Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
66


__ADS_3

Mas Dika mengusap punggung tanganku dengan lembut. Merasakan usapan itu tubuhku bergetar seperti tersengat aliran listrik. Dadaku naik turun saat mas Dika mencium lembut punggung tanganku.


Sesuatu yang  berbeda dari mas Dika yang sekarang dan dulu, mas Dika yang sekarang lebih agresif dan suka modus. Tapi aku senang di modusin.


Merasakan hal tersebut aku malu-malu dan menatap mas Dika, saat itu pula mas Dika kembali mengambil kesempatan untuk mencium ku kembali.


“Duh duh duh kok jadi keterusan, jadi takut kebablasan”.


Aku kembali meluruskan pandangan untuk menikmati film yang sedang di putar begitu juga dengan mas Andika. Sepertinya salah memilih film tayangan bioskop ini banyak sekali adegan aneh yang aku rasa sedikit vulgar. Sungguh tidak baik bagi kesehatan jantung dan hati bagi dua insan yang sedang kasmaran ketika menonton film ini. Rasanya panas dingin.


“Kenapa?”. Bisik mas Dika tepat di telingaku.


Ah aku hanya menggelengkan kepala saja.


Mas Dika hanya menjawab dengan senyum liciknya.


“Nanti kalau sudah waktunya kita praktek ya, trial beberapa adegan yang mana yang paling cocok untuk menghasilkan suatu bayi yang lucu-lucu imut dan mengemaskan”. Bisik mas Dika padaku.


Ah mukaku sudah sangat merah seperti kepiting rebus betapa tidak mengapa mas Dika bisa mengatakan hal-hal konyol itu. Waktu banyak merubah cara berpikirnya.


“Ih kamu lucu kalau lagi malu,lihat saja wajahmu merah padam”. Goda mas Dika sambil mengelus kepalaku dengan sayang.


Aku menutup muka dengan kedua tanganku karena malu.


“Tuh kan makin cantik saja kalau lagi malu, tuh jadi kayak tomat pipinya”. Ledek mas Dika yang semakin dekat.


Tak kuasa tanganku lekas mencubit mesra lengannya.


“Aduh”. Teriak mas Dika sedikit mengeraskan suaranya.


Sontak reflek membuat pengunjung didalam bioskop tersebut menatap kearah kami berdua.


“Duh mas malu mas malu nanti dikira orang ngapain”. Ucapku pada mas Dika.


“Emangnya kamu mau ngapain?”. Tanya mas Dika dengan menaikan alis nya dan tersenyum tengil.


Hem.


“Makin cantik saja sih kamu, mana masih awet aja imutnya gak besar-besar”. Mas Dika mencubit pipiku dengan gemas.


Untung saja beberapa adegan vulgar itu hanya sesaat. Setelah satu setengah jam akhirnya film itu berakhir. Rasanya panas dingin tak karuan. Baru kali ini aku melihat film romance yang cukup hot level 7 seperti ini, tak tau kalau mas Dika.

__ADS_1


Petugas bioskop lekas menyalakan lampu tanda berakhirnya film beberapa penonton yang datang lekas keluar dari ruang bioskop.


Aku dan mas Dika masih menunggu hingga penonton sedikit sepi agar lebih mudah saat keluar. Setelah dirasa sudah sepi kami berdua keluar dengan bergandengan tangan.


“Gandengan terus kayak truk”.


“Jadi mau kemana lagi kita sekarang?”. Tanya mas Dika padaku.


“Aku mau main time zone seperti dulu mas”. Jawabku pada mas Dika.


“Siap nyonya silahkan”. Senyum mas Dika manis sekali takut diabet kalau lama-lama begini.


Aku dan mas Dika meninggalkan bioskop tersebut kemudian berjalan menyusuri mall tersebut. Suasana tampak ramai karena memang berbarengan dengan libur akhir tahun.


Sebelum menuju time zone aku dan mas Dika singgah sebentar untuk membeli minuman di salah satu gerai yang ada di mall tersebut. Kami berdua membeli minuman AMK minuman yang dulu slalu kami beli saat jalan-jalan di mall. Aku memilih rasa coklat sedangkan mas Dika memilih rasa coklat oreo. Selera kita masih sama seperti dulu tidak ada yang berubah sama sekali.


“Mbak dua rasa coklat original dan coklat oreo”. Ucapku pada penjual minuman disalah satu outlet yang ada di mall tersebut.


“Ini mbak”. mas Dika menyodorkan selembar uang warna merah pada penjaga outlet tersebut.


"Kembaliannya ambil saja". Ucap mas Dika pada penjaga outlet tersebut.


"Trimakasih banyak mas". penjaga outlet tersebut tersenyum pada mas Dika.


“Di minum mas minumannya”. Aku menyodorkan satu gelas cup minuman rasa coklat oreo pada mas Dika.


Mas Dika meraih cup minuman tersebut dan menyedotnya dengan sangat pelan-pelan.


“Lo kok rasanya beda ya Yu”. Ucap mas Dika dengan sedikit mengerutkan keningnya.


“Beda gimana mas?”. Aku tampak keheranan mendengarnya, karena menurutku rasanya masih tetap sama seperti biasanya ketika aku beli.


“Iya pahit banget rasanya”. Ucap mas Dika.


“Masa mas, punyaku enak kok manis seperti biasanya”. Ucapku dengan keheranan.


“Coba dulu deh”. Mas Dika menyodorkan kembali cup gelas berisi minuman rasa oreo tersebut padaku.


Aku menyedot dengan pelan cup minuman yang diberikan oleh mas Dika padaku.


“Ini manis kok mas, enak seperti biasanya”. Jawabku pada mas Dika dengan heran karena menurutku minuman ini sudah manis dan enak sekali.

__ADS_1


Mas Dika kembali meraih cup yang berisi es oreo tersebut dan menyedotnya kembali masih dengan sedotan yang sama.


“Nah kalau yang begini baru manis rasanya, manis sekali malahan”. Jawab mas Dika dengan senyum yang tak kalah manisnya.


“Kok bisa rasanya berubah-ubah padahal minumannya sama aneh-aneh saja kamu mas”. Aku keheranan dengan sikap mas Dika yang menurutku tak lazim saja.


“Ya karena ini aku minum dari bekas bibir kamu Yu, jadi rasanya manis sekali bahkan sedikit nano-nano”. Jawab mas Dika dengan mencubit pipiku.


Blus.


Mukaku merah padam seperti kepiting rebus malu sekali.


Mas Dika berucap lirih didekat telingaku.


“Aku ingin sweet kayak Rasulullah yang minum di bekas bibir Aisyah”.


Mukaku semakin merah dibuatnya tak kuasa aku langsung menutupnya dengan kedua tanganku.


Yaallah rasanya jantungku ambyar dibuatnya.


“Ayo mas ke timezone aku pengen main-main”. Bujukku pada mas Dika takut semakin ambyar di gombali terus.


“Tapi aku tidak pernah main-main sama cewek lo Yu”. Ucap mas Dika dengan mode serius.


Duh mas.


Aku dan mas Dika bergegas menuju timzone masih dengan mode yang sama gandengan kaak truk berasa dunia hanya milik kami berdua, benar-benar hanya berdua yang lain cuma ngontrak.


Kami berdua bermain bersama hingga melupakan umur. Sudah tua tapi masih asyik layaknya ABG yang sedang kasmaran.


“Yu lihat deh itu”. Mas Dimas menunjuk satu keluarga kecil yang terdiri dari anak ibu dan satu anak yang masih balita.


“Kenapa mas?”. Tanyaku pada mas Dika sedikit heran.


“Sepertinya mereka seusia sama kita ya?”.


Aku hanya mengagungkan kepala karena memang itu pasangan mama-papa muda dengan satu anak yang lucu sekali.


“Jadi kita kapan seperti mereka?”.


Blus pipiku kembali merona dibuatnya.

__ADS_1


Ini pertanyaan gimana? aku tak pernah menemukan soal ujian seperti ini sebelumnya.


__ADS_2