
Malam harnya, tepatnya setelah magrib Rahayu sedang di sibukan dengan kegiatan barunya menyiapkan makan malam untuk menyambut kedatangan suami. Rahayu memasak sendiri semua makanan untuknya dan suami, baik itu sarapan pagi maupun makan malam. Rahayu juga akan memasak dua kali setiap harinya demi untuk menyajikan yang terbaik pada suami.
Malam itu, Rahayu masih di sibukan dengan kegiatan memasaknya, tiba-tiba terdengra suara ketukan pintu rumahnya. Rahayu melirik sekilas jam dinding yang ada di rumahnya, pukul 18.15 seharusnya Andika belum pulang karena tadi sang suami berpamitan akan pulang di atas jam tujuh malam.
Rahayu lekas menuju pitnu namun, sebelumnya ia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk mengintip dari tirai ruang tamunya siapa yang datang. Rupanya tetangga barunya yang tadi pagi sempat saling berkenalan.
“Merisa?”.
Rahayu lekas segera membukakan pintunya.
“Halo, Rahayu kamu sedang apa?”, sapanya dengan senyuman penuh semangat.
“Aku sedang meyiapkan makan untuk makan malam”.
“Bolehkah aku main sebentar?, aku bosen sendririan di rumah”.
Serunya dengan melangkah masuk ke dalam rumah tersebut, meskipun Rahayu belum sempat untuk menjawab pertanyaanya. Wajah Merisa tersenyum tipis begitu memasuki area rumah Rahayu.
Matanya memandang sekeliling rumah tersebut tanpa terkedip kagum dengan segala penataan dan desain rumah itu.
“Rumah kamu bagus sekali ya Yu?”, pujinya masih dengan memindai satu persatu semua furniture dan hiasan yang ada di rumah itu.
“Tidak juga, sama saja”. Jawab Rahayu tak ingin menyombongkan diri.
“Iya sungguh, rumah kamu bagus sekali penataanya dan furiniturenya tidak seperti rumahku yang masih sangat berantakan dengan peralatan yang tak sebarapa”.
Merisa tak kunjung untuk duduk dalam rumah itu, masih sibuk berkeliling untuk melihat-lihat isi rumah, sedang Rahayu melanjutkan untuk mempersiapkan makan malam yang belum sempat terselesikan saat itu.
__ADS_1
Kini pandangan Merisa tertuju pada sebuah pigora besar yang ada di ruang tamu, terlihat foto pengantin yang sangat bahagia saling bergandengan dan menatap penuh cinta, hanya saja dari cara berpakian dalam foto pengantin tersebut terlihat berbeda dengan foto pengantin pada umumnya.
“Oh jadi benar-benar pasangan suami irstrinya!”, tiba-tiba rasa kecewa sedikit hadir dalam hati Merisa.
Merisa kembali melanjutkan langkah kakinya menuju dapur rumah tersebut, terlihat Rahayu dengan cekatan sedang mempersiapkan masakan malam itu.
“Wau wanginya”, pujinya dengan mencium aroma makanan yang tersebar di penjuru ruangan.
“Kamu masak apa Yu?”. Tanyanya dengan mendekat dan mengintip masakan yang ada di wajan.
“Masak udang asam manis kesukaannya mas Andika”. jawabnya dengan sibuk menuangkan kecap pada masakannya.
“Oh ternyata namanya Andika”, Dalam hati dengan tersenyum tipis dan mengangguk-anggukan kepalanya.
Rahayu masih tampak asyik dengan mempersiapkan masakan makan malamnya, sesekali matanya melirik menatap jam dinding untuk memastikan sudah waktunya atau belum suaminya pulang. Sedang Merisa memilih duduk di meja makan dekat dengan tempat Rahayu memasak.
“Iya, aku tinggal sendiri di sini”, kini tangannya mulai meraih piring dalam rak untuk menyajikan makan yang sudah matang.
“Memang kalian berdua asli orang mana?”. Tanyanya dengan antusias, rasanya Merisa ingin mengorek secara detail kehidupan tetangga barunya tersebut.
“Sebenarnya mas Dika asli orang Malang, kebetulan rumah mertuaku ada di kawasan Ijen tapi mas Andika ingin kami tinggal sendiri biar lebih mandiri gitu”.
“Oh iya memang bener harus begitu itu, lagian mana enak tinggal dengan mertua yang ada nanti di recokin. Sepanjang cerita juga belum ada tuh kisah mertua dan mentu yang hidup dalam satu atap dalam keadaan harmonis sepanjang masa, yang ada pasti cekcok entah ada aja masalah yang datang”. Ucapnya dengan panjang dan leber setelahnya di ikuti dengan tertawa kecil seakan meledek.
“Tapi mertuaku orangnya baik kok, sudah seperti orang tua kandung sendiri”. Jawab Rahayu mengelak karena memang benar adanya. Dua kali menikah Rahayu mendapat rezeki mertua yang begitu menyayanginya dnegan sepenuh hati.
“Ya sukurlah kalau mertua kamu bukan bagian sembilan dari sepuluh kisah mertua yang meresahkan, karena menurut cerita dari teman-temanku yang sudah menikah belum ada kisah mertua yang sayang dan baik pada mereka”.
__ADS_1
“Oh ya Yu, kamu beli rumah ini cash atau kredit?” Tanya masih dengan wajah yang sangat penasaran akan kehidupan tetangga barunya yang menurutnya sangat menarik untuk di korek, apalagi suaminya yang begitu menggugah selera jiwa wanitanya.
“Kemarin mas Dika bilangnya cash, soalnya kalau kredit lama lunasnya nanti yang ada malah jadi beban pikiran”.
“Wah cash keren sekali kalian berdua masih muda sudah punya uang sebanyak itu”. Jujur Merisa semakin kagum dengan Andika yang masih muda namun dapat membeli rumah di kawasan elit Permata Jingga dengan harga cash. Maklum kawasan Permata Jingga sudah terkenal menjadi kawasan perumahan elit yang mahal, hanya orang-orang tertentu yang bisa membelinya.
“Eh ya kerjanya apa Yu suamimu?”. kini Merisa semakin kepo dengan kehidupan Andika, bukan tanpa alasan UMK daerah Malang tergolong cukup rendah di kawasan Jawa Timur rasanya sangat tidak mungkin jika Andika pekerja pabrik.
“Mas Dika dosen di Universitas Braw”. Jawabnya singkat yang mulai risih di tanya-tanya terus seputar kehidupan pribadinya. Rahayu tak mengatakan jika Andika juga menjalankan usaha yang di rintih sang papa bersama dengan keluarga Reno.
Merisa hanya menganguk-anggkan kepalanya saja mengiyakan jawaban Rahayu.
“Pantas saja dosen”, ucapnya dalam hati, dengan mengulas senyum tipis sekaan sedang merencanakan sesuatu.
Kini Rahayu mematikan komprmya setelah semua masakan terselesaikan malam itu, sepiring udang asam manis dan tumis kangkung tak lupa tahu dan tempe sebagai menu pelengkapnya. Sekilas Rahayu melirik jam dinding yang terpanjang di dinding dapur rumahnya, sebentar lagi mas Dika pulang.
Benar saja dugaan Rahayu, tak berselang lama Andika datang dan lekas masuk ke dalam rumah karena mendapati pintu rumah mereka dalam keadaan terbuka.
Andika lekas menuju dapur tempatnya mencium aroma masakan yang sangat menggoda. Andika menggulung kemejanya panjangnya hingga siku dan sedikit melonggarkan dasinya semakin membuatnya terlihat snagat mempesona walaupun dengan wajah yang cukup lelah dan belum mandi.
“Malam kak, baru pulang ya’’. sapanya dengan tersenyum dan melangkah mendekat pada Andika.
“Iya’, Jawabnya singkat tanpa melihat Merisa sama sekali, lalu berlalu menuju kamarnya . Niat untuk ke dapur menemui istrinya ia urungkan kala mendapati ada wanita lain di rumahnya.
“Dih cuek bangent sih suainya Rahayu”.
Merisa semakin tertantang untuk mengenal Andika.
__ADS_1