemput Rahayu”.
“Hati-hati mas”. Ucapku singkat seraya menerima uluran tangan mas Reno untuk bersalaman.
Mobil mas Reno berlalu meninggalkan pelantaran rumah ku, aku ibu dan bapak bergegas masuk ke dalam dan membereskan beberapa makanan sisa tadi.
“Nak bagaimana perasaan kamu sama Reno? Sepertinya dia anak yang baik tutur katanya juga sopan ibu suka sama dia”. Ucap ibu seraya mencuci beberapa piring sedangkan aku duduk di kursi melihat ibu membersihkan cucian piring yang hanya ada beberapa saja.
“Entahlah bu sebenarnya aku masih ingin sendiri aku belum siap untuk berkeluarga”.
__ADS_1
“Kenapa tidak siap, ingat nduk ingat umur kamu, umur ibu bapakmu yang sudah tidak muda lagi, kami ingin lekas menimang cucu mengajaknya jalan-jalan membelikan jajan dan mainan”. Ibu menepuk-nepuk punggung Rahayu.
“Cucu-cucu emang bikin cucu mudah”. Batin Rahayu dalam hati.