Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
68


__ADS_3

Menjelang waktu magrib aku sudah sampai di kota tempat tinggalku, terlihat ibu dan bapak yang sudah bersiap menjemputku di tempat pemberhentian bus. Aku memang sudah dewasa bahkan bisa di katakan perawan tua kalau kata orang-orang di desa tempat tinggalku tapi ibu dan bapak slalu memperlakukanku seperti anak kecil. Mereka akan sangat khawatir jika aku pergi dan tak pulang dengan tepat waktu. Mereka juga slalu antusias untuk menjemput di pemberhentian bus meskipun sebenarnya aku bisa jika naik ojek sendiri.


“Sendiri saja nak? Mana nak Reno?”. Ibu tambak celingak-celinguk mencari keberadaan mas Reno, berharap besar aku pulang membawanya karena aku kemari pamit pada ibu dan bapak untuk ke Malang ada urusan pekerjaan.


“Iya bu sendiri saja, mau sama siapa lagi?”. Jawabku pada ibu yang tampak kecewa.


“Ibu kira kamu pulang sama nak Rano, bukankah kalian habis bekerja bersama”.


“Kita sudah putus buk”. Jawabku pada ibu tanpa berani menatap mereka.


“Apa? Putus? Kenapa harus putus?”. Ibu dan bapak menjawab bersamaan. Tampak kekecewaan terpancar pada wajah mereka. Terdengar helaan nafas yang berat pula.


“Apa kalian bertengkar?”.


“Ah tidak bu, Rahayu yang salah”. Jawabku dengan sedikit lebih tenang.


“Pertengkaran dan perbedaan pendapat dalam hubungan itu sudah bisa nak, kalian sudah sama-sama dewasa bukan anak kecil lagi. Bukan waktunya untuk main-main putus nyambung putus nyambung. Apa sebaiknya tidak di omongkan kembali jika memang ada masalah yang harus diselesaikan maka selesaikan dengan segera”.


“Tidak bu, aku tidak mau membuat mas Reno semakin terluka dengan hubungan kami. Mas Reno orang baik pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dariku. Aku istirahat dulu ya bu”. Aku bergegas menuju kamar untuk berganti baju dan beristirahat sejenak setelah lelah dalam perjalanan.


“Hay mas aku sudah sampai dari sebelum magrib tadi”. Ku kirim pesan wa ke mas Andika mengabarkan jika aku sudah sampai rumah, seperti janjiku padanya untuk memberi kabar.


Pukul sembilan malam ku kirim pesan kembali pada mas Andika karena pesanku tak kunjung di balas olehnya.


“Assalamualaikum mas”.


Satu jam kemudian aku kembali mengirim pesan pada mas Andika.


“Mas”. sapaku padanya dan ku kirim pesan Wa tersebut.


Waktu sudah beranjak malam tapi tak kunjung ada balasan pesan dari mas Dika. Bahkan pesan yang aku kirim hanya centang satu saja pertanda belum masuk pesan tersebut.


“Mungkin mas Dika sedang sibuk”.Ucapku dalam hati kemudian melanjutkan untuk tidur saja karena memang sangat capek sekali seharian berkeliling dengan mas Dika di Mall.


***


“Mbak bangun mbak ada yang mencarimu”. Badanku diguncang-guncang dengan pelan oleh adik bungsuku.

__ADS_1


“Mbak ada yang mencari tuh di depan, orangnya ganteng sekali pasti mbak Rahayu senang sekali melihatnya”.


“Siapa dek?”. Tanyaku dengan mengumpulkan segenap nyawa karena baru saja bangun tidur. Aku bangun sedikit lebih siang dari bisanya mumpung tidak sholat dan tubuhku lelah sekali.


Hal yang pertama kali terlintas dalam benakku adalah pati mas Andika, karena dari kemarin mas Dika ingin sekali bertemu orang tuaku.


“Kenapa tidak kasih kabar dulu sih kalau mau ke sini”. Ucapku dalam hati dengan bersorak ria.


Aku lekas bangkit dari tempat peristirahatanku dengan cepat menuju kamar mandi. Terlalu bersemangat membuatku tidak menyempatkan diri untuk mandi. Aku tidak sabar untuk lekas bertemu dengan mas Andika. Aku hanya mencuci muka dan menggosok gigi saja.


“Senangnya yang mau ketemu pujaan hati".


Goda ibu padaku.


"Semangat sekali sampai dandan pula".


“Ah ibu aku hanya memakai lipstik sedikit agar tidak terlihat pucat”.


"Jadi gimana Bu apa aku sudah cantik?". tanyaku pada ibu dengan semangat dan bahagia sekali.


Belum selesai mengucapkan kata-kata aku sudah lari ke depan.


Blus


Pipiku memerah tak sabar untuk bertemu dengannya. Rupanya tak menjawab pesan Wa malah langsung disamperin ke rumah. Aku menghela napas panjang-panjang dan menghembuskannya.


Santai Rahayu santai.


Mas Andika.


Aku gugup takut ibu dan bapak kaget saat akan mengenalkan mas Dika sebagai kekasih baruku sedangkan hubunganku dengan mas Reno baru saja kandas.


Aku melenggang menuju ruang tamu dengan hati berbunga-bunga untuk menemui pujaan hati.


Sesampainya di ruang tengah aku melihat seorang lelaki sedang berbicara dengan bapak. Sekilas terlihat obrol mereka tampak asyik sekali.


“Wah ternyata bapak juga welcome sama mas Dika, bagus deh aku tak harus menjelaskan panjang lebar pada bapak dan ibu”. Ucapku dalam hati seraya menuju ruang tamu.

__ADS_1


“Wah ini dia yang di tunggu-tunggu sudah datang, Tumben bangun kesiangan sepertinya kelelahan. Biasanya sebelum subuh sudah bangun. Yu lihat siapa yang datang”.


Bapak tampak bahagia sekali pagi itu menyambut kedatangan pria tersebut.


Pria tersebut memalingkan wajahnya. Dan..


Aku kecewa karena bukan mas Andika yang datang mengunjungiku. Seketika lengkung senyum pada bibirku berubah ke bawah”.


“Rahayu”. Mas Reno berdiri menghampiriku yang tengah diam mematung.


Mas Reno kenapa datang ke sini?.


Kenapa wajahnya kusut sekali?.


Ah aku lupa itu pasti karena ulahku.


“Lo mas Reno kenapa ke sini?”. Tanyaku dengan heran.


“Kalian lanjut ngobrol dulu ya, ibu dan bapak mau ke sawah dulu ada beberapa pekerja yang sedang menggarap sawah hari ini”. Ibu dan bapak berlalu meninggalkan kami berdua sengaja untuk memberikan ruang pada kami agar menyelesaikan masalah hanya berdua.


Aku tidak berani menatap wajah mas Reno, pasti mas Reno sudah membaca pesan Wa ku semalam. Aku terlalu pengecut untuk menyelesaikan masalah ini. Aku duduk di kursi berhadapan dengan mas Reno bersiap-siap untuk memberikan alasan pada mas Reno tentang pesan Waku kemarin.


“Silahkan duduk mas, aku mau buat minuman dulu”. Ucapku pada mas Reno kembali mempersilahkan untuk duduk.


“Tidak usah repot-repot Yu”, Mas Reno lekas duduk di depanku. Sedang aku berlalu ke dapur untuk membuatkan minuman.


Sengaja aku berlama-lama ketika membuat minuman, aku bingung untuk memulai dari mana menjelaskan pada mas Reno tentang keputusanku.


“Yu sudah belum?”. Teriak mas Reno dengan nada yang serak memanggil ku karena dirasa terlalu lama untuk ukuran membuat teh.


“Oh iya mas”. Aku lekas menuju ruang tamu dengan membawa dua gelas teh manis.


Kami kembali duduk saling berhadapan terpisah oleh meja. Mas Reno menatapku dengan lekat dan sangat tajam. Wajahnya mencerminkan hatinya terlihat sangat rapuh dan tak berdaya.


“Yu aku sudah membaca pesanmu. Bisa kamu katakan alasan mengapa kamu berniat mengakhiri hubungan kita?”.


Matanya mas Reno memerah suaranya bergetar mengatakan pertanyaan itu padaku.

__ADS_1


__ADS_2