
Empat puluh menit berlalu, Andika masih di parkiran mobil mengamati mobil Rahayu yang tak kunjung untuk pergi meninggalkan parkiran, padahal. Sementara kampus sudah tampak sepi, beberapa lampu di gedung-gedung sudah di matikan semua. Mahasiswa yang berada di gazebo-gazebo juga sudah hampir tidak ada. Hatinya kembali gelisah mencari sang pujaan hati yang tak kunjung menampakan wujudnya.
“Kemana kamu Yu, bukankah tadi kamu sdah keluar dari lab lebih dari tiga puluh menit”. Matanya melirik pergelangan tangannya.
Pukul setengah sepuluh.
Harusnya lab sudah tertutup sejak setengah jam yang lalu, Andika memutuskan untuk kembali ke fakultas pertanian mencari keberadaan Rahayu.
Berkali-kali Andika keliling dari lab satu ke lab yang lain namun tak kunjung ketemu juga, Andika mencari dari lantai dasar hingga lantai delapan, sayangnya tak menemukan apa-apa di sana.
Wajahnya panik hatinya semakin gusar tak kala melihat waktu semakin malam.
“Pak apa masih ada mahasiswa yang di gedung ini. Tanya Andika pada salah satu petugas penjaga gedung tersebut.
“Tidak ada pak, semua ruangan sudah kosong, saya baru saja kontrol dan mematikan lampunya, tidak ada orang sama sekali”.
Andika semakin cemas lari ke sana dan kemari.
“Bapak sedang mencari seseorang kah?”.
“Iya saya mencari teman saya, kebetulan tadi masih di komputasi”.
“Lab komputasi sudah kosong sejak setengah jam yang lalu pak, apa sudah coba untuk menghubungi temannya?”.
Astaga kenapa tidak dari tadi saja aku telfon Rahayu. Andika menepuk keningnya dengan frustasi.
Maklum orang panik dan cinta jadi semuanya jadi ambyar.
“Baik pak saya coba hubungi dulu, saya permisi”. Pamit Andika dan melangkah keluar dati gedung pertanian tersebut.
📞Calling kucing....
📞Calling kucing...
Tak ada jawaban.
Andika semakin gusar.
📞Calling kucing...
“Assalamualaikum mas”. Sahut Rahayu di sebrang sana dengan suara menahan isak tangis.
“Waalaikumsalam, kamu di mana?”. Jawabnya dengan penuh rasa khawatir.
“Mas tolong, aku terkunci di toilet lantai satu perpustakaan”. Suara Rahayu melemah.
“Apa?”.
“Tunggu aku akan datang kesana sekarang”.
Tanpa banyak kata Andika lekas melesat ke perpustakaan untuk membukakan pintu Rahayu, jarak perpustakaan dengan fakultas pertanian lumayan jauh tapi searah dengan parkiran mobil mereka tadi.
Andika menggulung lengan bajunya mengendorkan dasinya dan lekas berlari menuju gedung perpustakaan. Nafasnya terengah engah menuju ke sana kerena Andika lari dengan cukup cepat tak ingin membuat Rahayu menunggu terlalu lama.
Huh...huh..huh...
Keringat di dahinya bercucuran padahal saat itu malam hari.
Andika membungkukkan tubuhnya tak kala sampai di depan gedung perpus tersebut. Matanya menatap gedung tersebut yang sudah terkunci dengan lampu yang padam.
__ADS_1
Astaga.
Pasti kamu ketakutan sekali didalam sana sayang.
Andika kembali berlari dengan kencang, kali ini mencari petugas penjaga gedung perpus tersebut. Andika berlari ke sana ke mari mencari keberadaan petugas tersebut hanya saja tak kunjung menemukannya.
Hampir setengah jam berlalu, petugas tersebut tak kunjung juga di temukan.
Sementara Rahayu meringkuk di dalam toilet memeluk tubuhnya sendiri, menangis tersedu-sedu di sana.
Aku takut.
“Mas Reno bisakah kamu menolongku”. Rahayu terisak-isak dengan menunduk melawan segala ketakutan yang ada dalam kegelapan.
Ya Rahayu takut akan kegelapan, karena ada riwayat sakit asma dan biduran ketika dingin. Jadi dengan riwayat asma penderita di sarankan untuk menghindari ruangan yang gelap, sempit dan tertutup.
Sejenak Rahayu merasakan ada seseorang yang sedang mengelus lembut kepalanya.
“Bersabarlah akan ada yang membantumu sayang, berbahagialah dengannya, lanjutkan cintamu dengan orang yang tepat aku pasti akan bahagia”.
Rahayu lekas mengangkat kepalanya dan kembali terisak.
“Mas Reno kau kah itu?”.
Gelap semua ruangan gelap tanpa cahaya sedikitpun.
Bahkan ventilasi dalam ruangan tersebut tak mampu menampilkan cahaya dari langit.
Rahayu takut.
***
Beberapa menit kemudian Andika berhasil menemukan petugas penjaga gedung tersebut yang kebetulan sedang berada di masjid Raden Patah untuk menjalankan sholat isyak.
“Sepertinya sudah tidak orang di perpus pak”.
“Ada pak salah satu teman saya terkunci didalam toilet”.
Baik pak ayo kesana.
Andika dan petugas perpus tersebut lekas menuju gedung perpus untuk membukakan kunci.
Sesampainya di gedung perpus Andika kembali menghubungi Rahayu untuk menanyakan keberadaan pasti ya di sebelah mana.
📞Calling kucing..
📞Calling kucing...
Tak ada jawaban.
Pikiran Andika semakin melayang kemana-mana.
Tak ada jawaban pak.
Sebaiknya kita buka sat persatu toilet yang ada di perpustakaan ini.
Petugas gedung tersebut lekas mengambil kunci dan membuka satu persatu ruangan yang ada di perpustakaan.
Satu jam berlalu tak kunjung menemukan Rahayu, maklum gedung perpustakaan kampus ini sangat luas sekali.
__ADS_1
Satu toilet yang tersisa, petugas penjaga gedung tersebut membuka kuncinya, hanya saja tak bisa.
Semua kunci yang ada tidak dapat untuk membuka rungan tersebut. Sedangkan Andika berteriak memanggil-manggil Rahayu, hanya saja tak ada jawaban sama sekali.
“Pak sepertinya kuncinya hilang, karena kamar mandi di sini ada tiga pluh rungan sedang kuncinya hanya ada dua pluh sembilan”.
Andika semakin panik dan meraup wajahnya dengan kasar.
“Cari kunci cadangan nya sekarang”. Titah Andika dengan menunjukan wajah yang sangat garang.
Petugas penjaga gedung tersebut lekas berlari mencari kunci cadangan yang ada. Sepuluh menit berlalu petugas penjaga gedung berlari menghampiri Andika dengan membawa kunci cadangan kamar mandi tersebut.
Ting lamp di nyalakan.
Ceklek pintu terbuka.
Pintu terbuka.
Rahayu tertunduk lesu bersandar di dinding kamar mandi dengan wajah yang sudah pucat dan lemas.
Rahayu.
Mata Andika terbelalak, sedang Rahayu sudah tak mampu mengucapkan suara, antara takut dan lelah menjadi satu membuat tubuhnya melemah tak bertenaga.
Cukup sorot matanya yang berbicara memohon pertolongan.
Andika dengan sigap mengangkat Rahayu dan membawa kelar dari gedung tersebut.
“Nyalakan sema lampunya’. Teriak Andika dengan menggendong Rahayu.
Andika berlari menyusuri koridor perpustakaan dengan menggendong Rahayu.
“Pak tolong pak, bantu saya untuk membuka pintu mobil”. Teriak Andika berlari dengan membawa Rahayu dalam gendongannya.
Petugas gedung tersebut dengan sigap membantu Andika.
Sesampainya di dalam mobil Andika lekas menundukkan Rahayu, tak lupa memberinya air mineral yang ada di dalam mobil.
“Minumlah”. Andika membantu Rahayu untuk meminum air tersebut dengan memegang kepalnya karena tubuh Rahayu yang begitu lemas.
Rahayu pun meminum air putih tersebut.
“Apa yang terjadi?”. Andika masih memegang bagian belakang kepala Rahayu.
Sedang Rahayu tak mampu memberikan jawaban, lidahnya kelu dan badannya begitu lemas tak berdaya, ketakutan akan kegelapan tanpa cahaya membuatnya trauma.
“Yu apa kamu tidak papa?”.
Pandangan Rahayu kian tak berarah, kepalanya terasa begitu berat dan akhirnya.
Pingsan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
BTW ini Rahayu pingsan enaknya di bawa kemana pemirsa?