
Beberapa hari berlalu semua berjala sesuai dengan rencana, pekerjaan dapat dengan mudah di selesaikan meskipun memerlukan waktu yang lebih lama untuk tinggal di kantor. Ya tidak seperti biasanya beberapa hari terakhir ini aku berangkat lebih pagi dan pulang kerja lebih malam dari biasanya karena memang harus memastikan semua trial berjalan sesuai dengan prosedur yang sudah kami buat sebelumnya.
Usaha tidak pernah mengkhianati hasil, rasa lelah berangkat pagi dan pulang malam terbayar lunas saat peluncuran produk berjalan sesuai dengan harapan.
“Sayang nanti malam aku jemput ya”. ucap mas Reno dari sebrang sana.
“Tidak usah repot-repot mas aku bisa pulang sendiri, aku juga bawa motor”, jawabku pada mas Reno.
“Ayolah sayang sudah satu minggu kita tidak bertemu, aku kangen sama kamu, aku juga ingin sekali-kali memanjakan pacarku”.
“Tidak usah mas”.
“Kenapa tidak? Apa salah nya aku ingin sekali bisa memanjakan kamu, aku juga ingin kamu bergantung dan butuh sama aku”. Mas Reno terus saja memaksaku.
“Sebenarnya aku tanpamu juga bisa sendiri mas”. ucapku yang hanya mampu aku ucapkan dalam hati saja.
“Oke lah mas, asalkan tidak merepotkan kamu”.
“Tentu sangat tidak kerepotan, bahkan aku sangat suka sekali.
Hingga siang menjelang aku semakin sibuk dengan segenap aktivitas yang entah kenapa tidak pernah berkurang sama sekali yang ada semakin banyak saja.
“Bu sebaiknya istirahat dulu makan siang, ini sudah lewat waktu makan siangnya”. Ucap Nadia salah satu anak buahku yang paling muda tapi paling dewasa menurutku.
“Baiklah Nad, apa kamu sudah makan?”, tanyaku pada Nadia yang kala itu sedang berada di ruanganku untuk mengantar berkas.
“Kebetulan belum buk”.
“Ayo makan bersama sama saya”. Tawarku pada Nadia.
“Tapi buk, saya saya”.
__ADS_1
“Udah tidak papa ayo aku traktir”. Tawarku pada ku Nadia.
Aku dan Nadia menuju ke cafetaria lantai satu untuk mencari makan siang. Kami membicarakan banyak hal dari pekerjaan hingga ngobrol santai tentang kehidupan. Disela-sela makan kami ada pertanyaan Nadia yang mengusik hatiku.
“Bu bolehkah saya bertanya sesuatu di luar pekerjaan?”.
“Tanya saja Nad ada apa? Jika memungkinkan bisa aku jawab akan ku coba jawab”.
“Mohon maaf bu jika saya sedikit lancang, tapi saya benar-benar ingin tahu saja mungkin bu Rahayu akan menganggap aku anak buah yang kurang sopan tapi sungguh maaf saya hanya sangat penasaran”.
“Bicaralah Nad anggap saja aku seorang teman kamu”.
“Bu apakah bu Rahayu pernah merasakan jatuh cinta?”. Mendengar pertanyaan Nadia aku hanya tersenyum.
“Kenapa? Karena aku tidak pernah terlihat menggandeng lelaki?”. Tanyaku padanya dengan senyum, sedangkan Nadia hanya menganggukkan kepalanya saja.
“Baiklah Nad akan aku jawab anggap saja aku sebagai teman saat ini”. Entah mengapa aku merasa nyaman saja untuk bercerita dengan Nadia, bukan tanpa alasan dia termasuk anak yang ramah, pendiam dan tidak banyak ngomong. Nadia juga orang yang dapat dipercaya tidak dengan mudah mengumbar rahasia orang lain.
Kami pernah ditemukan oleh takdir, namun hingga saat ini takdir belum berpihak untuk mempersatukan kami, karena meski kami berada dalam dunia dan buku yang sama tapi kita berada pada bagian yang berbeda.
Sampai saat ini juga, sejauh apapun aku melangkah, tetap saja bayang-bayang itu tak bisa pergi begitu saja. Dalam keramaian pun aku merasa hening tanpa kehadirannya.
Tanpa di sadari mata Rahayu mengembun begitu saja saat menceritakan sosok Andika cinta pertamanya.
Membayangkan akhir cerita yang tak berujung hingga kini. Sedang apa kamu di sana? Apakah kamu merindukan ku? Ingin sekali aku tanyakan hal itu padanya Nad.
“Berapa lama bu sudah tidak bertemu dengannya?”. Tanya Nadia dengan penuh hati-hati dan sopan.
Lebih dari enam tahun aku tak berjumpa dengannya, tak pernah juga tau bagaimana kabarnya dia sudah hilang, hilang dengan segenap kenangannya tanpa jejak.
Bu percaya tidak dengan pepatah “tumbuh hilang dan berganti”. Kehidupan masih terus berjalan bu, bagaimana bisa ibu harus berhenti di satu titik untuk menunggu seseorang yang sudah lama sekali menghilang tanpa jejak.
__ADS_1
“Kami berpisah dalam keadaan sama-sama tersakiti Nad”. Rahayu menarik nafas dalam-dalam seolah-oalah dalam ruangan tersebut tidak cukup oksigen.
“Ikhlaskan lah hati bu untuk menerima apapun yang telah menjadi rencananya, karena sesungguhnya apa yang telah menjadi rencananya dan rancangannya sudah pasti takdir terbaik untuk hambanya, semoga hati ibu yang patah segera mendapat ganti yang baru”. Nadia tersenyum hangat padaku.
“Ah trimakasih kamu cukup dewasa sekali dengan usiamu yang masih sangat muda, trimakasih juga sudah mendengar sedikit keluh kesahku”. Rahayu menepuk-nepuk punggung Nadia dan tersenyum hangat. Mereka berdua lekas berlalu dan kembali bekerja sesuai dengan tugas masing-masing.
***
Malam harinya sesuai dengan rencana awal yang sudah dirancang dari tadi pagi mas Reno sudah bersiap menungguku di lobi bawah untuk bertemu. Ada perasaan was-was dalam hatiku, aku takut jika akan mengecewakannya.
“Sudah selesai”, suara mas Reno membuatku benar-benar terkejut karena ini pertama kalinya mas Reno datang ke ruanganku karena biasanya hanya menunggu di lobi depan saja.
“Oh iya mas sudah”, astaga mati aku untuk kali ini aku tak bisa menghindar dari mas Reno.
“Ayo kita pulang, aku ingin memanjakan kekasihku sudah seminggu lebih tak pernah bertemu”.
“Em iya sebentar aku siap-siap dulu”. Aku merapikan segala berkas yang ada di meja kerjaku dan menutup ruanganku kemudian berjalan mengikuti di belakang mas Reno.
“Sayang kita jalan-jalan dulu ya sebentar menikmati malam minggu, biar seperti anak-anak muda”. Tawar mas Reno dengan menaikan alisnya.
“Terserah mas”. Ucapku dengan pasrah karena menghindar juga sudah tak mampu tidak ada alasan lagi.
Mas Reno mengendarai mobil membelah jalanan yang padat merayap karena malam minggu, seperti biasa kami akan menuju kota Surabaya meskipun hanya sekedar untuk makan malam saja. Mas Reno slalu memilih Surabaya hanya karena ingin berlama-lama berada di dekatku. Tentu ini kata-kata yang cukup membuatku semaki bersalah padanya yang belum mampu memberikan hatiku seutuhnya untuk dia.
Berdering.....Vidio call masuk.
“Assalamualaikum ibu apa kabarnya?”.
“Wassalamu'alaikum, kabar ibu baik nak? Kamu sedang di mana? Sepertinya sedang di mobil ya sama siapa nak?”.
“Sama saya bu”. Mas Reno tiba-tiba saja menjawab pertanyaan ibu sebelum aku sempat menjawabnya.
__ADS_1
Deg.