
Rahayu lekas mempercepat langkahnya, berusaha mensejajarkan langkahnya dengan pak Andika sesuai dengan perintah sang dosen.
Hening.
Sepanjang perjalanan hening tak ada suara.
Hanya hati mereka yang berbicara masing-masing.
“Cie-cie....”.
“Wah serasi juga nih sebenarnya pak Andika dan mbak Ayu”. Goda Dania yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
Sontak perkataan mereka membuat kedua orang yang berjalan didepannya menoleh secara bersamaan dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Maaf pak, maaf saya hanya bercanda permisi”. Ucap Dania pada sang dosen yang tampak menunjukan mode garangnya.
“Mbak Ayu aku tunggu di cafetaria ya, teman-teman yang lain juga di sana”. Dania ngacir meninggalkan dua pasangan tanpa status tersebut.
Masih saja hening di antara keduanya, tak ada percakapan sama sekali, keduanya enggan untuk memulai. Saling menjaga hati mungkin begitulah kira-kira yang di rasakan.
Sesampainya di ruangan dosen Rahayu lekas meletakan tumpukan map tersebut di atas meja sang dosen, sedang Andika mulai menduduki singgasana kerjanya.
“Pak saya permisi dulu”. Pamit Rahayu pada Andika.
“Panggil saja mas, jika sedang tidak di kelas bukankah kita sudah saling mengenal sejak lama”. Senyum Andika tampak menghiasi wajahnya, kini wajahnya berubah tak kala memasuki ruangan kerjanya. Andika tak lagi menunjukan mode garangnya.
“Kita juga saling mencintai sejak lama’’. Ingin sekali Andika mengucapkan kata keramat itu hanya saja sekuat tenaga mulutnya menutup keinginannya.
“Eh iya mas”. Rahayu tampak kaku dengan panggilan itu.
“Saya permisi dulu ya?”.
“Silahkan”. Ucap Andika mempersilahkan Rahayu untuk keluar dari ruangannya.
Ingin rasanya menahanmu untuk tak keluar dari ruangan tersebut tapi aku bisa apa Yu?.
Rahayu lakas melangkahkan kaki keluar ruangan Andika, sementara itu di luar ruangan sudah berdiri sosok cantik yang tak kalah mudanya dengan Rahayu, matanya menatap tak suka padanya. Rahayu hanya mampu menunjukan senyum termanis yang dia punya pada wanita itu dan berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Sepanjang perjalanan menuju kafetaria hatinya menduga-duga siapa wanita tadi, apa mungkin wanita tadi adalah kekasih mas Andika?.
Ataukah mahasiswanya?, tapi kenapa tatapan wajahnya padaku seolah tak suka?, jika dia mahasiswa juga kenapa cara pembayarannya berbeda dengan mahasiswa yang lain, ataukah dia dosen juga di sini?. Banyak hal yang menggangu pikiran Rahayu kala itu.
***
Sementara itu di dalam ruangan Andika tampak senyum-senyum sendiri kala mengingat perkataan Dania yang mengatakan jika dia dan Rahayu pasangan yang serasi.
Ah andai saja mereka mengerti kisahku dan Rahayu.
Andika meletakkan tangannya di belakang kepala dengan wajah yang berseri-seri dan duduk bersandar di kursinya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Ratna datang tanpa permisi memasuki ruangannya dan langsung duduk begitu saja di hadapan Andika.
“Siang pak Dika”. Sapanya dengan manja.
Andika tak bergeming masih sibuk dengan segenap lamunannya.
“Selamat siang pak Andika”. Ucap Ratna untuk kedua kalinya.
“Iya sayang”. Reflek Andika mengatakan hal itu.
“Sayang?”. Jawab Ratna dengan tersenyum malu.
Menyadari wanita di depannya buka Rahayu, Andika langsung gelagapan.
“Maaf bu, maaf saya kira tadi bukan anda”.
Seketika wajah Ratna berbah dari yang tersenyum tulus menjadi muram.
“Jadi wanita tadi yang kamu sebut sayang. Ucap Ratna dalam hati dengan mencoba tetap menunjukan senyum termanis yang dapat dia berikan.
“Ada apa bu Ratna?”. Andika membuka percakapan kala itu.
“Pak Dika sekarangkan waktunya jam istirahat makan siang, bisakah bapak menemani saya makan siang”.
“Waduh bu mohon maaf, sebentar lagi saya ada kelas”. Andika menolak dengan halus tawaran tersebut.
“Sebentar saja pak, di cafetaria sini saja biar tidak terlalu jauh nanti kembalinya, kita bisa jalan kaki”.
“Kenapa saya yang kerepotan bu?”.
“Ya karena bapak harus menggantikan kelas saya pak’. Ratna memohon pada Andika dengan memelas.
Wah bener juga nih dari pada nanti aku repot ngajar banyak kelas.
“Ya sudah bu mari saya temani”.
Kini keduanya berjalan bersama menuju cafetaria, sepanjang perjalanan menuju kafetaria beberapa pasang mata melihat kebersamaan mereka, banyak mahasiswa yang beranggapan jika kedua dosen muda mereka sedang menjalin hubungan.
***
Sesampainya di cafetaria Ratna lekas memilih meja untuk makan mereka berdua, Ratna memilih meja yang ada di ujung dekat dengan jendela, sengaja memang biar terlihat romantis maksudnya. Sementara Andika hanya mampu mengekor mengikuti langkah Ratna.
Keduanya lekas memesan makanan dan minuman, Ratna memilih nasi goreng dengan minuman jus semangka, sedang Andika memilih untuk memesan sate dengan air mineral. Entah mengapa hari ini rasanya ingin makan sate saja.
Sementara itu di meja sebrang sana tampak Rahayu dan beberapa kawan-kawannya jga sedang bersiap untuk makan, kali ini Rahayu makan rame-rame dengan lima teman lainnya.
Sekilas mata Rahayu menangkap sosok yang di kenalnya berada di ruang yang sama.
“Mas Andika?”.
__ADS_1
“Itukan wanita yang tadi?”.
Ucapnya dengan penasaran ingin tahu hubungan mereka apa? Kenapa mereka bisa makan bersama?.
Hanya saja semuanya tak berani ia ungkapkan secara langsung.
Begitu juga sebaliknya Andika tampak melihat Rahayu sedang makan bersama teman-temannya, sesekali pandangan matanya melihat ke arah sebrang sana untuk melihat istri orang tersebut.
“Mbak Ayu mau pesan apa?”. Tawar Dania dengan menunjukan buku menu pada Rahayu.
“Aku mau sate sajau sama minumnya air putih”. Rahayu meyerahkan daftar menu tersebut kembali pada Dania.
Sedang teman-teman yang lain masih sibuk memilih menu.
“Wah mohon maaf mbak, kebetulan satenya habis tadi tinggal satu porsi dan sudah di pesan sama orang”. Ucap pelayan cafetaria pada Rahayu.
“Ya gimana dong mbak, saya pengen banget makan sate”.
Rahayu memasang wajah kecewa pada pelayan tersebut.
“Yang lain aja mbak Ayu masih banyak tuh pilihannya”. Dania memberikan usulan untuk mengganti menu.
“Ya sayangnya aku pengen banget makan sate, bayangin dari semalam makan bumbu kacangnya Hem pasti lezat sekali”. Dengan wajah yang menunjukan ekspresi kepengen Rahayu tampilkan.
“Wah ngidam nih nyidam”. Sahut beberapa teman yang lain dalam meja tersebut.
Mendengar kata ngidam hati Andika layu seketika.
“Ya Allah hati kuatlah dia memang istri orang jadi wajar jika sekarang ngidam”. Wajahnya tertunduk lesu.
Tak terasa pesanan Andika dan Ratna kini sudah datang, dengan sigap Ratna meraih makanan tersebut dan meletakkan di atas meja untuk mereka berdua.
“Mbak tolong sate ini serahkan saja pada wanita berbaju pink yang ada di sebelah sana”. Andika mengarahkan tangannya pada Rahayu dan teman-temannya.
Seketika itu Ratna semakin kesal dengan Rahayu.
“Jadi seperti itu wanita yang kamu inginkan. Ucapnya dengan menekan sendoknya di tas piring hingga bengkok”.
Pelayan tersebut lekas mengantarkan sate tersebut ke meja Rahayu.
“Lo mbak katanya sudah habis?”.
“Oh iya mbak ini ada titipan dari orang dan sudah di bayar”.
Rahayu tampak bingung di buatnya.
“Wah pengagum rahasia ini”. Goda dari beberapa teman yang lainnya.
“Makan aja yuk lapar banget nih, mana dari kemarin lagi bayangin makan sate”. Ucap Rahayu seraya memasukan satu tusuk sate ke mulutnya.
__ADS_1
“Siapapun anda semoga rezekinya berkah dan berlipat banyak”. Diikuti kata aamiin oleh teman-temanya.