Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Perkenalan Dosen


__ADS_3

Setelah berjalan-jalan seharian dengan Dania, Rahayu kembali ke rumahnya dengan perasaan yang bahagia. Seperti yang sudah di rencanakan ketika sampai rumah dia akan kelelahan dan dengan mudahnya dapat tertidur dengan pulas.


.


.


.


Sementara itu masih di Kota yang sama seorang lak-laki dengan umur yang tak lagi remaja sedang berhadapan dengan keda orang tuanya.


Ya Andika.


“Papa ingin mengenalkan kamu dengan salah satu anak teman papa Dik”. Tutur papa dengan begitu santainya sambil menyeruput secangkir kopi yang ada di depannya.


Andika hanya membulatkan mata saja mendengar penuturan papanya.


“Dia anak baik-baik, dari keluarga baik-baik cantik juga”.


“Jangan bilang Eki lagi”. Batin Andika dalam hatinya.


“Sudahlah Dika, ikuti saja kata-kata papa kamu, lagian kami sudah berumur. Apa kam tidak ingin memberikan kami cucu-cucu yang lucu dan mengemaskan’.


Mama memperagakan sedang menggendong cucu kecil.


“Tapi pa ma”. Wajah Andika memelas memohon untuk tidak di jodohkan dengan anak teman mereka untuk kesekian kalinya.


“Kalau kamu tidak menerima perjodohan ini tak apa, tapi dengan satu syarat dalam waktu satu tahun ke depan kamu harus sudah memperkenalkan calon istri ke kami”.


“Ya setidaknya nanti kalian tunangan dulu lah”.


Papar sang papa menjelaskan.


Andika memijat-mijat kepalanya yang tampak pusing memikirkan permintaan orang tua mereka.


Andika memang ingin lekas menikah tapi bukan berarti dengan wanita sembarangan, Andika ingin menikah hanya sekali seumur hidupnya. Andika ingin menikah hanya bersama dengan wanita yang benar-benar di cintainya.


Setelah berbicara banyak hal dengan kedua orang tuanya Andika kembali melangkah ke kamar dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


***


Satu minggu kemudian.


Sesuai dengan titah dari sang dosen yang ganteng menurut versi dosennya. Rahayu lekas mencari jurnal internasioanl yang sedang hits di bahas dalam beberapa kurun waktu minggu tersebut.


Cukup lama Rahayu berotak-atik dengan laptop, berselancar mencari jurnal-jurnal internasional yang di butuhkan untuk besok.


Kelengkapan fasilitas yang tersedia di dalam rumah tersebut cukup membantu Rahayu ketika mengerjakan tugas tersebut. Sudut matanya sedikit berembun kala mengingat dulu saat kuliah sarjana, untuk mengerjakan tugas saja harus berlama-lama di perpustakaan, karena tidak memiliki komputer dan wifi.


“Alhamdulilah’, begitulah kira-kira ucapan yang tak henti-henti Rahayu ucapkan.


Berdering.


“Assalamualaikum nak, bagaimana kabarnya?”.


“Waalaikumsalam, alhamdulilah bunda Rahayu sehat, bunda dan ayah bagaimana?”.


Sesuai dengan janjinya, ayah dan bunda Reno benar-benar memperlakukan Rahayu seperti anak kandungnya sendiri.


“Sehat juga nak, bagaimana kuliah kamu?”.

__ADS_1


“Alhamdulilah bunda lancar, ini sedang mengerjakan tugas”.


“Bunda ganggu nak?”.


“Tidak kok bun, ini sudah hampir selesai”.


“Ya sudah lanjutkan belajarnya nak, jangan capek-capek jangan lupa makannya. Oh ya satu lagi jangan sukan-sakan kalau butuh sesuatu”.


“Iya bun trimakasih”.


Perlakukan keluarga Reno tak ada yang merubah mereka tetap baik meski Reno sudah tidak ada. Hingga Rahayu terkadang merasa jadi anak yang manja dalam hal perhatian.


Padahal jika teringat dengan kisahnya yang dulu Rahayu hidup dalam keterbatasan, semaunya dia kerjakan sendiri, semuanya di pikir sendiri di usia yang masih sangat muda, sedangkan sekarang di usianya yang semakin matang semakin banyak orang yang menyayanginya kehidupannya pun sudah berubah lebih baik tak lagi hidup dalam kekurangan.


***


Pagi harinya Rahayu seperti biasa akan bangun lebih pagi bahkan sebelum azan berkumandang.


Rahayu kembali melirik jam di ruang tengah.


"Masih jam enam pagi, kuliah jam sepuluh, mau ngapain ini gabut sekali?”.


“Coba ada mas Reno, pasti pagi ini aku menyiapkan sarapan untuknya, menyiapkan sarapan paginya dan menyiapkan bajunya”.


Tes


Air matanya kembali menetes mengingat sang suami.


Tok..tok..tok...


“Permisi apakah ada orang di dalam?”.


Seorang wanita hamil dengan perut yang besar sekali.


"Permisi apakah ada orang di dalam, saya mau minta tolong”.


Ucap perempuan itu dengan nada merintih seperti sedang menahan rasa sakit.


Menyadari hal itu Rahayu langsung membukakan pintu rumahnya.


“Iya mbak ada apa?”.


“Mbak bisa minta tolong antarkan saya ke rumah sakit?, sepertinya saya mau melahirkan”.


Rahayu tampak mengamati wanita itu yang semakin merintih menahan rasa sakit.


“Mbak bagiamana? Bisa antar saya sebentar ke rumah sakit? Kebetulan suami saya sedang ke luar kota saya tinggal sendiri di sini”.


“Mbak tunggu sebentar ya, saya mau ganti baju dulu dan ambil kunci”.


Tanpa berfikir panjang mendengar penuturan wanita tersebut, Rahayu lekas berlari ke dalam rumah.


“’Masih jam tujuh pagi juga, kuliah masih lama”. Batin Rahayu dalam hati.


Rahayu bersiap-siap ganti baju sengaja menggunakan baju yang bisa di pakai untuk kuliah nanti, tak lupa Rahayu juga membawa tugas yang sudah di persiapkan semalam.


Kedua wanita tersebut bersiap untuk ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit Rahayu lekas mengantarkan wanita tersebut ke IGD untuk pemeriksaan, karena tidak ada saudara yang ada jadi Rahayu memutuskan untuk menunggu sebentar wanita tersebut sampai keluarga ada yang bisa di hubungi.

__ADS_1


Beberapa kali Rahayu mencoba menghubungi nomor dari suami dan saudaranya tersebut tapi sayangnya tak ada yang bisa di hubungi sama sekali. Karena tak tega dengan kondisi sang ibu yang hendak melahirkan tersebut, Rahayu memutuskan untuk menemani sebentar sampai ada yang datang.


***


Kampus.


Sementara itu di kampus dosen muda yang ganteng sedang senyum-senyum dalam ruangannya, membayangkan wajah kucing itu seperti apa?.


“Apakah dia seorang gadis?”.


“Apakah dia seorang janda?”.


“Atau bahkan mungkin juga sudah ibu-ibu paruh baya?”.


Andika tertawa, geli sendiri membayangkan hal itu.


“Semoga saja masih muda dan cantik”. Doa dan harapannya dalam hati sebelum melenggang masuk ke dalam kelas.


***


“Selamat pagi semana...!”.


Semau perhatian dalam kelas tersebut langsung tertuju pada sumber suara.


“Siang juga pak”. Kompak sema penghuni kelas menjawab pertanyaan tersebut.


Andika memindai isi kelas tersebut, sebagian dari mereka tampak berusia matang tapi sebagian lagi masih muda-muda seperti baru lulus sarjana.


Bibirnya terangkat tersenyum, hatinya berdoa semoga kucing adalah salah satu dari penghuni kelas ini yang sesuai dengan harapannya.


“Ya Allah ganteng sekali”.


“Ganteng banget”, ucap salah satu mahasiswi dengan mengelus-elus perutnya seperti sedang hamil dan berdoa semoga anaknya bisa memiliki wajah seperti sang dosen.


“Keren kalau begini betah banget kuliah, bening banget dosennya”.


Dan masih banyak ucapan lagi yang terdengar dalam kelas tersebut.


“Hem mohon maaf atas keterlambatan saya minggu lalu, tapi sebenarnya saya datang ke sini hanya saja sudah tidak ada mahasiswa tersisa sama sekali”.


“Jadi bagaimana kita mau langsung pelajaran apa kenalan dulu?”.


Kenalan dong pak”.


Kompak kelas tersebut menjawab, ya sekalipun tak lagi remaja tapi mahasiswa magister jga butuh hiburan yang segar-segar.


“Tak kenal maka tak sayang pak”. Ucap Dania menambah kehebohan kelas tersebut.


Huhuhu


“Oh tidak bagi saya tak kenal maka ta’arufn ya!”.


Ucapan Andika semakin membuat gadung kelas tersebut.


Matanya kembali memindai satu per satu mahasiswa dalam rungan tersebut mencari dan menebak-nebak keberadaan kucing.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2