Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Keluar Kota


__ADS_3

“Apa boleh?”. Jawabnya kembali pada Rahayu.


“Boleh”.


“Karena Rahayu memaksa, jadi aku bersedia untuk makan malam di sini toh di rumah juga aku tadi belum sempat masak, sekalian bisa makin akrab gitu ya sama kalian”, jawab Merisa tanpa rasa bersalah sedikitpun.


“Siapa juga yang memaksa aku cuma menawarkan bosa-basi saja”, keluh Rahayu dalam hati yang tak sampai ia ucapkan, namun cukup dengan menekan sendok di atas piringnya dengan begitu kuat.


“Ayo mari makan”, Rahayu mencoba meramah-ramahkan dengan tersenyum kecut.


Tangan Rahayu lekas terulur untuk mengambilkan makanan suaminya, mengisi satu piring nasi dengan lauk udang asam manis dan tongseng kangkung.


Suasana makan malam dalam rumah tersebut tampak canggung sekali dengan kehadiran orang asing dalam meja makan, biasanya Rahayu dan Andika menghabiskan makan malam dengan romantis saling bercerita dan gombal tak jarang mereka juga saling menyuapi satu sama lain. Berbeda dengan malam ini, hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu dalam meja makan.


Andika pun menyelesaikan makannya lebih cepat dari biasanya, agar Merisa tetangga barunya lekas pulang. Namun baik Andika maupun Rahayu harus menekan sedikit rasa kecewanya kembali karena setelah makan Merisa pun masih enggan untuk pulang. Hampir sepanjang perjalanan makan malam Merisa menatap wajah Andika. Sesekali Rahayu meliriknya dengan kesal.


Pukul sembilan malam, Merisa tak kunjung pulang juga, ia turut serta dengan Rahayu dan Andika yang sedang melihat tv. Sungguh benar-benar canggung malam itu, Rahayu dan Andika tak leluasa untuk bermesraan bersama.


“Sayang, lusa aku keluar kota ke Jogja jadi bisakah kamu menyiapkan semua barang-barang yang akan aku bawa?”. Andika memberikan kode pada Rahayu untuk mengiyakan perintahnya.


Rahayu yang menyadari hal itu langsung mengiyakan perintah dari sang suami.


“Mer, maaf ya sepertinya aku harus menyiapkan keperluan suamiku yang akan ke Jogja lusa, mas Dika juga mau istirahat aku tidak enak jika kamu harus sendirian di ruang tamu seperti ini”.


“Oh begitu ya, kalau begitu aku pamit dulu ya, besok aku main lagi ke sini”.


Pamitnya pada Rahayu dan Andika yang kemudian keduanya mengantarkan Merisa ke depan pintu ruang tamu.


“Enak saja besok main lagi ke sini, orang aku bermain sama istriku”, gerutu Andika yang langsung menggendong istrinya untuk di bawa ke kamar.


“Mas turunin, aku takut jatuh”, teriaknya dengan canda tawa keduanya menuju kamar.

__ADS_1


Rahayu berulah dengan sengaja sepanjang perjalanan menuju lantai dua, tangannya aktif sekali masih dalam gendongan Andika tangannya tergerak untuk membuka satu persatu kancing baju suaminya.


“Wah mulai nakal nih, kamu kok jadi meresahkan sayang”. ucap Andika yang ingin lekas sampai kamar.


“Mau naikin imun kan mas?, sini biar aku bantu”.


Keduanya menuju kamar dan lekas menutup rapat ruangan tersebut untuk saling memberikan imun satu sama lain, demi kesehatan jiwa dan raga.


***


Sementara itu, sepulangnya dari rumah Rahayu dan Andika merisa juga turut serta berkemas. Sepertinya kan asyik ke Jogja sama mas Andika, begitulah kira-kira yang ada dalam pikiran Merisa. Benar saja dia akan menyusul ke Jogja.


Membayangkan saja sudah cukup membuat Merisa bahagia, hingga tak sabar menunggu hari esok. Merisa akan menginap di hotel yang sama dengan Andika menginap bukankah Rahayu tak turut serta ke sana jadi dia semakin leluasa untuk menggoda suami tetangga barunya.


Merisa memesan kamar hotel yang sama dan tepat bersebelahan dengan kamar Andika, Merisa mengetahui lokasinya tepatnya Andika karena tak sengaja mendengar sayup-sayup obrolan Andika dan Rahayu. Tiga hari menghabiskan waktu dengan orang seganteng dan sekeren mas Dika sungguh sangat menantang dan akan menjadi hal baru untuknya.


***


Benar saja, pagi harinya sebelum Rahayu membuka pintu rumahnya Merisa sudah bersiap di depan rumahnya untuk menyambut kedatangan tetangga barunya yang keluar dari rumah.


“Iya”, jawabnya dengan begitu jutek dan singkat.


Tak berselang lama Andika berpamitan pada istrinya untuk berangkat ke luar kota dalam tiga hari ke depan. Rasanya berat sekali bagi Andia untuk menjalankan tugas ini, tak tega meninggalkan Rahayu sendirian di rumah namun juga tak bisa membawanya turut serta karena ini memang tugas dari kampus.


“Aku tak papa mas, pergi saja”. Dengan tersenyum Rahayu mengatakan hal itu.


Senyum yang begitu teduh dan menenangkan membuat Andika tak bisa berlama-lama meninggalkan istrinya.


“Aku pasti sangat merindukanmu sayang”.


“Mas Dika boleh kapan saja menghubungiku, aku siap untuk itu”.

__ADS_1


Kini keduanya saling bersalaman dan, Rahayu mencium punggung tangan suaminya sedang Andika dengan cukup lama mencium kening istrinya. Keduanya berpelukan di dalam rumah, rasanya benar-benar enggan untuk meninggalkan istrinya.


Perlahan Andika mulai melepaskan pelukannya, dan berjalan menuju mobil Rahayu melambai-lambaikan tangannya.


“Hati-hati mas”, teriaknya saat mobil Andika mulai meninggalkan pekarangan rumah mereka.


Tak berselang lama, ada taxi on line yang datang dan berhenti tepat did depan rumah Merisa.


Beberapa detik kemudian Merisa sudah bersiap dengan dandanan yang siap untuk pergi dan membawa serta koper kecil di tangannya.


“Mau kemana Mer?”, sapa Rahayu dari sebarang rumahnya.


“Mau jalan-jalan Yu, bosen di rumah sendirian terus, aku mau ke Jogja tiga harian lah nanti di sana. Kamu baik-baik ya di rumah sendirian”. Dengan sigap Merisa yang di bantu pengemudi taxi tersebut memasukan kopernya ke dalam bagasi mobil. Tangannya turut melambai-lambai pada Rahayu kala mobilnya meninggalkan area rumah.


Rahayu hanya tersenyum kecut melihat tingkah tetangga barunya yang begitu ajaib.


Kini Rahayu mulai melangkahkan kakinya menuju dapur bersiap untuk membersihkan dapur usai memasak tadi. Tangannya mulai beradu dengan gelas dan piring kotor yang ada di meja makan sisa sarapan, dengan cekatan membawanya ke dalam wastafel dan mulai menyalakan air.


Hoek...Hoek...


Tiba-tiba Rahayu merasakan mual yang tiada terkira ketika sedang mencuci piring, bau gelas dan piring dalam wastafel tersebut begitu sangat menyengat luar biasa.


Hoek...


Rahayu mengurungkan niatnya untuk mencuci piring, karena memang benar-benar tak tahan dengan bau yang ada.


“Perasaan biasanya juga tidak papa deh, kok sekarang jadi mual sekali, mungkin asam lambungku naik gara-gara di tinggal mas Dika tiga hari ke keluar kota”, ucapnya dalam hati menimbang-nimbang dan mencoba mendiagnosa apa yang sedang terjadi padannya.


***


Sesampainya di Yogja Merisa langsung melangkahkan kaki menuju hotel yang di sebutkan Andika kemari ketika berbicara dengan Rahayu.

__ADS_1


“Mbak saya mau pesan kamar yang bersebelahan dengan kamar customer atas nama Andika”, ucapnya pada resepsionis hotel di lobi itu.


“Andika?”.


__ADS_2