Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Menjadi Satu


__ADS_3

“Aku kangen sekali sayang denganmu”. Ucap Andika menjeda sejenak aktivitas mereka berdua.


Rahayu tampak memerah seketika mendengar ucapan sang suami.


Andika kembali memeluknya dan berbisik pada istrinya.


“Sayang bolehkah jika malam ini aku melakukannya?”.


Rahayu menganggukkan kepalanya saja, tak cukup keberanian untuknya membuka suara.


Hatinya begitu gugup, karena meskipun pernah menikah hanya saja ini adalah pengalaman pertama yang akan Rahayu lakukan.


Dengan sigap Andika kembali mendekatkan tubuhnya pada Rahayu dan kembali memeluknya. Mereka berpelukan dengan waktu yang cukup lama saling menikmati kerinduan yang sudah bertahun-tahun mereka rasakan.


Merasa cukup dengan itu, Andika lekas mengangkat tubuh kecil sang istri dan membawanya ke tempat pembaringan, sedang Rahayu mengalungkan tangannya pada leher Andika.


Bagi keduanya ini adalah pengalaman pertama mereka, keduanya begitu gugup tapi juga menginginkannya. Detak jantung masing-masing dapat saling terdengar dengan begitu jelasnya.


Andika mulai semakin mendekat, dan mencium kening sang istri seraya mengucapkan doa.


BISMILLAH ALLAHUMA JANNIBAS-SYATHOONA WA JANNIBNIS-SYATHONA MAA ROZAQTANAA.


“Sayang jika kamu tidak siap dengan hal ini, kamu boleh mengatakan cukup, maka aku akan mengakhiri semuanya’. Bisik Andika pada sang istri.


Rahayu kembali menganggukkan kepalanya saja, di sela-sela aktivitas yang cukup menegangkan tersebut.


Keduanya pun melakukan sesuatu yang seharusnya mereka lakukan.


Rahayu hanya berpasrah dengan apa yang dilakukan Andika padanya, kerena dia menyadari sudah seharusnya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya. Begitu juga dengan Rahayu yang begitu menginginkan hal ini.


***


Keesokan harinya Rahayu terbangun dengan rasa sakit yang tiada terkira di sekitar pangkal pahanya, hingga ia merintih tak kala hendak beranjak dari kasurnya.


“Aduh”. Ucapnya dengan lirih takut membangunkan sang suami yang kala itu masih terlelap dengan begitu lelapnya.


Menyadari suara rintihan Andika membuka matanya.


“Sayang kamu mau ke mana?”. Ucap Andika dengan suara serak khas bangun tidur.


“Aku mau bangun mandi mas, sebentar lagi memasuki waktu subuh”. Sejujurnya Rahayu begitu malu sekali ketika akan mandi nanti, takut di goda keluarganya. Maklum kamar mandi rumah Rahayu hanya ada satu di sebelah dapur mereka.


Andika tersenyum mendengar jawaban istrinya.

__ADS_1


Andika mulai bangkit dari pembaringannya dan berjongkok tepat di depan Rahayu yang masih terduduk di atas kasur kesulitan untuk bangun pagi itu.


“Sayang bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”.


Lagi-lagi Rahayu hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Apakah ini yang pertama bagimu?”.


Rahayu kembali menganggukkan kepalanya.


“Aku masih perawan mas". Jawabnya dengan lirih pada sang suami.


Mendengar jawaban Rahayu tersebut membuat Andika ingin berteriak dan meloncat-loncat penuh kemenangan. Berarti dugaannya kemarin tidak salah.


Sebenarnya Andika tak mempermasalahkan hal ini, toh Andika begitu mencintai Rahayu menerima dengan sepenuh hati segala kekurangan dan kelebihan sang istri. Istilahnya sudah mentok lah sama Rahayu hati dan seluruh jiwa raganya hanya untuk Rahayu seorang. Namun mengetahui fakta ini membuatnya semakin bersorak penuh kemenangan.


“Biar aku bantu untuk ke kamar mandi”. Andika sudah bersiap untuk mengangkat tubuh Rahayu.


Dengan sigap tangannya menepis.


“Aduh mas, maaf jagan ya nanti saja kalau kita sudah pindah ke rumah, malu nanti kalau adik-adik aku ada yang sudah terbangun dan melihat adegan ini”. Jawab Rahayu menolak halus permintaan sang suami.


Andika pun menyadari situasi dan kondisi yang terjadi.


“Bentar sayang”. Andika meraih ponsel yang ada di sebelahnya.


Andika menarik tangan sang istri, untuk berada di pelukannya dengan sigap Andika lekas mengambil foto mereka berdua.


Foto sama istri di hp ku untuk yang pertama.


“Mas, kenapa tak bilang-bilang kalau mau foto biar aku bisa dandan dulu yang cantik”. Rengek Rahayu dengan begitu manjanya.


“Emang kenapa? Begini juga cantik sekali istriku, jika foto seperti ini hanya aku saja yang bisa memiliki dan melihatnya. Kalau orang-orang mana ada yang bisa melihat kamu dengan wajah yang baru tidur seperti ini”. Jawab Andika dengan begitu santainya.


Rahayu semakin merona dibuatnya.


“Sudah ah, aku mau mandi dulu keburu subuh nanti”.


Andika membantu sang istri untuk berdiri dari kasurnya, namun tak mengantarkan hingga kamar mandi sesuai dengan perintah Rahayu.


Beberapa menit kemudian Rahayu sudah kembali dari kamar mandi dengan membawa satu gelas teh hangat untuk Andika.


“Mas, minumlah. Di sini tidak ada air hangat dan air untuk mandi begitu dingin, minumlah agar mas Dika tidak kedinginan”.

__ADS_1


Andika tersenyum dan menerima segelas teh tersebut.


“Aku tidak akan pernah kedinginan selama kamu ada sebagai penghangatku”. Jawab Andika dan lekas meminum teh tersebut.


Rahayu bersemu merah mendengar jawaban sang suami.


‘Mandilah mas, bapak biasanya akan jama’ah ke masjid ketika subuh”.


“Siap tuan putri”.


Andika bergegas menuju kamar mandi yang ada di dapur rumah tersebut, sedang Rahayu mempersiapkan baju Andika pagi itu.


Baju koko warna putih dengan sarung warna merah marun, seperti bendera yang terbalik begitulah kira-kira kostum Andika pagi ini. Maklum Andika tidak menyiapkan sendiri baju yang di bawanya kemari. Drama sandiwara yang panjang membuatnya enggan untuk sekedar meyiapkan baju ganti untuknya.


Sang mamalah yang diam-diam menyiapkan baju putranya dengan memasukan secara asal baju yang berada di tatanan paling atas lemari bajunya.


Beberapa menit kemudian, Andika sudah kembali dari kamar mandi dengan wajah yang begitu fresh dan menggoda.


Rahayu memalingkan wajahnya tak kala melihat pemandangan indah di depannya.


“Mas, ini bajunya sudah ku siapkan. Mas Dika di tunggu bapak di depan untuk ke masjid”.


Andika tersenyum melihat wajah istrinya yang tampak malu-malu.


“Jangan malu-malu sayang, bukankah tubuh ini dan segala isinya sudah sepenuhnya menjadi hakmu”.


“Nanti setelah sholat subuh kita lanjutkan lagi ya yang seperti tadi malam”. Bisik Andika pada istrinya.


“Udah sana buruan di tunggu bapak”, usir Rahayu dengan halus pada suaminya.


Andika melangkah keluar dengan bapak menuju masjid. Tak dapat di pungkiri Rahayu begitu terpesona dengan pemandangan yang ada di depannya tersebut. Wajah yang teduh dengan tubuh yang proporsional.


“Duh jantungku”. Rahayu memegang dadanya yang terasa begitu bergejolak bahagia pagi itu.


“Aduh masih pagi”. Rahayu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Rahayu pun kembali masuk ke dalam kamarnya untuk menjalankan ibadah sholat subuh yang biasa dia lakukan tak lupa melafalkan ayat-ayat al-quran suatu kebiasaan yang sudah lama dia jalankan selama ini.


Ceklek pintu kamar terbuka.


“Assalamualaikum”. Ucap Andika dengan begitu kelamnya tak kala mendengar sang istri mengaji di balik pintu kamar mereka tadi.


“Waalaikumsalam mas”, Rahayu berdiri dan meraih tangan sang suami.

__ADS_1


Andika pun membalas dengan kecupan manis di kening Rahayu.


“Istriku cantik sekali sih”. Andika memandang lekat wajah Rahayu menikmati setiap inci ciptaan Allah yang begitu sempurna tersebut.


__ADS_2